Periode ke 100 Wisuda UMM: Siapkan Lulusan Berdaya Saing Internasional

Raihan predikat kampus bintang tiga dari lembaga QS Stars yang dicapai Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melengkapi rekognisi internasional yang sudah diperoleh. Sebelumnya, UMM juga telah dianugerahi sebagai kampus Islam terbaik di dunia versi UniRank. Kampus putih juga telah menyiapkan mahasiswa dan lulusannya dengan berbagai kemampuan agar mereka memiliki daya saing internasional. Salah satu cara untuk mendapatkan daya saing internasional yakni dengan membentuk manusia unggul. Hal itu disampaikan oleh Duta Besar Indonesia untuk Jepang, H.E. Mr. Heri Akhmadi, dalam  wisuda ke 100 UMM yang dilangsungkan secara daring dan luring dengan protokol kesehatan yang ketat. Menurutnya, manusia unggul adalah mereka yang merdeka, beriman dan bertaqwa, berilmu serta berbudaya. “Pun mereka yang selalu berusaha mengabdi kepada masyarakat dengan ide-ide inovatifnya,” tutur Heri. Ciri-ciri manusia unggul yang Heri sebutkan selaras dengan program dan kegiatan yang ada di UMM. Sebut saja Program Pembentukan Kepribadian dan Kepemimpinan (P2KK) yang berusaha mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang baik serta memiliki jiwa kepemimpinan. Adapula program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) yang mendorong mahasiswa untuk berkontribusi dengan inovasi-inovasi unik dan menarik. Selain dua hal tadi, UMM juga menyediakan berbagai kegiatan agar para alumni bisa terbentuk menjadi manusia unggul. Demi mendapatkan tujuan tersebut, Heri mengungkapkan bahwa program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang digagas Kemendikbud memiliki peran strategis. Berbagai kebebasan diberikan oleh MBKM kepada kampus untuk menerjang sekat-sekat yang dulu membatasi. Begitupun dengan para mahasiswa yang memperoleh kebebasan untuk memilih mata kuliah, belajar di universitas lain, bahkan juga di negara lain. “Semua kebebasan dalam proses belajar mengajar tersebut bisa ditemukan dengan mudah di UMM ini,” tuturnya lebih lanjut. Selain itu, menyiapkan para lulusan untuk bisa terjun di ekonomi digital juga menjadi aspek penting dalam rangka membentuk pribadi yang berdaya saing internasional. Sesuai dengan yang disampaikan oleh Dubes Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok (RTT), H.E. Mr. Djauhari Oratmangun bahwa ada potensi besar yang dimiliki oleh sektor ekonomi digital. Djauhari, panggilan akrabnya, mengatakan jika berkaca pada RRT, ada sekitar 162 unicorn yang memiliki transaksi e-commerce mencapai 2,4 triliun dollar US. Sementara Indonesia memiliki lima unicorn dan satu decacorn serta transaksi e-commerce sebesar 44 miliar dolar US. “Ada potensi besar di bidang ekonomi digital Indonesia. Apalagi adanya daya tarik yang luar biasa dari generasi muda, termasuk para wisudawan dan wisudawati yang hadir hari ini,” tuturnya di sesi wisuda ke 100 UMM, Selasa (29/6) lalu. Maka dari itu, dijelaskan Djauhari, para wisudawan sebagai pengemban tongkat estafet selanjutnya harus memanfaatkan kesempatan dan potensi yang ada di depan mata. Sehingga mereka mampu mengambil bagian dan menentukan arah positif bagi Indonesia. “Semua orang punya peran. Upaya positif apapun memiliki kontribusi bagi kejayaan bangsa yang kita cintai ini. Jadi, teruslah berkarya dan bermanfaat bagi sesama,” pungkasnya menjelaskan. Sertifikat profesional juga memiliki peran penting agar para alumni bisa bersaing di dunia kerja level nasional dan internasional. Maka dari itu, UMM juga telah menyediakan Lembaga Sertifikasi Profesi untuk menyelenggarakan sertifikasi kompetensi bagi para mahasiswa yang akan lulus. “Tidak hanya disiapkan untuk bekerja, di UMM para mahasiswa juga didorong dan dibekali kemampuan untuk creating the job, menciptakan lapangan pekerjaan,” tutur Kunjung Masehat, S.H., M.H. Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi. Sementara itu, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P menerangkan bahwa UMM sudah membekali para alumninya dengan beragam hal. Dua di antaranya adalah ilmu dari pembelajaran yang didapat dalam proses belajar mengajar. Kemudian juga menyiapkan bekal dalam aspek pembentukan karakter. “Saya rasa aspek inilah yang memberikan corak berbeda pada diri wisudawan. Hal itu pula yang membuat keterserapan alumni UMM relatif tinggi. Terbukti dengan raihan bintang lima pada sisi employability yang diperoleh dari QS Stars,” jelasnya menerangkan. Terakhir, hal senada juga diungkapkan oleh Dr. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor UMM. Ia merasa capaian bintang lima aspek employability menjadi bukti bahwa kompetensi dan kemampuan yang dimiliki wisudawan bisa bersaing dengan mereka di tingkat internasional. “Artinya modal untuk sukses secara institusional sudah diberikan oleh kampus. Tinggal bagaimana saudara memanfaatkan peluang yang ada di depan mata. Saya yakin para wisudawan memiliki energi positif yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Teruslah optimis dalam menghadapi fase kehidupan selanjutnya,” pungkasnya. (syi/wil)

Mahasiswa UMM Ciptakan Wastafel Canggih Kaya Fitur

Mencuci tangan sudah menjadi keharusan untuk mencegah penularan virus Covid-19. Berangkat dari hal tersebut, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil merancang wastafel otomatis. Tempat pencuci tangan otomatis tersebut dirancang oleh Anwar Syaddad, Nasihul Fattah, dan Sania Umazatul Amsa, yang tergabung dalam satu kelompok Program Kreatifitas Mahasiswa – Karsa Cipta (PKM-KC). Setelah lolos pendanaan PKM Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (Dikti) pada (5/5), mereka melanjutkan perancangan alat itu pada bulan Juni ini. Selain berangkat dari situasi pandemi virus corona ini, Anwar menjelaskan bahwa ketika mencuci tangan, masyarakat masih diharuskan untuk menutup keran. Hal itu membuat bakteri tidak benar-benar hilang. Pemasalahan kecil itulah yang memancing ide inovatif mereka hingga akhirnya mampu merancang tempat cuci tangan tanpa harus menyentuh. “Alat ini sekaligus mengurangi resiko penularan melalui bakteri bekas sentuhan yang masih tertinggal di keran,” tegasnya. Mahasiswa kelahiran Pamekasan ini juga sempat menjelaskan bagaimana cara kerja wastafel otomatis yang dibuat. Alat tersebut memanfaatkan teknologi sensor penghalang, sehingga bisa mendeteksi ada tidaknya tangan sebagai penghalang. Jadi, air akan menyala tanpa adanya sentuhan di bagian keran. Uniknya, wastafel ini juga memanfaatkan panel surya sehingga tidak bergantung pada listrik bangunan di sekitarnya. “Panel surya yang terpasang akan disandingkan dengan baterai sebesar 20 volt. Ukuran tersebut akan tetap bertahan selama dua hari meski tidak ada sinar matahari bahkan hujan,” ujarnya melanjutkan. Mahasiswa Teknik Elektro ini juga menambahkan bahwa ada fitur lain yang disematkan di alat wastafel otomatis, salah satunya fitur pengukur suhu. Ketika ada orang mencuci tangan, wastafel tersebut juga secara otomatis mengukur suhu tubuhnya. “Data suhu setiap orang yang mencuci tangan nantinya akan ditambahkan dan didaftar di database website. Jadi pengecekan suhu otomatis tersebut bekerja secara offline dan online. Daftar yang didapat tentu akan sangat berguna untuk data medis sebagai bahan penelitian,” terang Anwar. Anwar selaku ketua kelompok PKM berharap dengan adanya alat ini bisa menjadi solusi dan upaya pencegahan virus corona. Terlebih lagi angka penularan yang semakin hari semakin naik. “Alat yang kami buat ini adalah bentuk kontribusi kami agar bisa bermanfaat bagi masyarakat luas. Pun kalau ada inovasi tambahan untuk wastafel ini, tentu akan dibuat sedemikian rupa agar lebih memberikan dampak positif,” ungkapnya mengakhiri. (haq/wil)

Laisya, Atlet Panahan yang Jadi Wisudawan Terbaik UMM

Tekuni dunia panahan sejak kecil, antarkan Nur Laisya Mayeda menjadi peraih mendali emas tingkat provinsi. Wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) periode dua tahun 2021 ini telah memborong medali perunggu sampai emas dalam rentang waktu tiga tahun. Terhitung ada delapan medali emas, tiga medali perak, dan satu medali perunggu yang didapatkannya dalam perlombaan di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur serta Kalimantan Selatan. Laisya sapaan akrabnya berkata bahwa bakatnya dalam panahan ini diturunkan dari sang ibu yang juga merupakan atlet panahan. Ia berkata ketertartarikannya pada dunia panahan tumbuh karena sejak kecil selalu di ajak ibu untuk latihan.“Sudah dikenalkan dengan olahraga panahan sejak saya kecil. Untuk mendaftar di UMM dulu saya juga menggunakan jalur minat bakat dengan melampirkan piagam internasional ketika mengikuti lomba panahan BIMP-EAGA,” ungkap wisudawan Fisioterapi tersebut. Selain aktif di Persatuan panahan Indonesia (Perpani) Kota Malang, Laiya juga kerap mengikuti agenda internasional seperti projek AIESEC Clean Our Planet yang dilaksanakan selama enam minggu di Malaysia. Meskipun sangat aktif dalam kegiatan non akademik, Laisya tidak melupakan tugas-tugas akademiknya. Anak pertama dari dua bersaudara ini mengaku bahwa niat awalnya hanya menyeimbangkan sisi akademik dan non akademik. Ia tidak menyangka akan menjadi wisudawan terbaik pada periode dua tahun 2021. “Di Fakultas Fisioterapi jadwalnya cukup padat. Saya juga sempat tertinggal di bidang akademik pada semester awal. Ketika saya izin untuk mengikuti perlombaan, pihak Prodi berkata apakah saya sanggup menyeimbangkan keduanya. Mereka takut kesehatan saya menurun. Dari situ, saya mulai bertekad untuk menyeimbangkan latihan dan akademik serta membagi waktu dengan baik,” kata wisudawan asal Tapin, Kalimantan Selatan tersebut. Laisya mengaku bahwa tanggung jawab kepada orang tua membuatnya bertahan dan merampungkan kuliah tepat empat tahun. Laisya juga berkata bahwa ia ingin menjadi contoh yang baik untuk adiknya. “Saya ingin memberikan yang terbaik kepada kedua orang tua. Setelah lulus ini, saya juga  ingin ilmu saya bermanfaat untuk masyarakat di sekitar tanpa mengesampingkan hobi dan minat saya. Rencananya saya akan segera mengikuti Porprov selanjutnya,” pungkasnya mengakhiri. (syi/wil)