Dulu Menwa UMM, Kini Jadi Wakil Bupati Kaimana Papua

Lika-liku masa perkuliahan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengantarkan Hasbulla Furuada menjadi Wakil Bupati Kaimana Periode 2021-2024. Alumni Fakultas Pertanian dan Peternakan tersebut berkata bahwa pengalaman organisasi yang dijalaninya di kampus putih memiliki peran vital dalam perjalanan hidupnya. Salah satunya adalah membentuk jati diri dan sikap yang ia miliki sekarang. Hasbulla bercerita bahwa niat awalnya bergabung dengan organisasi di kampus dulu adalah untuk mencari makan. Merantau jauh dari tanah Papua membuat Hasbulla harus banyak beradaptasi. Belum lagi keadaan ekonomi yang kurang membuatnya kerap kelaparan selama beberapa hari. Dengan kondisi yang cukup sulit tersebut, pria kelahiran Kaimana ini mengandalkan konsumsi acara untuk mengganjal perut. “Tujuan utama saya dulu memang untuk mencari makan gratis. Saat kuliah uang bulanan biasanya paling cepat dikirim tiga bulan sekali. Karena hal tersebut, saya berusaha bertahan dengan mencari kotak makan di acara-acara kampus. Saya juga pernah mendonorkan darah hanya untuk mendapat roti dan susu. Keputusan untuk menjadi panitia di kegiatan-kegiatan kampus juga saya ambil agar bisa mendapat makanan,” kenang Hasbulla. Selain kesulitan untuk makan, Hasbulla juga kesulitan mencari tempat berteduh. Hasbulla bercerita bahwa dirinya pernah diusir dari kos-kosan. Hal itu dikarena ia tidak bisa membayar uang sewa kos bulanan. Untungnya, ia bisa tinggal di gedung Student Center UMM tempat sekretariat organisasinya berada secara diam-diam. “Waktu itu kos yang saya tinggali biaya sewanya 300.000 selama enam bulan. Pada enam bulan pertama saya masih aman, tapi pada enam bulan kedua saya diusir karena tidak bisa membayar. Akhirnya saya memutuskan untuk diam-diam menaruh barang pribadi saya di sekretariat organisasi dan tidur di student center ataupun masjid,” kata Hasbulla. Meskipun niat awalnya untuk mencari makan, namun niat tersebut berubah saat ia terjun secara langsung di kepengurusan organisasi. Hasbulla berkata bahwa selama menempa diri dan berproses di organisasi, ia mendapat banyak ilmu dan pengalaman. “Selama berkuliah, saya mengikuti tiga organisasi yaitu, Senat Fakultas, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Resimen Mahasiswa (Menwa). Dari organisasi-organisasi tersebut saya belajar cara bersosialisasi, berbicara di depan umum, membentuk sikap tegas, dan yang terakhir adalah cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” terang Hasbulla. Dalam menjalani perkuliahan, Hasbulla juga berkata bahwa dirinya dibantu oleh banyak pihak. Ketika kesulitan membayar uang Kuliah Kerja Nyata (KKN) misalnya, dirinya dibantu oleh salah satu dosen UMM. Lalu ketika Hasbulla sedang menempuh tugas akhir kuliah, Rektor UMM kala itu juga selalu memberi motivasi agar bisa segera diselesaikan. “Dulu setiap ketemu pak Muhadjir, saya selalu ditanya tentang skripsi. Beliau juga kerap memberikan petuah-petuah agar saya cepat lulus. Setelah saya lulus, saya mendapat kesempatan untuk menyebarkan ilmu saya kepada masyarakat dan memajukan tanah kelahiran saya. Salah satu jalannya ya dengan menjadi Wakil Bupati Kaimana seperti saat ini,” pungkasnya menerangkan. (*wil)
Mahasiswa UMM Gelar Pengembangan Wisata di Kampoeng Heritage Kajoetangan

Meski kegiatan dibatasi karena adanya kenaikan kasus pandemi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak berhenti untuk berkontribusi. Menggandeng Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampoeng Kajoetangan Malang, mereka melangsungkan agenda Pengembangan Pariwisata Kampoeng Heritage Kajoetangan Malang pada 10-11 Juli lalu. Uniknya, agenda forum yang juga mengundang pihak internal kampung dan beberapa pemateri ahli ini juga disingkat dengan PPKM. Pada hari pertama, diskusi tersebut membahas terkait rekonsolidasi dan penguatan komunikasi internal Kampoeng Heritage Kajoetangan. Tri Sulihanto, Sekjen East Java Ecotourism Forum menjelaskan akan pentingnya perencanaan pariwisiata yang terukur. Selain itu juga harus bisa sustainable dan memiliki kelembagaan yang baik untuk menunjang pengelolaan wisata terkait. “Dalam menjalankan pariwisata perlu adanya Kelompok Kerja Lokal Pariwisata (KKLP) yang nantinya menjadi wadah koordinasi dan komunikasi pemangku kepentingan di desa atau destinasi wisata,” imbuh Founder Malang Travelista tersebut. Dalam diskusi tersebut, peserta kegiatan juga sepakat bahwa pariwisata menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan kesejahteraan warga. Lebih penting lagi yakni untuk melindungi warisan sejarah yang ada di Kampoeng Heritage Kajoetangan itu. Mereka juga merasa bahwa partisipasi masyarakat juga penting mengingat kegiatan pariwisata berbasis masyarakat menggunakan aset publik dalam pelaksanaannya. Sementara itu, pada hari kedua agenda ini mengkaji terkait strategi branding pariwisata di tengah pandemi. Tema ini diangkat melihat keadaan pariwisata yang dihentikan selama beberapa waktu. Arum Martikasari yang didapuk menjadi pemateri mengatakan bahwa branding tempat wisata di tengah pandemi adalah hal yang perlu diperhatikan. Hal itu tidak lepas dari kunjungan wisata yang menurun akibat pembatasan. Arum, panggilan akrabnya menjelaskan ada 4 syarat utama untuk mengembangkan pariwisata. Mulai dari attraction (atraksi), accessibility (akses), amenity (fasilitas khusus) hingga ancillary (pelayanan tambahan). Penggalian warisan yang ada di lokasi wisata juga bisa menjadi daya tarik tersendiri sehingga para pengunjung akan merasakan pengalmaan yang tidak terlupakan. “Pasti ada berbagai warisan yang ada di lokasi Kampoeng Heritage Kajoetangan. Maka perlu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk bisa memberi kesan yang baik,” tutur pemateri yang kini menjadi strategic planner of Anagata Kreatif Consultant. Pada kesempatan yang sama, Ibu Sri Arniati selaku anggota Pokdarwis divisi UMKM merasa puas dengan kegiatan yang diinisiasi oleh mahasiswa UMM tersebut. Ia juga mengaku bahwa Kampoeng Heritage Kajoetangan telah ke 4 pilar tersebut. “Saya kira tinggal bagaimana kita mengelolanya dengan manajemen yang baik serta melibatkan warga masyarakat sehingga mampu memanfaatkan budaya lokal yang tersedia,” ungkapnya melanjutkan. Tiim CAC.Co dari Ilmu Komunikasi UMM dan juga Pokdarwis sebagai penyelenggara berharap kegiatan ini bisa menjadi ajang silaturahmi sekaligus wadah komunikasi guna memaksimalkan branding wisata Kampoeng Heritage Kajoetangan. Harapannya kampung ini bisa menjadi pariwisata berkelanjutan yang sukses. (*/wil)
UMM Finalis Semua Kategori KJI dan KBGI 2021

Setelah vakum selama satu tahun karena pandemi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali gelar Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI). Pada pagelaran tahun ini, tim Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali lolos menjadi finalis di semua kategori lomba. Adapun daftar finalis lomba ini diumumkan pada Jumat (09/07) lalu. Wakil ketua Lembaga semi-otonom (LSO) Surya Tim, Nova Pradana, menjelaskan bahwa di tahun ini UMM menjadi satu-satunya universitas swasta yang lolos di semua kategori. Perlombaan ini mencakup empat kategori yaitu, KJI model rangka baja, KJI model lengkung, KBGI model bangunan gedung kayu, dan KBGI model bangunan gedung baja canai dingin. “Untuk lolos sampai ke tahap finalis, kami telah melakukan enam kali presentasi dari tanggal 15 Mei sampai 19 Juni kemarin. Tim kami terdiri dari dua orang di setiap cabang lomba jadi totalnya ada empat tim dan delapan anggota. Saya tentu bersyukur dengan hasil yang diraih. Semua tim kami dapat lolos menjadi finalis di perlombaan kali ini,” ungkap mahasiswa kelahiran Pamekasan tersebut. Disisi lain, salah satu finalis lomba, Erwin Yoga Pratama, berkata bahwa pada perlombaan ini timnya mengikuti lomba KJI model rangka baja. Inovasi yang diangkat pada kompetisi ini adalah konfigurasi atau bentuk rangka jembatan yang lebih kokoh. “Jembatan ini kami rancang agar bentuk rangkanya dapat mengurangi lendutan pada jembatan. Ketika rangka jembatan dapat mengurangi lendutan maka jembatan akan menjadi lebih kokoh dari jembatan pada umumnya,” kata mahasiswa Teknik Sipil tersebut. Erwin mengaku bahwa dirinya tidak menyangka akan lolos menjadi finalis. Pasalnya jadwal pelaksanaan lomba lebih awal dibanding perkiraan timnya. Awalnya Erwin merasa ragu untuk mengikuti kompetisi tersebut. Namun berkat banyak bantuan dari teman-teman dan senior di LSO, akhirnya ia dapat melakukan persiapan dengan baik dan tertata. Erwin berkata bahwa ini hanya permulaan untuk memperebutkan juara di lomba KJI dan KBGI 2021. “Untuk perlombaan final nanti kami telah memulai mempersiapkan fabrikasi baja dan latihan perakitan. Berbagai latihan ini kami lakukan agar sesuai dengan metode pelaksanaan yang sudah kami rencanakan. Di samping itu juga agar bisa sesuai dengan durasi pengerjaan yang kami rencanakan. Kami berharap dapat kedepannya dapat membanggakan kampus dan membawa kemenangan untuk universitas. Tidak hanya di lomba ini saja, tapi juga di lain kesempatan,” pungkasnya. (syi/wil)