Dampingi Sejak 2014, Kampung Binaan Dosen UMM Empat Besar Lomba Kelurahan Provinsi

Selain pendidikan, pengajaran, dan penelitian, pengabdian pada masyarakat juga menjadi bagian dari Tri Dharma perguruan tinggi. Hal itu pula yang dilaksanakan oleh tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang terdiri dari Dra. Arfida Boedirochminarni, M.S., Happy Febrina hariyani, SP., M.Si., dan Dr. Ratih Juliati, M.Si. Melalui Program Kemitraan Masyarakat Internal (PKMI) Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) UMM, mereka membina masyarakat di RW 02 Kelurahan Gading Kasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Menariknya, mereka menjadi support bagi Kelurahan Gading Kasri mewakili Kota Malang dan kini sudah masuk empat besar lomba kelurahan tingkat provinsi tahun 2021. Saat ditemui, Arfida menjelaskan bahwa sebenarnya pendampingan sudah berlangsung sejak 2014 lalu yang dilakukan secara bertahap. Beberapa kali mereka memberikan materi dan pendampingan, bahkan juga mengajak warga untuk melakukan studi banding ke UMM serta beberapa kota lain. Di samping itu juga kembali menata struktur, manajemen organisasi, hingga pengetahuan tentang pajak. Tim tersebut juga membimbing para warga untuk membuat NPWP dan mengembangkan kreativitas produk UMKM yang potensial. Arfida melanjutkan, dimulai dari proses panjang itulah akhirnya RW dan UMKM binaan dosen UMM ini bisa membantu kelurahan menjadi perwakilan Kota Malang dalam kompetisi tingkat Jawa Timur dan kini memperebutkan juara. Berkat raihan tersebut, pihak kelurahan akhirnya berinisiatif menjadikan Gading Kasri sebagai Kampung Wirausaha. “Pihak kelurahan juga ingin agar hal ini bisa ditularkan ke RT maupun RW yang lainnya,” terangnya. Adapun pada bulan Juni ini, tim dosen UMM menggaet PMM mahasiswa untuk kembali mengembangkan produk UMKM yang baru. Mereka rencananya akan mendorong para warga untuk membuat permen jeli yang akan dipasarkan lebih luas. Arfida mengaku selama tujuh tahun pendampingan, perkembangan Kampung UMKM Kreatif menunjukkan peningkatan kemandirian. Hal ini dibuktikan dengan produk kreatif yang dihasilkan seperti pemanfaatan limbah plastik menjadi produk aksesoris dompet, bunga, bahkan jepit rambut. Ada juga produk kuliner yang mulai berkembang yakni susu kedelai dan juga permen jeli. “Semua hasil ini tidak lepas dari kerja sama yang baik antara tim dosen UMM, warga sekitar, pihak kelurahan dan juga PMM Mahasiswa yang sudah banyak membantu,” terangnya. Terakhir, Arfida berharap program pengabdian dan pendampingan ini bisa berlanjut sehingga bisa memberikan manfaat lebih kepada masyarakat. “Kami juga ingin agar pengembangan serupa bisa dilaksanakan di wilayah lain yang memiliki potensi. Dengan begitu, semakin banyak kelompok masyarakat yang bisa mandiri dengan program-program dan aktivitasnya,” pungkasnya menjelaskan. (haq/wil)

ICHSoS, Konferensi Internasional UMM yang Bahas Kondisi Pasca Pandemi

Setelah sukses mengadakan International Conference on Education and Psychology (ICEduPsy) beberapa minggu yang lalu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali gelar konferensi internasional yang kedua bertajuk International Conference on Humanities and Social Science (ICHSoS). Agenda ini diprakarsai oleh Fakultas Ilmu Sosial & Politik (Fisip) dan Fakultas Ekonomi & Bisnis (FEB) pada 18-19 Juni kemarin. Mengusung tema Social and Political Issues on Sustainable Development in Post Covid-19 Crisis, gelaran ini melibatkan 80 penulis dari berbagai negara. Adapun ICHSoS digelar dengan format luring terbatas dan daring melalui aplikasi Zoom serta Youtube UMM. Konferensi ini merupakan upaya kritis para akademisi dalam menangani kondisi pasca pandemi. Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr Syamsul Arifin, M.Si dalam sambutannya menyebut bahwa selain untuk menjadi solusi pasca krisis akibat pandemi, ICHSoS juga bertujuan untuk memperluas khasanah penelitian. “Melalui ICHSoS saya harap bisa semakin memperkaya dan memperluas khazanah riset kita,”ungkap guru besar UMM tersebut. Pada opening and plenary session, ICHSoS menghadirkan para pakar ilmu sosial dari Polandia, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Sesi keynote speech pada kegiatan ini disampaikan oleh staf khusus Prof. Ravik Karsidi yang mewakili Menteri Koordinator PMK RI Prof. Dr Muhajir Efendy. Rayik berkata bahwa Ilmu sosial memiliki banyak peluang dalam penanganan pasca pandemi. “Jika ilmu medis menilai Covid ini sebagai virus mematikan, dalam perspektif sosiologis pandemi Covid-19 ini melahirkan pengetahuan baru karena mutasi perubahan alam. Covid dikonstruksikan sebagai peluang untuk membangun kebijakan endogen yang berpihak pada inovasi sosial berbasis potensi lokal,” ujar Ravik. Di sisi lain, Dr. Vina Salviana DS, M.Si, membahas tentang bagaimana perempuan bisa mengambil peran dalam menangani kondisi pasca pandemi pada materinya. Berdasarkan hasil riset yang ia lakukan, perempuan memiliki kemampuan berpikir dan bertindak lebih cepat dengan potensi yang mereka miliki. Perempuan dinilai bisa survive secara alami. “Perempuan memiliki kelebihan dalam hal intuisi dan kepekaan. Dengan kelebihan tersebut, mereka bisa beradaptasi pada perubahan. Di samping itu juga mampu untuk segera menjalani peran-peran ganda. Menjadi pekerja sektor kedua ketika pasangan mereka terhempas oleh dampak Covid, bahkan berperan menjadi guru di rumah ketika anak harus sekolah dengan metode daring,” ujar Dosen UMM tersebut. Sementara itu, Peerasit Kamnuansilpa dari Khon Kaen University Thailand dan Dr. Khadijah Alavi membagikan pengalaman Thailand serta Malaysia dalam menangani Covid-19. Khadijah Alavi memaparkan bagaimana potensi dari social worker dalam masa pandemi ini. “Saya tentu ingin agar para social worker dapat memanfaatkan teknologi dan literasi pada sosial media dengan baik. Selain itu mereka juga harus berkolaborasi baik dalam lingkup lokal maupun internasional,” ungkap Alavi. Pada kesempatan yang sama, Dr. Eko Handayanto, pembicara dari FEB UMM memaparkan tentang fenomena consumer panic buying di kala pandemi dan bagaimana cara merespon hal tersebut. Adapula pembicara dari Worclaw University Polandia, Dr. Yash Chawla yang mengkaji terkait sustainable consumption. Yash berkata bahwa pandemi membuat orang menjadi lebih kreatif. Pemilik lima gelar akademik tersebut menyarankan agar setiap orang berusaha melakukan berbagai upaya untuk mendukung sustainable consumption. Pada sesi panel di hari kedua, sebanyak 80 penulis dari berbagai negara mempresentasikan hasil riset mereka secara daring. Terbagi ke dalam 12 breakout room zoom, dari 80 peneliti, Cosmas Gatot Haryono terpilih sebagai Best Speaker dengan papernya yang berjudul Covid-19 Murals: Autocritic Messages From Society in The Public Sphere. Sedangkan Salina Nen, Fauziah Ibrahim dan Norulhuda berhasil meraih predikat Best Paper. Riset mereka berjudul Depression, Anxiety and Fear During the Covid-19 Pandemic Movement Control Order (MCO) in Malaysia mendapat ganjaran sebagai paper terbaik. (syi/wil)

Sebelas Mahasiswa UMM Raih Program IISMA, Enam Bulan Belajar di Luar Negeri

Kabar membanggakan terus mengalir dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, kampus Islam terbaik dunia 2021 ini berhasil meloloskan sebelas mahasiswanya dalam Program Indonesian International Student Mobility Award (IISMA). Mereka akan diberi kesempatan untuk merasakan kehidupan dan perkuliahan di luar negeri. Adapun proses pendaftaran berlangsung sejak 10 Mei lalu hingga pengumuman pada 28 Mei. Sebelas mahasiswa tersebut nantinya akan berangkat ke negara tujuan masing-masing pada bulan Agustus dan September 2021. Saat ditemui, Dr. Latipun, M.Kes. selaku Kepala International Relation Office (IRO) UMM menjelaskan bahwa IISMA merupakan program yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI. Agenda ini memberikan kesempatan bagi para mahasiswa untuk merasakan atmosfer pembelajaran di luar negeri. “Ada sebanyak 19 mahasiswa UMM yang mendaftar dalam program tersebut. Namun hanya ada sebelas yang berhasil melalui tahapan administrasi dan wawancara. Mereka akan belajar di sana selama enam bulan lamanya,” terangnya. Pada program IISMA tersebut, para mahasiswa yang lolos akan diberikan pembekalan serta dana untuk membiayai pendidikannya selama di sana. Di samping itu juga biaya hidup sehari-hari serta transportasi dari Indonesia ke negara tujuan, begitupun sebaliknya. Dijelaskan Latipun, sebenarnya ada banyak mahasiswa yang ingin mendaftar program IISMA namun belum memiliki sertifikat Bahasa Inggris. Apalagi untuk mendapatkannya memerlukan rentang waktu yang tidak singkat. Selain itu, momen pendaftaran yang berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri juga membuat beberapa mahasiswa tidak fokus untuk mendaftar. “Meski begitu saya bahagia dan bersyukur ada beberapa mahasiswa yang diterima dan akan berangkat,” terang Latipun. Lebih lanjut, ia juga mengatakan bahwa program ini juga menjadi bagian dari Internasionalisasi kampus, utamanya UMM. Mengingat salah satu indikatornya adalah mobilitas mahasiswa. Tidak hanya di dalam kampus maupun dalam negeri saja, tapi juga mobilitas ke luar negeri. Latipun menegaskan bahwa IRO  memiliki komitmen untuk terus membangun desain agar mahasiswa UMM memiliki peluang yang lebih besar di program internasional. Semakin banyak program, semakin besar pula kemungkinan mengambil peran di berbagai aktivitas internasional. “Ketika kesadaran mahasiswa dan penyediaan program dari kampus maupun pihak eksternal meningkat, maka tentu akan menjadi peluang yang sangat baik ke depananya,” tutur Latipun. Adapun kesebelas mahasiswa UMM yang diterima adalah Lutfiana Sausan, Rizky Juda Putra Hidayat, Ahda Mutiari Hifdhi dan Lucke Kharimah Pamungkas Saputro. Selain itu juga ada beberapa nama seperti M. Solahudin Al-Ayubi, Farah Isnaini Mikli, Afiya Dianar Najla, Geralda Grevi Nanda Nisa` serta Widad Saniyya. Dua nama terakhir yakni Indrawati dan Vivi Ariesta Nurjayanti. (wil)

Seminar Internasional UMM Bahas Pendidikan dan Kesehatan Mental

Dalam rangka mengadapi tantangan dunia pendidikan yang berubah dengan pesat, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar acara International Conference on Education and Psychology (ICEduPsy). Acara ini digagas oleh tiga fakultas UMM yaitu Fakultas Psikologi (F. Psi), Fakultas Agama Islam (FAI), dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Adapun konferensi internasional ini dilakukan secara luring maupun daring pada Sabtu (12/06) dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Beberapa pakar dari UMM, Universitas Fatoni Thailand, dan Universitas Malaya Kuala Lumpur-Malaysia turut andil dalam membahas serta mempromosikan pengembangan berkelanjutan di bidang pendidikan dan psikologi. Dalam sambutannya, Ketua Panitia ICEduPsy, Dr. Atok Miftachul Huda, M. Pd, berkata bahwa konferensi internasional ini merupakan sarana dalam meningkatkan kapasitas publikasi riset para dosen, baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu juga mempererat jalinan kerjasama antar universitas yang berkolaborasi dalam agenda ini.  “Saya berterimakasih kepada para peserta yang telah hadir dari berbagai negara seperti Australia, Canada, German, Mesir, Polandia, Thailand, dan beberapa universitas ternama di Indonesia. Terhitung ada sebanyak 1.000 peserta yang mengikuti kegiatan ini baik secara daring maupun luring,” ucap Atok. Di sisi lain, Wakil Rektor bidang Akademik UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M. Si, yang bertindak sebagai keynote speaker menyebutkan bahwa tantangan yang dihadapi dunia pendidikan sekarang lebih kompleks dibandingkan periode sebelumnya. Pendidikan juga harus dimaknai sebagai investasi jangka panjang. Siapapun bisa menambah ilmu hanya dengan tatap muka melalui internet, utamanya bagi generasi milenial. Berdasarkan hal tersebut, ada empat hal esensial yang harus dipertimbangan, seperti input, proses, dan output. Kemudian hasilnya adalah muara pendidikan. Tak berhenti di situ, pendidikan juga harus berujung pada perilaku yang beradab, sehingga manusia tak lemah dalam kecerdasan emosional. “Hal ini penting untuk memperkuat hubungan manusia dengan manusia maupun dengan Tuhan agar mampu mendapatkan kebahagiaan yang hakiki,” terang Syamsul. Sementara itu, saat penyampaian materi, Prof. Dr. Datuk Ahmad Hidayat Buang., PhD dari Universitas Malaya, Kuala Lumpur-Malaysia juga mempromosikan pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan berbasis pengetahuan dan inovatif dalam Perspektif Islam. Ia mengistilahkan bahwa manusia pada dasarnya serakah dan merusak. Efek dari sifat buruk itu dapat menyebabkan krisis sosial, perang, perbudakan, krisis ekonomi, kemiskinan, kelaparan, pandemi, penyakit bahkan polusi. Terdapat enam kategori yang perlu dikembangkan secara berkelanjutan, seperti kebutuhan utama manusia, pengembangan manusia, ekonomi, kondisi kehidupan, ekosistem dan hak asasi manusia. Senada dengan Datuk, Assoc. Prof. Dr. Phaosan Jahwae dari Universitas Fatoni, Thailand juga ikut andil dalam menyuarakan pentingnya pembangunan berkelanjutan dalam bidang pendidikan. Ia melihat latar belakang negara Thailand yang hanya mengamalkan mono language system yakni hanya menggunakan satu bahasa saja (Thai). Hal itu akan membuat para pelajar begitu lemah dalam bahasa asing. “Karena hal tersebut saya membentuk QAiMt Model for Students in the Patani. Model pembelajaran ini menggabungkan Alquran, Hadis, Aqidah, Fiqih, Sejarah Nabi, Akhlak, Bahasa Arab dan Melayu. Pengaplikasian model QAiMt ini lebih menarik perhatian para pelajar karena didalamnya terdapat teknologi tertentu serta adanya nyanyian yang menarik minat mereka,” ujar Phaosan. Narasumber terakhir, Muhammad Salis Yuniardi, S. Psi., M. Psi., PhD selaku Dekan F.Psi UMM memaparkan pembangunan berkelanjutan dalam bidang kesehatan mental. Salis membahas mengenai Intolerance of Uncertainty yakni bagaimana kognitif manusia menanggapi sesuatu yang tidak pasti. “Pada indikator kesehatan mental seseorang, variabel tersebut mampu memprediksi performa kerja. Intolerance of Uncertainty juga mengambil peran dalam recovery kesehatan mental masyarakat Indonesia di masa pandemi,” pungkasnya. (syi/wil)

Tim Mahasiswa UMM Sabet Kejuaraan Film Nasional

Setelah sukses dengan film Bumi dan Rekah, Meraki Visual kembali mengharumkan nama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui film terbarunya yaitu An Offering to Soul. Film tersebut berhasil menyabet juara tiga pada pagelaran Movie Production Club (MPC) Film Festival 2021 yang diadakan oleh Universitas Pelita Harapan (UPH) pada Sabtu lalu (5/6). Dalam film ini, Meraki Visual diwakili oleh lima orang mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi yaitu, Muhammad Izzuddin Febrianta, Ahmad Anis naufal, Irawan Ardi Wicaksono, Udaimatun Nur Farahin, dan Kiki Rahma Ardiansyah. Film berdurasi satu menit lima detik ini mengisahkan tentang perselisihan yang terjadi di pasar akibat terpuruknya ekonomi saat pandemi. Sutradara film An Offering to Soul, Udin, berkata bahwa penemuan ide cerita ini memakan 50% waktu produksi film. “Kita baru tahu festival ini H-7 penutupan karya. Pemilihan ide cerita merupakan hal yang paling memakan waktu diantara semua proses produksi. Selama empat hari kami mempertimbangkan tiga ide cerita untuk digarap, lalu yang terpilih adalah An Offering to Soul ini,” kata Udin. Mahasiswa kelahiran Jombang ini kembali bercerita bahwa di sisa waktu yang ada ia dan tim harus merampungkan proses syuting dan editing. Udin bercerita bahwa dalam film ini hanya terdapat satu shot saja. Jadi proses syuting harus terus menerus diulang sampai mendapat shot yang bagus. “Karena hanya  terdapat satu shot berdurasi satu menit, kadang para pemain lupa akan dialog atau intonasi suara. Oleh sebab itu, kami memerlukan fokus yang tinggi untuk mengatur kondisi pemain, lokasi syuting, maupun kru. Kami merampungkan proses syuting dalam waktu satu hari dan untungnya h-6 jam sebelum pendaftaran ditutup, film sudah selesai diedit,” ujar anak terakhir dari tiga bersaudara tersebut. Diakhir wawancara, Udin berkata melalui film An Offering to Soul, dirinya dan tim ingin menyampaikan pesan untuk mensyukuri hal-hal kecil di situasi yang serba sulit. “Tentu kami tidak ingin berhenti sampai di sini saja. Harus ada prestasi lain yang kami ukir agar bisa menggarap film yang dapat mengedukasi masyarakat,” tandasnya. (syi/wil)

UMM 10 Besar PTN-PTS Penerima Hibah Program Kompetisi Kampus Merdeka 2021

Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) terkait Kampus Merdeka pada tahun lalu melahirkan berbagai program. Salah satunya adalah Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM) yang  bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan relevansi program sarjana. Sebagai kampus unggul, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut serta dan berhasil mendapatkan pendanaan program tersebut pada Juni ini. Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes selaku ketua tim taskforce PKKM UMM menuturkan bahwa UMM berhasil memperoleh pendanaan lebih dari 8,1 miliar. Raihan tersebut menempatkan UMM di posisi pertama Perguruan Tinggi Swasta (PTS) penerima dana PKKM. “Kami juga berada di posisi pertama di antara 28 perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah yang memperoleh dana hibah ini,” terangnya lebih lanjut. Adapun UMM menempati posisi kesepuluh PTN-PTS penerima bantuan pemerintah PKKM tahun 2021. Hasil itu membawa UMM bertengger bersama Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Brawiajaya, Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Universitas Jember, Institut Teknologi Bandung, Universitas Negeri Malang dan Universitas Tadulako di posisi sepuluh besar. Dijelaskan Sujono, UMM yang digolongkan di Liga I mampu berkompetisi dengan PTN dan PTS dengan meloloskan empat prodinya yakni Prodi Teknik Mesin, Teknologi Pangan, Peternakan dan Akuakultur. Sebelum diajukan, keempat prodi itu juga sudah melalui penilaian dari Universitas sehingga meningkatkan persentase lolos di tahap PKKM. “Sebenarnya ada lima prodi dan Institutional Support System yang sudah kami ajukan, namun hanya ada empat yang lolos dan didanai,” terangnya menjelaskan. Sujono melanjutkan, program ini memiliki tujuan yang terangkum dalam delapan indikator kinerja utama (IKU). Mulai dari kesiapan kerja lulusan, mahasiswa dan dosen di luar kampus, kualifikasi dan penerapan riset dosen. Adapula hal-hal yang terkait dengan kemitraan, pembelajaran dalam kelas hingga akreditasi internasional. Dosen yang juga menjabat sebagai Koordinator Asisten Rektor UMM itu berharap raihan ini bisa meningkatkan capaian akademik serta kualitas lulusan dosen dan pembelajaran yang ada di UMM. Di samping itu, Ia ingin agar hal ini bisa dikembangkan di Prodi lain sebagai bentuk dukungan akan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang digalakkan oleh pemerintah. Selaras dengan Sujono, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si menerangkan bahwa delapan IKU yang tercantum pada dasarnya menekankan pada tiga hal. Ketiganya adalah peningkatan kualitas lulusan, dosen dan pengajar, serta Prodi. “Tujuannya adalah melahirkan lulusan yang dapat memperoleh pekerjaan dalam masa tunggu yang relatif tidak lama. Selain itu juga mendorong lulusan untuk mampu melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Tentu hal itu bisa digapai melalui dosen yang berkualitas dan dibarengi dengan akreditasi yang bagus,” tegasnya. Syamsul merasa bersyukur UMM bisa mendapatkan dana hibah ini, mengingat ada ribuan perguruan tinggi yang juga berusaha meraihnya. Ia mengapresiasi kinerja dari tim taskforce di tingkat universitas dan prodi yang sudah bekerja siang malam demi melancarkan proses program PKKM. Melihat dana hibah yang banyak, ia menegaskan UMM akan selalu trasnparan dan bertanggungjawab dalam menggelontorkan dana hibah terkait. Terakhir, ia ingin hasil ini dapat menjadi momentum bagi UMM untuk melaksanakan aktivitas yang berfokus pada capaian kedelapan poin IKU. Tidak hanya bagi empat prodi yang lolos saja, tapi juga bisa ditularkan ke prodi-prodi lainnya di UMM. “IKU PKKM ini menjadi salah satu data yang ada di sistem PINDAI DIKTI. Data tersebut nantinya akan menjadi acuan pemerintah dalam menetapkan peringkat perguruan tinggi. Semoga kita bisa menjalankan dan menggunakan dana ini dengan baik” harapnya. Sementara itu, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor UMM menuturkan bahwa sebenarnya UMM sudah mendesain konsep kampus merdeka sejak lama, yakni pada tahun 2000an. Sejumlah unit bisnis yang telah dimiliki UMM menjadi laboratorium terapan bagi mahasiswa. “Kami juga memiliki banyak kerjama sama, baik dalam negeri maupun luar negeri. Sebut saja jalinan dengan Erasmus Mundus Plus dari konsorsium Uni Eropa yang melibatkan mahasiswa, karyawan, serta dosen,” jelasnya. Selain itu, Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) UMM yang kini diubah menjadi Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) juga meyediakan berbagai skema. Tidak hanya terbatas pada skema top down saja, tapi juga menggunakan skema yang disesuaikan dengan passion mahasiswa. “Berbagai kebijakan equivalensi seperti ini sudah kita lakukan sejak lama. Maka, secara substansial UMM relatif siap karena budaya yang telah dibangun memang selaras dengan konsep kampus merdeka,” tegas Fauzan. Ia menjelaskan bahwa aktivitas tersebut akan terus didorong sampai UMM menjadi centre of excellence berbasis program studi. Hal itu merupakan salah satu jawaban akan kampus merdeka. “Semoga kita bisa menjalankan program ini dengan lebih masif, baik di tingkat universitas, nasional maupun internasional,” harap Fauzan mengakhiri. (wil)

Cerita Dosen HI UMM Studi di Turki

Lolos Beasiswa Türkiye Bursları membuat Dion Maulana Prasetya, Dosen Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini bisa merasakan atmosfer belajar di Turki, tepatnya di Ibukota Ankara. Sejak 2019 lalu, Dion telah menimba ilmu Doktoral Hubungan Internasional di Ankara Yıldırım Beyazıt Üniversitesi (AYBÜ). Kali ini, ia akan membagikan cerita bagaimana Turki begitu istimewa di matanya. Dion menceritakan bahwa seleksi beasiswa Türkiye Bursları sangat ketat. Apalagi melihat jumlah pendaftar yang diterima hanya 80 orang dari 8.000 pada 2019. Jumlah itu dibagi kembali menjadi jenjang sarjana, magister dan doktor. Menurutnya, Turki kini menjadi destinasi pendidikan baru bagi masyarakat Indonesia. “Destinasi pendidikan Turki semakin ke sini semakin diminati. Dapat dilihat dari jumlah peserta yang mendaftar,” tuturnya lebih lanjut. Disampaikan Dion, kebiasaan kerja keras dan kerja tuntas di UMM membantunya dalam menghadapi perkuliahan di sana. Tidak hanya di dalam kampus, tapi juga aktivitasnya di luar kampus. Di samping itu, ia menekankan bahwa tidak hanya keras dan tuntas saja, tapi yang paling penting adalah kejujuran dalam segala hal. Menurutnya, Turki tidak hanya menjadi destinasi pendidikan yang menarik saja, ada berbagai daya tarik menarik tersendiri. Salah satunya bisa dilihat dari aspek budaya. Ia bercerita bahwa orang Turki memiliki kepercayaan diri yang luar biasa. Hal itu berpengaruh pada banyak aspek, termasuk sistem pendidikannya yang selalu menggunakan bahasa Turki. “Saking percaya dirinya, tidak banyak orang sini yang belajar bahasa asing,” ungkapnya. Dion juga sempat menceritakan beberapa destinasi menarik dan istimewa. Jika ingin mengunjungi tempat yang sarat akan sejarah, ia merekomendasikan peninggalan Anatolia, Anatolia, Byzantium Romawi bahkan juga Ottoman. Tidak ketinggalan Makam Mustafa Kemal At-Taturk. Situs ini tidak hanya istimewa tapi juga menjadi lambang sejarah nasionalisme Turki. “Jadi di Turki banyak aktivitas pelestarian peninggalan bersejarah yang digalakkan. Semua situs peninggalan dirawat sedemikian rupa sehingga suasana klasik sangat terasa di sini,” ungkapnya mengakhiri. (haq/wil)

Mahasiswa FK UMM Raih Juara Pertama Lomba Video Nasional

Seakan tidak berhenti, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang kembali mengukir prestasi. Kali ini giliran tiga serangkai mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Adie Prasetia Maulana, Fahreza Hadi Firmansyah, dan Aburizal Malik yang meraih juara pertama di ajang World No Day Tobaccos (WNDT) Mei lalu. Adapun kompetisi nasional yang bertemakan “Don’t Let Tobacco, Take Your Breath Away” itu digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedoteran Gigi (FKG) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sepanjang bulan Mei. Ditanya ihwal proses perlombaan, Adie Prasetia selaku coordinator kelompok mengatakan bahwa kompetisi WNDT tersebut dilaksanakan secara daring sejak 1-23 Mei. Kemudian dilanjutkan dengan penilaian yang dilakukan oleh juri hingga pengumuman pada 31 Mei lalu. Hari itu juga bertepatan dengan peringatan hari tanpa tembakau. Pada awalnya, ia tidak menduga bahwa video yang mereka buat mampu menyabet juara, apalagi peringkat pertama. Kemenangan itu berawal dari hobi ketiganya dalam hal videografi. Beberapa kali mengobrol dan mencoba membuat video, mereka akhirnya memutuskan untuk ikut serta dalam lomba yang diadakan oleh FKG UMS. Apalagi mengingat mereka memiliki waktu yang cukup luang untuk mempersiapkan diri dan video. Video yang mereka buat berbentuk shor t film ynag berdurasi pendek. Mereka memberi judul “Anugerah” dengan harapan bisa memberikan pesan akan betapa bahayanya tembakau. Tidak hanya berbahaya untuk diri sendiri tapi juga orang di sekitarnya. “Kandungan zat nikotin pada tembakau membuat perokok lebih beresiko terkena stroke, serangan jantungan, dan kanker paru-paru. Maka dari itu video ini hadir untuk mengingatkan kembali terkait edukasi resiko konsumsi tembakau,” ujarnya. Meskipun terkendala jarak lokasi antar anggota yang berbeda daerah, mereka masih bisa berkoordinasi melalui pertemuan daring. Adie sendiri berharap, video yang sudah dibuat tidak hanya menghasilkan kemenangan saja tapi juga mampu memberikan edukasi dan informasi lebih terkait bahayanya tembakau. “Kami juga tidak akan berhenti untuk berkreasi dan menghasilkan karya. Terus berusaha sebaik mungkin agar bisa kembali menebar kebaikan sekaligus mengahrumkan nama kampus,” ungkapnya. (haq/wil)

Markaz Dakwah FAI UMM Bantu Bangun Masjid di Banyuwangi

Terus tebar dakwah dan membantu masyarakat, Markaz Dakwah Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menebar manfaat. Kali ini Markaz Dakwah FAI UMM memberikan bantuan untuk pembangunan Masjid di Desa Pakistaji, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi. Adapun pembangunan masjid ini dimulai sejak tanggal 20 Mei lalu, diawali dengan peletakan batu pertama. Jamal, S.HI., M.Sy., selaku kepala Markaz Dakwah menjelaskan bahwa bantuan tersebut berupa dana pembangungan. Seperti program Markaz Dakwah sebelumnya, banyak sumbangan yang diperoleh dari hubungan baik UMM dengan donatur di Arab Saudi. “Di samping itu, kami dan panitia lokal pembangunan masjid juga sudah berkomunikasi terlebih dahulu sehingga proses bantuan bisa berjalan dengan lancar,” jelasnya. Jamal juga menjelaskan bahwa bantuan ini berawal dari kondisi Pondok Pesantren yang berlokasi di wilayah Desa Pakistaji, yakni Nurus Sholah yang belum memiliki masjid. Nantinya, tidak hanya penghuni pondok saja yang menikmati masjid ini, tapi juga masyarakat sekitar yang inigin memakmurkannya. Selain itu juga bisa menjadi pusat kegiatan masyarakat sekitar. “Rencananya, pembangunan masjid ini akan memakan waktu tiga bulan. Semoga berjalan dengan lancar,” terangnya lebih lanjut. Dosen Hukum Keluarga Islam (HKI) UMM ini kembali mengatakan bahwa kontribusi ini merupakan bentuk dakwah yang dilakukan oleh Markaz Dakwah. Menurutnya, dakwah tidak melulu  hanya memberikan ceramah di atas mimbar. Tetapi juga bisa melalui aspek sosial seperti membantu pembangunan masjid, sumur untuk masyarakat, maupun pembagian sembako. Adapun target bantuan yang direncanakan tidak hanya terbatas di Malang saja, tapi juga luar daerah sebagai bentuk pemerataan. “Bukan hanya daerah Malang Raya saja yang mendapatkan bantuan, tetapi beberapa daerah  di Jawa Timur menjadi target bantuan,” ujarnya. Pria kelahiran Banyuwangi ini berharap, ke depannya Markaz Dakwah bisa terus mengabdi kepada masyarakat. Menebar dakwah tidak hanya dengan ceramah, tapi juga melalui program-program yang dilaksanakan.“Semoga Markaz Dakwah bisa terus berinovasi dan memberikan segala kontribusinya bagi masyarakat, agama dan bangsa. Kami juga berharap Masjid yang dibangun dapat menjadi pusat kegiatan warga sekitar sehingga usaha menebar kebaikan bisa berjalan dengan lancar,” ungkapnya di akhir. (haq/wil)