Bupati Pamekasan Kenang Saat Jadi Mahasiswa UMM

Lebih dari setengah abad berdiri, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah melahirkan ribuan alumni yang tersebar di penjuru nusantara, bahkan juga Dunia. Salah satu di antaranya adalah Bupati Pamekasan saat ini, Baddrut Tamam. Ditemui di kantornya, ia sempat menceritakan dan mengenang bagaimana ia berkuliah di UMM dulu. Baddrut, panggilan akrabnya memulai kisah dengan menceritakan awal pendaftaran di UMM. Saat itu, ia mendaftarkan diri tepat satu jam sebelum pendaftaran ditutup. Ditambah lagi dengan hilangnya beberapa pesyaratan yang tertinggal di bus. “Kebetulan saat itu saya dari Yogyakarta langsung ke Malang. Alhamdulillah berkat nilai rapor yang cukup bagus, saya akhirnya diterima di UMM tanpa melalui tahapan tes,” ungkapnya. Pada kesempatan itu, ia juga bercerita bahwa perpustakaan UMM dulu sudah menjadi basecamp baginya. Ia seringkali mengisi waktu kosong dengan membaca buku dan berdiskusi bersama teman-teman lain. Bahkan sempat membentuk lembaga kajian islam dan psikologi bagi mahasiswa bernama Phenomenon. Baddrut juga mengaku bahwa ia kurang bisa memanajemen uang saat menjadi mahasiswa dulu. Uang saku yang diberi ibunya seringkali habis di tengah jalan, baik untuk makan maupun membeli buku. Maka dari itu ia berinisiatif untuk berjualan kerupuk demi mendapatkan uang jajan tambahan. Tidak disangka, usahanya berjalan dengan lancar. Tiap minggu ia bisa meraup keuntungan sebesar 2 juta. “Jumlah tersebut bisa dibilang cukup banyak di masanya. Akhirnya teman-teman sering saya ajak ke rumah makan Pak Soleh,” ujarnya berkelakar. Pria yang bercita-cita menjadi pengusaha tersebut menjelaskan bahwa menjadi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) serta Bupati merupakan jalan tersesat yang benar. Menurutnya, jabatan bukanlah sebuah tujuan, melainkan alat perjuangan. Tidak peduli apapun merk dan tipe kendaraannya, hal terpenting adalah tujuannya. Baddrut juga sempat memberikan pesan bahwa kalau ingin jadi orang hebat harus belajar pada orang hebat pula. Kala menjadi mahasiswa, ia seringkali datang ke Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP Menko PMK RI yang pernah menjabat sebagai Rektor UMM. “Saya suka berkunjung ke beliau meski tidak dipanggil. Mengobrol, kemudian mendapatkan rekomendasi buku serta meresumenya. Hal itu sungguh memberi saya manfaat yang luar biasa,” tegasnya. Selain itu juga harus menjaga sikap kepada orang lain. Saat menjadi mahasiswa Psikologi UMM dulu, Ia mengaku belajar bahwa orang itu tidak suka dihina. Sebaliknya, mereka lebih suka diperlakukan dengan baik. “Mungkin karena hal itulah saya bisa terpilih menjadi DPRD termuda pada 2009 dan kini menjadi Bupati Pamekasan,” pungkasnya menerangkan. (wil)

Berkat Hafalan Quran, Mahasiswa UMM ini Raih Beasiswa ke Turki

Memperoleh beasiswa belajar di luar negeri tidak terbatas pada jalur akademik saja. Ada beberapa jalur unik yang disediakan oleh lembaga pendidikan luar negeri, salah satunya adalah yang diraih Nisrina Nur Husna. Ia memperoleh beasiswa dari lembaga Aziz Mahmud Hüdayi Vakfi lewat hafalan Al-Quran. Mahasiswa Prodi Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini bercerita bahwa dirinya telah mulai menghafal Al-Quran sejak kecil. kebiasaannya menghafal Al-Quran terus berlanjut sampai dirinya masuk pesantren tatkala masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP). “Pada saat kelas dua Sekolah Dasar (SD), saya mulai menghafal Al-Quran  karena almarhumah ibu saya membuat jadwal setiap habis maghrib untuk menghafal. Tak terasa, menghafal menjadi sebagian rutinitas saya. Waktu SD saya mulai menghafal juz 30 dan 29. Kemudian saya menekuninya kembali saat memasuki pesantren dan menghafal dari surah Al-Baqarah. Hafalan tersebut berlanjut sampai sekarang ketika berkuliah di UMM,” ujar Nisrina. Nisrina kembali bercerita bahwa program belajarnya di Turki akan berjalan selama satu tahun. Para mahasiswa akan membenarkan bacaan Al-Quran dan belajar bahasa Turki terlebih dahulu. Setelah itu para mahasiswa baru didorong untuk menghafal Al-Quran. “Pembelajaran di Turki menggunakan teknik pomodoro yakni belajar dari jam 10.00 sampai 14.00 lalu akan ada istirahat 15 menit setiap 30 menit sekali. Untuk proses menghafal Al-Quran, terdapat seleksi terlebih dahulu. Seleksi tersebut berupa ujian dengan para guru yakni hafalan surat pilihan, kemudian disetorkan. Dari ujian tersebut akan dilihat berapa lama mahasiswa mampu menghafal 10 surat tersebut,” kata Nisrina. Anak bungsu dari empat bersaudara ini mengaku adaptasi di Turki sangat susah. Ia harus beradaptasi di berbagai aspek seperti budaya, kebiasaan, iklim, makanan, dan bahasa. Nisrina mengaku aspek bahasa sangat menyulitkannya. Hanya ada segelintir orang di asramanya yang bisa berbahasa Inggris. Satu-satunya bahasa pemersatu adalah bahasa Turki. “Dalam waktu singkat saya dituntut untuk belajar bahasa Turki. Meskipun di setiap mata kuliah ada seorang translator yang menerjemahkan, namun untuk berbicara dengan teman Internasional yang lain harus menggunakan bahasa Arab atau Turki,” terang Nisrina. Meskipun sulit untuk beradaptasi, namun Nisrina senang dengan keputusaannya untuk mengambil beasiswa Hafiz tersebut. Nisrina sangat terkejut dan kagum dengan semangat mahasiswa Internasional lain dalam menghafal Al-Quran dan belajar Islam. “Hal itulah yang memacu saya untuk terus belajar di Turki. Saya harap dengan belajar di sini, saya bisa memberikan manfaat bagi orang-orang sekitar ketika nanti kembali ke Indonesia,” tandasnya. (syi/wil)

Theng Chanboramey, Mahasiswa Internasional UMM yang Jadi Konsultan di KBRI

Bahasa dan kebudayaan Indonesia belakangan makin digemari orang luar negeri, salah satunya oleh Theng Chanboramey. Alumni Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mulai tertarik dengan budaya Indonesia sejak dirinya iseng mengikuti kelas gratis bahasa Indonesia di KBRI Kamboja. “Awalnya diajak seorang teman hingga akhirnya saya tahu berbagai program yang ada di KBRI Kamboja. Saya dikenalkan dengan kebudayaan Indonesia yang begitu menarik seperti pentas seni budaya Indonesia serta mencicipi makanan-makanan khasnya. Selain itu, KBRI juga sering memberitahu tentang beasiswa-beasiswa yang tersedia,” ujar Boramey. Boramey mengungkapkan usai mengetahui informasi tersebut, dirinya memutuskan untuk mendaftar beasiswa ke UMM. Ia mendaftar diri dalam program belajar bahasa dan budaya Indonesia selama satu tahun di BIPA UMM. Setelah pengumuman lolos, Boramey semakin giat untuk mempelajari lebih dalam terkait Bahasa Indonesia. Ia juga mengaku keputusannya untuk mendaftar ke UMM bukan tanpa alasan, ia memang berniat mencari tempat tenang dan dingin untuk proses belajarnya di Indonesia. “Selain tempatnya yang stategis, pihak kampus juga sangat memperhatikan mahasiswa asing yang belajar di UMM. Saya ditemani untuk mencari kos yang murah dan nyaman serta diajak berkeliling kota Malang untuk lebih mengetahui tentang budaya Indonesia,” kata wanita asal Kamboja tersebut. Staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Kamboja ini kembali bercerita bahwa pengalaman satu tahunnya di Indonesia, khususnya UMM sangat berarti. Dirinya bertemu dengan orang-orang baru, kebudayaan baru, dan kebiasaan baru. Pada akhirnya, pengalamannya tersebut membantunya untuk bekerja di KBRI Kamboja sekarang. “Di KBRI, saya sering membantu Warga Negara Indonesia (WNI)  terkait permasalahan mereka di Kamboja. Karena hal tersebut, pengalaman saya di Indonesia sangat membantu saya memahami mereka. Saya berharap kedepannya BIPA UMM bisa terus mencetak para penutur bahasa Indonesia yang handal seperti saya untuk lebih memahami Indonesia,” pungkasnya. (syi/wil)

Kaji Pendidikan Masa Krisis, Mahasiswa UMM Sabet Juara Kompetisi Opini

Ingin rawat literasi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mengharumkan nama kampus di lomba penulisan opini. Perlombaan tingkat nasional ini diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasisiwa (BEM) UMM dalam event University Opinion Writing Competition, yang diselenggarakan secara daring pada Mei 2021 lalu. Aldi Bintang Hanafiah Mahasiswa Prodi Ekonomi Syari’ah UMM ini berhasil meraih juara 2 pada komptisi tersebut. Adapun juara satu dan tiga masing-masing diraih mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya dan UIN Syarif Hidayatullah. Pada gelaran ini, Aldi mengikutsertakan opini karangannya yang berjudul “Pendidikan Era Pandemi: Melangkah di Tengah Krisis”. Tulisannya membahas tentang gambaran pendidikan Indonesia dan dunia yang umumnya berdampak pada anak-anak. Dilansir dari UNESCO, terdapat 1,5 miliar anak-anak yang harus mengikuti pendidikan secara daring. Sedangkan di Indonesia ada sekitar 60 juta anak yang terdampak. Ia juga memberikan kritik atas kurangnya pemerataan fasilitas pendidikan di nusantara. Lebih lanjut, Aldi menuturkan bahwa pendidikan daring menghasilkan lulusan atau pendidikan yang berbeda dengan pendidikan luring sebelum pandemi. Maka perlu adanya evaluasi efektivitas pembelajaran daring yang telah dan sedang dilakukan. Dia juga mengajak masyarakat serta pemerintah bersama-sama memenuhi kebutuhan akses media dan juga jaringan yang dibutuhkan untuk memperoleh pendidikan. Dalam opininya, mahasiswa kelahiran Lampung ini memberikan tiga solusi. Pertama, pembangunan akses media yang merata mengingat situasi pandemi masih belum ada jalan terang. Kedua, peran guru harus memiliki kompetensi literasi. khususnya dalam dunia digital. Terakhir, lembaga pendidikan juga dituntut untuk  membuat kurikulum yang interaktif dan inovatif serta dapat menumbuhkan perkembangan peserta didik. “Tiga solusi tersebut saya tawarkan agar pendidikan Indonesia tidak stuck dan berhenti pada kebijakan pendidikan online saja,” ujarnya. Dia mengaku sempat mengalami hambatan terkait dengan data pendukung, menentukan sudut pandang yang menarik, hingga menyempatkan waktu menulis. Meski mendapat segelintir kendala, namun ia sanggup menyelesaikan opini ini dalam waktu satu minggu. Tentunya dukungan dari kawan-kawan dan para guru membuatnya bersemangat menggarap opini ini. Terakhir, Aldi berharap setelah menjuarai lomba opini ini, ia bisa lebih meningkatkan skill menulis dan juga analisis. Menurutnya, secara umum opini ini bisa memberikan alternatif bagi lembaga pendidikan Indonesia. “Semoga teman-teman lain bisa termotivasi dan akhirnya memberikan karya serta kontribusi. Saya tentu ingin terus memberikan yang terbaik agar bisa mengharumkan nama baik UMM ke depannya,” ungkapnya. (haq/wil)

Fouly, Mahasiswa Internasional UMM yang Sukses Jadi Youtuber

Kesempatan kadang datang di saat yang buruk, hal itu pula yang terjadi dengan Mohamed Elfouly. Saat mahasiswa lain masih beradaptasi dengan keberadaan virus corona di Indonesia, mahasiswa internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mulai merintis kanal Youtube pribadinya bernama Fouly. Sampai sekarang, kanal youtube tersebut terus berkembang. Terhitung sudah setahun lamanya youtube Fouly beroperasi dan beberapa waktu yang lalu ia berhasil mendapatkan silver play button. Fouly berkata dirinya sangat senang bercerita tentang negara asalnya Mesir kepada teman-teman Indonesia. Namun aktivitas masyarakat di kala pandemi sangat dibatasi. Sehingga, Fouly memiliki lebih banyak waktu luang karena pembelajaran berjalan secara daring. “Dari situ saya berpikir kenapa saya tidak membuat kanal youtube saja. Dengan membuat channel youtube, tidak hanya teman-teman saya yang memperoleh pengetahuan tentang kebudayaan negara-negara di timur tengah, tetapi juga masyarakat luas,” ujar mahasiswa Prodi Bahasa Indonesia tersebut. Karena target penonton Fouly adalah masyarakat Indonesia, maka bahasa yang Fouly gunakan juga bahasa Indonesia. Dalam hal ini, Fouly berkata bahwa BIPA UMM sangat membantunya dalam memperlancar ejaan bahasa Indonesia. Fouly kembali bercerita bahwa awal mula merintis kanal Youtube ini, dirinya hanya bermodal smartphone saja. Masalah editing dan pengambilan gambar juga ia lakukan secara mandiri. “Jujur tidak ada yang sulit dalam memproduksi konten Youtube karena hobi saya memang bercerita. Fasilitas di UMM juga sangat menunjang konten youtube saya. Kadang beberapa teman juga membatu dalam mengambil video. Mungkin yang masih saya pelajari sampai sekarang adalah bagaimana menyampaikan cerita dengan menyenangkan kepada para penonton,” kata Fouly. Mahasiswa asal Giza ini menuturkan sangat senang kalau ilmu dan cerita yang dibagikannya lewat Youtube disukai oleh banyak orang. Fouly berpesan pada orang yang mau memulai youtube untuk jangan takut mencoba. Dalam membuat konten youtube juga tidak harus pakai alat profesional. “Selain itu, tujuan dan target juga harus ditetapkan secara jelas. Kalau dari awal tujuannya uang atau ketenaran ya jelas tidak akan bertahan lama. Tapi kalau tujuannya berbagi ilmu dan pengetahuan pasti akan dapat berkembang,” pungkasnya. (syi/wil)

Kukuhkan Diri di Level Internasional, Psikologi UMM Raih Sertifikasi AUN-QA

Program Studi (Prodi) Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengukuhkan diri di dunia internasional. April lalu, mereka  berhasil meraih sertifikasi ASEAN University Network Quality Assurance (AUN-QA). Ada dua proses yang harus dilalui oleh Prodi Psikologi agar bisa memperoleh sertifikasi ini, yakni proses berkas dan visitasi. Saat ditemui, Muhammad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., PhD selaku Dekan Fakultas Psikologi UMM menjelaskan bahwa proses sertifikasi ini telah dimulai sejak tahun 2020 lalu. Kemudian ada juga agenda visitasi yang dihadiri oleh dua asesor internasional dari Malaysia dan Thailand. “Visitasi tersebut masih dilaksanakan secara daring mengingat pandemi belum juga berakhir. Alhamdulillah berjalan dengan lancar dan kami sudah tersertifikasi,” ungkapnya. Menurutnya, penilaian yang ada di sertifikasi AUN-QA memiliki perbedaan dibanding BAN-PT. Hal inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi mereka. Salah satunya adalah penilaian akan lulusan yang akan dihasilkan. Mulai dari kurikulum yang berbasis output maupun proses untuk mencapai hal tersebut. Adapula beberapa hal detail yang menjadi penilaian penunjang perkuliahan, yakni fasilitas bagi difabel, penanggulangan bencana, hingga alat antisipasi kebakaran. “Tentu sertifikasi ini menjadi langkah yang baik untuk mempersiapkan diri menuju akreditasi internasional, dalam hal ini yaitu Foundation for International Business Administration Accreditation (FIBAA),” tegasnya. Selain itu, Salis juga memaparkan beberapa kendala yang dihadapi Prodi Psikologi pada proses sertifikasi AUN-QA. Meski sudah ada, namun fasilitas untuk difabel dirasa masih kurang. “Meski begitu, para asesor menilai bahwa fasilitas UMM, khususnya Psikologi sudah sangat baik dan mumpuni,” tegasnya. Ia berharap agar raihan ini tidak hanya sebagai simbol saja, tapi juga harus dimanfaatkan seoptimal mungkin dalam berbagai aspek. Salah satunya dengan melebarkan kerja sama internasional. Di samping itu juga  sebagai persiapan untuk mendapatkan akreditasi di tingkat dunia. Sementara itu ketua tim taskforce AUN-QA Psikologi UMM, Dian Caesaria Widyasari, S.Psi., M.Sc. menjelaskan bahwa raihan ini merupakan hasil dari kerja sama semua pihak. Menurutnya, tanpa sinergitas yang baik, akan sangat sulit menyelesaikan proses yang ada. Apalagi ada berbagai berkas yang perlu disiapkan seperti Rancangan Pembelajaran Semester (RPS), laporan-laporan, workshop kurikulum hingga evaluasi pembelajaran. Senada dengan Salis, ia juga merasa bahwa sertifikasi AUN-QA ini bukanlah akhir namun menjadi langkah awal yang strategis. Utamanya dalam usaha untuk internasionalisasi UMM serta Prodi Psikologi. “Bukan hanya sertifikasinya saja yang internasional, tapi juga semua aspek termasuk mindset juga harus internasional,” ungkapnya. Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. selaku Wakil Rektor I UMM mengatakan bahwa sertifikasi ini memliki peran penting bagi UMM. Satu diantaranya adalah memastikan tridharma dan caturdharma universitas berjalan dengan baik di level yang lebih luas. Selain itu juga memberikan pengakuan kepada para alumni di level ASEAN. Prodi juga bisa lebih mudah untuk bisa mengembangkan jejaring dan kolaborasi antar perguruan tinggi di Asia Tenggara. Ia melanjutkan, tidak hanya Prodi Psikologi saja yang didorong untuk mengusahakan sertifikasi dan akreditasi internasional. Sebelumnya, Prodi Komunikasi, Peternakan, Pendidikan Biologi serta Manajemen juga telah memperoleh sertifikasi ini. “Kami sudah memproyeksikan berbagai prodi untuk mendapatkan akreditasi maupun sertifikasi di level internasional. Sebut saja Prodi Teknik Sipil, Ilmu Pemerintahan, Teknik Mesin, PAI, Akuntansi dan lainnya. Tentu saja tanpa mengesampingkan usaha untuk mendapatkan akreditasi nasional yang baik pula,” pungkasnya. (wil)

Prodi Komunikasi UMM Raih Sertifikasi Internasional AUN-QA

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memasuki babak baru dalam memperoleh pengakuan internasional. Prodi yang berdiri tahun 1986 ini berhasil menjadi Prodi Komunikasi kampus swasta pertama yang meraih ASEAN University Network Quality Assurance (AUN-QA) pada Selasa (25/5). Hal ini menjadi bukti bahwa komunikasi UMM telah mengukuhkan diri sebagai salah satu prodi yang tersertifikasi secara internasional. Proses sertifikasi dimulai dengan penilaian berkas melalui Self Assesment Report (SAR) yang dikirim ke kantor pusat AUN QA. Selanjutnya dilakukan visitasi yang dilakukan secara remote (daring). Dua asesor, masing-masing Prof. Dr. Rosemary Seva dari De La Saile University, Filipina dan Asst Professor Suptcha Cheevapruk dari Mongkut’s University of Technology North Bangkok, Thailand melakukan pengecekan, baik di tingkat universitas, fakultas, maupun prodi. Pada proses itu pula para asesor melakukan konfirmasi kepada tim SAR, pimpinan fakultas dan prodi. Selain itu juga dilangsungkan visitasi secara virtual ke beberapa lokasi tingkat universitas, seperti perpustakaan dan fasilitas-fasilitas lainnya. Disamping itu juga melakukan konfirmasi kepada para staf akademik untuk memastikan apa yang disampaikan di SAR benar adanya. Selain Komunikasi, Prodi Psikologi juga memperoleh kesempatan untuk divisitasi oleh AUN-QA. Sebelumnya, prodi-prodi di UMM yang telah memperoleh sertifikat AUN QA adalah Manajemen (FEB), Pendidikan Biologi (FKIP), dan Peternakan (FPP). Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd mengatakan pengakuan internasional merupakan keniscayaan bagi UMM yang ingin melangkah lebih jauh untuk menjadi kampus yang memiliki jangkauan luas. “UMM sejak awal mendedikasikan diri sebagai persembahan dari Muhammadiyah untuk bangsa. Melalui AUN QA ini prodi-prodi di UMM diharapkan akan mempersembahkan prestasinya dan lebih percaya diri untuk berperan di tingkat internasional,” harapnya Ketua Prodi Komunikasi UMM, Himawan Sutanto, optimis pihaknya dapat melalui semua proses ini dengan baik. Selain karena persiapan telah dilakukan secara maksimal, juga karena dukungan berbagai pihak di tingkat universitas, fakultas, maupun unit-unit terkait. “Pengalaman akreditasi dari BAN PT yang memberikan peringkat A tiga kali berturut-turut pada Komunikasi UMM membuat kami yakin dapat memperoleh AUN QA ini dengan lancar,” ungkapnya. Adapun AUN QA akan menjadi batu loncatan bagi Komunikasi UMM untuk mengembangkan prodinya ke tingkat internasional. Ke depan, kata Himawan, pihaknya juga akan membuka kelas internasional dengan menggandeng mitra-mitra strategis baik kalangan universitas di luar negeri maupun dengan lembaga-lembaga lain. Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si membenarkan bahwa AUN QA akan dijadikan salah satu dasar kebijakan universitas untuk membuka kelas internasional. ”Bukan hanya kelas berbahasa Inggris, kelas internasional juga harus benar-benar memiliki jaringan luas secara internasional,” katanya. (*wil)