Permudah Literasi Hukum, Dosen UMM Ciptakan Aplikasi Maduhukum

Masih banyak masyarakat yang tersandung kasus hukum karena kurangnya literasi mengenai hukum. Berawal dari permasalahan tersebut, tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan aplikasi bernama Maduhukum, akronim dari masyarakat peduli hukum. Tim ini terdiri dari yaitu Nur Putri Hidayah, S.H., M.H., dan Galih W. Wicaksono, S.Kom., M.Cs., serta satu programmer profesional yaitu Muhammad Andi Al-rizki, S.Kom. Saat diwawancara, Putri mengatakan bahwa aplikasi ini diciptakan sebagai sarana memperluas literasi masyarakat mengenai hukum. Melalui fitur-fitur yang ditawarkan, aplikasi ini dapat memberikan pengetahuan secara cepat dan akurat. Aplikasi ini juga sebagai sarana advokasi berbasis digital. “Data dalam aplikasi ini telah terjamin akurat karena berasal dari undang-undang, artikel ilmiah, serta putusan-putusan hakim. Selain itu aplikasi ini juga menghubungkan masyarakat kepada para pakar hukum sehingga masyarakat dapat berkonsultasi terkait permasalahan yang dialami,” kata dosen Fakultas Hukum (FH) tersebut. Putri menjelaskan lebih jauh mengenai cara penggunaan aplikasi Maduhukum ini. Pertama, masyarakat harus mendaftarkan diri terlebih dahulu. Selanjutnya masyarakat mengikuti atau membuat kelompok dalam aplikasi Maduhukum. Setelah itu masyarakat bisa mengakses informasi yang telah disediakan maupun berkonsultasi kepada pakar hukum di dalam kelompok tersebut. “Seperti yang kita tahu, adat istiadat di Indonesia sangat beraneka ragam. Oleh karenanya pembagian masyarakat dalam kelompok-kelompok tertentu akan membuat informasi yang diberikan menjadi tepat sasaran. Sampai sekarang sudah ada delapan kelompok yang terbentuk di Maduhukum. Untuk pakar yang telah bergabung sudah ada tujuh orang,” ujar Putri. Aplikasi ini merupakan produk penelitian yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) UMM. Maduhukum bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat melalui google play store. Di akhir sesi, Putri berharap aplikasi ini bisa membantu permasalahan yang ada di masyarakat sekaligus memberikan literasi tentang hukum. “Jika masyarakat mengetahui hukum dengan baik maka secara alami masyarakat akan menghindari hal-hal yang melanggar hukum. Saya berharap kedepannya aplikasi ini akan terus berkembang dan digunakan oleh masyarakat luas,” kata dosen kelahiran Banjarmasin tersebut. Dikutip dari testimoni Maduhukum, Sekretaris Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) Malang Raya, Naili Ariyani, S.H., menuturkan bahwa aplikasi ini sangat bermanfaat. Selain sebagai sarana edukasi, juga bisa membantu masyarakat untuk memecahkan permasalahan hukum. “Dibandingkan aplikasi sejenis lainnya, aplikasi ini jauh lebih intim karena berbasis komunitas. Semoga kerja sama dengan kantor bantuan hukum dapat segera terlaksana, agar hak konstitusi warga negara untuk mendapatkan bantuan hukum bisa berjalan dengan maksimal,” pungkasnya. (syi/wil)
Pengabdian Alumni di Ujung Negeri Lewat Pengajar Muda

Mengabdi setahun, menginspirasi seumur hidup adalah pijakan moto bagi Nurma Nita Aprilia. Lahir di Sumbawa, Nita adalah sapaan perempuan yang tinggal dan tumbuh di Kabupaten Jembrana, Bali ini. Mahasiswi lulusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM) ini belajar dan berkembang melalui keaktifannya di organisasi pemuda internasional AIESEC UMM. Sejak tahun 2013, Nita telah akrab menyalurkan ketertarikannya pada dunia hubungan internasional dan globalisasi budaya. Menamatkan pendidikan sarjana di tahun 2017, ia melanjutkan aktvitas sosialnya di AIESEC Indonesia hingga 2019. Kemampuannya mengelola kegiatan, memimpin dan bekerja bersama relawan asing serta membangun hubungan dengan beragam individu menjadikannya dipercaya sebagai Project Coordinator untuk dua proyek sosial AIESEC Indonesia, yakni Wonderful Maluku 4.0 dan Wonderful Bangka Belitung 2.0. Kesempatan belajar yang telah Nita terima mengantarkannya untuk membagikan pengetahuan, pengalaman dan semangat belajarnya pada masyarakat di ujung negeri. Resmi menjadi salah satu dari 36 Pengajar Muda Angkatan XIX, mendorongnya untuk terlibat di berbagai kegiatan pengembangan masyarakat di Indonesia Mengajar. Menjadi Pengajar Muda, bagi Nita merupakan salah satu jalan untuk meresapi budaya negeri yang begitu beragam. “Aku bersyukur banget bisa gabung di program ini. Banyak hal yang aku pelajari mulai dari budaya di lingkungan tempatku tinggal sampai lingkungan secara luas,” ujar Nita. Nita bercerita bahwa awalnya ia tidak pernah mendengar tentang Indonesia Mengajar. Ia akhirnya memutuskan bergabung pada program yang digagas oleh Anies Baswedan ini berkat keinginan besarnya untuk membantu mengembangkan lingkungan sosialnya. Jika alumni program studi HI biasanya akan melanjutkan karir di bidang diplomasi, Nita lebih memilih jalan lain untuk mengembangkan diri di ranah Low Politics. Low Politics merupakan konsep politik yang dianggap tidak begitu vital namun memberikan dampak secara langsung pada kelompok masyarakat. Menurut Nita, menggerakan masyarakat untuk membangun negeri lewat langkah-langkah kecil adalah pendekatan terbaik. Utamanya dalam hal membangun kesatuan dan kerukunan. Lima belas bulan berlalu, Nita merasa ia terus terpantik untuk mengerjakan proyek sosial. Segala macam tantangan dan halang-rintang yang telah ia alami adalah pacuan untuk terus menginspirasi. “Merasa enjoy bukan berarti tanpa masalah dan kendala, ya. Banyak tantangan yang bisa memberikan motivasi untuk terus maju bersama orang-orang di desaku mengabdi,” pungkas Pengajar Muda yang ditempatkan di Desa Kuala Baru, Kabupaten Aceh Singkil ini. (adr/wil)
Berbekal Bahasa Inggris dan Korea, Mahasiswa Ini Belajar di Luar Negeri

Cita-cita untuk pergi ke luar negeri telah tumbuh di diri Muhammad Ilham sejak menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dirinya mulai tertarik untuk pergi ke luar negeri setelah menonton beberapa film dari negara lain seperti Korea dan Eropa. Pendidikan bahasa asing pun juga di tanamkan sang ayah sejak Ilham menempuh Sekolah Menengah Atas (SMA). “Ketika saya SMA, ayah menekankan kepada saya untuk mempelajari dua bahasa asing dengan bahasa Inggris sebagai pilihan wajib. Selain les bahasa Inggris, saya juga mengambil les bahasa Korea saat itu,” kenang anak ketiga dari empat bersaudara tersebut. Menginjak bangku perkuliahan, Ilham melihat banyak kesempatan untuk pergi ke luar negeri. Ketika sedang mengikuti masa orientasi mahasiswa, Ilham mengetahui bahwa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki banyak beasiswa mancanegara. Sejak saat, itu Ilham memantapkan hati untuk mendaftarkan diri di program-program tersebut. “Saat Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba), International Relations Office (IRO) UMM datang ke fakultas-fakultas untuk presentasi. Dari situ saya tahu berbagai beasiswa luar negeri yang ada di UMM. saya merasa ini kesempatan yang bagus bagi saya untuk pergi ke luar negeri,” kata mahasiswa Teknik Elektro tersebut. Perjalanan Ilham untuk memperoleh beasiswa tidaklah mudah. Banyak penolakan yang ia alami. Terhitung sudah lima kali dirinya tidak lolos beasiswa ke luar negeri. Namun hal tersebut tak membuatnya menyerah. Ilham sering bertanya pada senior-senior di IRO tentang tips lolos beasiswa. Ilham juga meningkatkan kualitas Curriculum Vitae (CV) dengan mengikuti organisasi dan lomba debat. “Saya mendaftar pertama kali itu waktu semester satu beasiswa student exhange ke Thailand. Namun gagal, mungkin karena CV saya belum bagus. Setelah itu saya ikut organisasi International Language Forum (ILF) dan lomba debat bahasa Inggris. Di jurusan saya sedikit yang bisa bahasa Inggris, jadi saya selalu diajukan untuk mengikuti perlombaan. Selain mengasah skill bahasa Inggris, hal ini juga meningkatkan kualitas CV saya,” ujar mahasiswa asal Sulawesi Tenggara itu. Berkat kegigihannya, Ilham berhasil mengikuti pertukaran mahasiswa ke Singapore Polytechnic selama satu bulan. Selain itu, pada Februari 2021 Ilham berangkat ke Portugal setelah mendapat beasiswa dari Erasmus+. “Saya mendaftar beasiswa ini sejak tahun 2020. Awalnya saya akan diberangkatkan saat bulan September 2020, tapi keberangkatan saya di undur karena pandemi. Beasiswa ini berat di awal, karena harus mengurus visa, tiket pesawat, dan lainya dengan uang sendiri di masa pandemi seperti ini. Namun Keluarga saya, terutama ayah sangat mendukung saya keputusan saya untuk berangkat ke Portugal. Baru setelah saya sampai di Portugal, semua uang trasnportasi diganti,” lanjut Ilham. Saat ini Ilham sedang menikmati masa-masa belajarnya di University of Minho Portugal. Di sela kegiatan belajar, Ilham juga fokus untuk mengerjakan skripsi yang sudah ada di depan mata. Kedepannya, ia juga ingin kembali belajar di luar negeri, khususnya untuk studi S2. “Setelah saya menyelesaikan sarjana di UMM, saya ingin daftar beasiswa S2 di program Erasmus Master,” pungkasnya. (syi/wil)
Melalui Kampus Mengajar, Mahasiswa Psikologi Baktikan Diri ke Penjuru Negeri

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak pernah berhenti untuk melakukan pengabdian ke masyarakat. Kali ini, sebanyak 39 orang mahasiswa Fakultas Psikologi mengikuti program kampus mengajar angkatan satu tahun 2021. Mereka terpilih setelah melalui seleksi tingkat nasional di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Ditjen Dikti). Jumlah mahasiswa Fakultas Psikologi yang lolos seleksi ini juga menjadi yang terbanyak dibandingkan fakultas lain di UMM. Melalui program kampus mengajar, mahasiswa diberi kesempatan belajar dan mengembangkan diri dengan berkolaborasi bersama guru. Baik dalam proses pembelajaran, mengembangkan teknologi dalam belajar, serta administrasi sekolah di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Hasil dari kegiatan tersebut akan dikonversikan menjadi penilaian pada mata kuliah di program studi masing-masing sejumlah 12 Satuan Kredit Semester (SKS). Ditanya ihwal program tersebut, Kepala Program Studi Psikologi UMM, Susanti Prasetyaningrum, S.Psi., M.Psi., mengaku bersyukur dan menyambut baik pengumuman sejumlah mahasiswa yang lolos program kampus mengajar. Program itu juga menjadi salah satu agenda di dalam kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). “Alhamdulillah, mahasiswa kami banyak yang terpilih. Tentu ini tidak lepas dari proses seleksi dan pembekalan yang dilakukan oleh prodi terhadap mahasiswa. Secara teknis prodi juga harus menyeleksi mata kuliah apa saja yang semester genap (IV) ini diambil mahasiswa. Seleksi mata kuliah yang akan dikonversikan tidak hanya dilihat dari bobot SKS, tapi juga kesesuaian dengan program yang terkait,” ungkap Santi. Lebih lanjut, para mahasiswa yang mengikuti program Kampus Mengajar ini akan di kirim ke berbagai penjuru negeri. Firdausi Muhammad Akhmad merupakan satu dari 38 mahasiswa yang terpilih. Ia nantinya akan ditempatkan di SDN Kurungan Bassi, Mamuju, Sulawesi Barat. Daus menyadari bahwa tanggung jawab dan tantangan mengikuti kegiatan ini sebenarnya cukup berat, mengingat Ia berada pada daerah yang juga baru saja diguncang bencana gempa Januari lalu. Namun, dibalik perasaan getirnya Ia mengaku mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. “Meski demikian, saya tetap harus melaksanakannya dengan baik. Saya ingin kembali mengabdi ke tanah kelahiran saya, berbuat banyak dan melihat para penerus tanah Mamuju ini lebih baik”, pungkas Daus. Beberapa waktu lalu seluruh peserta kampus mengajar angkatan I tahun 2021 telah mendapatkan materi pembekalan lanjutan yang diberikan oleh Dirjen Dikti. Materi ini berkaitan tentang konsep pedagogi sekolah dasar, pembelajaran jarak jauh, strategi kreatif belajar luring dan daring. Khusus mahasiswa psikologi UMM, mereka tidak hanya sekedar mengajar tetapi juga mengaplikasikan metode dan teknik-teknik asesmen psikologi. Menganalisis permasalahan perilaku yang ada di sekolah dan mengaplikasikan teknik intervensi untuk perubahan perilaku. (*/syi/wil)