Jarvis, Aplikasi Pintar Pemutar Alquran Karya Mahasiswa UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa mendorong para mahasiswanya untuk mengembangkan skill, kemampuan serta mengaplikasikannya dalam rangka menebar manfaat. Melalui Program Kreatifitas Mahasiswa – Karsa Cipta (PKM-KC) dengan judul “Aplikasi Asisten Pintar Pemutar Alquran Beserta Arti dan Tafsir Dengan Perintah Voice Command”, Tim mahasiswa UMM ciptakan aplikasi asisten pemutar Alquran bernama Jarvis Qur’an. Adapun inovasi mereka telah lolos pendanaan Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (Dikti) pada bulan Mei lalu. Amarul Akbar, salah satu anggota tim mengatakan bahwa ide aplikasi Alquran ini berawal dari perkumpulan majelis ta’lim yang ada di kediamannya. Salah satu ustad yang mengisi ingin agar ada aplikasi yang berbeda, utamanya terkait asisten Alquran. “Kami melihat fitur dan kegunaan dari kebanyakan aplikasi Alquran memiliki banyak kesamaan. Maka dari itu, kami berinisiatif menciptakan inovasi terbaru yang berbeda,”ucapnya melanjutkan. Mahasiswa kelahiran Mataram ini melanjutkan bahwa Jarvis Alquran telah dilengkapi dengan fitur voice command. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk memberikan perintah agar aplikasi langsung memutar salah satu surat. Hanya perlu mengucapkan bagian apa yang ingin diputar, Jarvis akan segera menyediakannya. Menurut Akbar, fungsi ini yang membedakannya dari aplikasi lain yang ditemui. “Di samping itu, tersedia pula fitur pada microphone yang mampu mendeteksi ayat dan surat di Alquran ketika ada yang membacakannya. Jadi bisa lebih mudah mencari dan menemukan ayat terkait,” imbuh Akbar. Ia mengungkapkan, sistem kerja Jarvis Quran ini mirip dengan sistem command “Oke Google” maupun “Hai Siri” yang ada di Google dan Apple. Hingga saat ini, Akbar dan tim sedang berada di tahap penyelesaian aplikasi. “Alhamdulillah, kami sudah merampungkan sekitar 70% dari proses pembuatan. Tinggal sedikit lagi hingga dapat diuji coba serta bisa digunakan oleh masyarakat luas,” tambahnya melanjutkan. Dalam proses  pembuatan Jarvis Quran ini, Akbar tidak sendiri. Ia ditemani oleh Shofiyah dari Prodi Informatika dan Syahara Biamalina dari Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI). Mahasiswa Informatika tersebut berharap aplikasi ini bisa membantu dalam pembelajaran di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dan juga dalam kajian-kajian. Lebih luas juga bisa digunakan oleh masyarakat dalam memudahkan belajar dan memabca Alquran. Selain itu, ia berharap garapan PKM ini bisa lolos di Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) periode depan dan juga mampu meraih juara. “Tentu kami ingin mengembangkannya lebih lanjut agar bisa menebar kebaikan lebih luas pula,” tutupnya di akhir. (haq/wil)

UMMTalks Hadirkan Satpol PP, Kaji PPKM

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) akibat lonjakan kasus Covid-19 di Jawa dan Bali menjadi sorotan masyarakat. Salah satu hal yang disorot media beberapa hari akhir adalah penertiban para pedang kaki lima oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Melihat isu tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berusaha mengambil sudut pandang lain dengan mengundang pakar manajemen organisasi pelayanan sosial UMM dan Satpol PP kota Malang melalui acara UMMTalks. Sekretaris Satpol PP Kota Malang Tri Oky Rudianto P.,S.E.,M.Si., mengatakan bahwa tugas dari Satpol PP adalah mengawal kebijakan pemerintah untuk menertibkan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, Satpol PP kota Malang berusaha untuk tidak menimbulkan konflik dengan masyarakat terkait. “Kami berkaca dari kejadian di daerah lain agar tidak berbuat semena-mena dan menyimpang dari aturan. Kami selalu menghimbau para anggota yang akan turun ke lapangan untuk tidak menggunakan kekuatan saat berkomunikasi dan tetap sopan. Namun juga harus tegas dalam menindak masyarakat yang melanggar aturan PPKM,” terang Oky. Oky menjelaskan bahwa ketika menertibkan masyarakat terutama para pedagang, tak jarang harus melakukan pengambilan kursi atau bangku dari pedagang kaki lima. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kerumunan. Namun bangku dan meja tersebut dapat diambil kembali dalam jangka waktu empat sampai tujuh hari setelahnya. “Jadi kami tidak menutup usahanya tetapi mengambil beberapa hal yang akan menimbulkan kerumunan. Pun barang-barang tersebut bisa diambil kembali oleh pedagang. Dengan begitu usaha dapat tetap berjalan dengan sistem take away atau dibawa pulang,” ungkap Oky. Dalam menindak para oknum nakal, lembaga ini telah memiliki pengawas internal bernama Petugas Tindak Internal (PTI). Oky mengatakan bahwa para Satpol PP yang kurang dalam hal etika juga akan diberi sanksi sesuai ketetuan-ketentuan yang berlaku oleh PTI. “Namun ketika tidak bisa ditangani oleh PTI, kasus tersebut akan dibawa ke biro kepegawaian,” kata Oky. Di sisi lain dalam menanggapi kasus tersebut, dosen UMM Dr. Fauzik Lendriyono, S.Sos., M.Si., mengatakan bahwa konflik tidak selalu bersifat merusak. Konfik juga bisa menghasilkan suatu bentuk baru dan membangun yaitu ketertiban sosial. “Hal ini dapat berjalan ke arah baik jika ketika terjadi suatu konflik, masyarakat maupun Satpol PP melakukan penyesuaian-penyesuaian antara satu sama lain.  Jika penyesuaian itu berjalan lancar, maka ketertiban sosial akan peraturan baru PPKM akan tercipta. Untuk kota Malang sendiri, Alhamdulillah tidak ada kasus kekerasan saat penertiban PPKM,” kata pakar manajemen organisasi pelayanan sosial UMM tersebut. (syi/wil)

PBSI UMM Prodi Pertama di antara PTM se-Indonesia yang Raih Akreditasi Unggul

Tidak hanya kuantitas, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga senantiasa meningkatkan kualitasnya. Hal serupa dilakukan oleh Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) yang berhasil meraih akreditasi unggul. Adapun akreditasi tersebut merupakan akreditasi format baru yang diperoleh dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Berkat raihan tersebut, Prodi Bahasa Indonesia UMM menjadi prodi pertama di antara Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia yang mendapatkannya. Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini telah lama siap menjalankan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Terlihat dari berbagai kegiatan akademis yang sudah dijalankan. Berbagai aspek yang dibutuhkan untuk mencapai akreditasi unggul juga berhasil dipenuhi dengan sangat baik. Sementara itu, Dr. Sugiarti, M.Si selaku Kepala Prodi (Kaprodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMM, akreditasi tersebut dapat dicapai berkat kelengkapan komponen penilaian. Ada empat aspek kunci yang sukses dipenuhi yakni dosen tetap prodi, kurikulum, sistem penjaminan mutu internal serta tracer study. “Jumlah dosen yang kami miliki sudah memenuhi standar. Ditambah lagi dengan jumlah doktor dan kandidat doktor yang cukup banyak menjadi tenaga pengajar di prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMM,” tuturnya melanjutkan. Sugiarti kembali menjelaskan penerapan kurikulum yang menyesuaikan perkembangan zaman juga menjadi poin penting meraih akreditasi unggul. Termasuk bagaimana menjalankan pembelajaran di masa pandemi. Sedangkan dari aspek penjaminan mutu internal, ia mengaku bahwa Prodi sudah memiliki sinergitas dan kerjasama kolaboratif dengan lembaga strategis seperti Unit Pelaksanaan Teknik-Akreditasi dan Pemeringkatan (UPT – AP), Lembaga Informasi dan Publikasi (LIP) dan Badan Penjaminan Mutu Internal (BPMI) UMM.  “Kami mendapatkan kemudahan dengan adanya BPMI yang menjadi penjamin mutu internal bagi program studi di UMM. Usaha ini juga menjadi bentuk kerja kolaboratif kami dalam meraih akreditasi Unggul,” jelasnya. Satu lagi komponen penting ialah tracer study, yaitu umpan balik alumni terkait kemampuan dan skill. Dari hasil pelacakan, masa tunggu kerja lulusan Prodi PBSI UMM rata-rata hanya tiga bulan, angka tersebut telah memenuhi ketentuan yakni maksimal enam bulan. Selain itu kesesuaian bidang kerja yang masih linier seperti guru dan editor juga berpengaruh dalam penilaian akreditasi. Meski sudah meraih akreditasi unggul, Sugiarti mengaku bahwa PBSI UMM akan terus memperbaiki diri dan berusaha mendapatkan akreditasi internasional. Selain itu juga berusaha menjadi program studi rujukan bagi banyak pihak, baik nasional maupun internasional. “Karena sudah mulai banyak jurusan Bahasa Indonesia di luar negeri atau Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), maka akreditasi internasional adalah hal yang penting agar kami mampu menjadi rujukan utama,” ungkapnya. Terakhir, Sugiarti berharap banyak hal-hal baik datang berkat adanya akreditasi unggul ini. Mulai dari proses pembelajaran yang bagus, hingga kuantitas dan kualitas mahasiswa serta alumni. “Kami selalu berupaya meningkatkan layanan dan pendidikan terbaik demi mencetak mahasiswa serta lulusan yang mumpuni di kemudian hari,” tutupnya menerangkan. (haq/wil)

Mahasiswa UMM Manfaatkan Limbah Mangga Jadi Masker Wajah

Banyak masyarakat yang menyukai buah mangga. Sayangnya, setelah habis, kulitnya langsung dibuang begitu saja. Padahal ada banyak manfaat dari limbah kulit mangga. Salah satunya yang ditemukan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tim mahasiswa UMM ini berhasil memanfaatkan limbah tersebut sebagai masker wajah. Dituangkan melalui Program Kreatifitas Mahasisiwa – Kewirausahaan (PKM-K), ide itu berhasil lolos tahap pendanaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada Mei lalu. Elvira Putri selaku ketua tim menjelaskan ada beberapa tahap yang harus dilalui untuk mengubah limbah  kulit mangga menjadi produk masker wajah. Pertama yakni mengumpulkan limbah kulit mangga yang kemudian dicuci dan dikeringkan. Selanjutnya, harus melalui proses ekstraksi kulit. Tidak cukup sampai di situ, hasil dari ekstraksi lalu masuk pada proses produksi formula masker hingga berakhir pada uji pengukuran pH (power of hidrogen) agar sesuai dengan pH kulit wajah. “Tahap pengujian pH ini sangatlah penting agar tidak terjadi iritasi pada wajah saat menggunakannya. Pun agar konsumen merasa nyaman dengan masker tersebut,” tegas Elvira. Setelah berbagai tahapan usai dilakukan, Mango Mask Dream sudah siap untuk dikemas serta dipasarkan ke masyarakat luas. Mahasiswa kelahiran Lumajang ini kembali menambahkan kandungan dari kulit mangga sangat kaya akan antioksidan yang baik bagi kulit. “Kami menilai akan sayang jika limbah kulit mangga ini tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Terdapat berbagai kandungan yang mampu membersihkan dan merawat kulit agar lebih sehat. Di samping itu juga dapat mencegah noda yang akan merusak kulit,” lanjutnya menerangkan. Elvira mengaku, proses pemasaran produk ini dilakukan dengan memanfaatkan platform media sosial, baik itu Whatsapp maupun Instagram. Adapun harga masker wajah ini dipatok dengan harga sekitar Rp. 20.000 untuk satu produknya. Kedepannya, ia dan tim ingin agar ide PKM ini bisa terus berkembang dan menjadi usaha yang strategis. Ia mengatakan bahwa mereka berharap usaha ini mampu bersaing dengan produk lokal atau bahkan produk internasional lainnya. Apalagi mengingat produk ini adalah hasil olahan limbah yang tidak banyak orang mengetahui manfaatnya. Adapun Elvira tidak sendiri dalam menemukan ide serta mengembangkannya. Ia ditemani Nabilah Hanuun Haniiifah, Mega Amelia Tri Adinda, Novia Parameswari Putri, dan Dita Ayu Novitasari yang tergabung dalam satu tim. (haq/wil)