Kemendikbud Gelar Sosialisasi Kedai Reka di UMM

Koordinator Tim Kerja Akselerasi Reka Cipta Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Achmad Adhitya, Ph.D, pada Sabtu (28/11) pagi melakukan sosialisasi bersama kurang lebih 27 Perguruan Tinggi se-Malang di Universitas Muhammadiyah Malang. Sosialisasi ini terkait adanya terobosan dari Ditjen Dikti Kemendikbud RI dalam membuat Platform Kedaulatan Indonesia dalam Reka Cipta (Kedai Reka) dan terobosan baru dalam mekanisme pendanaan perguruan tinggi melalui insentif matching fund sebesar Rp 250 Miliar. “Insentif hibah ini bertujuan untuk mendorong perguruan tinggi untuk mencapai 8 (delapan) Indikator Kinerja Utama Perguruan Tinggi yang telah ditetapkan oleh Kemendikbud,” ucap Adhit. Melalui platform Kedai Reka, pihak perguruan tinggi dari berbagai wilayah Indonesia memiliki kesempatan yang setara untuk berkolaborasi dengan dunia usaha/industri dan mengajukan insentif matching fund tersebut. Platform Kedai Reka merupakan implementasi dari kontribusi visi kampus merdeka yang memberikan kebermanfaatan dan kesejahteraan masyarakat melalui karya cipta anak negeri dalam semangat membangun kemandirian bangsa. Platform ini merupakan wadah pertemuan antara Dunia Usaha dan Reka Cipta dari Perguruan Tinggi. Tujuan dari platform ini adalah menjadi jembatan akselerasi kerjasama dunia usaha/industri dengan para pereka cipta dari perguruan tinggi. Dari kerjasama tersebut, perguruan tinggi dapat menjadi pusat solusi dari setiap kebutuhan dunia usaha/industry melalui berbagai reka cipta. “Sehingga, platform Kedai Reka dapat menjadi salah satu penggerak pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19.” tandas Achmad Adhitya. Kebijakan merdeka belajar yang diperuntukan ke perguruan-perguruan tinggi datang dengan beberapa  paket yang sangat dirasakan pengaruhnya pada perguruan tinggi swasta seperti UMM. Pengaruh paket-paket tersebut semakin lama semakin luar biasa dan sangat membantu perkembangan perguruan tinggi terutama program platform Kedaireka ini. “Pemerintah tidak hanya menerapkan indikator untuk perguruan tinggi namun juga memfasilitasi kampus untuk mempublikasikan inovasi-inovasi yang ada di kampus agar sampai ke masyarakat dan perusahaan,” ujar Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. (shi/can)

Kesebelasan UMM Juara 1 di Pertandingan Sepak Bola Internal Persema PSSI

Pertandingan internal Persema PSSI se-Malang Raya untuk liga 1 telah usai diselenggarakan dari 5 November sampai 26 November. Dalam pertandingan tersebut tim Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih juara 1 setelah mengalahkan tim dari Universitas Brawijaya (UB) dengan skor 2-0 di babak final. Rangkaian pertandingan diadakan di lima lapangan yang berbeda yakni lapangan Mulyorejo, lapangan Porma Sawojajar, lapangan Bakalan Krajan, lapangan Jagung  Kedung Kandang, dan lapangan Tunjung Sekar. Untuk liga 1 diikuti oleh 14 tim yang berasal dari seluruh daerah Malang, baik kabupaten maupun kota. Renold Septian selaku ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Sepak Bola mengaku sempat kesulitan menyiapkan tim pertandingan ini. “Persiapan pertandingan lumayan berat karena tidak banyak anggota UKM yang sedang berada di Malang, hal ini menyulitkan kami untuk memilih anggota,” ujarnya. Meskipun menemui kesulitan, tim Sepak Bola Kampus Putih mampu bersaing mengalahkan tim lawan dengan hanya kebobolan satu gol saja dari seluruh pertandingan. Selain itu, meski dilaksanakan di tengah pandemi, protokol kesehatan Covid-19 tetap terlaksana dengan baik. “Kami diimbau agar  pemain dari masing-masing perwakilan untuk test rapid sebelum pertandingan, adanya pembatasan jumlah penonton, serta mewajibkan orang-orang selain pemain untuk memakai masker,” kata pelatih tim UMM Dr. Haris Thofly, SH., M.Hum. (shi/can)

Bangun Karakter Wirausaha Anak Lewat Membatik

Kegiatan membatik. (Foto: Istimewa)

Mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) beri pelatihan membuat batik celup anak panti asuhan untuk membentuk karakter kewirausahaan. Di bawah bimbingan Tutut Indria Permana, M.Pd., Siti Mariyatul Qibtiyah sebagai ketua, serta Ladysyah Fitri Rohmah, Nur Hadi Hidayat, dan  Yeni Setyaningsih sebagai anggota melatih 10 anak Panti Asuhan Putri Aisyiyah Dinoyo, Malang, selama hampir satu bulan, yakni 22 Agustus 2020 hingga 15 September 2020. Ide kegiatan ini bermula dari fakta bahwa masyarakat Indonesia lebih condong menjadi job seeker sehingga jumlah wirausahawan di Indonesia baru mencapai 2%. Padahal, idealnya, agar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, jumlah wirausahawan suatu negara setidaknya harus mencapai 4%. Karena itu, jiwa kewirausahaan harus ditanamkan sejak dini, terutama bagi anak-anak panti asuhan. “Dengan keterampilan wirausaha, mereka akan lebih mandiri. Ini penting karena mereka tidak bisa bergantung pada orang tua. Selain itu, ini juga bisa menjadi solusi bagi permasalahan donasi panti asuhan yang tidak tetap pada setiap bulannya,” tutur Siti Mariyatul Qibtiyah saat diminta keterangan lewat WA, Sabtu (20/11/2020). Lantaran dilaksanakan di masa pandemi, tim memanfaatkan platform Google Meeting untuk kegiatan pelatihan dan aplikasi WA untuk kegiatan pendampingan. Kegiatan pelatihan meliputi pemberian materi kewirausahaan, pembuatan batik celup, pemasaran, dan pengemasan produk. Menariknya, materi pembuatan batik celup disajikan dalam bentuk video tutorial yang diunggah di Youtube. “Tujuannya agar lebih mudah dipahami dan bisa diakses tanpa batas. Kami membuat video tutorial itu dengan aplikasi Kinemaster karena ada banyak pilihan efek animasi yang sesuai dengan kebutuhan kami,” tambah Siti. Selain itu, tim juga membuat Buku Pedoman Pelaksanaan Program dengan menggunakan bantuan software Power Point. “Terima kasih kepada tim yang telah memberikan pelatihan membuat batik celup secara daring. Kegiatan ini akan kami lanjutkan, kami optimalkan lagi. Kami akan membuat lagi kreasi-kreasi produk batik celup dan menjualnya kepada masyarakat luas,” terang Farida. Adanya kegiatan ini terbukti menambah pemahaman dan keterampilan anak panti asuhan dalam hal membuat batik celup maupun berwirausaha. Ini terlihat dari peningkatan hasil pretest dan posttest yang melonjak hingga 90%. Alhasil, mitra memberikan apresiasi yang tinggi atas pelaksanaan kegiatan ini. Bahkan, Farida Basori, pengelola Panti Asuhan Putri Aisyiyah Dinoyo pun berniat untuk melanjutkan kegiatan. Kegiatan ini merupakan aplikasi dari Kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa pada skim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M). PKM-M ini tidak hanya memperoleh pendanaan dari Belmawa Dikti, tetapi juga mewakili UMM pada gelaran PIMNAS 33 yang akan dihelat secara daring sepekan ke depan. Lewat keberhasilan program dan luaran tambahan artikel yang telah dipublikasikan di International Journal of Community Service Learning (IJCSL) Universitas Pendidikan Ganesha, diharapkan tim bisa mengharumkan nama Kampus Putih dengan menyabet gelar sebagai Jawara PKM-M Tahun 2020. (fid/can)