ICoN-BEAT, Konferensi Internasional FPP UMM Bahas Bioenergi dan Lingkungan

Berbagai konferensi internasional terus diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang. Salah satunya adalah gelaran International Conference on Bioenergy and Environmentally Sustainable Agriculture Technology (IcoN-BEAT). Agenda tahunan yang digelar oleh Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM ini dilangsungkan secara daring pada Rabu (28/7) lalu. Diikuti ratusan peserta dari dalam dan luar negeri, ICon BEAT turut mengundang pemateri dari berbagai negara. Ada Prof. Hiroyuki Sakakibara dari Jepang, Assoc. Prof Juris Burlakovs dari Estonia dan Assoc. Prof Zane Vincevica Gaile yang berasal dari Latvia. Adapula tiga pemateri lain dari Indonesia yang turut memberikan paparannya yakni Dr. Ir. Dadan Kusdiana, M.Sc., Prof. Didiek Hadjar Goenadi serta Henik Sukorini, Ph.D. Ditambah lagi dengan kegiatan workshop pada hari kedua. Dr. Ir. Damat, M.P. selaku ketua panitia mengatakan bahwa gelaran ini bertujuan untuk menambah pengetahuan para peserta terkait pertanian dan kelestarian lingkungan. Di samping itu juga meningkatkan publikasi  para dosen di jurnal yang terindeks Scopus. Menurut Damat, publikasi-publikasi ilmiah tentu diperlukan oleh dosen serta perguruan tinggi. “Gelaran IcoN-BEAT ini juga menjadi upaya kami dalam membangun kerja sama internasional. Kali ini kami bekerja sama dengan Jordan Journal dari Jordania dan Sarhad Journal dari pakistan untuk memberikan materi di workshop yang dilaksanakan pada hari kedua,” tambahnya. Sementara itu, keenam pembicara menyampaikan pilihan topik yang menarik. Sebut saja Dadan, Direktur Energi Terbarukan dan Konservasi Energi yang membuka materi dengan memaparkan pentingnya peran bioenergi. Menurutnya, energi tersebut punya peran dalam mendukung transformasi energi ke depannya. Hal tersebut diperkuat oleh Didiek yang terus mendorong masyarakat untuk berpikir lebih jauh terkait kelestarian alam. Peneliti Lembaga penelitian Bioteknologi dan Bioindsutri indonesia itu juga mengajak untuk memelihara stok karbon organik tanah yang ada. Kemudian Zane dari Department of Environment Science, University of Latvia juga mengingatkan bahwa penghancuran lahan gambut akan memberikan dampak buruk untuk masa depan. Salah satunya adalah menyebabkan ketidakseimbangan lingkungan global. Di samping itu, Juris Burlakov menilai perlu adanya peningkatan efisiensi sumber daya dan pendauran ulang. “Deratan usaha ini merupakan upaya untuk mengurangi konsumsi bahan baku utama sekaligus untuk melestarikan lingkungan,” imbuhnya. Hal senada juga dijelaskan oleh Hiroyuki Sakakibara. Menurutnya, lingkungan yang baik akan berdampak pada kualitas organisme, termasuk di dalamnya adalah tanaman. Tanah yang penuh dengan nutrisi akan mendukung tanaman agar mampu melakukan biosintesis senyawa bioaktif. Salah satunya adalah senyawa flavonoid yang dapat melindungi tanaman dari kerusakan akibat paparan sinar UV. “Sehingga besar harapannya, para petani dapat menghasilkan produksi tanaman apapun dengan kualitas yang maksimal,” tuturnya melanjutkan. Terakhir, Henik menutup konferensi tersebut dengan menyampaikan bahwa agrikutur merupakan salah satu sektor yang strategis. Hal itu tidak lepas dari perannya yang memberikan sumbangan terbesar kepada Produk Domestik Bruto (PDB). Oleh karenanya, Henik mengatakan bahwa pengembangan kelestarian lahan dan menjaganya dari kerusakan lingkungan adalah sebuah tantangan besar. Semua usaha tersebut bertujuan untuk menjaga kesuburan tanah yang nantinya bisa memberikan dampak positif bagi pertumbuhan tanaman. (wil)

Wangsaku, Layanan Uang Elektronik Ciptaan Mahasiswa UMM

Dalam rangka meminimalisir penularan virus Covid-19, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ciptakan layanan uang elektronik bernama Wangsaku. Inovasi yang mereka buat ini telah diikutsertakan dalam Pekan Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) dan berhasil lolos tahap pendanaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada Mei lalu. Salah satu anggota tim, Tanthowi Jauhari mengatakan ide pembuatan layanan pembayaran virtual tersebut berawal dari kegelisahan mereka akan tingginya kasus penularan Covid-19. Utamanya mereka yang berada di usia kanak-kanak. Terhitung dari bulan Januari sampai Maret 2021 ada sebanyak 120.000 kasus anak yang tertular virus tersebut. “Kami khawatir nanti saat sekolah kembali dibuka, angkanya akan semakin naik karena kontak fisik akan semakin banyak. Sehingga membentuk klaster penularan baru. Karena hal itu, kami berinovasi untuk mengganti penggunaan uang tunai dengan  uang elektronik di lingkungan sekolah,” terang mahasiswa Prodi Informatika tersebut. Antho, sapaan akrabnya menerangkan bahwa teknologi Wangsaku akan ditanamkan pada gelang sebagai media transaksinya. Gelang ini dilengkapi dengan teknologi Near Field Communication (NFC) yang akan memudahkan anak untuk membeli sesuatu tanpa harus melakukan kontak fisik. “Selain berfungsi sebagai media transaksi keuangan, gelang ini juga bisa digunakan sebagai parental controlling karena struk belanja anak akan dikirim ke orang tua,” ujar Antho. Sampai saat ini Antho dan tim telah merampungkan pembuatan aplikasi wangsaku dan akan menguji coba pada salah satu sekolah Muhammadiyah yang ada di Malang. Ia bercerita bahwa kendala tersulit dalam pembuatan Wangsaku adalah proses penyusunan database. “Kami harus menghubungkan proses layanan di kasir kantin dan aplikasi wangsaku. Hal itu cukup rumit untuk kami,” kata mahasiswa kelahiran Lombok tersebut. Dalam pembuatan Wangsaku Antho ditemani oleh Andhika Dwi Aditya, Lale Wiega Arifah Chopsah,  dan Alif Syifa Arsyila dari Prodi Informatika serta Permaisuri Fatimah Azzahra dari Prodi Akuntansi. Antho berharap dengan adanya Wangsaku akan meminimalisir kontak anak-anak dengan benda serta menurunkan proses penularan Covid di sekolah nantinya. “Saya berharap teknologi ini dapat diterima oleh banyak kalangan dan bermanfaat bagi masyarakat. Semoga Wangsaku juga bisa terus dikembangkan agar dapat memberikan dampak yang lebih dari ini,” pungkasya. (syi/wil)