Didukung Gubernur Jatim, UMM Gelar Vaksinasi Massal dalam Waktu Dekat

Program akselerasi vaksinasi terus dilakukan oleh pemerintah, mulai dari tingkat pusat maupun di tingkat daerah. Hal serupa juga akan segera dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Didukung oleh Pemprov Jawa Timur (Jatim), Kampus Putih akan melaksanakan vaksinasi massal keluarga besar dalam beberapa hari ke depan. Adapun koordinasi yang dilakukan pada Selasa (28/7) lalu tersebut dihadiri oleh Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa dan rektor serta wakil rektor UMM. Khofifah, panggilan akrab Gubernur Jatim berpesan agar UMM bisa segera menyiapkan tim teknis pelaksanaan vaksinasi ini. Dengan begitu, agenda tersebut bisa segera dilaksanakan dalam beberapa hari ke depan. Pihak Pemprov juga akan membantu dalam penyaluran serta berbagai kebutuhan lainnya. “Nanti, vaksin akan disalurkan melalui pemerintah kota maupun kabupaten setempat. Tapi tetap ada label peruntukan bagi UMM. Kalau memungkinkan, vaksinasi ini bisa segera digelar dalam beberapa hari ke depan,” tutur Khofifah. Adapun pemberian vaksin diutamakan pada sivitas akademika Kampus Putih terlebih dahulu, kemudian akan menyasar pada keluarga lalu alumni. Disampaikan Dr. Ir. Wahid Wahyudi, MT., harapannya gelaran ini mampu memberikan vaksin sekitar 2500-3000 dalam satu hari. “Jika berkaca pada vaksinasi yang dilangsungkan sebelumnya, kemungkinan jumlah yang diberikan mampu mencapai 3000 vaksin sehari,” harap Kepala Dinas Pendidikan Jatim tersebut. Menanggapi hal tersebut, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor UMM mengaku siap dan akan segera melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang bersangkutan. Ia mengungkapkan bahwa UMM sudah memiliki tim khusus untuk Covid-19 sehingga akan lebih mudah dalam menentukan titik sasaran. “Nanti tim ini akan memilih titik-titik sasaran strategis agar akselerasi vaksinasi dapat berjalan lancar. Apalagi dengan dukungan fasilitas yang tersedia di UMM,” tegas Fauzan. Ia juga menyampaikan bahwa tidak ada pilihan lain selain membantu pemerintah dalam percepatan agar bisa menciptakan herd immunity seperti yang diharapkan. Fauzan menilai bahwa usaha ini diharapkan bisa menjadi ladang pahala dan ibadah bagi semua pihak yang mengusahakannya. “Kami siap dan akan segera berkoordinasi agar gelaran ini bisa dilaksanakan hanya dalam hitungan hari ke depan,” tuturnya. Pada kesempatan yang sama, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 UMM, dr. Thontowi Djauhari, M.Kes juga sempat melaporkan perkembangan fasilitas dan pasien di Rrumah Sakit (RS) Covid UMM. Ia mengatakan kini ada 72 pasien yang sedang dirawat dengan enam ruang isolasi serta satu ruang operasi bagi ibu hamil yang terjangkit Covid-19. “Sebelumnya, ruangan ini adalah ICU namun sengaja kami ubah untuk keperluan operasi kelahiran bagi ibu hamil,” terangnya. Tomy, panggilan akrabnya juga melaporkan bahwa sejak pandemi menyerang, sudah ada sebanyak 1787 pasien yang dirawat di RS UMM. Adapun pada Juli tahun ini, ada sekitar 190 pasien yang sedang dirawat. Meski kini angka penularan semakin menurun dan stabil, Tomy masih khawatir dengan persediaan oksigen yang belakangan cukup sulit didapatkan. “Semoga gelaran vaksinasi ini nantinya bisa kembali menekan angka penularan Covid-19 yang ada di tengah masyarakat dengan signifikan,” tutup Tomy di akhir laporannya. (wil)
Dosen UMM Raih Penghargaan Social Impact Award di Gelaran Nasional

Angkat isu perkembangan teknologi dan Hak Asasi Manunia (HAM) dalam hukum, Sholahuddin Al-Fatih, S.H., M.H. dapatkan penghargaan Social Impact Award. Penghargaan ini dikeluarkan oleh Fakultas Hukum (FH) Universitas Brawijaya (UB) pada acara Seminar Nasional Artificial Intelligence dalam Bidang Hukum di Era Teknologi Informasi pada Kamis (22/07). Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut bercerita bahwa pada projek tulisannya ini, ia mengulas tentang perilaku masyarakat Indonesia dalam bersosial media. Fatih melanjutkan meskipun perkembangan teknologi sangat pesat, namun mayarakat tidak memiliki literasi yang baik dalam menyikapi teknologi tersebut. “Meskipun berpendapat dalam ranah sosial media merupakan Hak Asasi Manusia (HAM) namun jika tidak dikontrol dengan baik, hal tersebut akan memunculkan dampak-dampak negatif. Dampak tersebut dapat berupa penyebaran berita bohong, penipuan, hacking, serta pencemaran nama baik,” ungkap Fatih menerangkan. Untuk menghindari dampak-dampak buruk tersebut, dosen kelahiran Gresik ini memberi beberapa solusi. Menurutnya, tiap orang harus memiliki batasan moral dan kontrol yang baik. Jadi, kebebasan berpendapat di sosial media bisa diwujudkan secara bertanggungjawab. Selain kesadaran Individu, pemerintah juga harus melakukan langkah-langkah konkrit untuk mengurangi dampak negatif yang timbul dari dunia maya. “Bisa saja pemerintah melakukan pembatasan kepemilikan gadget berdasarkan kelompok usia untuk melindungi anak dibawah umur. Pemerintah juga bisa melakukan pembatasan penggunaan akun media sosial dengan batasan usia minimal 17 tahun. Lalu adapula pemblokiran akun yang bermuatan SARA. Cara terakhir yakni dengan mengkampanyekan konten positif,” ungkap Fatih. Selain Fatih, salah satu Instruktur Laboratorium FH UMM, Ilham Dwi Rafiqi juga mendapat penghargaan sebagai Best Presenter. Terakhir, Fatih berharap masyarakat bisa lebih berhati-hati dalam berkomentar ataupun memposting sesuatu di dunia maya, terutama di media sosial. “Semoga masyarakat bisa terus membenahi diri dan menjadi lebih santun dalam berinteraksi secara virtual. Sehingga tidak ada lagi konten-konten hoaks, hate speech, penipuan dan hal buruk lainnya di dunia maya,” tandasnya. (syi/wil)
Milad ke-14, PGSD UMM Launching 14 Buku Karya Mahasiswa dan Dosen

Berdiri sejak 2007, Program studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melangsungkan agenda miladnya yang ke-14. Diramu dengan konsep talkshow, agenda ini dilangsungkan pada Sabtu (24/7) lalu melalui Zoom dan kanal Youtube. Tidak hanya itu, adapula launching 14 buku hasil kolaborasi mahasiswa dan dosen yang ada di Prodi terkait. Rangkaian panjang agenda milad PGSD diawali dengan penulisan karya buku oleh seluruh mahasiswa aktif PGSD angkatan 2018, 2019, dan 2020. Hingga berakhir pada agenda puncak yakni launching buku dan talkshow bertema “Generasi Emas Produktivitas Pemimpin Masa Depan”. Uniknya, gelaran itu juga menjadi pembuka acara menarik lainnya, yakni Paksi Fest 2021. Mengawali talkshow, Belinda Dewi Regina, S.Pd, M.Pd. mengungkapkan bahwa gelaran ini menjadi pengingat agar PGSD terus berinovasi agar mampu melahirkan pendidik-pendidik yang inovatif. Ia juga berharap agar prodi ini bisa semakin unggul dan terdepan dalam memberikan manfaat. “Tentu kami ingin memberikan yang terbaik agar para peserta didik nantinya bisa mendapat pengajaran yang baik,” tutur Belinda dalam sambutan. Pada kesempatan yang sama, Arina Restian, S.Pd, M.Pd selaku Kaprodi PGSD UMM menuturkan bahwa milad ini berangkat dari spirit kampus merdeka. Terbukti dengan lahirnya 14 karya buku ber-ISBN dari para mahasiswa dan tenaga pengajar yang ada. “Untuk memperingati milad yang ke-14 kami juga sengaja melaunching buku yang berjumlah 14 pula. Adapun isinya berfokus pada tema tema pembelajaran,” imbuh Arina menjelaskan. Beberapa judul buku yang sudah disusun antara lain Menuju Pendidik Profesional dalam Proses Pembelajaran di Sekolah Dasar, Pendidik Berkarakter Menuju Bidang Studi PPKn SD, Pentingnya Psikologi Pendidikan SD, serta Pendidik Multitasking Bidang Matematika SD. Adapula buku-buku yang membahas terkait pendidikan abad 21, memiliki skill komunikasi, kolaborasi, kritis dan kreatif. Pun dengan literatur yang berisi terkait seni budaya bahkan juga pembelajaran yang kreatif dan inovatif internasional. Kemudian, agenda dilanjutkan dengan talkshow yang mengundang Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si selaku Wakil Rektor I UMM yang dimoderatori Dr. Siti Fatimah Soenaryo, M.Pd. Pada kesempatan itu ia memaparkan mengenai kebijakan kampus merdeka serta merdeka belajar yang ada di universitas. Disampaikan Syamsul, para mahasiswa kini memiliki kebebasan dalam menentukan pendidikannya. Mereka bisa mengambil mata kuliah di jurusan bahkan universitas lain. Mahasiswa juga bisa mengambil magang yang bersertifikat untuk menunjang masa depannya. “Harapannya, kreativitas dan inovasi mahasiswa dapat terwadahi melalu kebijakan merdeka belajar yang sudah terlaksana,” tegas Syamsul di akhir paparan. (*/wil)