Mahasiswa UMM Gagas Aplikasi E-Nasyid untuk Berdayakan TPQ sebagai Pusat Studi Tajwid

PANDEMI tidak hanya menghambat pelaksanaan pendidikan formal, tetapi juga pendidikan nonformal seperti di Taman Pendidikan Quran (TPQ). Anak-anak tak bisa lagi belajar di TPQ dan memperdalam agama, seperti belajar tajwid. Padahal, mempelajari dan mengimplementasikan tajwid akan menambah kesempurnaan dalam sholat dan membaca Al-Quran. Berangkat dari kondisi ini, sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dari berbagai jurusan yakni Safira Rahmadita Ismara, Devi Mellysafitri, Muhammad Natsir Hentihu, dan L. Yasril Ilham membuat sebuah inovasi yang menggabungkan metode mengaji dan teknologi bertajuk “Metode Nasyid Berbasis Articulate Storyline” dan menerapkannya di TPQ Shirotol Mustaqim. “TPQ Shirotol Mustaqim ini berlokasi di Desa Baamang Tengah, Kota Waringin Timur, Kalimantan Tengah. Peserta didik di sana rata-rata remaja usia 14 – 17 tahun. Mereka mengeluh karena tidak ada lagi kegiatan mengaji di TPQ padahal pembelajaran tajwid penting itu untuk dipelajari. Jadi, kami tergerak untuk mencoba mengatasi masalah itu dengan pendampingan implementasi metode nasyid berbasis articulate storyline ini,” ungkap Safira, sapaan akrabnya, Senin (16/11/2020). Pemilihan metode nasyid ini diasumsikan memudahkan anak-anak dalam belajar. Pasalnya, gaya belajar anak-anak lebih condong ke hal-hal yang sifatnya audio-visual dan interaktif. Sehingga, melalui musik dan lirik yang mudah dihapal peserta didik akan bisa memahami tajwid dengan baik. Program ini dimulai dengan identifikasi masalah mitra melalui pretest online untuk melihat kemampuan awal dari aspek makhorijul huruf, kelancaran, dan ketepatan membaca tajwid. Kemudian, tim merevisi media sehingga hukum tajwid yang diselesaikan terlebih dahulu sesuai dengan hukum tajwid yang dialami oleh peserta didik. “Setelah pretest dan revisi, kami melaksanakan program pendampingan secara daring menggunakan Zoom Meeting. Peserta didik melihat tayangan media E-Nasyid kemudian bersama-sama tim menirukannya. Kemudian di setiap akhir pertemuan, peserta diminta membaca beberapa ayat Al-Quran sesuai hukum tajwid yang muncul,” terang mahasiswa Prodi Matematika FKIP Universitas Muhammadiyah Malang itu. Setelah semua materi hukum tajwid disampaikan, tim dan ustadz melakukan posttest. Tujuannya, untuk melihat apakah ada peningkatan pemahaman peserta setelah program berakhir. Kepuasan mitra juga dilihat melalui penyebaran angket. “Alhamdulillah, hasilnya memperlihatkan kalau peserta di TPQ mitra mengalami peningkatan kemampuan pemahaman materi hukum tajwid setelah program ini dilaksanakan. Respon mitra terhadap keseluruhan program juga sangat baik,” tuturnya bersemangat. Tak berhenti di situ, sebagai tindak lanjut, Safira dan tim melakukan kaderisasi kepada pengelola TPQ dan mengajak masyarakat di luar TPQ Shirotol Mustaqim untuk bergabung secara online. Tim mempublikasikan program melalui Instagram yaitu @e.nasyid20 dan akun Youtube Studi Tajwid E-Nasyid kemudian merekrut peserta didik dengan rentang usia 12 – 17 tahun serta usia anak melalui pendampingan orang tua melalui pengisian Google Form. Dimintai keterangan atas keberhasilan tim ini, Siti Khoiruli Ummah, dosen pembimbing, mengaku bersyukur dan bangga. Apalagi, kegiatan ini punya luaran lain yakni HKI dan publikasi ilmiah. Ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa. “Bersyukur dan bangga ya… Alhamdulillah program berjalan dengan lancar. Kelompok ini akhirnya juga bisa mendapatkan HKI untuk buku pedoman pelaksanaan program dan publikasi artikel ilmiah di Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Madani. Ini tentu sangat bermanfaat bagi mahasiswa. Tidak hanya pengalaman, tetapi juga produk nyata yang berkontribusi untuk portofolio mereka,” papar Ulli. Kelompok ini hakikatnya adalah tim PKM UMM pada skim PKMM yang telah lolos PKP 2. Mereka akan berlaga pada PIMNAS 33 yang digelar secara online, 24-29 November 2020. (*/can) Shared:
Mahasiswa UMM Rancang Alat Optimalisasi Sistem Panen Tebu

MINIMNYA penerapan teknologi dalam kegiatan pertanian, utamanya pertanian tebu, menjadi penghambat produktivitas. Berangkat dari situ, sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dari berbagai jurusan memiliki inovasi di bidang pertanian dengan merancang sebuah alat untuk mengoptimalisasi produktivitas hasil pemanenan dan tebang angkut oleh petani tebu. Alat ini dinamai dengan Magic Machine Sugar Cane. Alat yang didaftarkan Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) ini berhasil mendapatkan pendanaan dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI). Anggota kelompok ini terdiri dari Moch. Noor Fajar Rohmatullah, Moh. Miftachul Fadhil, dan Retno Muji Rahayu. “Dengan Magic Mechine Sugar Cane, petani dapat mengoptimalkan jumlah tenaga kerja untuk kegiatan pertanian yang lain. Implementasi Magic Mechine Sugar Cane hanya membutuhkan tiga orang pekerja guna memudahkan proses panen tebu. Kegiatan tenaga kerja yang dibutuhkan antara lain satu orang operator mesin dan dua orang pengendali lahan,” terang Moch. Noor Fajar Rohmatullah, selaku ketua tim yang merupakan mahasiswa Prodi Teknik Industri ini. Selama ini, mobilisasi pada proses tebang angkut dilakukan dengan memuat hasil tebu yang sudah dipotong ke dalam truk untuk dibawa ke pabrik. Truk yang digunakan memiliki kapasitas 6-8 atau 10-12 ton. Tebu yang digiling di suatu pabrik gula jelas hanya sebagian kecil saja yang akan menjadi gula. Jika satu Kw tebu mempunyai rendemen 10 %, maka hanya 10 Kg gula yang didapat dari satu Kw tebu tersebut. Data inilah yang menjadi rujukan kelompok ini untuk mencari pemecahan masalah dalam konsep pengoptimalan pengiriman hasil panen ke pabrik yang dihasilkan Magic Machine Sugar Cane, yaitu dengan mengirimkan hasil panen tebu dalam bentuk cair atau nira guna mengoptimalakan volume pengiriman. Mekanisme kerjanya yakni pertama, proses pemotongan daun tebu yang dilakukan pada bagian alat yang menjorok kedepan guna memisahkan antar batang tebu dengan daunnya. Kedua, proses pemotongan batang tebu pada bagian bawah. Proses tersebut berfungsi untuk memisahkan akar dengan batang dalam proses pemanenan tebu. Ketiga, proses penggilingan atau pemerahan dilakukan oleh dua komponen penggilingan dengan tujuan proses nira yang dihasilkan dapat maksimal. “Ampas tebu yang sudah selesai dari proses pemerahan akan keluar melalui cerobong dengan dibantu conveyor. Sedangkan nira yang sudah terpisah dengan ampas tebu akan melalui tahap penyaringan guna meisahkan bagian ampas tebu yang masih ikut kedalam nira. Setelah melalui tahap penyaringan nira akan disimpan pada tabung khusus dengan suhu 10º agar kualitas nira tetap terjamin,” terang Fajar, Kamis (19/11). Magic Mechine Sugar Cane dirancang dengan ketinggian 2,5 meter dan lebar 2,5 meter panjang 3 meter. Adapun mesin yang dibuat dapat memudahkan operator dalam menjalakan mesin serta menyesuikan dengan kondisi lahan tebu yang ada. Rangkaian Magic Mechine Sugar Cane memiliki tenaga motor penggerak utama yaitu disel. Disel dapat menggerakan beberapa komponen mesin, antara lain cane carier, cane cuter dan roll gillingan. (*/can)