Magang Kelas Udang UMM Lahirkan Profesional dan Wirausahawan

Beragam kelas profesioanl telah disediakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bagi para mahasiswa. Tidak terkecuali kelas profesional udang yang ada di Program Studi (Prodi) Akuakultur, Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP). Kelas tersebut melepas para pesertanya untuk terjun langsung di dunia industri pada Rabu (25/8) lalu di Pantai Blado, Kecamatan Munjungan, Trenggalek. Adapun Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd juga turut hadir mendampingi dengan memberikan dorongan moril kepada para peserta. Ganjar Adhywirawan Sutarjo, M.P. selaku ketua Prodi Akuakultur menjelaskan bahwa kelas profesional ini pada dasarnya terdiri dari dua tahapan. Tahapan pertama yakni penyampaian materi yang diberikan di kelas secara tatap maya. Setelah dua bulan mengikutinya, para peserta baru bisa dilepas dan ditempatkan di lokasi magang yang telah disediakan. “Pada tahapan kedua ini, mereka akan ditempa dan diberi pemahaman di tempat magang yakni di lokasi para mitra yang dimiliki oleh UMM. Hingga nanti di akhir akkan mendapatkan sertifikat kompetensi,” terangnya. Ganjar, panggilan akrabnya juga mengatakan bahwa mahasiswa yang mengikuti kelas profesional ini akan ditempatkan di 16 mitra yang tersebar di berbabagai daerah. Mereka diharapkan dapat mengikuti satu siklus budidaya produksi udang. Dengan begitu, akan banyak ilmu yang diserap, tidak hanya secara teori namun juga praktik langsung di lapangan. Dijelaskan lebih lanjut, nantinya akan ada monitoring untuk melihat perkembangan kelas udang tersebut. Selain itu juga melakukan evaluasi menyeluruh agar ada peningkatan mutu dalam pelaksanaannya. “Proses evaluasi tidak hanya dilakukan oleh pihak UMM, tapi juga diselenggarakan bersama-sama dengan para mitra yang telah dimiliki,” imbuhnya. Terpisah, Dr. Ir. David Hermawan, MP. IPM. Selaku Dekan FPP UMM menilai kegiatan ini dapat menjadi pemacu mahasiswa untuk lulus tepat waktu. Hal itu mengingat seluruh aktivitas tersebut dapat dikonversikan dengan mata kuliah yang relevan. Di antaranya aquapreneurship, penyuluhan dan komunikasi perikanan, KKN, serta PKL. Bahkan akan dipertimbangan untuk dijadikan skripsi. ”Hal ini dilakukan sebagai bentuk apresisasi dan penerapan Merdeka Belajar Kampus Merdeka di UMM,” tuturnya. Terakhir, Fauzan mengapresiasi aktivitas kelas profesional udang ini. Ia berharap akan ada peningkatan dalam aspek dan kompetensi budidaya udang. Dengan begitu, para mahasiswa bisa menapaki karir di bidang udang atau bahkan mampu menjadi wirausaha di bidang tersebut. “Ini saatnya peserta Kelas Profesional Udang untuk senantiasa mengasah segala kecakapan, keterampilan, dan juga sikap kerja di dunia nyata”, tutupnya menjelaskan. (wil)

Sintia Rahmah, Mahasiswa UMM yang Miliki 17 Medali Taekwondo

Berawal dari keisengannya, kini Sintia Rahmah, salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses raih belasan medali kejuaraan olahraga taekwondo. Sintia, sapaan akrabnya mengungkapkan bahwa ia telah mendalami taekwondo sejak kelas tiga Sekolah Dasar (SD). Pada saat itu, seni bela diri asal Korea ini sangat terkenal dan menjadi ektrakulikuler di sekolahnya. “Saya dasarnya memang anak yang aktif dan suka sengan bidang olahraga. Sebelum ikut taekwondo, saya sempat ikut sepak bola. Namun ketika seni bela diri taekwondo makin terkenal, semua orang ingin mencoba cabang olahraga tersebut. Bahkan kakak dan adik saya juga mendaftar taekwondo di sekolah masing-masing,” ujar mahasiswa asal Kalimantan Tengah tersebut. Sejak saat itu, Sintia mulai menekuni taekwondo dengan serius. Ia mulai mengikuti berbagai perlombaan taekwondo baik di tingkat provinsi,  nasional, sampai ke internasional. Apalagi saat ia menjadi mahasiswa di UMM. Berbagai info perlombaan yang melimpah dari UMM membuatnya terus menerus mengikuti kejuaraan satu persatu. Ia pun seringkali memenangkannya baik secara tim maupun individu. Sebut saja Bandung International E-Poomsae Tournament dan Online Indonesia International Biho President Cup yang ia raih pada tahun ini. Mahasiswa Fakultas Hukum ini juga sempat menceritakan pengalaman cederanya ketika mengikuti pertandingan. Saat itu pertandingan pertamanya sebagai seorang mahasiswa. Ia harus mengalami patah tulang di bagian hidung. Sintia harus menerima selama beberapa minggu agar bisa kembali beraktivitas seperti biasa. “Saat pertandingan saya bertemu dengan lawan yang lebih tinggi. Alhasil saya terkena pukulan di bagian hidung. Saat itu tulang hidung saya bengkok dan perlu perawatan dokter selama tiga minggu. Sampai sekarang pun hidung saya masih sensitif jika terkena sesuatu. Namun pengalaman tersebut tidak membuat saya berhenti dari taekwondo. Bagi saya cedera adalah salah satu konsekuensi dari seorang atlit,” kata anak kedua dari tiga bersaudara tersebut. Sampai saat ini, Sintia telah memperoleh 17 medali dari berbagai kompetisi. Mulai dari medari perunggu perak, dan emas pada tingkat provinsi sampai tingkat Internasioanal. Terbaru Sintia berhasil memperoleh medali emas di kejuaraan Bandung Internasional E-Poomsae Tournament 2021. Terakhir, Sintia mengatakan bahwa dukungan orang tua sangat berarti baginya. Menurutnya, dukungan mereka berdua membuatnya lebih bersemangat dalam menekuni hobi dan hal yang disukai. “Saya akan berusaha sebaik mungkin agar bisa berkembang dan memperoleh medali di kejuaraa-kejuaraan selanjutnya. Tentu dengan doa dan dukungan ayah dan ibu, sehingga akan memudahkan jalan yang saya tempuh,” pungkasnya. (syi/wil)