ICon-TINE, Konferensi Internasional FT UMM
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menjaga tradisi akademis dan keilmuannya. Salah satunya melalui gelaran International Conference on Technology, Informatics, and Engineering (ICon-TINE) 2021. Agenda yang dilaksanakan oleh Fakultas Teknik (FT) ini dilangsungkan pada Rabu (28/7) lalu. Turut hadir Prof. Dr. Taufik dari California Polytechnic University State , Assoc. Prof. Dr. Eng Yasuhiro Mizutani dari Osaka University Jepang, serta Prof. Ilyas Masudin Ph.D dari Kampus Putih UMM. Membuka konferensi, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., mengungkapkan bahwa FT UMM memiliki berbagai kegiatan internasional, salah satunya adalah Icon-TINE. Menurutnya, konferensi ini menjadi langkah yang baik dalam menjaga tradisi akademis dan ilmu pengetahuan. “Saya turut mengapresiasi para panitia dan dekanat yang sudah berusaha semaksimal mungkin dalam menyelenggarakan agenda ini. Sekalipun masih berada di tengah pandemi,” tuturnya. Syamsul berharap Icon-TINE bisa menjadi gelaran yang mampu mengembangkan sains, utamanya dalam bidang teknik. Selain itu juga bisa menjadi forum komunikasi para akademisi terkait penelitian dan riset yang sudah dilakukan. “Dengan begitu teman-teman lain juga bisa memberikan saran, kritik serta masukan agar penelitian yang sudah terlaksana bisa diperbaiki dan menjadi lebih baik,” ungkapnya. Sementara itu, Taufik menerangkan terkait “Direct Current (DC) House System for Future Homes and Off-grid Electrical System” dalam materinya. Menurutnya, sistem DC memiliki banyak keuntungan dalam penggunaan sehari-hari. Selama ini, pengaliran listrik ke berbagai pemukiman dilakukan dengan sistem Alternating Current (AC) dari Pembangkit Listrik. Namun saat listrik disalurkan ke elektronik, listrik AC perlu dikonversi menjadi DC oleh adaptor. Menurut Taufik, proses ini kurang efisien karena membuang banyak energi. Sebaliknya, jika mengaplikasikan sistem DC, maka kita bisa langsung menyalurkan listrik tanpa mengubah serta membuang energi. Lebih lanjut, ia juga mengatakan bahwa sistem ini akan meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Utamanya energi yang didapat dari panel surya. Sistem ini juga akan memberikan kesempatan bagi masyarakat luas untuk merasakan layanan listrik meskipun berada di pedalaman. “Jadi rumah masa depan akan memiliki sumber tenaga sendiri tanpa bergantung pada pembangkit listrik skala besar. Meski begitu, sistem ini masih perlu pengembangan lebih lanjut dengan berbagai disiplin ilmu berbeda. Salah satu yang kami kembangkan adalah dalam aspek software.” terang Taufik. Pada kesempatan yang sama, Yasuhiro membahas megenai “High Speead-High Resolution Ghost Imaging with Deep Learning”. Alih-alih menggunakan mega pixel, Ghost imaging memungkinkan kita untuk mengambil gambar menggunakan single pixel. Dengan begitu, ukuran yang tadinya cukup besar bisa ditekan menjadi lebih kecil. “Tentu aspek ini akan sangat berguna, utamanya di era industru 4.0 saat ini,” jelasnya lebih lanjut. Di samping itu, sistem ini juga memiliki kelebihan lain. Sebut saja hasil ukuran yang lebih kecil serta deteksi yang tergolong cepat. Ditambah lagi dengan sensitivitas yang cukup tinggi sehingga memudahkan dalam mengambil gambar. Adapula kelebihan lain dari sistem ini adalah fleksibilitas pada panjang gelombang. Terakhir, ada paparan dari Ilyas yang membahas mengenai “Food Cold Chain in Indonesia during the Covid-19 Pandemic: Current Situation and Mitigation”. Dijelaskan Ilyas, food cold chain adalah sistem distribusi makanan di mana produk diurus dengan temperatur yang sesuai. Mulai dari proses panen hingga proses konsumsi masyarakat. “ Sistem ini tentu membutuhkan fasilitas untuk bisa menyimpan makanan di berbagai kondisi. Salah satunya yakni dengan suhu rendah,” tuturnya. Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa bisnis food cold chain memiliki potensi yang besar untuk Indonesia. Baik di sektor perikanan, peternakan, industri pangan bahkan farmasi. Meski begitu, serangan pandemi membuat bisnis food cold chain harus segera beradaptasi dan melakukan strategi baru. khususnya dalam hal teknologi. “Langkah-langkah tersebut diambil untuk meminimalisir food loss serta food waste,” pungkasnya dalam paparan. (wil)
International Conference Pascasarjana UMM Kaji Tantangan dan Peluang Era New Normal

Setelah lebih dari setahun menghadapi pandemi dan menjalani era new normal, muncul berbagai tantangan dan peluang untuk kembali membangun segala bidang. Berangkat dari hal itu, Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar International Conference dengan topik “Under New Normal: Challenge & Opportinities”. Adapun gelaran ini diselenggarakan secara daring melalui kanal Zoom serta terbagi menjadi dua sesi yaitu pada tanggal 10 Juli untuk kluster pendidikan. Dilanjutkan dengan kluster non pendidikan pada 17 Juli lalu. Membuka acara, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. selaku Wakil Rektor I memaparkan analisisnya terkait pandemi Covid-19. Menurutnya, virus ini telah membuat berbagai aspek kehidupan terganggu bahkan tidak berjalan dengan semestinya. Pandemi juga memaksa manusia untuk menjaga jarak dalam menjalankan aktivitasnya. “Tentu pandemi ini merupakan anomali yang tidak normal. Hal itu berujung pada keadaan krisis di mana-mana,” tuturnya menerangkan. Dosen kelahiran Madura ini menambahkan, pendidikan juga menjadi aspek yang tidak luput dari efek serangan pandemi. Sistem pembelajaran berubah sedemikian rupa. Harus beradaptasi dan mengubah pendidikan yang sebelumnya dilakukan secara luring menjadi daring hingga saat ini. Hal itu dilakukan agar para murid masih bisa bersekolah sekaligus menekan angka penularan Covid-19. “Untuk menyelesaikan problematika ini perlu adanya pendekatan semesta atau universal baik itu sains maupun medis. Ditambah dengan pendekatan kultural,” imbuh Syamsul. Adapun pada kluster pertama terkait pendidikan, konferensi ini menghadirkan Dr. Dennis Alonzo dari University of South Wales Australia, Prof. James Peacock dari Amerika Serikat, Dr. Abdul Harris, MA., dan Cherry Zin Oo, Ph.D, M.Ed, B.Ed salah satu dosen dari Yangon University of Educations Myanmar. Mengawali pemaparan, Dr. Dennis Alonzo mengkaji situasi pandemi yang berimbas pada pendidikan hingga mengharuskan adanya sistem baru, yakni daring. Menurutnya, ada berbagai peluang bagi instansi dan para pengajar untuk dapat memanfaatkan berbagai platform dalam pembelajaran. “Khusus untuk para pengajar, mereka harus segera ebradaptasi dan juga segera menjalankan kurikulum yang baru agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal,” ungkapnya. Sementara itu, Prof. James Peacock menjelaskan bahwa Indonesia mengalami tiga fase krisis. Pertama ialah ketika G-30S PKI, yakni fase dimana terjadi krisis kepercayaan dan krisis toleransi. Selanjutnya yakni krisis pandemi Covid-19 saat ini yang melumpuhkan banyak sektor kehidupan, khususnya ekonomi dan pendidikan. Kemudian yang terakhir adalah perubahan iklim dan pemanasan global. Fase ketiga tersebut terjadi akibat proses akselerasi perubahan iklim yang ekstrem. Beberapa factor pemicunya adalah polusi udara, perusakan lingkungan dan limbah dari industri. Pemateri berikutnya, Dr. Abdul Haris, M.A. dalam pemaparannya menerangkan bagaimana manajemen yang baik untuk work from home dan learn from home. Jika diimplementasikan dengan baik maka tentu akan memudahkan dalam beradaptasi. Sedangkan Cherry Zin Oo membahas hasil risetnya pada era new normal. Menurutnya, pendidikan masa ini perlu menarik partisipan. Selain itu juga adanya masalah di aspek isu media. Adapun peluang yang muncul adalah keterbukaan askes individu pada pendidikan serta pengembangan karakter dengan memanfaatkan waktu selama pandemi. Sementara itu pada sesi kedua, konferensi tersebut menghadirkan Asst. Prof. Dr. Donludee Jaisut dari Kasertssart University Thailand, Assoc. Prof. Dr. Abdurrahman Raden Aji Haqqi dari University of Sultan Sharif Ali Islamic Brunei Darussalam, Dr. Ir. Rahayu Relawati, M.M., serta Dr. Magdalena Sztukiel dari Polandia. Berbeda dengan sesi sebelumnya, kali ini mereka membahas tema-tema di luar pendidikan. Mereka mengkaji mengenai bagaimana efek pandemi bisa melemahkan berbagai aspek kehidupan. Sleian itu juga perlu adanya persiapan matang dalam upaya memulihkan diri dari krisis. (haq/wil)