Drill Square Hole untuk Efisiensi Instalasi Listrik

Melihat masih banyak pekerja bangunan mengalami kesulitan saat proses pemasangan instalasi listrik, membuat Ilham Akbar R. Supu, mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mencoba untuk mendesain alat yang dapat mempermudah proses tersebut. “Awalnya itu baca-baca kajian pustaka tentang instalasi listrik untuk mata kuliah Proyek Desain Tim, ternyata pekerjaan ini membutuhkan waktu yang cukup panjang,” jelas Ilham. Mahasiswa yang kini sedang menempuh skripsi ini mencoba untuk mengembangkan alat yang sudah ada sebelumnya dan menyesuaikan dengan model instalasi listrik yang ada di Indonesia. “Alat ini sebenarnya sudah ada di negara lain, tapi ya tidak bisa serta-merta diaplikasikan di Indonesia. Jadi, saya merancang ulang menyesuaikan yang akan di sini,” papar mahasiswa asal Makassar ini. Drill Square Hole didesain untuk mempersingkat waktu pemasangan instalasi listrik bagi pekerja bangunan pada proyek bangunan besar. Menurutnya, proses pemasangan instalasi listrik paling panjang terletak pada proses pelubangan tembok maupun gipsun. “Jadi, pekerja bangunan itu apalagi untuk pekerja bangunan di proyek seperti hotel atau perkantoran paling lama ya di proses pelubangan dindingnya,” jelasnya. Tambahnya, alat ini dirancang untuk menghindari resiko kecelakaan kerja yang sering dialami oleh pekerja bangunan saat proses instalasi listrik seperti masuknya serpihan material pada mata saat proses pelubangan dinding. “Waktu proses instalasi listrik itu pekerja bangunan masih sering mengalami kecelakaan kerja, salah satunya masuknya serpihan material pada mata,” tandasnya. Alat yang berhasil masuk lima besar karya terbaik pada ajang Kompetisi Mahasiswa Muhammadiyah Nasional yang diselenggarakan oleh Asosiasi Sains dan Teknologi Perguruan Tinggi Muhammadiyah (AST-PTM) ini juga mempunyai manfaat lain, yakni hasil pelubangan untuk pemasangan saklar lebih rapi dibandingkan menggunakan model tradisional. “Karena saya berfokus untuk mempersingkat waktu kerja dengan hasil yang maksimal, maka alat ini saya desain dengan model yang mudah dioperasikan,” tegasnya. Alat ini dilengkapi dengan paku center yang berfungsi sebagai titik pusat awal pelubangan agar tidak terjadi pergeseran pada saat pelubangan dinding. ”Drill Square Hole dilengkapi dengan paku center yang membuat proses pelubangan lebih cepat dengan hasil yang sempurna,” lengkapnya. (nis/can)
Borong Penghargaan di Indodax Short Film Festival 2020

Punya bakat akting yang mumpuni, Arfan Adhi Pradana, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang juga malang melintang di dunia perfilman Kota Malang ini, baru saja meraih gelar Best Actor dalam Indodax Short Film Festival 2020. Aktingnya yang natural dalam film berjudul Bumi karya Meraki Visual ini diganjar gelar sebagai Best Actor. Ia berperan sebagai Pak Ahmad, seorang guru yang memiliki murid bernama Bumi. Bumi, seperti dikisahkan dalam film itu, adalah anak yang tidak bisa mengikuti sekolah daring karena tidak memiliki handphone. Kebijakan pasca pandemi yang mengharuskan sekolah melalui platform online memang menjadi tantangan sendiri bagi semua lapisan masyarakat, tak terkecuali bagi Bumi, seorang anak petani di sebuah pelosok desa. Pak Ahmad, sebagai guru, pun akhirnya punya solusi dengan memberikan kelas privat untuk Bumi. Film pendek berdurasi empat menitan ini pun sukses merebut hati para juri bahkan meraih tiga gelar penghargaan sekaligus. Istimewanya, film Bumi ini adalah buah karya dari mahasiswa-mahasiswi yang dibimbing oleh Arfan Adhi sendiri. Nama timnya adalah Meraki Visual. “Tim Meraki Visual terdiri dari 13 mahasiswa, tidak semuanya punya basic audio visual. Ada pula yang dari konsentrasi public relations. Dan menariknya delapan dari keseluruhan anggota tim belum pernah ikut proses syuting sama sekali,” tutur Arfan. Tantangan tersendiri dirasakan oleh Meraki Visual. Tim yang terdiri dari Kiki Rahman Ardiansyah(Ikom AV 2018), Udaimatun Nur Farahin (Ikom PR 2019), Ardian Esa (Ikom AV 2018), M Mizan Sya’roni (Ikom AV 2018), Two Bagus Surya (Ikom AV 2018), Rizaldi Dwi (Ikom AV 2018), Abdul Latif (Ikom AV 2018), Dwi Cahyo Septoadi (Ikom AV 2018), Chu Livia Christine Wijaya (Ikom AV 2018), Reyhan Ramadhan (Ikom AV 2018), M Ammar Nasbahar (Ikom AV 2018), dan Aldi Novandi Putra (Ikom AV 2018). Selain mereka juga ada Ainni Firtiani, mahasiswi baru Ilmu Komunikasi angkatan 2020 yang tergabung dalam Tim Meraki Visual. “Proses pembuatan film ini memakan waktu sekitar satu bulan, proses readingnya sampai tiga kali. Sebagian besar tim memang belum pernah bikin film sama sekali. Ini menarik. Meski pengalaman pertama, namun mereka bisa berkerja secara maksimal,” puji Arfan. Kegigihan dan keuletan tim Meraki Visual ini pun berhasil menyabet gelar Best Actor, Most Views Movie, dan Best Director. Atas prestasi itu mereka mendapatkan hadiah total senilai 35 juta rupiah. Ada kisah menarik yang terselip dalam proses pembuatan film Bumi ini. Bermula dari keisengan tim untuk ikut kompetensi sambil menunggu berlangsungnya proses kuliah daring awal semester, mereka berkolaborasi untuk membuat karya bersama. Pada hari kedua proses syuting, kegiatan syuting mereka sempat terhenti karena hujan deras dan angin kencang. Hal itu membuat mereka harus menunda syuting hingga minggu kedua. Namun, seperti semangat yang dituangkan dalam film mereka, bahwa pendidikan adalah aset masa depan, meski sibuk membuat karya, tim Meraki Visual tidak meninggalkan proses kuliah daring. “Anak-anak ini sebelum take adegan naik motor dan adegan belajar di gubuk, mereka ikut kuliah online dulu. Saya ingat waktu itu ada yang ikut kelasnya bu Isnani ada yang ikut kelas Pak Jamroji. Ini yang membekas dalam benak saya, mereka tidak meninggalkan kuliah meskipun asyik membuat karya. Jadi saya ya nungguin mereka selesai kuliah online dulu, baru take adegan,” ungkapnya sambil tertawa. Karya film berjudul Bumi ini dapat disaksikan melalui kanal Youtube Meraki Visual. Kesuksesan Tim Meraki Visual ini adalah sesuatu yang sebenarnya tidak mereka sangka. Arfan mengakui, selain merupakan pengalaman pertama mereka mengikuti kompetisi, mereka tidak memiliki target yang muluk-muluk. Niatnya cuma belajar bikin film pendek, karena gara-gara pandemi, praktikum AV 1 semeter lalu yang outputnya membuat film pendek, terpaksa gagal diproduksi. “Targetnya sebenarnya hanya 15 besar saja. Jadi ketika mereka diumumkan sebagai pemenang dan bahkan dapat tiga gelar sekaligus, mereka nangis bareng-bareng di zoom, saya pun ikutan nangis,” tutur Arfan. Penghargaan ini menurut Arfan juga memacu motivasi tim Meraki Visual, khususnya bagi Kiki Rahman Ardiansyah, sang sutradara film Bumi. Pengalaman pertama Kiki mendirecting film ini berhasil membuatnya semakin yakin menapaki jalur sutradara. (wnd/can)