Angkat Kisah Perjuangan Anak, Mahasiswa UMM Sabet Juara Satu Kompetisi Film Nasional

Setelah berhasil menyabet penghargaan di festival film pendek Indodax Short Film Festival pada 2020, Meraki Visual kembali mengharumkan nama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di kancah nasional. Kali ini Meraki berhasil meraih juara satu dalam Yamaha Musik Short Movie Competition pada Selasa (30/03) dengan film berjudul Rekah. Film Rekah sendiri mengisahkan tentang perjuangan seorang anak yang ingin menyembuhkan ayahnya dari penyakit stroke ringan dengan menggunakan terapi musik. Sutradara film Rekah, Kiki Rahma Ardiansyah, berkata bahwa ide cerita tersebut diperoleh dari sang penulis naskah film Ardian Esa Ramadhan Wahyudy. “Awalnya kami satu tim berdiskusi untuk membuat cerita yang bertema musik. Lalu Ardian memiliki ide untuk menghadirkan perjuangan seorang anak yang awalnya tidak  berbakat di bidang musik, namun akhirnya belajar musik demi menyembuhkan sang ayah,” kata mahasiswa kelahiran Malang tersebut. Mahasiswa Ilmu Komunikasi tersebut bercerita pembuatan film Rekah memakan waktu satu bulan dari sebelum produksi hingga menjadi sebuah film. Namun untuk proses produksinya sendiri hanya memakan waktu satu hari. Meski begitu, ia dan tim menemui banyak kendala dalam proses pembuatannya. “Karena kami syutingnya hari Jumat, kami harus mulai dari pagi untuk menghemat waktu. Selain itu, film ini hanya terdiri dari dua scene dan masing-masing hanya mengambil satu shot saja. Kami juga harus mengambil gambar berulang kali karena objek susah difokuskan,” jelas anak terakhir dari dua bersaudara tersebut. Sementara itu, produser film Rekah, Udaimatun Nur Farahin menjelaskan banyak pihak yang membantu hingga mereka bisa memenangkan kompetisi tersebut. Peran sponsor sangat membantu untuk pendanaan di setiap divisi. “Pada awal Meraki baru terbentuk, kami menggunakan dana pribadi untuk membuat film. Namun sekarang sudah ada sponsor yang membantu kami. Sekarang, kami juga telah memiliki kas sendiri untuk kegiatan produksi film yang akan datang,” ujar Farah. Farah dan kru juga memiliki keinginan besar untuk membuat Meraki menjadi wadah bagi semua yang ingin belajar tentang film dan ingin mengembangkan bakatnya di dunia perfilman. “Kami berharap bisa menghasilkan karya-karya lainnya. Semoga dengan hadirnya Meraki dapat memacu lahirnya banyak film maker baru di Malang,” pungkas mahasiswa Ilkom UMM tersebut. Selain Kiki, Farah, dan Ardian, ada tujuh kru lainnya yang ikut membuat film Rekah yaitu M. Mizan Sya’ Roni, Dwi Cahyo Septoadi, Muhammad Ammar Nashshar Yusuf, Two Bagus Surya Saputra, Aldi Novandi Putra, Reyhan Rahmadhan, dan Izzuddin Febrianta. (syi/wil)

UMM Hadirkan Founder Samator Group di Wisuda, Bagikan 7 Kunci Sukses

Gelaran wisuda Universitas Muhamamdiyah Malang (UMM) kembali dilangsungkan pada Selasa (4/6) di Dome UMM. Kali ini Founder Samator Group, Ir. Arief Harsono, MM. M.Pd.B didapuk untuk menceritakan kisah suksesnya di hadapan para wisudawan yang hadir. Adapun wisuda ini digelar secara luring dengan mematuhi protokol kesehatan dengan ketat. Menyampaikan sambutan, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor UMM memberi selamat kepada wisudawan yang akan segera dikukuhkan. Ia berharap agar ilmu dan pengalaman yang didapat bisa bermanfaat dan berkah bagi masyarakat. Selain itu juga menjadi bekal menghadapi masa depan yang semakin tidak menentu. Fauzan juga berpesan agar para wisudawan tidak mudah puas dengan ilmu dan pengalaman yang dipunya. Selalu berkembang agar mampu menjawab tantangan zaman. “Tidak ada pilihan lain kecuali dengan menanamkan mindset yang fleksibel. Semoga bisa menjadi awal dari kesuksesan saudara-saudara,” ungkapnya. Sementara itu, Arief, panggilan akrabnya memulai kisah sukses dengan menceritakan masa mudanya. Ia bercerita bahwa pabrik pertama yang ia dirikan bergerak di bidang gas, tepatnya gas asetilen. Pabrik itu ia dirikan pada tahun 1975 berlokasi di Gresik. “Berawal dari satu pabrik, kini sudah ada 150 cabang yang tersebar di 30 provinsi di Indonesia. Tidak hanya di satu bidang saja, tapi merambah ke berbagai bidang dan produk,” ceritanya. Lebih lanjut, Arief menjelaskan bahwa hasil yang ia nikmati sekarang bukanlah keberuntungan semata. Perjalanan bisnisnya tidak semulus yang dibayangkan. Bahkan tidak ada modal yang ia terima dari orang tuanya. “Pada waktu itu saya memilih bekerja dulu dan meminta untuk diperbolehkan pergi ke tempat yang tidak ada keluarga dekat. Hal itu sebagai bukti bahwa saya bisa bertahan hidup tanpa bantuan keluarga,” ungkapnya. Pada agenda wisuda tersebut, Arief juga sempat memberikan wejangan berupa tujuh kunci kesuksesan. Hal pertama adalah menentukan tujuan. Menurutnya, tanpa tujuan kita tidak akan bisa bergerak ke arah yang benar serta tidak bisa menentukan keputusan yang tepat. Adapula kunci yang kedua yakni kesempatan. Ia mengatakan bahwa kepekaan adalah modal utama dalam mendapatkan kesempatan. action. Menurutnya, percuma bisa menemukan berbagai kesempatan jika tidak ada hal yang dilakukan. “Tidak akan ada hasil yang bisa didapat jika tidak ada action yang diambil. Dulu, ketika saya tahu ada kesempatan di bidang gas, saya langsung menyusun strategi. Mulai dari apa saja yang dibutuhkan, siapa saja yang bisa diajak menjadi partner hingga menentukan gaya manajemen yang cocok,” tuturnya. Adapula hal lain yang diperlukan untuk sukses menjalan bisnis yakni kepercayaan diri. Ia mengungkapkan bahwa masa muda tanpa ada sokongan harta dan pengalaman adalah hal yang menyeramkan. Namun semua itu ia terjang demi mencapai tujuan yang telah ia tentukan. Kegigihan juga menjadi hal krusial dalam hidup. “Banyak orang yang tidak mampu menyelesaikan apa yang sudah mereka mulai. Maka kegigihan harus kita tanamkan sejak dini,” tegasnya. Kunci keenam dan ketujuh yakni koneksi dan kontribusi. Koneksi tidak hanya menyangkut hal bisnis saja, namun juga menjadi esensi dalam menjalani hidup sebagai makhluk sosial. Menurut Arief, hal yang tidak boleh dilupakan adalah kontirbusi, baik bagi masyarakat maupun lingkungan. “Sekali lagi saya tekankan bahwa sukses bukanlah suatu kebetulan. Kesuksesan adalah buah dari usaha, kerja keras, doa, dan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa,” pungkas Arief di akhir kisahnya. (wil)

Mobil Kaca dan Bioling UMM Edukasi Masyarakat Probolinggo

Kembali melanjutkan roadshow, Mobil KaCa dan Bioling Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadir di tengah masyarakat, tepatnya di salah satu Panti Asuhan di Probolinggo. Bergerak dengan semangat menebar literasi melalui tayangan edukatif, UMM bersama Pemerintah Kota Probolinggo melangsungkan acara nonton bareng film ”Dua Ulama” bersama masyarakat sekitar pada Jumat (2/4). Selain itu juga memberikan edukasi menyenangkan bagi anak-anak melalui outbond dan kegiatan English for Young Learner pada siang harinya. Membuka agenda nonton bareng, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Probolinggo menyampaikan bahwa acara ini adalah salah satu wadah dalam menebar manfaat serta kebaikan bagi umat. Tidak sebatas di satu organisasi saja, tapi juga untuk seluruh lapisan masyarakat yang ada. ”Semoga saja ini bisa menjadi awal dari jalan panjang kemanfaatan bagi sesama. Khususnya dalam kehidupan beragama dan berketuhanan tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lainnya,” jelasnya melanjutkan. Sekaligus dalam rangka memperingati hari Film Nasional ke-100, UMM juga terus berkomitmen untuk menjelma menjadi instansi pendidikan yang hadir di berbagai kegiatan. Salah satunya dengan menyediakan tayangan-tayangan bermutu yang memberikan nilai positif. ”Peringatan hari film ini tentunya bisa menjadi inspirasi untuk kita semua dalam memulai dan meneruskan perjuangan dua ulama ini. Selalu menjadi sumber kebaikan di setiap jejak langkah dan perjalanan hidupnya,” ungkap Walikota Probolinggo, Habib Hadi Zainal Abidin. Walikota yang menjabat sejak tahun 2019 itu menyatakan bahwa keberadaan film sebagai sarana edukasi harus terus dilakukan. Melalui instansi pendidikan, ia berharap akan ada berbagai film yang bisa membawa angin segar bagi seluruh lapisan masyarakat. Menyapa masyarakat secara langsung, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku rektor UMM tanpa ragu mengamini harapan tersebut. Ia mengatakan bahwa agenda nonton bareng yang sudah berjalan beberapa lama ini juga sejalan dengan semangat UMM untuk berbagi ke penjuru negeri dengan berbagai aktivitas. ”UMM mengemban amanah besar untuk menjadi pionir dalam memberikan edukasi di tengah masyarakat. Semangat itu berangkat dari slogan kami, yakni dari Muhammadiyah untuk Bangsa,” pungkasnya. Sebelumnya, roadshow tersebut diawali dengan kegiatan outbound yang diikuti oleh seluruh penghuni panti. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah belajar bahasa Inggris bersama. Ghianina Pertiwi, peserta agenda English for Young Learners, mengatakan bahwa ia merasa gembira bisa belajar bahasa Inggris dengan menyanyi. “Sudah lama kami tidak masuk sekolah karena pandemi. Senang sekali rasanya bisa bisa bermain lagi. Ada bonus hadiah juga dari kakak-kakak,” ujar siswa kelas enam SD ini. Rangkaian acara nonton bareng ditutup dengan penandatanganan plakat Gerakan Bersama Mendukung Film Edukasi yang Berkualitas oleh Walikota Probolinggo, Rektor UMM, Lembaga Sensor Film RI serta Ketua PDM Kota Probolinggo, (wil)

Beri Bekal Para Sarjana, Wisuda UMM Hadirkan Head of Human Capital PT Charoen Pokphand

Gelaran wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali dilangsungkan pada Sabtu (3/4). Sama seperti periode sebelumnya, wisuda kali ini dilaksanakan secara daring dan luring dengan protokol kesehatan yang ketat. Kali ini giliran Ir. Syafri Afriansyah, MBA selaku Head of Human Capital for Poultry Business PT Charoen Pokphand Indonesia yang didapuk untuk memberi success story. Mengawali wisuda, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku rektor UMM mengatakan bahwa ilmu dan pengalaman yang mahasiswa dapatkan ketika kuliah bisa menerangi kehidupan masyarakat. Mampu membangun keindahan dan kedamaian bagi sesama. Ia juga menuturkan bahwa wisudawan akan menghadapi kondisi yang dinamis dan susah ditebak. Maka dari itu diperlukan berbagai mindset agar bisa bertahan. Salah satunya kemampuan beradaptasi yang baik. “Tidak ada opsi lain yang bisa dipilih. Mau tidak mau kita harus selalu memperbarui pengetahuan dan pengalaman. Selalu berusaha menjadi problem solver dan mengambil peran dalam perubahan baik,” tegasnya. Sementara itu, Syafri memulai success story speech-nya dengan kisah seorang profesor dan tukang perahu. Ia menceritakan bagaimana sang profesor tersebut selalu bertanya kepada tukang perahu tentang geografi, geologi dan biologi. Tentu saja tukang perahu sama sekali tidak mengetahuinya.  Terlebih lagi sang profesor berkata bahwa tukang perahu telah menyia-nyiakan sebagian besar hidupnya. Hingga akhirnya di penghujung sungai perahu terguling dan membuat keduanya jatuh. Tukang perahu bertanya apakah profesor bisa berenang. Jika tidak, maka ia telah menyianyiakan hidupnya. “Kisah ini ingin memberi tahu kita bahwa softskill dan hardskill harus berjalan beriringan agar kita mampu mencapai kesuksesan,” terangnya lebih lanjut. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ada banyak pilihan usai menyelesaikan studi. Pawa wisudawan bisa memilih menjadi pegawai negeri, swasta, berwirausaha maupun yang lainnya. Meksi begitu perlu diketahui bahwa ancaman pengangguran masih mengintai. Menurut data statistik 2019, ada kenaikan pengangguran dari para sarjana, apalagi di tengah pandemi seperti saat ini. Ada sekitar 2,8 juta pekerja yang terdampak dengan adanya Covid-19. Maka para sarjana perlu menyiapkan berbagai skill agar bisa bertahan di tengah era disrupsi. Logika berpikir yang baik adalah salah satunya. Adapula kerativitas dan problem solving yang nantinya bisa menopang para wisudawan. “Menurut survey yang saya temukan, ada kemampuan lain yang harus dimiliki. Beberapa di antaranya work ethic, collaboration, good communication, social responsibility, critical thinking serta problem solving,” tambah Syafri. Ia juga berpesan kepada wisudawan bahwa dunia kerja masa depan sangatlah kompetitif. Tidak akan ada yang akan membayar kita hanya karna memiliki ijazah. Tidak ada alasan juga untuk tidak mengetahui perkembangan zaman. Terakhir, ia juga mengatakan bahwa kompetisi dalam dunia kerja tidak hanya terbatas di tempat kita tinggal. Dalam kesempatan yang sama, sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Drs. H. Wakidi menuturkan agar para wisudawan bisa menjaga nama baik almamater. Apalagi setelah ditetapkannya UMM sebagai kampus Islam terbaik di dunia. “Selalu jaga nama baik kampus dengan ketakwaan pada Tuhan, pandai bersyukur, berbakti kepada orang tua dan memiliki akhlaqul karimah,” harapnya kepada wisudawan. (wil)