Tebar Kepedulian dan Kebersamaan, UMM Sambangi Pesantren NU

Kepedulian dan kebersamaan tidak pernah mengenal batasan. Semboyan itu juga yang dipegang teguh oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mengendarai mobil Bioskop Keliling (Bioling), mereka berangkat menuju Pondok Pesantren Nur Ilahi, Tajinan Malang dalam rangka melaksanakan program UMM Berbagi untuk Negeri pada Kamis (21/1) lalu. Selain bersilaturahmi, agenda itu juga bertujuan untuk memberikan inspirasi dan hiburan lewat film yang ditayangkan. Turut hadir rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd, ketua umum dan ketua Forum Komunikasi Warga Tionghoa Malang Raya (FKWTMR), Linggarjanto Budi Oetomo serta Soetjipto Gunawan. Sesampainya di sana, terlihat para santri dan warga pondok pesantren antusias menyambut mobil Bioling yang datang. Beberapa bersiap diri dan duduk dengan tenang menunggu agenda dimulai. Pada agenda itu pula, mereka disuguhkan film berjudul Jejak Langkah Dua Ulama. Mengisahkan perjuangan hidup pendiri Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) dalam menyebarkan Islam di nusantara. Film ini juga menyampaikan pesan bahwa selama ini kedua organisasi itu memiliki ikatan sejarah, persaudaraan dan kekeluargaan yang erat. Dalam kesempatan yang sama, KH. M. Tamyis Alfaruq selaku pengasuh Ponpes Nur Ilahi menyambut dengan suka cita program Berbagi untuk Negeri. Ia mengapresiasi program dan fasilitas yang telah disediakan oleh UMM. Apalagi memberikan hiburan dan motivasi lewat bioskop keliling yang dilaksanakan. “Semoga adik-adik santri dapat mengambil hikmah serta mendapat wawasan dan ilmu lewat kegiatan ini,” jelasnya menerangkan. Sementara itu, rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd juga menyempatkan diri untuk menyapa melalui media virtual. Ia mengungkapkan bahwa program Berbagi untuk Negeri sebenarnya sudah dilaksanakan sejak 2018 lalu. Bedanya, tahun ini sasarannya meluas tidak hanya untuk institusi pendidikan saja, tapi juga masyarakat secara umum. Fauzan juga memotivasi para santri untuk terus berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Tidak hanya fokus pada hubungan dengan Tuhan tapi juga dengan sesama makhluknya. “Santri harus punya cita-cita besar. Berdoa sekuat tenaga dibarengi ikhtiar yang kuat, insya Allah akan berhasil dunia dan akhirat,” harapnya. Senada dengan Fauzan, ketua umum FKWTMR, Linggar menyampaikan bahwa program ini adalah ide yang luar biasa. Menebar kebaikan tanpa melihat latar belakang. “Agenda ini juga menjadi bukti manusia tidak bisa hidup tanpa manusia lain. Maka sikap toleransi dan saling menerima perbedaan sangatlah diperlukan,” pungkasya di akhir sambutan.(wil)

Jaga Kesehatan Dosen Karyawan Melalui Regular Medical Check-Up

Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Semboyan itu seakan melekat erat dalam diri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Lebih-lebih di keadaan pandemi  yang serba sulit seperti sekarang. Oleh karenanya UMM semakin sering melakukan pemeriksaan kesehatan, khususnya bagi dosen dan pegawai yang ada. Terakhir, mereka telah menggelar tes pada awal bulan januari 2021 lalu. Saat dimintai keterangan, Zakarija Achmat, S.Psi, M.Si menjelaskan bahwa pemeriksaan kesehatan ini tidak terbatas pada dosen dan karyawan saja, tapi juga kepada para relawan Covid-19 yang ada di UMM. Sebut saja para Mahasiswa Siaga Bencana (Maharesigana) yang menjadi garda terdepan dalam upaya penegakan protokol kesehatan. Utamanya di wilayah kampus UMM. “Mereka memiliki resiko tinggi untuk tertular berbagai penyakit termasuk Covid. Jadi kami masukkan ke daftar pemeriksaan,” ujar kepala bagian kepegawaian bidang II tersebut. Lebih lanjut, Zakarija menegaskan bahwa dalam pelaksanannya, tes kesehatan ini memberlakukan protokol kesehatan dengan ketat. Baik saat sedang mengantri maupun saat pemeriksaan berlangsung.  Mereka juga sangat mengusahakan agar tidak membuat kerumunan serta menjaga jarak satu sama lain. “Jadwal tes sudah kami atur sedemikian rupa. Ruang kesehatan yang digunakan juga selalu kami strerilisasi setiap hari,” tutur Zakarija. Ditemui di kesempatan yang berbeda, dr. Thontowi Djauhari NS, M.Kes mengatakan pemeriksaan kesehatan ini merupakan agenda rutin UMM. Mereka sudah mengadakannya sejak lama bahkan sebelum badai pandemi  menyerang. Ketika Covid-19 datang, tes ini semakin sering dilakukan. Adapun pemeriksaannya mencakup general medical check up dan rapid test. “Biasanya, kami melakukan cek kesehatan kepada para dosen dan karyawan setahun sekali. Namun semenjak pandemi, cek kesehatan ini kami lakukan lebih sering. Tentu saja sebagai langkah preventif jika ada yang terpapar virus Covid-19 ini. Selain itu juga untuk melihat bagaimana kondisi dan kesehatan seluruh dosen dan karyawan, serta relawan yang ada di Univesitas Muhammadiyah Malang,” ungkap dokter Rumah Sakit UMM tersebut. (syi/wil)

Dosen UMM Percepat Budidaya Maggot dengan Teknologi

Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak pernah berhenti untuk berbagi ilmu kepada masyarakat. Melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM), kali ini tim dosen UMM melakukan pemberdayaan masyarakat melalui sistem teknologi pakan berbasis pengembangan budidaya maggot. Kegiatan ini berlangsung di desa Mulyoagung, Malang pada akhir tahun lalu. Dalam pelaksanannya, agenda yang diinisiasi oleh Bustanol Arifin, S. Pd., M. Pd. bersama kedua dosen lainnya yaitu Drs. Amir Syarifuddin, MP. dan Frendy Aru Fantiro, S.Pd., M.Pd. ini juga menggandeng kelompok Chang Bird Farm dan Veloved Bird sebagai mitra. Saat ditemui, Arifin berkata bahwa program pemberdayaan masyarakat ini sebenarnya berawal dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilakukan oleh mahasiswa UMM. Mereka melihat bahwa profesi mayoritas warga desa Mulyoagung adalah peternak burung. Sebagian juga sudah mengembangkan proses pengolahan maggot sebagai pakan. Sayangnya, proses pengolahannya masih dilakukan secara manual. Hal itu tentu menyulitkan para peternak burung terutama dalam mengelola maggot. Para warga butuh waktu yang lama untuk mengolahnya. Selain itu juga model pemasaran yang dilakukan kurang memadai. “Berangkat dari hal itulah akhirnya kami melakukan pembaharuan di bidang teknologi khususnya dalam pebuatan maggot sebagai pakan burung,” ujar dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan tersebut. Program ini telah berjalan sejak bulan Agustus hingga Desember 2020. Meski begitu proses pendampingan dan monitoring tetap dilakukan sampai saat ini. Utaanya dalam hal pemasaran produk hasil dari pengolahan. Arifin kembali bercerita terkait rentetan kegiatan yang ia dan timnya lakukan. Mulai dari pelatihan budidaya maggot, proses pengelolahan pakan dengan mesin, serta pelatihan pengemasan dan pemasaran produk. “Beberapa waktu lalu kami juga sempat memberikan bantuan mesin pencacah dan mesin pengering kepada warga. Mesin pencacah berguna untuk membantu proses penghalusan bahan baku. Sementara mesin pengering berguna untuk mempercepat proses pengeringan dari empat hari menjadi dua jam saja,” lanjut dosen kelahiran Bondowoso ini. Di akhir wawancara Arifin berharap agar program ini dapat berkembang lebih luas lagi. Tidak hanya pada budidaya maggot saja namun juga pada budidaya pakan lainnya. “Kami juga berkeinginan agar program ini dapat membawa keterampilan baru kepada masyarakat dalam pengelolaan pakan burung. Lebih-lebih dapat membantu perekonomian masyarakat desa Mulyoagung,” pungkasnya. (syi/wil)