Dirjen Dikti: Kemajuan Dunia Ditentukan oleh Inovasi

INDONESIA sebagai negara dengan penghasilan menengah menuju kepada menengah ke atas, sangat membutuhkan sarjana-sarjana dan lulusan perguruan tinggi yang tidak hanya membawa gelar kesarjanaannya, tetapi memiliki kompetensi yang kuat, memiliki jiwa profesionalisme yang unggul, sekaligus memiliki akhlak yang mulia. Hal itu disampikan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. saat memberi orasi ilmiah pada Wisuda Ke-97 Periode III Tahun 2020 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (22/10). “Kalau kita melihat angkatan kerja di Indonesia saat ini sebagian besar lebih dari 50% baru tamatan SD dan SMP, sementara yang tamatan pendidikan tinggi masih di bawah 10%. Ingat, itu satu tantangan yang besar bagi kita semua. Jadi anda sekalian para sarjana ini merupakan bagian kecil dari angkatan kerja di Indonesia yang diharapkan menjadi penggerak utama dari kemajuan perekonomian, kemajuan sosial, budaya, dan kesejahteraan masyarakat,” kata Nizam di wisuda yang digelar di Hall Dome UMM. Kalau dibandingkan dengan negara-negara tetangga, sambung Nizam, di negara-negara tersebut rata-rata angkatan kerjanya sudah di atas 35% yang berpendidikan tinggi. Pada saat ini, Indonesia sedang memasuki apa yang dikenal dengan bonus demografi, di mana angkatan kerja jumlahnya lebih banyak daripada anak-anak dan usia manula. “Tetapi, bonus demografi tidak serta merta menghasilkan kemajuan, meskipun kita juga sudah melihat dalam sejarahnya. Mulai dari kita lihat yang nyata sekali Jepang. Tahun 70-an dengan bonus demografinya itu berhasil membawa Jepang menjadi macannya Asia. Tetapi kemudian di tahun 90-an hingga sekarang Jepang mulai mengalami atau memasuki masyarakat yang menua atau Aging Society,” ujar Nizam secara virtual. Diikuti kemudian oleh Korea Selatan, yang di tahun 90-an memasuki bonus demografinya dan menjadi kekuatan baru ekonomi di Asia. Itu terjadi bersamaan dengan bonus demografi yang dialami oleh Korea Selatan pada tahun 1990-2000an. Sehingga tidak heran tahun-tahun tersebut Korea tumbuh dengan sangat pesat dan bahkan dalam banyak kompetisi bisa mengalahkan Jepang. Samsung misalnya, mengungguli Sony dalam produk handphone dan produk alat-alat elektronik yang lain. Demikian pula China tahun 2000-an akhir mulai memasuki bonus demografinya. Dan jika dilihat China sekarang menjadi raksasa dunia di dalam ekonomi. Itu bersamaan dengan bonus demografi yang dialami oleh China di tahun 2010-an hingga sekarang. Tapi, saat ini China pun juga mengalami Aging Society, sementara Indonesia sedang memasuki bonus demografi tersebut. “Tentu peluang ini tidak boleh kita sia-siakan. Dan anda sekalian para sarjana baru bagian dari bonus demografi tersebut, yang tentu dengan segala potensi, dengan segala kreativitas, anda sekalian akan menjadi bagian dari membangun ekonomi Indonesia yang lebih maju, membangun kesejahteraan masyarakat yang lebih makmur, serta berkeadilan. Dan tentunya mewujudkan Indonesia Raya yang kita cita-citakan bersama,” ujar Nizam. Lebih jauh Nizam menyebut, kemajuan dunia saat ini sangat ditentukan oleh inovasi. Dasar dari inovasi adalah kreatifitas. Kreatifitas dan inovasi akan lahir dari perguruan tinggi ketika para sarjananya memiliki jiwa merdeka. Mempunyai semangat untuk terus berkreasi dan semangat untuk mengembangkan ilmu teknologinya, serta mendharma bhaktikan ilmu teknologinya itu untuk kemajuan bangsa dan negaranya. “Saya yakin anda sekalian dengan bekal dari Universitas Muhammadiyah Malang, Anda sekalian sudah mendapat bekal yang cukup dari segi kompetensi dan dari sisi akhlak. Tinggal bagaimana anda sekalian memanfaatkan bekal tadi untuk membangun masa depan anda sekalian,” pungkas Nizam. (mid/can)
Kemenko PMK: Inovasi Pertanian UMM Layak Dimanfaatkan secara Nasional

DEPUTI 2 Bidang Koordinasi Pemerataan Pembangunan Wilayah dan Penanggulangan Bencana Kemenko PMK Mayjen TNI (Purn.) Dody Usodo Hargo S., S.IP., MM. melakukan kunjungan lapang terkait peluang pemanfaatan inovasi pertanian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (21/10) kemarin. Lebih jauh, kunjungan lapang tersebut dalam rangka penjajakan dan melihat berbagai inovasi pertanian yang tengah dikembangkan oleh sivitas akademika UMM. Dody didampingi langsung Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd., diajak berkeliling ke berbagai tempat yang digunakan untuk pengembangan inovasi pertanian. Di antaranya ke Smart Farming dan Edupark yang dikelola Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM. Tak hanya diajak ke berbagai tempat pengembangan inovasi pertanian, UMM sebagai kampus pelopor Energi Baru Terbarukan (EBT), Dody juga diajak melihat Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Sengkaling. Ketika berada di UMM Dody, Rektor UMM serta rombongan diajak untuk mengunjungi beberapa tempat seperti Smart Farming, Edupark FPP Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) serta Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Sengkaling. Di lokasi Smart Farming, Dody langsung ditunjukkan pesawat tanpa awak atau drone hasil pengembangan dosen FPP UMM, Dr. Wahono, yakni Motodoro SRI yang terbang melenggang menyirami tanaman pada lahan yang dilintasi. Setelah itu, rombongan menuju ke Edupark FPP dan meninjau ke beberapa laboratorium seperti Fish Edupark, tempat Produksi Riset Nasional (PRN)-UMM, tempat Produksi Ayam Kampung Super, Experimental Farm, dan Akuaponik. Agenda kunjungan lapang ini berlangsung gayeng dengan diakhiri makan bersama berbagai hasil produk inovasi pertanian yang dikembangkan FPP di Edupark. Sebagai penutup agenda kunjungan lapang, rombongan berangkat dan meninjau PLTMH. Setelah melihat berbagai inovasi pertanian yang ada di UMM, Dody secara khusus mengapresiasi banyak hal yang tengah dikembangkan UMM. Bahkan Dody menilai layak melaku ke nasional. “Saya sangat mengapresisi hal-hal yang ada di sini. Secara jujur, saya rasa, saya belum pernah melihat inovasi-inovasi seperti ini sekalipun itu di perguruan tinggi negeri di Indonesia. Berbagai inovasi yang ada di sini layak untuk melaju (untuk dimanfaatkan) ke nasional,” ungkap Dody Usodo. Ditemui di sela kunjungan lapang, Dekan FPP UMM menyambut positif kunjungan Dody untuk melihat peluang pemanfaatan inovasi pertanian milik UMM. “Setelah meninjau beberapa tempat yang ada di UMM, mereka cukup kaget karena kita memiki semua yang diperlukan untuk kebutuhan pangan dan teknologi di Indonesia. Dan tentunya ini akan menjadi referensi dalam pembangunan mereka bahwa inovasi pertanian kita bisa diaplikasikan secara nasional,” ungkap David. (riz/can)
Dosen IAIN Sorong Jadi Wisudawan Terbaik UMM

BERBEKAL penelitian tentang bagaimana transmisi pendidikan Agama Islam (PAI) dari sudut pandang budaya lokal yang ada di Pulau Misool, Raja Ampat, Papua Barat, Indria Nur berhasil meraih gelar doktor dengan predikat summa cum laude di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Berkat penelitiannya ini juga, pada gelaran Wisuda ke-97 Periode III Tahun 2020, dosen Pendidikan Agama Islam di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong ini menjadi lulusan terbaik jenjang doktoral dengan IPK 3,90. Indria memandang bahwa transmisi merupakan salah satu cara untuk mempertahankan keberlangsungan sebuah pendidikan dan kebudayaan. Tidak hanya bentuk budaya, melainkan juga nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya. Pulau Misool yang merupakan salah satu dari empat kepulauan besar di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, warganya mayoritas Muslim. Jumlahnya mencapai kurang lebih 9000 jiwa. “Kehidupan beragama masyarakat Misool masih sangat kental dengan corak tradisional. Pun demikian dengan pemahaman leluhur yang bernuansa tarekat dan mistis. Beberapa fenomena yang ada di kampung-kampung di pulau Misool tentang bagaimana kepengurusan masjid dan kegiatan keislaman lainnya yang masih selaras dengan kearifan lokal,” ungkapnya. Tak hanya itu, pendidikan di Misool juga tak lepas peranannya dari tradisi budaya lokal dan Islam yang terdapat di Misool. Melalui pendidikan juga transmisi berbagai macam budaya dan nilai-nilai terjadi, yaitu nilai-nilai luhur dan nilai-nilai budaya Islam yang tetap berpegang teguh pada Al-Qur‘an dan Sunnah Rasul serta kearifan lokal. Fenomena inilah yang membuat Indria Nur, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam untuk mengangkatnya dalam sebuah buku pengembangan disertasinya yang berjudul “Islam Misool Raja Ampat: Pendidikan Agama Islam dalam Bingkai Budaya Lokal”. Indria memfokuskan penelitiannya untuk mendeskripsikan dan memahami bentuk budaya lokal sebagai media transmisi ajaran Islam. Juga memahami proses transmisi ajaran Islam melalui budaya lokal di pulau Misool Raja Ampat dengan berdasarkan pada data penelitian kualitiatif etnografi, yang didasari atas beberapa alasan, makna dari suatu tindakan. Juga strategi yang dilakukan dalam kehidupan sosial agar dapat memahami bagaimana transmisi pendidikan Agama Islam yang ada di sana. Indria menemukan bahwa ada beberapa tradisi Islam di kampung Fafanlap Pulau Misool berupa bentuk Nilai-Nilai Atnelevo (Persaudaraan) dan Fatanon (Kekeluargaan). Di kampung ini juga ada penggunaan simbol kain putih yang selalu ditemukan pada setiap proses ritual. Baik saat Pernikahan, Aqiqah, Zikir Maulud, Baca doa Ari dan Hadiyat serta bentuk-bentuk ritualnya yang secara turun-temurun mereka laksanakan dengan alasan itu sudah menjadi ajaran dari orang tua mereka. Selain itu ada beberapa cara yang masyarakat lakukan agar tetap mempertahankan tradisinya. Juga mewariskan nilai-nilai Islam melalui budaya lokal seperti menghormati leluhur atau nenek moyang. Ini merupakan sikap dari masyarakat Misool dalam mempertahankan tradisi atau kearifan lokal yang masih ada sampai sekarang. “Karena dengan menghormati leluhur atau nenek moyang, masyarakat Misool percaya bahwa hal tersebut dapat membuat masyarakatnya tetap melestarikan tradisi atau kearifan lokal yang dulu diajarkan oleh nenek moyangnya,” ujar Indria. Hal ini nampak dengan begitu kuatnya mereka mempertahankan ajaran yang telah diwariskan dari turun temurun yaitu tradisi khutbah ṣalat Jumat dan khutbah hari raya dengan menggunakan teks Bahasa Arab. Ketika Hakim Syara’, di kampung-kampung lain sudah mulai melakukan perubahan. Dengan memberlakukan khutbah menggunakan Bahasa Melayu, namun tidak demikian adanya di Kampung Fafanlap. Ditinjau dari deskriptif-analitis yang dituliskan dalam disertasinya, Indria menuliskan temuan bahwasanya proses transmisi ajaran Islam pada budaya lokal melalui garis vertical orang tua dan garis oblique yaitu masyarakat dan keluarga lain. Di mana keluarga berfungsi sebagai tempat terjadinya sosialisasi nilai-nilai budaya yang terdapat dalam komunitas masyarakat serta sentral seluruh kehidupan sosial seorang anak, tempat dia dibesarkan, diasuh dan dididik tentang kebudayaannya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Temuan lainnya di mana proses transmisi ajaran Islam pada budaya lokal terjadi melalui proses enkulturasi, sosialisasi dan internalisasi. Di mana orang tua dan keluarga merupakan lingkungan pertama yang mengenkulturasi, membudayakan dan mengenalkan nilai-nilai kebudayaan. Juga nilai ajaran Islam berupa nilai aqidah, ibadah dan akhlak yang tersirat dan tersurat dalam proses dan pelaksanaan ritual dan nilai-nilai budaya lokal sebagai bentuk proses pendidikan Islam. Budaya itu yang menghantarkan kearifan lokal dan menjadi identitas masyarakat yang mewujudkan keharmonisan antara masyarakat dengan lingkungan hidup di sekitarnya. Akhirnya membentuk pribadi yang khas pada masyarakat Kampung Fafanlap di pulau Misool. Di sisi lain, transmisi ajaran Islam juga melalui aktivitas ritual budaya lokal dan ritual keagamaan masyarakat melalui ritual-ritual budaya dan nilai kearifan lokal. Yaitu melalui bentuk ritual Kati Sasi, Kisi Kaleo, Top Kaleo dan Sop Kabom, Hadiyat makam Keramat, Ai Kauto, serta budaya yang identik dengan hari Islam diantaranya ritual Zikir Maulud, Tafu Kautun, Sop Ṣafar, Ritual Qurban dan Dabus serta nilai-nilai Fatanaon dan atnelevo. “Oleh karena itu ritual budaya dan keagamaan yang ada pada masyarakat Misool menunjukkan harapan masyarakat untuk menjaga identitas kebudayaan mereka sebagai masyarakat yang religius,” pungkasnya. (*/can)
86 Mahasiswa Psikologi Ikuti Program Transfer Kredit di Asia University-Taiwan

SEBANYAK 86 orang mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti program transfer kredit internasional di Asia University – Taiwan. Mereka merupakan mahasiswa semester tiga dan lima yang mengambil mata kuliah Positive Psychology dan Interpersonal Relationship di kampus tersebut. Saat dikonfirmasi, Dekan Fakultas Psikologi UMM, M. Salis Yuniardi, PhD, mengungkapkan bahwa program ini merupakan bentuk implementasi kerjasama yang telah dijalin sejak pertengahan 2019 oleh kedua institusi. “Selain transfer kredit, Fakultas Psikologi UMM dan Asia University juga memiliki program kerja sama dalam hal short course, kuliah tamu, pertukaran dosen, dan konferensi. Sebenarnya di bulan Juli kemarin ada program short course bagi mahasiswa dari Asia University, dan kita sebagai host-nya sudah menyiapkan dengan matang. Namun karena pandemi akhirnya keberangkatan mahasiswa dari Taiwan ditunda dan akan tetap dijadwalkan jika situasi telah kondusif”. Salis menambahkan bahwa program yang saat ini sedang berlangsung akan menegaskan jalan Fakultas Psikologi UMM menuju rekognisi internasional. Apalagi Fakultas Psikologi UMM telah mengajukan akreditasi ASEAN University Network-Quality Assurance (AUN-QA), serta pada tahun ini juga secara resmi telah membuka program kelas Internasional di tahun akademik 2020/2021. Selain itu, Salis juga menjabarkan bahwa program transfer kredit ini merupakan bentuk nyata Fakultas Psikologi UMM dalam melaksanakan aktivitas Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM) yang dicanangkan pemerintah, di mana mahasiswa harus menempuh 40 SKS proses pembelajaran di luar kampus sendiri. Mahasiswa Fakultas Psikologi UMM mengaku sangat antusias setelah dua minggu mengikuti program transfer kredit internasional ini secara daring. Dalam keterangannya, Yundita Putri mengaku sangat senang bisa diberi kesempatan tersebut. “Sangat excited. Karena, kan, ini pengalaman baru dan pengalaman yang luar biasa bisa dikasih kesempatan ikut program transfer kredit. Terus juga dapat pengalaman model kuliah online yang lain dan relasi yang lebih luas. Program seperti ini bisa menambah keberanian mahasiswa dalam mengemukakan pendapat. Terus juga kemarin dapat ilmu baru tentang perbedaan cara berkenalan kultur budaya di sini sama kultur budaya di sana,” ujarnya. Prof. Ting Ying, salah satu dosen pengajar dari Asia University, mengungkapkan bahwa mahasiswa Fakultas Psikologi UMM menunjukkan rasa ingin tahu dan antusiasme yang besar. Untuk itu, Ia juga merasa perlu menyiapkan perkuliahan yang lebih menyenangkan dan terstruktur. (*/can)
Pandangan Bung Hatta tentang Pendidikan Tinggi Islam

DUTA Besar Republik Indonesia (RI) di Beirut untuk Republik Lebanon, Hajriyanto Y. Thohari didapuk memberikan orasi ilmiah dalam gelaran Wisuda ke-97 Periode III Tahun 2020 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (21/10). Dalam orasinya, secara khusus Hajriyanto memaparkan pandangan Mohammad Hatta, salah satu proklamator kemerdekaan Republik Indonesia tentang Ilmu, Agama dan Pendidikan Tinggi Islam. Orasi virtual ini disampaikan di hadapan para wisudawan dari jenjang diploma, sarjana, hingga pascasarjana. Caranya agama menghadapi suatu persoalan dalam masyarakat, kata Muhammad Hatta, adalah satu sikap yang tidak mudah. Ini menghendaki didikan tinggi. Didikan tinggi itu harus diberikan oleh sekolah tinggi Islam. Dengan demikian, belajar ilmu di sekolah tinggi Islam, kata Hatta, haruslah berbeda dengan sekolah tinggi yang lain. Belajar di sekolah tinggi Islam tidak semata-mata untuk mempelajari ilmu saja. Sebab berbagai ilmu yang diajarkan di sini dapat pula dipelajari pada sekolah tinggi atau universitas yang lain. “Belajar ilmu di universitas Islam atau sekolah tinggi Islam harus menetapkan kemauan untuk mempelajari ilmu pengetahuan di atas dasar pandangan hidup Islam. Apakah dengan demikian berarti Islam itu ilmu? Hatta dengan tegas menjawab bahwa Islam bukan ilmu. Islam adalah agama. Islam sebagai agama, pemikirannya tidak dapat memberikan isi kepada ilmu. Sumbanga Islam kepada ilmu terdapat pada anjurannya kepada para penganutnya untuk mempelajari ilmu sebanyak-banyaknya, di mana saja dan dari siapa saja,” ungkap Hajriyanto. Hatta kemudian mengajukan beberapa bahan renungan bagi siapapun yang terlibat dalam sekolah tinggi Islam atau universitas Islam. Umat islam, menurut Hatta, diharuskan untuk menuntut kemuliyaan hidup dan ketinggian derajat. Untuk hal itu maka perlu belajar ilmu pengetahuan. Umat Islam dianjurkan untuk menuntut ilmu di segala tempat serta menjemputnya dari segala lidah. Demikian Hatta mengungkit ungkapan dari Muhammad Abduh. Seorang pembaharu pemikiran Islam dari Mesir. Di tempat di mana orang menuntut ilmu bagi orang Islam, di tempat mana orang menuntut ilmu bagi Hatta tidaklah menjadi soal. Yang penting adalah hikmat dan kepandaiannya. Sungguh mengejutkan bagaikan orang pesantren, Hatta mengatakan dengan mengutip sebuah hadis: Hikmah atau ilmu pengetahuan itu barang tuntutan orang-orang mukmin. Dimana saja mereka dapati Ia lah orang yang paling berhak menjemputnya. Artinya Hatta ingin mengatakan hikmah dan kepandaian itu barang hilangnya umat Islam. Maka dimanapun saja umat Islam menemui hikmah tersebut, maka harus diambilnya. “Dalam pengamatan Hatta, sejarah Islam telah cukup membuktikan bahwa berabad-abad lamanya Islam telah mampu menjadi pendorong pengembangan ilmu pengetahuan. Para ilmuwan pada masa lalu telah berupaya untuk menghidupkan lagi ilmu-ilmu Yunani yang telah terpendam di abad pertengahan dan kemudian menyebarkannya ke Eropa melalui Asia Minor atau Asia Kecil dan Spanyol. Sisa-sisa kebesaran kultur Islam di Spanyol masih tetap kelihatan nyata sampai sekarang,” terang Mantan Wakil Ketua MPR RI periode 2009-2014 ini. Kalau tidak karena Islam, sambungnya, tidak mungkin bangsa Arab yang terbelakang dalam segala aspek kehidupannya itu, dalam tempo yang singkat berhasil menjadi pemangku dan penyebar ilmu. Itu semua, menurut Hatta, harus direnungkan terutama oleh mereka yang terlibat dalam sekolah tinggi Islam atau universitas Islam. Demikian juga mereka yang belajar di unit universitas islam. Logika ilmu memang tidak berubah, tetapi tujuan ke mana ilmu itu akan diarahkan hendaknya sepadu dengan etika Islam. Etika Islam dalam ilmu yang dimaksudkan Hatta adalah orientasi dari ilmu itu yang seharusnya selalu tertuju kepada upaya untuk terciptanya kesejahteraan manusia seluruhnya. Sekolah tinggi Islam atau universitas Islam haruslah mengkaji masalah bagaimana Islam memandang masyarakat ini dengan seluruh perkembangannya. Masalah ini belum banyak dikupas dan dianalisis. Padahal banyak ayat al Quran tentang masalah ini. Inilah tugas dan lapangan kajian sekolah tinggi Islam atau universitas Islam. Sekolah tinggi Islam atau universitas Islam, menurut Hatta, harus memiliki spesifikasi dalam hal ilmu dan masalah yang dikaji dan dipelajarinya. Apabila yang diajarkan dan dikaji didalamnya adalah itu saja dengannya dikaji dan dipelajari di perguruan tinggi yang lainnya (non-Islam), kata Hatta maka adanya sekolah tinggi Islam atau universitas Islam tersebut kurang berarti sama sekali. “Hatta menganjurkan agar yang diajarkan dan dikaji didalamnya adalah antara lain bagaimana pandangan Islam tentang masyarakat, bagaimana pandangan Islam tentang ekonomi, bagaimana pandangan Islam terhadap hukum, bagaimana pandangan Islam tentang keadilan, dan sebagainya. Tidak cukup sampai di sini, konsep Hatta tentang pendidikan tinggi Islam itu. Ia juga mengajukan konsep yang operasional lagi, yaitu bahwa untuk menunjang terciptanya kekhususan sekolah tinggi Islam dan universitas Islam, maka menurut Hatta perlu disiapkan guru atau pengajarnya sendiri. Kata Hatta, jangan sampai guru-gurunya diambilkan dari sekolah tinggi yang lain,” ujar Hajriyanto. Dalam hal ini ia berkata, kalau diadakan universitas Islam atau sekolah tinggi Islam, tapi gurunya diambilkan dari universitas lain, tentu tidak ada gunanya pendirian universitas islam. Pasalnya universitas Islam haruslah berdasarkan kepada agama Islam. Universitas Islam hendaknya memikirkan apa itu pandangan hidup Islam, bukan sekedar sebuah universitas biasa yang diberi nama atau label Islam seperti banyak yang terjadi seperti sekarang ini. “Bahkan nama-nama fakultas atau jurusan pun sama persis dengan universitas biasa. Alih-alih memikirkan paradigma ilmu pengetahuan berdasarkan pandangan hidup islam, dosen-dosen dan tidak jarang rektornya sekalipun seringkali pinjaman dan berangkat dari universitas biasa yang lain. Sebagai penutup, sebuah pertanyaan penting untuk diajukan. Apakah universitas Islam, seperti universitas Muhammadiyah kita sekarang ini sudah berkembang seperti yang sudah dikonsepsikan seperti bung Hatta. Pertanyaan ini berpulang kepada sivitas akademika itu sendiri,” pungkas Hajriyanto. (can)