UMM Kampus Swasta Satu-satunya Raih Lisensi TKBI

Berbagai peningkatan dan pengembangan senantiasa dilakukan oleh Kampus Putih. Salah satunya yakni mengembangkan Test of Academic English Proficiency (TAEP) sejak tahun 2014 lalu. Pengembangan inilah yang mengantarkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  berhasil mendapatkan lisensi penyelenggaraan Tes Kemampuan Berbahasa Inggris (TKBI). Lisensi ini diberikan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud) pada Rabu (11/08) lalu. Dengan pemberian lisensi ini, UMM menjadi satu-satunya universitas swasta yang mendapatkan hak penyelenggaraan TKBI.  Kepala bagian Language Center, Dr. Masduki, M.Pd., mengatakan bahwa penyelenggaraan tes di UMM dimaksudkan agar masyarakat tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk melakukan tes Bahasa Inggris. Apalagi jika melakukan tes di penyedia jasa tes luar negeri. “Selain menghemat biaya dengan menggunakan tes bahasa inggris di dalam negeri, masyarakat juga turut berpartisipasi dalam mengurangi pelarian modal atau capital flight ke luar negeri,” kata Masduki. Lebih lanjut, dosen Prodi Bahasa Inggris ini menjelaskan beberapa kriteria untuk mendapatkan lisensi dari Kemendikbud. Pertama adalah sistem skoring untuk menentukan hasil tes. Kedua ada pengembangan sistem yang dilakukan oleh UMM. Ketiga, sistem telah melewati fase uji coba. Keempat  adalah adanya kerja sama dengan pihak ketiga dalam hal penggunaan sistem tes. Kemudian yang terakhir yakni adanya tim ahli di dalamnya. “Dalam hal kerja sama dengan pihak ketiga, selain digunakan oleh mahasiswa dan alumni, TAEP UMM ini juga telah digunakan oleh perusahaan negeri maupun swasta. Salah satunya dalam tes seleksi karyawan Bank Indonesia pada tahun 2018 dan 2019,” ungkap dosen kelahiran  Tulungagung tersebut. Selain kriteria-kriteria tersebut, Masduki juga menjelaskan mengenai keunggulan tes TAEP UMM yaitu kekhasannya. Kekhasan ini tercipta dari pengisi suara yang tidak hanya diisi oleh para native speaker dari negara Amerika dan Inggris, tetapi juga non-native speaker dari negara-negara Asia. “Native Speaker biasanya banyak diisi oleh budaya negara Amerika dan Inggris. Namun, pada TAEP kami juga mengisi dengan kebudayaan-kebudayaan Asia, khususnya Indonesia,” ujar Masduki. Keunggulan tes ini juga ada pada aspek kecepatan analisis skor. Masduki berkata bahwa para peserta TAEP sudah bisa melihat skornya tujuh menit setelah proses pengerjaan tes selesai. Hal tersebut dapat terjadi karena TAEP menggunakan Rapid Reporting System. Selain cepat dalam hal mengetahui skor hasil ujian, tes jenis ini juga unggul dalam kecepatan pemberian sertifikat. Terhitung hanya butuh waktu satu jam bagi para peserta untuk memperoleh sertifikat digital. “Sertifikat digital ini juga dapat menghalau pemalsuan. Hal tersebut terjadi karena pihak ketiga dapat mengakses keaslian sertifikat dan perolehan skor di laman TAEP UMM,” jelas dosen yang juga mengajar di Pascasarjana UMM tersebut. Di akhir wawancara, Masduki merasa bangga atas capaian tes TAEP UMM tersebut. Ia juga berharap tes TAEP akan terus berkembang dan semakin baik kedepannya. “Saya juga ingin masyarakat tidak lagi menganggap sebelah mata penyelenggara TKBI lokal dan mulai menggunakannya,” pungkas Masduki. (syi/wil)

Upacara Kemerdekaan UMM Bangkitkan Semangat Perjuangan

Di tengah serangan pandemi yang belum membaik, Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa menjaga semangat kemerdekaan. Salah satunya melalui upacara kemerdekaan yang dilaksanakan pada Selasa (18/8) lalu. Berbeda dengan upacara kemerdekaan sebelum-sebelumnya, kini para peserta hadir secara daring melalui platform Zoom. Adapun rentetan acara tetap dilakukan secara luring di Heliped UMM. Didapuk sebagai inspektur upacara, Dr. Nur Subeki, ST. MT. selaku Wakil Rektor III UMM menyampaikan  bahwa sudah 76 tahun masyakarat memeriahkan dan memperingati kemerdekaan. Perlu adanya upaya-upaya strategis untuk merawat serta menjaga kedaulatan. Utamanya kemerdakaan di tahun ini yang memiliki tema Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh. Eki, panggilan akrabnya kembali menegaskan bahwa ada beberapa hal yang seharusnya dilakukan oleh warga Indonesia. Hal pertama ialah menengok sejarah lahirnya kemerdekaan Indonesia. Dijelaskan olehnya, kemerdekaan tersebut tidak diberikan oleh penjajah dengan cuma-cuma. Namun hasil dari pengorbanan darah dan air mata para pejuang. “Seperti yang pernah dikatakan Soekarno bahwa perjuangannya lebih mudah karena hanya mengusir penjajah. Namun perjuangan generasi selanjutnya lebih sulit karena harus menghadapi saudaranya sendiri,” tegasnya. Selain itu adapula yang kedua yakni menjawab bagaimana Muhammadiyah mampu mengisi kemerdekaan Indonesia. Salah satu upayanya dengan mendirikan amal usaha Muhammadiyah, termasuk di sektor pendidikan yakni pendirian UMM. Menurutnya, kampus putih menjadi lembaga yang strategis untuk melahirkan pemuda-pemuda yang unggul. “Terbukti dengan raihan UMM yang diakui sebagai kampus Islam terbaik nomor satu dunia. Begitupun dengan para alumninya yang mampu menjadi para pemimpin seperti ketua KPU, Ketua DPRD, Wakil Bupati hingga Bupati,” tuturnya melanjutkan. Eki juga sempat menyinggung proses adaptasi yang harus segera dilakukan. Utamanya di era digital seperti saat ini. Menurutnya, sivitas akademika UMM harus segera tumbuh, mengikuti dan memanfaatkan keadaan yang ada agar bisa menebar manfaat ke masyarakat luas. Kemudian di situasi pandemi seperti ini, Eki mendorong para peserta upacara untuk mengikuti perjuangan para pejuang. Ia menuturkan bahwa yang kuat harus berusaha membantu, yang mampu harus terus bertahan dan yang lemah harus tetap berusaha. Terakhir, Wakil Rektor III ini juga mengajak sivitas akademika untuk mengimplementasikan wejangan dan pesan dari founding fathers UMM, Prof. Malik fadjar. Di antara pesannya yakni senantiasa berpikir positif, optimis dan berlaku sederhana. Ada juga menghindari kesombongan serta siap sedia membantu sesama dan gotong royong. “Sekali lagi saya mengajak semua peserta untuk terus tumbuh untuk menjaga sekaligus merawat bangsa dan negera Indonesia ini,” tutupnya. Tidak hanya  berhenti pada gelaran upacara, rentetan acara dilanjutkan dengan sepeda santai dan jalan mengitari kampus. Pelaksanannya juga menerapkan protokol kesehatan yang ketat, mulai dari penggunaan masker, handsanitizer, serta menjaga jarak satu sama lain. Kemudian ditutup dengan pembagian hadiah bagi para peserta yang beruntung. (wil)

Konferensi Internasional FKIP UMM Kaji Profesionalisme Guru

Event-event internasional senantiasa diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Satu di antaranya adalah agenda dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yakni International Conference on Education, Teacher Training, and Professional Development (ICE-TPD) pada Rabu (18/8) lalu. Kali ini, tema yang diusung adalah Global Inspiration of Teacher Professional Development. Mendukung tema tersebut, ada empat pembicara andal yang dihadirkan. Mereka adalah Prof. Dr. Muchlas Samani, M.Pd (UNESA), Assoc. Prof. Tony Loughland (University of New South Wales, Australia), Dr. Norhaida Aman (National Institute of Education, Singapore), serta Prof. Ana Mansilla Pérez (Universitas Murcia, Spanyol). ICE-TPD ini diikuti oleh 658 lebih peserta yang terdiri dari mahasiswa, guru, dosen dan praktisi pendidikan. Adapun antusiasme peserta menjadi capaian yang luar biasa mengingat ICE-TPD ini merupakan seminar internasional yang pertama diadakan oleh FKIP UMM. Mengawali konferensi, Dekan FKIP UMM, Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes., menyatakan bahwa tujuan agenda ini adalah untuk menjadi wahana diskusi dan kolaborasi dalam mengembangkan profesionalisme guru. Sehingga para peneliti dapat membagikan pengalaman serta keilmuan yang telah dimiliki. Selain itu juga bisa menjadi tempat dalam merumuskan kebijakan pendidikan. “Kami juga ingin agar konferensi ini dapat menyediakan diskusi-diskusi menarik yang membahas kerangka pengembangan pendidikan, isu-isu terbaru, tantangan, teori, serta praktik terbaik untuk meningkatkan kualitas guru. Saling bersinergi secara kolaboratif demi menyiapkan guru profesional,”tegasnya. Sementara itu, dalam konteks pendidikan global, Noraida Aman menggarisbawahi pentingnya pemahaman guru tentang pengetahuan pedagogis. Utamanya dalam menciptakan pembelajaran di abad 21. Menurutnya, menjadi guru tidak hanya harus memahami materi yang perlu dipahami siswa. Melainkan harus tahu bagaimana menyampaikan materi tersebut. “Sehingga dalam pengembangan profesionalisme guru, pedagogical content knowledge menjadi hal yang sangat penting dan utama,” ungkapnya. Menguatkan paparan Noraida, Muchlas Amani menjelaskan pentingnya teknologi dan kolaborasi dalam profesionalisme guru. Pendidikan harus memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan perkembangannya, karena saat ini keterampilan berbasis teknologi menjadi skill yang dibutuhkan. “Kolaborasi penelitian tindakan kelas secara berkelanjutan atau C-NAR (Collaboration Nested Action Research) dalam menyiapkan guru di era digital sangatlah diperlukan,” terang  Muchlas melanjutkan. Lebih lanjut, secara khusus Ana Mansilla Perez mengkaji strategi-strategi pengembangan profesionalisme guru. Menurutnya, pengembangan aspek ini memiliki hubungan erat dengan praktik mengajar yang berbasis student-oriented. Dengan demikian, inovasi dan inspirasi adalah dua hal krusial untuk meningkatkan profesionalisme guru. Terakhir, Tony membahas lebih lanjut mengenai empat prinsip program pengembangan profesionalisme guru yang efektif. Mulai dari proses desain yang harus on site atau fokus pada masalah yang ada, kemudian juga fokus kepada siswa, serta usaha yang kolektif. “Di samping itu, perlu adanya koherensi tindakan berdasarkan teori yang dilaksanakan beserta implementasinya,” tegas ahli pembelajaran profesional guru tersebut. Tidak berhenti sampai di situ, gelaran konferensi ini dilanjutkan dengan tiga sesi pararel yang mewadahi sembilan doktor baru yang dimiliki FKIP UMM. Tema-tema yang dihadirkan juga cukup menarik. Mulai dari Enhancing Bahasa Indonesia Teacher Professionalism in Responding to Globalization, Fostering Social and Personality Competence of Teachers, hingga Reinforcing Teacher Pedagogic Skill in Answering Global Challenges. Adapun hasil penelitian yang diseminarkan pada ICE-TPD ini akan dimasukkan dalam prosiding ber-ISBN. Selanjuntnya naskah-naskah terpilih akan dipublikasi pada Jurnal Ilmiah Nasional yang terindeks SINTA. Menariknya lagi, naskah terbaik akan dipandu untuk submit di Jurnal Ilmiah yang terindeks Scopus. Hal ini menjadi motivasi bagi para peserta untuk memberikan sumbangsih terbaiknya di seminar internasional tersebut. (*/wil)