LPT UMM Pulihkan Psikologis Penyintas Gempa

Gempa yang menerpa Malang Selatan beberapa minggu lalu masih menyisakan banyak duka. Tidak hanya berdampak pada kerugian materi, gempa tersebut juga berdampak pada psikologi para penyintas. Oleh karena itu Labolatorium Psikologi Terapan (LPT) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terjunkan tim yang beranggota enam orang untuk memberikan bantuan psikososial bagi penyintas bencana. Turunnya Tim LPT UMM ini bertepatan dengan kunjungan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo ke lokasi gempa pada Kamis (29/04). Salah satu relawan, Yogha Setiawan, berkata bahwa kegiatan psikososial di Tirtoyudo Desa Jogomulyan akan berlangsung selama satu minggu. Kegiatan ini akan berfokus pada psikososial untuk anak-anak penyintas gempa. “Selain kesehatan dan logistik yang terganggu, para penyintas juga mendapat guncangan psikologis pasca gempa. Agar tidak mempengaruhi aktivitas para penyintas kedepannya, kami dari tim LPT memberikan bantuan psikososial untuk mengurangi efek dari bencana gempa tersebut,” ujar mahasiswa Psikologi tersebut. Yogha bercerita bahwa rangkaian program psikososial ini meliputi Psychology First Aid (PFA), kegiatan menggambar dan bernyanyi. Ada juga kegiatan edukasi mitigasi bencana melalui lagu.“PFA merupakan rangkaian pertolongan pertama untuk menangani psikologi anak-anak. Sementara untuk kegiatan menggambar dan menyanyi dilakukan untuk mengalihkan perhatian anak-anak pada kegiatan yang menyenangkan,” kata Yogha. Di akhir wawancara Yogha berharap dengan adanya kegiatan ini dapat membantu meringankan beban psikologi para penyintas terutama anak-anak. Yogha berkata setidaknya dengan kegiatan-kegiatan yang tim ini lakukan dapat mengurangi rasa cemas, khawatir, dan takut yang para penyintas alami. “Saya berharap anak-anak tidak akan memiliki kenangan traumatis terkait bencana alam,” pungkasnya. (syi/wil)
Mengintip Ramadan di Taiwan bersama Adjar Yusrandi

Menjalankan ibadah puasa di negara lain, apalagi di tengah pandemi menjadi pengalaman tersendiri. Utamanya bagi minoritas di negara orang. Banyak hal yang biasanya mudah dijumpai di tanah air, namun berubah menjadi sangat sulit ditemukan. Hal itu juga yang dialami oleh mahasiswa Magister Asia University Taiwan, Adjar Yusrandi Akbar. Adjar menceritakan bahwa tahun ini salat tarawih sudah boleh dilaksanakan di Taiwan, mengingat tahun lalu pandemi masih melanda. Selain itu, ia patut bersyukur karena tak perlu lagi melakukan perjalanan sejauh sepuluh kilometer untuk menjumpai masjid. Pasalnya, komunitas mahasiswa muslim di Asia University berhasil melobi kebijakan kampus untuk menyediakan tempat ibadah khusus bagi umat muslim. “Akhirnya salat tarawih diperbolehkan lagi setelah tahun lalu benar-benar dilarang. Kami juga sudah punya tempat ibadah sendiri. Sayangnya, aku masih belum boleh ikut karena masih berada di masa isolasi,” cerita alumnus program studi Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini. Walaupun ia dan kawan-kawannya telah mendapatkan kemudahan dalam mengakses tempat beribadah, Adjar yang tergabung di perkumpulan mahasiswa Asia University Muslim menceritakan bahwa mereka tetap mengalami kendala. Salah satunya kesulitan mencari makanan halal. “Tempat kami kan berada di distrik pinggiran, bukan pusat. Jadi lebih sulit cari makanan yang sesuai untuk kami yang notabene warga muslim,” terangnya. Bagi Adjar, puasa pertamanya di Taiwan saat ini tidak begitu berat. Selain karena saat ini sedang musim semi, pemerintah Taiwan sudah memperbolehkan kegiatan berkumpul. “Puasa di sini rasanya tidak begitu berat, sama seperti di Indonesia. Sama-sama 13 jam. Terus, di sini juga sudah boleh berkumpul walaupun masih harus pakai masker,” kisah Adjar. Adjar mengaku tidak bisa menghindari homesick karena harus jauh dari keluarganya. Namun, keberadaan komunitas mahasiswa muslim di Asia University sedikit banyak dapat menjadi pelipurnya untuk tetap menjalani aktivitas perkuliahan. “Homesick pasti masih ada ya, walaupun saat di UMM juga merantau. Tapi teman-teman muslim di sini sangat baik dan ramah. Jadi tidak merasa terlalu kesepian,” pungkasnya. (adr/wil)
Lagi, Maharesigana UMM Mengabdi untuk Negeri di NTT

Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengabdikan diri pada negeri. Usai berjibaku dengan penanganan psikososial bencana banjir dan tanah longsor di Nganjuk serta gempa bumi di Malang Selatan, kini mereka terbang menuju ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk membantu para penyintas bencana banjir. Sebelum berangkat, mereka diberi wejangan oleh Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. pada Jumat (30/04). Ia mengatakan bahwa agenda ini merupakan sebuah misi kemanusiaan. “Selamat jalan bagi para relawan yang berangkat ke NTT. Tetap jaga kesehatan dan terapkan protokol covid yang baik selama disana. Semoga dengan gerakan kecil ini dapat membantu meringankan beban para penyintas bencana yang ada di NTT,” ujar Fauzan. Di temui pada kesempatan yang berbeda, ketua Maharesigana Rindya Fery Indrawan berkata bahwa para relawan akan mengunjungi dua lokasi yaitu, Pulau Kera dan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Indra mengatakan bahwa tim yang terdiri dari enam orang ini akan bekerjasama dengan relawan dari Universitas Muhammadiyah Kupang. “Relawan yang kami terjunkan akan membantu para penyintas selama satu minggu. Di sana, kami akan melakukan dukungan psikososial. Selain itu kami juga membangun layanan pendidikan. Di Pulau Kera, fasilitas umum yang dimiliki hanya berupa masjid. Jadi kami berencana membangun perpustakaan mini agar anak-anak bisa belajar,” kata Indra. Selain itu, Indra juga bercerita bahwa tim relawan ini akan membagikan hygiene kit berupa sabun, pasta gigi, sikat gigi, dan sampo. Uang untuk membeli hygiene kit ini berasal dari donasi yang dilakukan oleh maharesigana dan mahasiswa UMM. “Para relawan yang pergi ke NTT juga mengemban amanah untuk menyalurkan bantuan dari donasi yang telah terkumpul,” ujar relawan kelahiran Indramayu ini. Di sisi lain, Pembina Maharesigana UMM Zakarija Achmat berpesan kepada para relawan yang diberangkatkan kesana agar selalu berperilaku baik dan memberikan kesan positif. “Saya berharap para relawan akan banyak belajar dari pengalamannya ini. Saya juga berharap bahwa kehadiran mereka akan memberi manfaat kepada orang yang di sana,” pungkasnya. (syi/wil)