Mantapkan Program Kedaireka, UMM Undang Ditjen Dikti

Mantapkan program Kedaulatan Indonesia dalam Reka Cipta (Kedaireka), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adakan sosialisasi dan bimbingan teknis penyusunan proposal Kedaireka. Mengundang dua staf Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Ditjen Dikti), acara ini berlangsung melalui kanal Zoom pada Jumat (12/03). Kepala sub bagian tata usaha Setditjen Dikti, Didi Rustam, mengatakan ada delapan indikator kinerja utama yang akan dinilai Ditjen Dikti untuk membiayai proposal dari perguruan tinggi. “Kedelapan Indikator tersebut telah ada di buku panduan. Namun di luar indikator tersebut kami juga menambahkan beberapa kriteria lain seperti partisipasi mahasiswa pada program yang diajukan, program yang disusun dapat menyelesaikan masalah di masyarakat. Kemudian yang terakhir partisipasi industri dalam program tersebut,” ujar Didi. Sementara itu koordinator tim kerja akselerasi reka cipta Ditjen Dikti, Achmad Adhitya, mengatakan bahwa ada beberapa perubahan terkait dengan pengajuan proposal ke Kedaireka. Perubahan ini dilakukan untuk mempersingkat alur birokrasi agar proposal dapat segera diajukan ke sistem Kedaireka. “Sebelumnya jika ingin mendaftarkan proposal ke Kedaireka perguruan tinggi harus melengkapi beberapa syarat seperti MoU dengan industri, lembar pengesahan dari kampus, bukti kontribusi industri dan beberapa syarat lain. Namun sekarang untuk mengajukan proposal hanya wajib menyertakan lembar identitas, surat pernyataan tidak melakukan studi lanjut, profil pengusul dan profil mitra. Setelah nanti proposal diterima dan akan didanai, pengusul baru melengkapi persyaratan lainnya,” ujar Adhitya. Di sisi lain Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UMM, Prof. Dr. Yus Mochamad Cholily, M.Si, menjelaskan bahwa pelaksanaan sosialisasi ini adalah tindak lanjut dari sosialisasi yang sudah dilakukan sebelumnya. “Kalau sebelumnya sosialisasi diadakan untuk kampus se-Malang Raya, sekarang sosialisasi di khususkan untuk para dosen UMM. Saya harap selain lebih mengerti mengenai sistem Kedaireka, kedepannya akan ada hasil hasil riset dari dosen yang bisa dihilirisasi,” pungkasnya. (syi/wil)
Bantu Warga Sapeken, Tiga Dosen Kenalkan Teknologi Tepat Guna

Demi menjalankan salah satu Tri Dharma perguruan tinggi, tiga dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) lakukan pengabdian berupa Program Penerapan Teknologi Tepat Guna (PPTTG). Dr. Iin Hindun, M.Kes, Ir. Mulyono, MT. dan Husamah, S.Pd., M.Pd. menggaet warga di Kepulauan Sapeken, Kabupaten Sumenep dalam pelaksanaannya. Tiga dosen ini fokus mengatasi permasalahan pada kelompok Industri Rumah Tangga (IRT) dan juga kelompok nelayan. Agenda pengabdian itu mendorong IRT yang diberi nama Dapoer Emmak untuk lebih produktif dan menghasilkan lebih banyak produk makanan. Selain itu, program ini juga menggaet kelompok nelayan yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan yang sudah ada melalui teknologi tepat guna. Saat ditemui di kantornya, Iin Hindun menjelaskan bahwa kedua kelompok tersebut memiliki beberapa masalah. Salah satunya adalah tingkat kehigienisan pada produk olahan hasil laut yang dirasa kurang maksimal. Hal tersebut disebabkan karena alat yang kurang memadai. Selain itu alat yang digunakan juga tidak tahan lama dan cepat rusak. Sementara itu, kelompok nelayan merasa bahwa hasil tangkapannya kurang serta tidak tahan lama. Ketahanan bahan bakar juga menjadi masalah bagi nelayan setempat. “Melihat beberapa masalah ini, kami tergerak untuk memberikan peningkatan dan pemanfaatan Teknologi Tepat Guna (TTG) yang bisa menjadi solusi untuk IRT dan nelayan,” tegasnya menambahkan. Ketiga dosen UMM tersebut memberikan alat penyuir daging ikan untuk memudahkan proses pembuatan abon. Alat penyuir abon tersebut sekaligus menjadi jawaban untuk masalah produksi makanan yang tidak tahan lama. “Tingkat kebersihan produk juga meningkat seiring penggunaan alat ini. Produksi makanan yang dihasilkan kelompok Dapoer Emmakn jadi lebih higienis,” ungkap Iin. Di samping itu, mereka juga memberikan solusi akan ketahanan bahan bakar yang dialami oleh nelayan setempat. Energi Solar menjadi jawaban atas masalah tersebut. Dengan menggunakaan alat tersebut, nelayan bisa menghemat biaya bahan bakar. Selain itu juga menghilangkan rasa takut nelayan akan kehabisan bahan bakar di tengah perjalanan. Tidak cukup sampai di situ, ketiganya juga memberikan pendingin ikan dalam perahu. Nantinya pendingin itu dapat membuat tangkapan para nelayan menjadi lebih awet dan tahan lama. “Bahan bakar berbasis solar cell ini menjadi inovasi tersendiri dalam memudahkan nelayan sapeken yang takut bakan bakarnya cepat habis. Sementara alat pendingini bisa memperlambat proses pembusukan ikan sehingga tangkapan jadi lebih tahan lama,” pungkas Iin Hindun di akhir sesi wawancara. (haq/wil)