RSDC Bengkel Rinjani UMM Lahirkan Mekanik Andal dan Religius

Penyediaan pelatihan kerja menjadi salah satu aspek penting untuk menunjang kemampuan masyarakat. Hal itu pula yang menjadi landasan digelarnya Rinjani Skill Development Center (RSDC), salah satu program pelatihan kerja yang dilaksanakan oleh Bengkel Rinjani Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Penutupan agenda yang bertemakan “RSDC sebagai Wahana dalam Mempersiapkan Mekanik Handal yang Terampil dan Religius” tersebut dilangsungkan pada Jumat (16/4) lalu. Eka Kadharpa Utama Dewayani, SE, MM selaku Direktur Utama Bengkel Rinjani mengungkapkan bahwa pada dasarnya RSDC merupakan sebuah lembaga pelatihan kerja dan lembaga sosial yang tidak dikomersilkan. Meski ada beberapa pengembangan dan kelas yang dikomersilkan, RSDC memiliki program tahunan yang menyasar kepada kaum dhuafa. Ia menambahkan bahwa para peserta dilatih dan dididik selama sepuluh bulan. Adapun kurikulum disesuaikan dengan perkembangan dunia otomotif. “Kurikulum akan sedikit dibedakan. Mereka yang alumni jurusan otomotif akan mendapat kurikulum yang disesuaikan dibandingkan dengan mereka yang bukan dari jurusan otomotif,” terangnya. Eka, panggilan akrabnya juga menandaskan bahwa nantinya program ini akan lebih menyasar mereka yang kurang mampu. Utamanya mereka yang berasal dari panti asuhan. Hal itu sesuai dengan pesan dan arahan langsung dari Dr. Fauzan, M.Pd., rektor UMM. Ada 12 peserta yang dikukuhkan dalam agenda tersebut. Sebelumnya RSDC juga mengirimkan tujuh peserta lain untuk mengikuti pelatihan kedua yang dilaksanakan di PT Denso Indonesia, Bogor. Nantinya mereka akan ditempatkan di seluruh cabang PT Denso Indonesia. Selain belajar mengenai otomotif, peserta juga diberi materi terkait ilmu sosial serta agama. Menurut Eka, ilmu yang didapat oleh peserta seyogyanya bisa kembali diajarkan ke masyarakat luas. “Jangan pelit ilmu. Selalu tebar manfaat di manapun saudara berada,” pesannya. Dalam kesempatan yang sama, Dr. Ahmad Juanda, AK., M.M., C.A selaku Kepala Biro Administrasi Keuangan, Kepegawaian dan Umum menerangkan hal yang sama. Menurutnya, ada alokasi khusus yang sudah UMM siapkan untuk program-prpgram yang tidak komersial, salah satunya RSDC. “Visi kami tentu adalah untuk memberikan bekal. Terlihat dari materi yang disampaikan, tidak hanya mengenai otomotif tapi juga keterampilan hidup. Semoga hal ini menjadi bagian dari amal yang sudah UMM usahakan,” terangnya. Di samping itu, Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki , ST,. MT.  memberikan selamat kepada para peserta angkatan XIII 2020-2021. Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa hal yang kurang dari dunia otomotif saat ini adalah kemampuan komunikasi. Jika memiliki kemampuan ini dengan baik, tentu akan menjadi modal utama para peserta dalam persaingan dunia kerja. Lebih lanjut, ia juga menyampaikan bahwa keterampilan kolaborasi, kerja sama serta informasi juga menjadi hal penting yang perlu dipupuk lebih dalam. “Satu pondasi penting ketika terjun di bidang jasa adalah kepercayaan. Saudara harus menjadi orang yang jujur dan amanah ketika melayani pelanggan. Saya yakin para peserta dan alumni RSDC akan selalu bekerja dengan mengamalkan nilai-nilai kebenaran dan agama yang baik. Apalagi Jiwa pribadi Muhammadiyah juga sudah ditanamkan,” tandas Eki. (wil)

Kajian Ramadan UMM-PWM Jatim Undang Gubernur dan Ketum PP Muhammadiyah

Dalam rangka menyucikan hati dan meningkatkan iman di bulan suci Ramadan, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur (Jatim) dan UMM adakan Kajian Ramadhan. Agenda tersebut membahas mengenai sikap dan tindakan setelah pandemi berakhir. Adapun kajian tersebut dilaksanakan pada Sabtu (17/04) melalui Zoom dan kanal Youtube UMM serta TVMu. Adapun acara ini mengundang Prof. Dr. Haedar Nashir , M.Si. selaku Ketum PP Muhammadiyah, dr Pandu Riono, dan Prof. Dr Abdul Mu’ti, M.Ed sebagai pemateri. Tak lupa, juga dihadiri oleh gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, untuk membuka acara dan memberi sambutan. Mereka didapuk untuk memberikan pandangan dan kajian akan langkah dan usaha yang bisa dilakukan di masa pandemi hingga usai. Dalam paparanya, Haedar mengatakan bahwa kehidupan saat pandemi dan usai pandemi harus senantiasa membangun sikap ramah lingkungan. Selain itu juga selalu mengeratkan solidaritas di masyarakat. Hal itu dilakukan tidak lain untuk kebaikan masyarakat bersama. “Dalam menghadapi pandemi dan pasca pandemi kita harus merekonstruksi kembali keimanan, ketakwaan, dan tauhid sesuai interkoneksi antara hablum minallah dan hablum minannas. Jika keduanya bisa dilaksanakan dengan baik, maka kehidupan akan bisa baik pula. Selain itu kita juga harus menumbuhkan sikap taawun agar dapat hidup bersama dalam keberagaman,” kata Haedar. Di sisi lain, Pandu menerangkan terkait keadaan pandemi yang sedang dihadapi. Menurutnya, pandemi di Indonesia akan sulit diatasi karena herd immunity yang sukar tercapai. Hal ini terjadi karena berbagai faktor seperti masyarakat yang abai dengan protokol kesehatan dan virus Covid-19 yang terus bermutasi. “Namun kita bisa mengendalikan pandemi jika 40% penduduk Indonesia sudah di vaksinasi. Selain itu masyarakat juga harus lebih sadar akan pentingnya protokol kesehatan,” ujar ahli Epidemiologi UI itu. Selain dari sisi epidemiologi, kajian ini juga membahas langkah-langkah yang bisa diambil pemerintah setelah pandemi berakhir. Khofifah mengatakan ada tiga langkah yang akan di kembangkan pemerintah pasca pandemi seperti lapangan kerja, keterjangkauan akses digital, dan keamanan masyarakat. “Setelah berakhirnya pandemi kami akan memprioritaskan sektor ketenagakerjaan, percepatan digitalisasi pada sektor esensial, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Tidak berfokus pada kesehatan fisik saja, namun juga kesehatan psikologis,” terangnya lebih lanjut. Pada kesempatan itu pula, Khofifah juga menilai bahwa UMM telah banyak membantu dalam penangan pandemi di Jawa Timur. Salah satunya dengan memberikan berbagai solusi  dalam pengembangan sistem penanganan Covid-19 di rumah sakit. “Selain itu, RS UMM juga telah membantu dalam menyediakan APD dengan mengajak UMKM untuk memproduksinya saat awal pandemi,” pungkas Khofifah. (syi/wil)

Mahasiswa Kembangkan Desa Wisata di Gunung Budeg Tulungagung

Ada yang berbeda dengan Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini PMM kelompok  70 gelombang 13 mengembangkan proyek Wisata Gunung Budeg yang berlokasi di Desa Tanggung, Kecamatan Campur Darat, Kabupaten Tulungagung. Adapun tim tersebut beranggotakan lima orang, yaitu Galuh Kusuma Wardhani, Dheayu Risma Setiawan, Laysha Nurraihan Purwanto, Kelvin Yoanda Nurfajri dan Putra Eka Rizky. Kegiatan tersebut berlangsung selama satu bulan yakni pada bulan Maret. Saat ditemui, Galuh Kusuma selaku perwakilan kelompok PMM menjelaskan bahwa mereka melihat adanya potensi yang bisa dikembangkan dari desa yang mereka tempati. Lokasi desa yang berseberangan dengan Gunung Budeg menjadi keuntungan tersendiri. Meski pada akhirnya rancangan desa wisata yang mereka ajukan masih baru akan digarap awal tahun 2022, namun sudah ada beberapa langkah yang diambil. Salah satunya adalah bekerja sama dengan pihak desa dalam membangun tempat parkir dan fasilitas umum. “Desain Wisata Gunung Budeg ini menjadi project utama kelompok kami. Adapun desa wisatanya sendiri akan dibangun pada tahun 2022. Kami juga  sudah mulai membangun beberapa hal untuk menunjang perkembangan rencana ini,” jelas Galuh. Dia juga menceritakan bahwa desain wisata yang mereka ajukan disambut baik oleh perangkat desa dan masyarakat. Sesekali adapula segelintir revisi yang diberikan oleh warga sekitar hingga akhirnya rampung dan matang. Meski rancangannya masih pada tahap desain, namun mereka akan terus memantau pembangunan desa wisata yang telah dicanangkan. Selain mengembangkan desain desa wisata, mereka juga menebar manfaat  selama sebulan di desa tersebut. Pembangunan taman dan penanaman bibit buah adalah program lain yang mereka lakukan. “Tidak hanya menyiapkan rencana desa wisata, kami juga bekerja sama dengan pihak desa dalam membangun taman di Desa Tanggung. Kami menanam banyak jenis bibit buah manga dan kelengkeng,” ujarnya. Mahasiswa Ilmu Komunikasi ini berharap rangkaian kegiatan PMM yang mereka langsungkan dapat bermanfaat bagi masyarakat Desa Tanggung. Ia bersama anggota tim juga akan terus memantau perkembangan pembangunan Desa Wisata Gunung Budeg yang sudah digagas. Di samping itu, Galuh juga berharap gagasan desa wisata ini juga bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. “Pastinya kami bersyukur dapat membantu dalam pengambangan desa. Semoga desa ini bisa terus berkembang dan menjadi ikon wisata baru Kabupaten Tulunggagung” pungkasnya. (haq/wil)