Student Day Rawat Tradisi Berprestasi UMM

Rangkaian panjang Student Day Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditutup pada Sabtu (7/8) lalu. Berbagai perlombaan telah dilakoni oleh para mahasiswa hingga akhirnya sampai pada event ini. Menariknya, ada berbagai penampilan serta penghargaan yang turut memeriahkan penutupan Student Day kali ini. Adapun penampilan dan para tamu hadir secara langsung di Hall Dome UMM dengan protokol kesehatan ketat, sementara mahasiswa mengikutinya melalui platform Zoom. Pada kesempatan itu, Dr. Fauzan, M.Pd selaku rektor mengatakan bahwa Student Day adalah tradisi yang sudah lama dilakukan oleh UMM selama bertahun-tahun. Tradisi inilah yang nantinya menumbuhkan dan mampu mengidentifikasi minat serta bakat dari para mahasiswa. Utamanya mereka yang masih baru di Kampus Putih. Selain itu juga memiliki fungsi untuk membentuk iklim prestasi dan kompetitif di kalangan sivitas akademika, khususnya para mahasiswa. “UMM menyadari bahwa masing-masing mahasiswa memiliki potensi sendiri baik dibidang minat, bakat, maupun akademik. Oleh karenanya itu Student Day menjadi agenda yang strategis untuk membangun kepercayaan diri agar mampu mengukir nama di berbagai kompetisi. Tidak hanya di tingkat kampus, tapi juga di tingkat regional, nasional hingga internasional,” tegas Fauzan menjelaskan. Meski dua tahun belakangan Student Day tidak bisa dilaksanakan dengan semestinya, Fauzan menilai keadaan inilah yang seharusnya menjadi tantangan tersendiri. Lebih lanjut, ia terus mendorong mahasiswa UMM agar dapat menjelajah ke bidang-bidang lain yang sebelumnya tidak pernah dikembangkan dengan optimal. “Kondisi pandemi seharusnya tidak mempengaruhi tingkat kreativitas dan inovasi. Malah sebaliknya, harus menjadi pelecut agar bisa menjadi mahasiswanya yang diperhitungkan dan diubah menjadi peluang berprestasi. Terhitung, setiap semester ada lebih dari 500 prestasi yang telah diukir para mahasiswa. Tidak hanya di level nasional saja tapi juga tingkat dunia,” tutur Fauzan. Ia juga menyinggung terkait jargon UMM yakni tiada hari tanpa prestasi serta tiada prestasi yang tak dihargai. Hal ini tentunya menjadi angin segar bagi mahasiswa untuk berjuang sekuat tenaga mengembangkan diri dan berkontribusi bagi negeri. “Jangan jadi mahasiswa yang hanya kuliah pulang kuliah pulang saja. Manfaatkan waktu dan kesempatanmu untuk berkecimpung di dalam berbagai organisasi. Baik itu lembaga intra kampus, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), atau juga Lembaga Semi Otonom (LSO) yang ada di tingkat fakultas,” pesannya. Terakhir, Fauzan menerangkan bahwa lahirnya pemimpin tidak hanya dari satu pintu saja. Namun berbagai pintu juga bisa membentuk pemimpin yang baik. Ia berharap para mahasiswa mampu mewujudkan jargon UMM yang diciptakan oleh Prof. Abdul Malik Fadjar yaitu Students Today Leaders Tomorrow. Sementara itu, berbagai penghargaan juga telah disiapkan bagi para mahasiswa berprestasi dan penuh kreatif. Mulai dari mereka yang berkecimpung di dunia kewirausahaan, konten kreator media sosial, reputasi, serta mereka yang berhasil meraih penghargaan regional dan nasional. Adapula penghargaan internasional, karir organisasi, karya ilmiah, inovasi, serta kategori mahasiswa mandiri. Adapula penampilan menarik dan apik dari band-band mahasiswa yang merupakan anggota UKM IKABAMA UMM. (wil)
FPP UMM Kaji Pengembangan Bioenergi untuk Keseimbangan Global

International Conference on Bioenergy and Environmentally Sustainable Agriculture Technology (IcoN-BEAT) kembali digelar untuk yang kedua kali oleh Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pemateri lintas negara juga dihadirkan untuk memberikan wawasan baru terkait topik ini. Ada Prof. Hiroyuki Sakakibara dari Jepang, Assoc. Prof Juris Burlakovs dari Estonia dan Assoc. Prof Zane Vincevica Gaile yang berasal dari Latvia. Hadir pula Dr. Ir. Dadan Kusdiana, M.Sc., Prof. Didiek Hadjar Goenadi serta Henik Sukorini, Ph.D pada Rabu (28/7) lalu. Paparan pertama diawali oleh Dadan dengan memberikan penjelasan lebih lanjut tentang pentingnya peran bioenergi dalam mendukung transformasi energi. Ia memulai dengan menerangkan perkembangan bioenergi di Indonesia. Mulai dari pengembangan bioenergi berbasis power plant dan meningkatkan penggunaan biofuel pengganti bahan bakar fosil. Pun dengan biomass sebagai pengganti batu bara serta memanfaatkan municipal solid waste dan sampah organik. “Pengembangan dan pemanfaatan biogas untuk industri dan sektor transportasi juga menjadi penting untuk transformasi energi. Potensi pemanfaatan bioenergi untuk listrik juga sangat besar. Berdasarkan survey beberapa tahun lalu, potensi yang diberikan ekuivalen dengan tenaga listrik sebesar 32 gigawatt. Sementara sekarang, kita menggunakan daya sebesar 2 gigawatt,” tutur Direktur Energi Terbarukan dan Konservasi Energi tersebut. Hal tersebut diperkuat oleh Didiek yang terus mendorong masyarakat untuk berpikir lebih jauh terkait kelestarian alam. Peneliti Lembaga penelitian Bioteknologi dan Bioindsutri indonesia itu terus mengajak untuk memelihara stok karbon organik tanah yang ada. Kemudian Zane dari University of Latvia yang senantiasa mengingatkan bahaya dan dampak buruk penghancuran lahan gambut di masa depan. Salah satunya adalah menyebabkan ketidakseimbangan lingkungan global. Hal serupa disampaikan oleh Juris Burlakov. Ia menilai perlu adanya peningkatan efisiensi sumber daya dan pendauran ulang. Keduanya menjadi upaya untuk mengurangi konsumsi bahan baku utama sekaligus sebagai usaha dalam melestarikan lingkungan. Sementara itu, paparan menarik diberikan oleh Hiroyuki Sakakibara. Menurutnya, lingkungan yang baik akan berdampak pada kualitas organisme, termasuk di dalamnya adalah tanaman. Tanah yang penuh dengan nutrisi akan mendukung tanaman agar mampu melakukan biosintesis senyawa bioaktif. Ia menyebut senyawa flavonoid adalah salah satu senyawa yang bermanfaat. Hal itu tidak lepas dari perannya dalam melindungi tanaman akan kerusakan akibat paparan sinar UV. “Sehingga besar harapannya, para petani dapat menghasilkan produksi tanaman apapun dengan kualitas yang maksimal,” tuturnya melanjutkan. Konferensi tersebut ditutup dengan penyampaian materi oleh Henik. Menurutnya, agrikutur merupakan sektor strategis yang memberikan sumbangan terbesar kepada Produk Domestik Bruto (PDB). Oleh karenanya, ia mengatakan bahwa pengembangan kelestarian lahan dan menjaganya dari kerusakan lingkungan adalah sebuah tantangan besar. Sementara itu, Dr. Ir. Damat, M.P. selaku ketua panitia mengatakan bahwa gelaran ini bertujuan untuk menambah pengetahuan para peserta terkait pertanian dan kelestarian lingkungan. Di samping itu juga meningkatkan publikasi para dosen di jurnal yang terindeks Scopus. Menurut Damat, publikasi-publikasi ilmiah tentu diperlukan oleh dosen serta perguruan tinggi. “Gelaran IcoN-BEAT ini juga menjadi upaya kami dalam membangun kerja sama internasional. Kali ini kami bekerja sama dengan Jordan Journal dari Jordania dan Sarhad Journal dari pakistan untuk memberikan materi di workshop yang dilaksanakan pada hari kedua,” terangnya melanjutkan. (wil)
Mahasiswa UMM Ciptakan Alat Mitigasi Bencana Tanah Longsor

Potensi bencana alam yang terjadi di Indonesia cukup besar. Salah satu bencana alam yang sering terjadi adalah tanah longsor. Tercatat, sepanjang tahun 2021 ada 218 kasus tanah longsor yang terjadi di Indonesia. Untuk mengurangi korban akibat bencana alat tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembangkan sistem peringatan dini bencana tanah longsor berbasis Internet of Things melalui pesan Telegram. Salah satu anggota tim, Retno Diajeng Putri mengatakan bahwa sistem ini merupakan pengembangan dari sistem yang telah ada di Indonesia. Retno melanjutkan, meskipun tanah longsor sering terjadi Indonesia, sistem yang dikembangkan oleh pemerintah masih berbasis Short Message Service (SMS). Pengiriman peringatan ini terkendala karena masyarakat telah berpindah dari SMS ke aplikasi pesan berbasis internet. “Karena sudah tidak menggunakan SMS untuk berkirim pesan, kadang masyarakat tidak tahu jika ada pemberitahuan peringatan tanah longsor. Untuk itu kami menggunakan sistem Internet of Things (IoT) untuk mengirim peringatan bencana tanah longsor ke masyarakat melalui Bot Telegram,” ungkap mahasiswa Teknik Elektro tersebut. Retno menjelaskan, untuk mendeteksi bencana tanah longsor, mereka menyematkan dua sensor dalam alatnya yaitu sensor humidity dan ultrasonic. Kedua sensor tersebut dapat mendeteksi pergeseran tanah, kelembaban tanah, dan intensitas curah hujan di suatu daerah. Data dari kedua sensor itu akan diolah di raspberry pi model B+ dan akan menghasilkan empat peringatan yaitu aman, waspada, siaga, dan awas. “Telegram dipilih sebagai aplikasi pengirim peringatan bencana karena lebih cepat dalam hal pengiriman data dibanding aplikasi yang lain. Untuk sistem penyampaian informasi alat ini ke masyarakat akan melalui undangan di aplikasi Telegram. Jadi penggunaan alat ini memang hanya terbatas pada daerah-daerah rawan longsor,” terang Retno. Saat ini, Retno dan tim telah menyelesaikan pembuatan alat pendeteksi bencana tanah longsor tersebut. Namun ke depannya akan ada beberapa penyesuaian dan evaluasi setelah diuji coba. Selain Retno, tim ini terdiri dari Ade Musthafa Alwi dan Devi Krista Ferani. Adapun alat ini telah diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) dan lolos pada tahap pendanaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). “Saya tentu berharap alat ini dapat dapat membantu mitigasi bencana tanah longsor di Indonesia lebih baik lagi. di samping itu juga mampu mengurangi jumlah korban,” pungkasnya. (haq/wil)