Community Chain, Solusi dari Dosen UMM di Tengah Pandemi

Beberapa hari terakhir, masyarakat dihujani dengan berbagai berita kenaikan angka covid di Indonesia. kenaikan secara drastis ini menyebabkan berbagai Rumah Sakit rujukan di Jawa dan Bali menjadi over kapasitas. Ditambah lagi dengan persediaan oksigen yang menipis di beberapa daerah. Akibatnya para pasien penderita covid -19 belum mendapatkan pertolongan yang tepat dengan maksimal, bahkan beberapa pasien meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri di rumah. Ditanya ihwal tersebut, Muhammad Muslih, S.Kep., NS., M.Sc., dosen Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memngatakan bahwa kenaikan ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama adalah kesiapan dari lintas sektor dalam menghadapi pandemi yang dirasa masih kurang. Kemudian yang kedua yakni masyarakat Indonesia yang kurang menaati protokol kesehatan. “Dengan semakin maraknya berita-berita hoaks, membuat pemerintah dan sektor kesehatan kewalahan dalam mengedukasi masyarakat. Saya pikir waktu satu setengah tahun belum cukup bagi negara kita untuk beradaptasi terhadap pandemi,” ucap Muslih. Dosen kelahiran Tuban ini kembali menjelaskan bahwa dalam penanganan pandemi, Indonesia kurang memperhatikan community chain. Padahal community chain berperan penting dalam proses penyebaran penyakit dan menjadi kunci utama untuk menangani pandemi. Dengan memperhatikan aspek ini, pemerintah dapat menerapkan strategi yang tujuannya untuk memutus persebaran di berbagai aspek kehidupan. “Community chain yang saya tekankan disini lebih mengarah pada konektivitas antar unsur yang ada dalam komunitas atau masyarakat. Taiwan adalah salah satu negara yang berhasil mengatasi pandemi dengan memperhatikan community chain. Rantai komunitas yang ada di Taiwan memiliki penaruh yang cukup signifikan mulai dari ditemukan kasus, tracking, sampai ke program pencegahan,” ungkap ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Taiwan tersebut. Untuk menghadapi pandemi yang semakin parah ini, Muslih berkata ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh masyarakat. Pertama adalah kewaspadaan, Jangan meremehkan keadaan dan persiapkan untuk kemungkinan terburuk. Kedua adalah belajar dari pengalaman. Masyarakat sudah lebih dari satu setengah tahun hidup bersama pandemi, sekarang harusnya sudah banyak belajar dari kondisi yang telah di lalui  atau dari negara-negara lain yang sukses dalam penanganan Covid-19. Adapula yang ketiga, pemerintah juga dirasa perlu menambah kecepatan, baik dalam aspek penanganan maupun informasi terkait Covid-19. Terakhir yakni transparansi terkait akses informasi untuk khalayak luas. “Selain itu perlu adanya kolaborasi yang stratgeis pada lintas kementerian dan departemen. Layanan kesehatan juga harus bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Terakhir, masyarakat juga dihimbau agar jangan mudah percaya pada berita hoaks yang menyesatkan,” pungkasnya. (syi/wil)

UMM Beri Dukungan Logistik Warga Isolasi Mandiri

Kasus penularan Covid-19 kian hari kian bertambah. Banyak daerah yang dulunya termasuk wilayah hijau kini berubah menjadi merah bahkan hitam. Meski demikian, hal itu tidak menyurutkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menyalurkan bantuan kepada para penderita yang melakukan isolasi mandiri (isoman) pada Selasa (13/7) lalu. Kampus putih menyiapkan berbagai logistik, sembako dan makanan pokok sebagai bentuk bantuan agar penyintas tak perlu repot keluar kediaman. Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si., selaku Ketua Satuan Tugas (Satgas) mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan respon UMM terhadap banyaknya mahasiswa, karyawan, dosen bahkan warga sekitar yang terpapar virus Covid-19. Mereka yang terjangkit mau tidak mau harus melakukan isolasi mandiri (isoman) agar tidak menularkannya kepada orang lain. “Maka dengan bantuan ini para penerima tidak perlu repot-repot keluar rumah dan membahayakan warga dan orang lain. Kami juga memasukkan beberapa vitamin dan probiotik agar mereka bisa segera membaik,” tuturnya menjelaskan. Zakarija, panggilan akrabnya melanjutkan pemberian bantuan ini sebenarnya masih menjadi bagian program UMM Berbagi untuk Negeri yang sudah lama digalakkan oleh kampus putih. Sebut saja bantuan bencana ke NTT dan gempa Malang Selatan beberapa waktu lalu. Dikatakan oleh Zakarija, bentuk bantuan yang disiapkan disesuaikan dengan kebutuhan penderita Covid-19. Beberapa di antaranya susu, obat-obatan, roti, madu, buah, suplemen dan kebutuhan lainnya. Demi menjaga kesehatan sivitas akademika yang turut memberikan bantuan, UMM juga mengirim Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) untuk menemani sepanjang program dilaksanakan. Selain itu juga ditemani oleh tim dokter yang memantau keadaan warga penderita Covid-19. Protokol kesehatan terus diberlakukan dengan ketat agar tidak ada yang terpapar virus saat memberikan bantuan. “Tentu saya berharap agenda ini bisa memupuk dan meningkatkan kepedulian yang kita miliki. Utamanya dalam ranah kemanusiaan,” tutupnya mengakhiri. Sementara itu, salah satu penerima bantuan, Trisno Iryanto yang merupakan warga Tegalgondo menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pihak UMM. Menurutnya, bingkisan yang diberikan mampu meringankan beban dan kebutuhan yang diperlukan. Apalagi ada tiga orang yang sedang isoman di rumahnya sehingga jumlah kebutuhan yang diperlukan juga sebanding. “Alhamdulillah saya sudah merasa baikan meski sesekali batuk dan sesak. Hari ini adalah hari ketujuh semenjak saya melakukan isolasi mandiri. Semoga saya bisa kembali beraktifitas seperti sedia kala,” ungkapnya menerangkan. (wil)

Virtual Open House UMM Kenalkan Keunggulan Kampus Putih

Pandemi yang tak kunjung berakhir memaksa berbagai pihak untuk berinovasi. Begitupun juga yang dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini kampus putih menggelar open house bagi calon mahasiswa dengan konsep virtual pada Rabu (30/6) lalu. Selain mengenalkan UMM dan berbagai prodi serta fasilitas, gelaran ini juga turut mengundang beberapa tamu menarik. Sebut saja Muhammad Ghozi, mahasiswa yang sukses membuat konten di TikTok serta Muhammad Elfouly, salah satu mahasiswa asing yang berhasil membangun channel Youtube hingga memperoleh silver play button. Mengawali agenda tersebut, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si selaku Wakil Rektor I UMM menyambut baik para peserta. Ia menjelaskan bahwa UMM bukan hanya memiliki segudang prestasi tingkat nasional, tetapi juga internasional. Terbukti dengan keberhasilannya meraih peringkat pertama Universitas Islam Terbaik di dunia versi Uni-Rank pada awal tahun ini. Tidak cukup sampai di situ, kampus putih juga berhasil mendapatkan predikat tiga bintang dari QS Worlds University Ranking. “Maka UMM adalah pilihan tepat bagi saudara untuk melanjutkan studi karena telah memiliki reputasi yang baik, tidak hanya di level nasional tapi juga internasional,” imbuhnya. Pada kesempatan yang sama, Muhammad Ghozi Mubarok menceritakan bagaimana keseruan selama kulah luring sebelum pandemi menghampiri. Meski begitu, ia juga mendorong para peserta agar terus bersemangat dalam belajar meski masih berada di situasi pandemi. “Semua hal tentu ada hikmahnya. Ketika harus berkuliah daring, kita jadi punya waktu luang untuk mengembangkan diri dan menambah kemampuan. Keadaan pandemi ini juga memberikan hikmah bagi saya. Dari sinilah awal mula saya bisa mnejadi content creator,” tuturnya melanjutkan. Di sela-sela acara hadir pula Enny Kristyowati, S.Sos selaku bagian tim Pendaftaran Mahasiswa Baru (PMB) UMM. Enny menyebutkan bahwa pendaftaran gelombang satu masih dibuka hingga tanggal 15 Juli esok. Ia juga menerangkan para calon mahasiswa bisa melihat informasi selengkapnya di halaman resmi website yakni umm.ac.id. Sementara itu, Muhammad Elfouly, mahasiswa internasional dan Youtuber asal Mesir menceritakan bagaimana ia bisa sampai di Malang dan berkuliah di kampus putih. Fouly, sapaan akrabnya mengaku bahwa semua berkat rumah neneknya yang dekat dengan Pusat Kebudayaan Republik Indonesia di Mesir. Lama kelamaan ia akhirnya tertarik dengan bahasa dan budaya yang Indonesia miliki. “Dari situlah akhirnya saya mendapatkan informasi terkait berbagai beasiswa, salah satunya Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB),” ceritanya. Tingginya ketertarikan Fouly akan Indonesia akhirnya membuatnya tetap memilih Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia sebagai pilihannya. Ia kembali berpesan bahwa kita harus bersyukur telah diciptakan berbeda-beda. Menurutnya, bisa mengenal berbagai macam budaya dan bahasa adalah suatu anugerah. “Di UMM, kita tentu akan menemui banyak mahasiswa dengan perbedaan yang dimilikinya. Tidak hanya berasal dari berbagai kota di Indonesia saja, tapi juga dari bermacam-macam negara,” terang Fouly di akhir. Menariknya, gelaran ini juga dimeriahkan oleh penampilan akustik yang dibawakan oleh Ica Nafisah dan gitaris TKP Band. Adapula pembagian doorprize dan hadiah menarik bagi calon mahasiswa baru yang antusias dan aktif. (haq/wil)

Mahasiswa UMM Buat Smart Sensor System untuk Irigasi Lahan

Indonesia sebagai negara agraris menempatkan sektor pertanian sebagai salah satu roda penggerak ekonomi. Meski begitu proses pertanian di Indonesia masih tergolong tradisional. Para petani cenderung belum menggunakan teknologi dalam pengolahan ladang pertaniannya. Untuk memudahkan proses dalam irigasi sawah, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat teknologi bernama Smart Sensor Irrigation System. Salah satu anggota tim, Syaifulla Amin menjelaskan bahwa teknologi ini akan membantu para petani untuk mengatur proses pengairan di ladang mereka. Teknologi ini dibuat dengan empat sensor utama yang berfungsi untuk mengukur ketinggian air di ladang, mengukur kelembaban tanah, mengukur suhu dan kelembaban udara. Di samping itu juga bisa menentukan tingkat asam atau basa dari suatu larutan. “Dengan informasi ini, para petani akan mengetahui secara detail mengenai ladang pertaniannya. Selain terhubung dengan dengan  smartphone para petani, sensor ini juga terhubung pada alat irigasi sawah. Alat tersebut otomatis terbuka dan tertutup sesuai tingkat air yang ada di ladang,” jelas mahasiswa Teknik Elektro angkatan 2019 tersebut. Syaifulla mengaku bahwa ide tersebut berawal dari kebiasaan para petani di daerahnya. Saat terjadi kekeringan, sawah dan ladang yang dekat dengan mata air akan menutup akses air bagi ladang yang jauh. Sementara pada saat curah hujan cukup tinggi, ladang dan sawah yang dekat dengan mata air akan mengalirkan air ke sawah-sawah lain. “Sistem ini jelas merugikan ladang yang berada jauh dengan mata air. Oleh karena itu saya dan tim memiliki ide untuk menciptakan teknologi  Smart Sensor Irrigation System tersebut,” ungkap mahasiswa asal Sumenep tersebut. Ide ini akhirnya diikutsertakan pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) pada bidang Karsa Cipta (KC) dan lolos ke tahap pendanaan Dirjen Dikti pada Mei lalu. Dalam membuat alat tersebut Syaifulla dibantu oleh Izzatul Mas’una dan Amimmatur dari Jurusan Matematika, serta Mufid Zukhruf dari Jurusan Informatika. Sampai sekarang proses pengembangan teknologi ini berada di tahap pembuatan aplikasi. Syaifulla berkata bahwa timnya akan mulai membikin prototype alat setelah Ujian Akhir Semester (UAS) berakhir pada pertengahan Juli ini. “Kami berharap teknologi ini akan membantu masyarakat luas, terutama bagi masyarakat yang mengalami kendala dalam sistem irigasi seperti daerah saya,” tutupnya. (syi/wil)

Vokasi UMM Kaji Cyber Security di Era Digital

Usaha untuk memberikan pemahaman terkait cyber security terus dilakukan oleh Direktorat Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui webinar series yang keempat. Kali ini webinar yang dilangsungkan pada Sabtu (10/7) tersebut membahas terkait pengamanan data pribadi. Beberapa pemateri ahli dihadirkan untuk menunjang gelaran tersebut. Di antaranya David Surya dari Komunitas Surabaya Hacker Link (SHL), Dendi Zuckergates founder Orang Siber Indonesia (OSI), serta Syaifuddin sebagai dosen cyber security Vokasi UMM. Direktur Direktorat Pendidikan dan Pelatihan Vokasi UMM, Dr. Tulus Winarsunu, M.Si mengatakan bahwa Prodi sarjana terapan Cyber Security dan Digital Forensik Center (CSDFC)  akan segera dibuka di kampus putih. Nantinya, UMM akan menjadi satu-satunya universitas yang memiliki prodi tersebut. “Meski prodi CSDFC ini belum lahir, namun sudah ada berbagai aktivitas yang diselenggarakan. Tidak hanya webinar series ini saja, tapi juga pelatihan-pelatihan bersertifikat. Terakhir kali kami menyelenggarakan pelatihan mikrotik pada bulan lalu,” tuturnya. Mengawali paparan, David menerangkan bahwa hampir 70-80% aktivitas manusia kini bisa dilakukan secara online. Mulai dari banking, pesan, kontak, konfigurasi dan hal-hal lainnya. Sayangnya, tidak jarang kasus kebocoran data terjadi tanpa pandang bulu. Misalnya saja yang menimpa BPJS, Tokopedia, dan Bukalapak. “Maka dari itu, saya menekankan agar kita bisa memahami terkait pentingnya data pribadi dan bagaiman mencegah adanya duplikasi data tersebut,” tegasnya. David juga menjelaskan bahwa semakin banyak data yang bocor, maka akan semakin tinggi pula bahaya yang mengintai. Penyalahgunaannya bisa berbentuk phising, penipuan berkedok pinjaman online (Pinjol), atau juga peretasan akun media sosial untuk menipu keluarga dan kerabat dekat yang dimiliki oleh pengguna terkait. Menurutnya, masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan hanya memperkuat aspek keamanan sistem saja. Harus ada dukungan pemerintah dan pihak berwajib agar bisa meminimalisir kejadian tersebut. Selain itu, ia juga menekankan akan pentingnya aturan dan hukuman yang jelas bagi pelaku serta pengusaha yang lalai dalam mengamankan data-data penting. “Tiap perusahaan juga harus melakukan audit secara rutin untuk berjaga-jaga karena masih banyak sekali keamanan sistem yang lemah. Memang usaha-usaha ini tidak bisa diselesaikan dengan cepat, tapi paling tidak ada usaha untuk meningkatkan keamanan sistem dengan investasi beberapa hal,” tuturnya menjelaskan. Pada kesempatan yang sama, Syaifuddin, pemateri lainnya menerangkan terkait penggunaan VPN dan dampaknya terhadap keamanan data pribadi. Ia tidak menyarankan para pengguna internet untuk menggunakan VPN. Alasannya karena VPN bisa menembus batas-batas yang sudah ditentukan oleh negara. Baik itu konten kriminal, kejahatan, dan juga pornografi. “Dengan VPN kita bisa melewati banyak filter dan firewall yang sudah diatur. Namun perlu diketahui bahwa akan sangat berbahaya jika VPN yang kita gunakan merupakan buatan perusahaan yang tidak jelas asal-usulnya,” lanjutnya. Syaifuddin juga sempat menyebutkan beberapa negara yang melarang penggunaan VPN. Turki dan Uni Emirat Arab adalah dua diantaranya. Adapula Tiongkok, Belarus serta Rusia. Pada paparannya, Syaifuddin juga memberikan hasil studi keamanan data yang ia temukan. Dari 300 penyedia VPN, ada 38% yang mengandung advertising, adware, dan malware. Kemudian adajuga sekitar 84% yang membocorkan trafik data penggunanya ke pihak lain. “Begitupun ada sekitar 18% dari mereka yang tidak memiliki enkripsi,” tegasnya menerangkan. Terakhir, Dendi selaku founder OSI menyinggung mengenai siapa sosok yang menjadi penjual data pribadi, pembeli serta darimana data tersebut bisa didapat. Ia mengungkapkan bahwa biasanya pelaku tidak hanya satu orang saja tapi satu tim yang terdiri dari leader, coders, bot herder, intrution specialist, data miner hingga money specialist. “Transaksi ini juga biasanya tidak menggunakan bank atau rekening. Mereka menghindari hal-hal yang dapat menampilkan profilnya. Maka dari itu biasanya mereka menggunakan cryptocurrency, salah satunya bitcoin,” tuturnya. Dendi juga sempat menjelaskan siapa yang biasanya membeli data tersebut. Mulai dari perusahaan hingga para calon kepala daerah. Data-data tersebut digunakan untuk kepentingan dan keuntungannya masing-masing. “Kalau teman-teman sering mendapati Whatsapp blast atau SMS yang nomer yang tidak dikenal, maka sudah dipastikan data teman-teman berada di database mereka,” tutupnya menjelaskan. (wil)

Stadium General FKIP UMM Dorong Guru Miliki Jiwa Nasionalisme Tinggi

Demi menyiapkan lulusan yang memiliki jiwa nasionalisme tinggi, Universitas Muhammadiyah malang (UMM) selenggarakan Stadium General Wawasan Kebangsaan. Sebanyak 960 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prodi PPG Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) turut hadir dalam agenda yang dilaksanakan pada Minggu (4/7) lalu. Adapun stadium general dilangsungkan secara daring mengingat pandemi yang masih belum usai. Mengawali dengan sambutan,Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin mengatakan bahwa aktivitas ini sangat penting mengingat guru mengemban peranan vital dalam konteks nasionalisme di era globalisasi. “Saat ini, kita berada dalam era globalisasi 3.0 yang dipercepat dengan adanya revolusi industri 4.0. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi kita. Maka, di sinilah guru memerankan peranannya dalam konteks nasionalisme di era globalisasi,” terang Syamsul. Syamsul, panggilan akrabnya juga mengapresiasi komitmen Prodi PPG FKIP dalam meningkatkan kapasitas para mahasiswa yang notabenenya adalah seorang guru. “Apresiasi saya berikan kepada Prodi PPG yang terus berusaha membina para peserta PPG untuk menjadi guru profesional demi kemaslahatan bangsa dan negara,” tutupnya. Adapun kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber yakni, Brigjen TNI Elman Nawendro, Dr. Poncojari Wahyono, dan Dr. Trisakti Handayani. Dalam paparannya, Elman Nawendro mengatakan bahwa belakangan wawasan kebangsaan memiliki indikasi untuk menurun. Ditandai dengan melemahnya pemahaman, penghayatan, dan pengalaman terhadap nilai-nilai budaya dan Pancasila. Untuk mengatasi hal tersebut, Elman mengatakan bahwa penanaman konsep wawasan terkait rasa, semangat, dan paham kebangsaan melalui pendidikan harus dilakukan. “Pendidikan formal, informal, maupun nonformal yang dimulai dari lingkungan keluarga hingga lingkungan pendidikan merupakan sarana yang efektif untuk menanamkan pemahaman atas nilai-nilai empat konsensus nasional,” terang Komandan Pusdik Arhanud ini. Elman juga sempat berpesan agar seluruh komponen masyarakat dapat bahu-membahu dalam memupuk rasa nasionalisme yang dimiliki. “Seluruh komponen bangsa harus berperan aktif dan bekerja sama dengan cara yang sesuai dengan budaya bangsa dalam mewujudkan nasionalisme. Tentu saja dengan lebih mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan individu, kelompok, golongan, atau suku bangsa,” pungkasnya. Di sisi lain, Poncojari Wahyono secara spesifik menyoroti tentang internalisasi nilai wawasan kebangsaan dalam pendidikan di wilayah perbatasan. Dikatakan Ponco, kualitas SDM Indonesia terbilang rendah bila dibandingkan negara tetangga, khususnya di wilayah perbatasan. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan internalisasi nilai wawasan kebangsaan di sekolah dari tingkat dasar sampai tingkat menengah. Ia pun mengajukan empat desain internalisasi nilai wawasan kebangsaan. “Upaya-upaya internalisasi nilai agama dan kebangsaan bisa dilakukan dengan langkah-langkah revitalisasi pendidikan dasar dan menengah, melakukan pengelolaan guru yang profesional, revitalisasi kurikulum dan ujian nasional. Disamping itu juga melakukan internalisasi nilai wawasan kebangsaan kepada seluruh masyarakat melalui pelatihan,” jelas Dekan FKIP UMM ini. Tak kalah menarik, pemateri terakhir mengangkat topik “Pancasila sebagai Ideologi Bangsa Indonesia dan Peran Guru Profesional dalam Mewujudkan Generasi Berkarakter”. Sejalan dengan tema yang diangkat, Trisakti mengupas ideologi Pancasila dengan apik. Menurutnya, nilai-nilai karakter Pancasila berakar dari filosofi pendidikan karakter Ki Hajar Dewanatara yang sudah dielaborasi. “Namun, kristalisasi nilai-nilai Pancasila ini pada dasarnya mencakup lima nilai utama yakni religius, nasionalis, mandiri, gotong-royong, dan integritas,” jelas Kaprodi PPG ini. Masih menurut Trisakti, ada empat strategi pengembangan karakter Pancasila. Keempat strategi itu meliputi penerapan dalam kurikuler dan kokurikuler. Begitupun dengan penerapan dalam kegiatan ekstrakurikuler serta di bidang non-kurikuler. (*/wil)

Mahasiswa UMM Cetuskan Inovasi Pewarna Alami dari Kulit Kopi

Cetuskan alternatif dari pewarna sintetis, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ciptakan inovasi pigmen (pewarna alami) dari kulit kopi. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa – Riset (PKM-R) Nur Meliana Ramadhani, Carrisa Ratri Kusuma Dewi, dan Maharani Dewi Wulan merancang alternatif pewarna yang alami. Semenjak lolos pendanaan Direktoral Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti) pada Mei lalu, tiga mahasiswa yang tergabung dalam satu kelompok itu langsung melakukan penelitian dari bulan Juli. Semua berawal dari masalah pewarna pada makanan, utamanya adalah pewarna sintetis yang digunakan pada permen. Penggunaan tersebut tentu memberikan bahaya pada kesehatan tubuh. Misalnya saja dapat menimbulkan gatal-gatal, meningkatkan kemungkinan munculnya sel tumor, bahkan juga merusak mood seseorang. Berangkat dari hal itu, akhirnya Meliana dan kawan-kawan berinisiatif menciptakan alternatif pewarna pada makanan menggunakan pigmen. Meliana, salah satu anggota kelompok menjelaskan bahwa alasan mengapa kulit kopi dipilih karena bahan itu hanya menjadi limbah saja. Taka da pemanfaatan maksimal, padahal kulit kopi memiliki kelebihan lain.  Akhirnya ketiganya mencari tahu dan menemukan bahwa kulit kopi dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar dari pigmen untuk makanan. “Melihat selama ini kulit kopi hanya menjadi limbah produksi pembuatan kopi, kami akhirnya berinisiatif untuk memanfaatkannya sebagai pewarna alamu untuk permen dan makanan lainnya,” tuturnya melanjutkan. Mahasiswi Teknologi Pangan ini menjelaskan bahwa ternyata kulit kopi memiliki manfaat yang tidak banyak orang tahu. Bahan ini mengandung antosianin dan antioksidan yang tinggi. Nutrisi tersebut dapat meningkatkan kesehatan jantung dan memperlancar peredaran darah pada tubuh. Sebelumnya, mereka juga sempat mencoba kulit nangka dan manggis. Sayangnya, nutrisi yang ada di dalamnya tidak sebaik kulit kopi. “Selain menjadi rekomendasi pengganti warna sintetis yang berbahaya bagi tubuh, kulit kopi juga memiliki khasiat yang baik. Sebut saja dapat melindungi lambung dari kerusakan serta menghambat perkembangan sel tumor pada tubuh,” imbuhnya. Terakhir, perempuan kelahiran Tuban ini berharap penelitian dan hasil riset yang sudah dilakukan dapat berguna dalam produksi makanan yang lebih sehat. Pun juga bisa menjadi alternatif pengganti pewarna sisntetis yang berbahaya bagi keberlangsungan hidup manusia. “Semoga hasil riset yang kami temukan ini bisa memberikan pilihan pewarna alami pada makanan. Sudah saatnya kita beralih dari pewarna sintetis ke pewarna alami, salah satunya dengan kulit kopi ini,” tegasnya. (haq/wil)