Ajak Mahasiswa Berbisnis Sejak Dini, UMM Undang Alumni Sukses

Tumbuhkan  semangat berwirausaha, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) undang dua owner bisnis pada kuliah umum Student Day. Acara ini diselenggarakan secara luring di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV dan daring melalui kanal Youtube UMM pada Sabtu (10/04). Adapun yamu yang dihadirkan adalah Friza Rahmawanta dan Indie Amami. Keduanya merupakan alumni UMM yang telah sukses mendirikan bisnis di usia muda. CV Sukoi merupakan bisnis yang bergerak di bidang budidaya ikan koi. Friza sebagai owner mengaku bahwa bisnis ini berawal dari salah satu tugas mata kuliah di UMM. Dari tugas tersebut Friza melihat peluang yang cukup besar di bidang budidaya ikan koi. “Awalnya dari tugas kuliah. Saya bersama tiga teman lainnya memulai budidaya ikan koi. Saya melihat bahwa penghasilan yang dihasilkan dari tugas itu cukup lumayan. Saat itu, teman-teman tidak mau melanjutkannya, tapi saya tetap menjalankan bisnis ini. Alhamdulillah bisa berlangsung sampai sekarang,” ujar Friza. Ia kembali berkata bahwa peluang dalam berbisnis ada di mana-mana. Para mahasiswa harus peka dan mecari potensi yang ada. “Pihak kampus sudah memberi banya fasilitas pada mahasiswa untuk berkarir dan berwirausaha. Sebut saja program PKM atau mungkin tugas kuliah seperti saya. Tinggal bagaimana mahasiswa memanfaatkan kesempatan tersebut,” kata Friza. Di kesempatan yang sama, Indie memulai bisnisnya usai lulus dari UMM. Owner Tea and Bird Gallery ini mengungkapkan bahwa dirinya sangat ingin mendirikan bisnis sejak lama. Usaha pertama yang Indie bangun adalah Simple Production. Bisnis ini bergerak di bidang dekorasi kain untuk acara pernikahan. “Setelah lulus saya tidak mau bekerja di perusahaan, saya ingin membuat bisnis sendiri. Tekad itulah yang mebawa saya sampai di sini. Kebetulan suami saya juga orang yang mempunyai semangat wirausaha yang besar. Akhirnya kami mendirikan bisnis pertama kami yaitu Simple Production,” kata Indie. Setelah itu bisnis Indie mulai berkembang ke bidang lain seperti dekorasi mahar dan teh. Kemudian ia mengubah namanya menjadi Tea and Bird Galley. Indie memberi wejangan bahwa untuk melihat peluang, para mahasiswa harus sering berbincang dan berinteraksi dengan orang lain. “Ketika kuliah saya sering nongkrong sama teman-teman. Dari situ saya bisa melihat banyak peluang bisnis yang tidak disadari oleh orang lain. Selain itu relasi saya juga bertambah berkat kebiasaan saya mengobrol dengan orang-orang. Ketika kita melihat peluang, kita harus segera maju untuk memulai serta mengelolanya,” pesannya pada para peserta. (syi/wil)

Mahasiswa UMM Juara Internasional Berkat Teknologi Pemeliharaan Jembatan

Prihatin dengan pengelolaan jembatan di Indonesia, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ciptakan teknologi  pemeliharaan jembatan berbasis pengelolaan citra. Alat tersebut bernama Smart Cam Bridge. Teknologi ini dibuat oleh Alifia Oriana Prabaswara dalam rangka mengikuti perlombaan Internasional Science Technology and Engineering Competition (ISTEC) 2021. Adapun kompetisi yang diadakan secara daring tersebut diikuti oleh peserta dari 20 negara. Alifia mampu mengalahkan peserta lain dan menyabet juara kedua dalam kompetisi itu. Saat ditemui, Alifia mengungkapkan bahwa jembatan merupakan jalur yang krusial karena menghubungkan daerah satu dengan yang lain. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak jembatan, namun proses pemeliharaannya kurang maksimal. Oleh karenanya, Alifia menciptakan Smart Cam Bridge tersebut. “Teknologi Pemeliharaan jembatan melalui pengelolaan citra masih belum ada. Di luar negeri, teknologi pengelolaan citra baru digunakan pada bidang medis seperti pendeteksi kanker kulit. Padahal teknologi ini dapat digunakan secara cepat dan tepat pada bidang lain,” ujar mahasiswa asal Malang tersebut. Lebih lanjut, mahasiswa Jurusan Teknik Sipil ini menjelaskan bagaimana cara penggunaan teknologi ini. Pertama, pengguna harus memotret jembatan yang akan diulas. Selanjutnya foto dimasukan ke Matrix Laboratory (MATLAB) untuk diolah secara menyeluruh. Usai diolah, nantinya hasil akan segera didapat. “Untuk saat ini, Smart Cam Bridge hanya bisa digunakan pada jembatan baja saja. Kemarin saya melakukan uji coba dengan batang besi yang diberi beban. Informasi yang dihasilkan cukup membantu untuk mengetahui kondisi besi tersebut,” ungkap anak sulung tersebut. Alifia berharap, nantinya ia bisa bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum untuk melakukan upaya preventif dalam pencegahan rusaknya jembatan. Apalagi tidak jarang, banyak jembatan yang tiba-tiba roboh dan mengganggu kegiatan warga sekitar. “Saya ingin alat ini terus dikembangkan dan diuji coba pada jembatan baja sungguhan. Saya juga berharap alat ini dapat digunakan untuk model jembatan yang lain namun dengan metode yang sama,” pungkasnya menerangkan. (syi/wil)

Aksi Maharesigana UMM Tangani Gempa Bumi Malang Selatan

Gempa yang terjadi beberapa hari lalu menyisakan berbagai  dampak memilukan. Sejumlah bangunan dan rumah roboh di beberapa daerah. Mengetahui hal itu, aksi tanggap diperlihatkan oleh Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) UMM. Mereka berangkat menuju lokasi terdampak gempa yang berada di Malang, tepatnya di Desa Pamotan, Kecamatan Dampit, Malang pada Selasa (13/4). Alya Dinia Asyfiqi Masykur, ketua Maharesigana UMM menjelaskan bahwa keberangkatan mereka merupakan hasil koordinasi dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kabupaten Malang. Selain Maharesigana, adapula tim medis dari Fakultas Kedokteran UMM serta tim Rumah Sakit Aisyiyah. “Kami semua berada di bawah koordinasi MDMC Kabupaten Malang. Demi membantu sesama, kami saling bahu-membahu sebagai bentuk bantuan kemanusiaan,” tegasnya. Lebih lanjut, Alya menjelaskan bahwa Maharesigana telah mendirikan Pos Koordinasi yang berpusat di kampus UMM. Tepatnya di Pusat Studi Kewilayahan, Kependudukan, dan Penanggulangan Bencana (Puska-PB) UMM. Kemudian mereka segera melakukan asesmen untuk menemukan daerah yang paling terdampak gempa bumi yang telah terjadi. Akhirnya, Maharesigana mendirikan Posko Layanan yang berada di Desa Pamotan, Kecamatan Dampit. “Ada dua posko layanan yang kami sediakan. Keduanya adalah posko kesehatan dan posko psikososial yang diharapkan bisa membantu warga sekitar,” jelas mahasiswa Pendidikan Agama Islam tersebut. Alya kembali menambahkan, Maharesigana rencananya akan berada di sana selama satu minggu penuh. Meski begitu, jika masih dibutuhkan mereka siap untuk berlanjut dan memberikan manfaat. “Dalam dunia penanggulangan bencana, satu tim harusnya berada di lokasi selama dua minggu. Namun, karena pandemi masih belum membaik, kami akan berganti tim satu minggu sekali. Rencananya akan ada posko lanjutan di daerah-daerah lain” terangnya. Menurut keterangan Alya, ada dua RT yang sangat terdampak di Desa Pamotan, yakni di RT 3 yang dihuni oleh 22 Keluarga. Sembilan rumah di antaranya roboh dna lainnya mengalami retakan. Adapula RT 4 yang terdiri dari 19 Keluarga. Dua belas di antaranya rusak parah serta sisanya mengalami kerusakan ringan. “Melihat realita itu, kami jadi tergerak untuk terus menebar manfaat dan kebaikan. Sesuai dengan moto kami yakni Bergerak untuk Kemanusiaan, maka membantu masyarakat sekitar adalah sebuah kebahagiaan,” terang mahasiswa asli Batu itu. Terakhir, ia berharap agar bantuan dan posko yang sudah didirikan bisa membantu para warga yang terdampak. Tidak hanya dari segi fisik saja, namun juga dari aspek psikologis. “Semoga dengan hadirnya kami, mereka bisa menerima kenyataan dan segera bangkit agar bisa hidup seperti sedia kala,” pungkas Alya. (wil)

Mobil KaCa Hibur Anak-Anak Korban Gempa Malang Selatan

Gempa yang terjadi di Malang Selatan beberapa waktu lalu masih menyisakan pilu. Bantuan demi bantuan juga terus mengalir demi kemanusiaan. Melihat hal itu, Mobil KaCa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga mengambil peran dan berangkat menuju lokasi pada Kamis (15/4). Salah satunya ke Desa Pamotan, Kecamatan Dampit, Malang. Agenda hiburan bagi anak-anak dengan bercerita  kisah dan bermain ini merupakan bagian dari rangkaian program UMM Ramadan Berbagi. Anak-anak yang datang terlihat antusias saat Mobil KaCa datang. Beberapa terlihat sibuk memilih buku. Sementara lainnya asyik melihat satu dua tayangan di layar. Usai membaca buku, mereka juga diajak untuk mengikuti kisah Momo dan Jojo. Tidak ketinggalan permainan-permainan seperti Rangku Alu, Hulahup serta memindahkan bola dengan tali juga membuat mereka asyik. “Tentu kami berharap hiburan yang kami sediakan bisa membuat anak-anak kembali ceria seperti biasanya,” ungkap Nurul Hamidah, salah satu Tim Mobil KaCa UMM. Di kesempatan yang sama, Sugeng Isdianto selaku Ketua RT 04 RW 04 Desa Pamotan menjelaskan bahwa usai gempa, anak-anak terlihat murung dan sedih. Tidak jarang mereka menangis dan bingung akan situasi yang terjadi. Untungnya banyak bantuan datang dan menghibur. Isdianto juga merasa senang saat melihat anak-anak kembali ceria dan bahagia saat Mobil KaCa datang. “Bahagia rasanya melihat mereka kembali ketawa-ketawa. Semoga bisa segera membaik dan beraktifitas seperti sedia kala,” harapnya. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Sinta Oktavia, salah satu orang tua. Ia mengungkapkan bahwa anak-anak masih trauma dengan bencana gempa yang terjadi. Mereka mudah panik dan menangis. Meski begitu, ia sangat senang ketika tim bantuan dari berbagai pihak datang dan menghibur mereka. “Kegiatan-kegiatan seperti ini penting sekali bagi anak-anak. Terutama mereka yang berusia di bawah 5 tahun. Berbagai hiburan yang ada juga bisa membantu melupakan memori-memori buruk yang dialami beberapa waktu lalu. Semoga mereka bisa kembali ceria,” harap Sinta. (wil)