Mantapkan Hubungan Indonesia-Vietnam, BIPA UMM Gelar Simposium

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut aktif dalam membangun kerja sama bilateral Indonesia dengan negara lain. Salah satunya melalui aspek bahasa. Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM mengambil peran dengan menggelar simposium hubungan bilateral Indonesia-Vietnam melalui pembelajaran BIPA pada Jumat (23/7) lalu. Turut hadir H.E. Denny Abdi, duta besar Indonesia untuk Republik Sosialis Vietnam dan Musa Derek Sairwona selaku acting konsulat jenderal Ho Chi Minh City Vietnam. Adapun gelaran ini dilangsungkan secara daring melalu Zoom dan kanal Youtube BIPA UMM. Membuka acara, Dr. Sidik Sunaryo, S.H., M.Si., M.Hum. selaku Wakil Rekotr IV UMM menuturkan bahwa simposium ini merupakan bagian dari rangkaian panjang internasionalisasi Kampus Putih. Usaha itu semakin dikuatkan dengan tujuan pada Milad UMM yang akan memantapkan diri sebagai kampus keals dunia dengan spirit solidaritas internasional. “Kerja sama ini tentu tidak melulu hanya pada kegiatan rutin saja. Tapi juga mampu mendekatkan perasaan emosional antara warga kedua negara,” terangnya. Sidik, panggilan akrabnya berharap gelaran ini bisa melahirkan ide cerdas nan maju. Hingga akhirnya bisa memunculkan empati dan kebersamaan antara kedua negara. Terutama untuk mendorong lahrinya upaya-upaya dalam menghadapi situasi yang tidak mudah seperti saat ini. Pada kesempatan yang sama, Duta Besar indonesia untuk Republik Sosialis Vietnam, H.E Denny Abdi memulai sambutannya dengan menceritakan persamaan-persamaan kedua negara. Mulai tanggal kemerdekaan yang berdekatan hingga konsep pembangunan yang cukup mirip. “Maka tidak heran kalau founding fathers kedua negara cukup dekat, antara Soekarno dan Ho Chi Minh. Hal itu karena keduanya memiliki semangat yang sama,” tegasnya. Selain kedekatan dalma bidang ekonomi, Indonesia dan Vietnam juga memiliki hubungan yang baik dalam aspek politik, sosial bahkan juga budaya. Maka Denny mengatakan bahwa program BIPA ini menjadi agenda andalan bagi KBRI maupun KJRI Ho Chi Minh City. Menurutnya, sambutan masyarakat Vietnam untuk belajar bahasa Indonesia terlihat cukup tinggi. Namun, ia juga ingin agar warga Indonesia melakukan hal yang sama, mempelajari bahasa Vietnam agar terjadi pendekatan dua arah. Lebih lanjut, Denny mengatakan kedekatan yang dibangun tidak akan berhenti pada aspek bahasa saja. Namun berlanjut dengan melakukan kerja sama di berbagai aspek. “Vietnam bisa menjadi mitra strategis Indonesia karena bisa menjadi engine of growth di ASEAN. Selain itu, kedua negara nantinya juga bisa berkontribusi dalam aspek peace and security. Jadi, bahasa bisa digunakan sebagai perekat keduanyam,” tutupnya. Sementara itu, Nguyen Thanh Tuan, Ph.D yang didapuk menjadi pembicara utama menjelaskan tentang prospek Bahasa Indonesia di Kota Ho Chi Minh. Dimulai dengan menerangkan bahwa pemerintah telah mengeluarkan kebijakan bagi masyarakatnya untuk menguasai bahasa asing selain bahasa Inggris. Salah satunya adalah bahasa Indonesia. “Bahkan beberapa tahun belakangan, Bahasa Indonesia telah masuk beberapa universitas. Sebut saja Universitas Nasional Vietnam serta Universitas Terbuka,” tuturnya. Ia juga sempat menganalisis pengembangan Bahasa Indonesia di Vietnam dengan menggunakan SWOT. Hal pertama yang ia paparkan adalah kekuatan bahasa Indonesia. Menurutnya, hubungan bilateral kedua negara membuat animo masyarakat meningkat. Selain itu, bantuan fasilitas dari KJRI juga mempermudah pembelajaran bahasa serta budaya Indonesia. Ditambah lagi dengan bantuan pengajar yang dikirimkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI serta beberapa universitas di Indonesia. Meski begitu, ia juga mengungkapkan kelemahannya yakni tenaga pengajar yang relatif sedikit. Apalagi bahan ajar yang terbatas membuat pembelajaran bahasa ini cukup sulit. Namun, ia yakin ada peluang yang cukup bagus bagi bahasa Indonesia. Hal itu tidak lepas dari banyak beasiswa yang disediakan oleh pemerintah Indonesia untuk warga Vietnam. Pun dengan kesempatan mereka yangbisa bekerja di perusahaan asing. “Tapi masih ada segelintir tantangan bagi pengembangannya. Banyaknya perusahaan yang tidak tahu jika ada warga vietnam yang bisa Bahasa Indonesia. Banyak pula orang Vietnam yang berpikir ulang alasan belajar  bahasa ini,” tutur wakil dekan Faculty of Oriental Studies di University of Social Sciences & Humanities Vietnam itu. Selain Nguyen Thanh Tuan, Dr. Arif Budi Wurianto sebagai Kepala UPT BIPA UMM dan Faizin, M.Pd selaku Kepala Divisi Internasionalisasi BIPA UMM juga dipercaya memberikan pemaparan. Arif menjelaskan mengenai BIPA di Vietnam, sarana peningkatan kerja sama ekonomi kedua negara. Sementara Faizin memaparkan terkait aktualisasi teknologi dalam pengembangan keBIPA-an. (wil)

Mahasiswa UMM Ciptakan Masker Khusus bagi Tuna Rungu

Penggunaan masker di setiap aktivitas menjadi sebuah keharusan dalam situasi pendemi seperti saat ini. Hal itu dilakukan untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Sayangnya, penggunaan masker ini menyulitkan para disabilitas tuna rungu dalam berkomunikasi. Melihat permasalahan tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan inovasi masker transparan sebagai solusinya. Habibah Latifus Syaidah, salah satu anggota tim menjelaskan bahwa masker kain tembus pandang ini terdiri dari dua lapis masker. Lapis luar pertama Nampak seperti masker biasa yang berisikan filter penyaring. Filter tersebut diharuskan untuk diganti tiga hari sekali. Sementara lapis kedua yang berada di dalam merupakan masker transparan. Sehingga orang dapat melihat ekspresi dan gerak bibir dari para tuna rungu dan memudahkan dalam berkomunikasi. Di samping itu mereka juga memanfaatkan limbah sedotan sebagai bahan dasar strap masker (pengait masker). Menurut Habibah, pemilihan bahan dasar berbahan limbah ini bertujuan untuk mengurangi sampah plastic yang sering ditemui. “Ini menjadi salah satu upaya kita bersama agar terus menjaga lingkungan dan mengurangi penggunaan sampah plastik” ujarnya. Adapun ide masker ini berawal dari mata kuliah kewirausahaan yang mereka jalani di UMM. Saat itu, Habibah dan timnya membuat model usaha penjualan masker dengan desain yang unik. Keunikan itulah yang menjadi potensi dari model usaha yang mereka bangun hingga akhirnya mendaftarkannya ke Program Kreatifitas Mahasiswa – Kewirausahaan (PKM-K). Apalagi diperkuat dengan dorongan serta motivasi dari dosen keriwausahaan. PKM-K yang digarap oleh Habibah Alifatus Syaidah, Aulia Amanda, Briliant Ghaustin Yoly Ala, dan Annisa Firdaus Ramadhini ini berhasil lolos pendanaan dari Direkorat Jendral Perguruan Tinggi (DIKTI) pada bulan Mei lalu. Saat ini mereka berada di tengah proses pembuatan masker dan akan dipasarkan pekan depan secara online. Harga masker yang dipatok yakni di kisaran Rp35.000-Rp40.000. harga tersebut juga sudah termasuk masker, tiga filter serta strap masker.“Proses pemasaran akan kami mulai pekan depan secara online. Menurut kami ini harga yang cukup terjangkau mengingat pembeli bisa mendapatkan satu paket lengkap masker,” imbuhnya. Terakhir, mahasiswa kelahiran Kediri ini berharap masker transparan ini bisa menjadi opsi untuk membantu komunikasi tuna rungu di tengah pandemi. Dia juga ingin agar usaha ini bisa menjadi peluang bisnis yang baru. “Komunikasi adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan. Maka dengan adanya inovasi kami ini, smeoga bisa memberikan manfaat luas kepada masyarakat, utamanya mereka para disabilitas tuna rungu,” jelasnya. (haq/wil)