Doktor HC UMM Priyo Iswanto: WNI Bebas Visa Berkunjung ke Antigua dan Barbuda

Warga Negara Indonesia kini dapat berkunjung tanpa visa selama tiga puluh (30) hari ke negara Antigua dan Barbuda (AB) mulai Agustus 2021. Menteri Luar Negeri AB, E. Paul Chet Green menandatangani instrumen  bebas visa bagi WNI pada Jumat (27/8) sebagai tindak lanjut dari keputusan sidang kabinet AB pada November 2019. Adapun mereka memutuskan untuk memberikan fasilitas bebas visa kepada semua Warga Negara Indonesia yang berkunjung ke negara tersebut. Keputusan pemberian bebas visa itu dilandasi pertimbangan atas asas resiprositas dan semakin membaiknya hubungan bilateral antara Indonesia dan AB. Adapun Pemerintah Indonesia telah memberikan kebijakan bebas visa kepada warga negara AB untuk mengunjungi Indonesia, sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 21 tahun 2016. Sebelum menandatangani instrumen pemberlakuan bebas visa bagi WNI tersebut, Menlu Chet Green menyampaikan bahwa pemberlakuan bebas visa ini merupakan apresiasi kepada Indonesia dan Dubes Priyo Iswanto atas upaya meningkatkan kerjasama antara Indonesia dan Antigua dan Barbuda sejak tahun 2017. Sementara itu, Dubes Priyo Iswanto yang merangkap akreditasi untuk negara Antigua dan Barbuda menyatakan bahwa keputusan Pemerintah AB merupakan pemahaman yang sangat baik. “Insentif seperti ini tentu dapat lebih meningkatkan hubungan dan kerjasama antara kedua negara,” jelas Dubes yang mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut. Pemerintah AB berminat untuk meningkatkan kerjasama yang lebih konkret dengan Indonesia di sektor perdagangan, pariwisata, pertanian dan kelautan, serta pendidikan. Dalam upaya mempererat kerja sama, Pemerintah Indonesia telah memberikan peningkatan kapasitas. Utamanya di bidang penanggulangan bencana serta menawarkan beasiswa bagi pelajar AB untuk belajar singkat di Indonesia. Selain itu, baru-baru ini Pemerintah Indonesia juga telah memberikan bantuan dana hibah kemanusiaan untuk mendukung proyek “Community Connect” senilai Rp1.274.696.800. Proyek tersebut merupakan bagian dari program “Build Back Better” yang dicanangkan Pemerintah Antigua dan Barbuda untuk daerah yang tertimpa bencana Badai Irma tahun 2017. Guna meningkatkan kerja sama dengan Indonesia, Pemerintah AB juga sudah menyetujui pengangkatan Mr. Paul E. Ryan sebagai Konsul Kehormatan Republik Indonesia di Saint John´s, Antigua. Penunjukan tersebut sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia pada tanggal 8 November 2019. Adapun Paul E. Ryan telah memulai menjalankan tugasnya sebagai konsul kehormatan setelah menerima Surat Tauliyah (Exequatur) dari Gubernur Jenderal Antigua dan Barbuda yang bertindak atas nama Ratu Elizabeth II. Dengan pemberlakuan bebas visa bagi WNI oleh negara Antigua dan Barbuda, maka seluruh negara akreditasi di wilayah kerja Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bogota (Kolombia, Antigua dan Barbuda, Barbados, dan St. Kitts dan Nevis) telah memberlakukan bebas visa bagi WNI. Adapun Antigua dan Barbuda adalah sebuah negara kepulauan berpenduduk sekitar 95 ribu orang yang terletak di Laut Karibia bagian timur. Kepulauan ini adalah bagian dari Kepulauan Antilles Kecil, dan berbatasan dengan Guadeloupe di sebelah selatan, Montserrat di barat daya, Saint Kitts & Nevis di barat, dan Saint Barthelemy di barat laut. Indonesia dan Antigua & Barbuda mulai membuka hubungan diplomatik pada 23 September 2011. Indonesia memandang Antigua dan Barbuda sebagai mitra penting di kawasan Karibia. (*/wil)

E-Rice Detector: Aplikasi Pendeteksi Penyakit Padi Ciptaan Mahasiswa UMM

Penyakit pada padi menjadi momok tersendiri bagi petani. Faktor inilah yang seringkali membuat gagalnya panen dan berdampak nyata pada kerugian mereka. Melihat permasalahan tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berinisiatif memberikan solusi. Yakni melalui E-Rice Detector, aplikasi pemindai penyakit pada padi. Ulfah Nur Oktaviana selaku ketua tim menjelaskan bahwa aplikasi ini dapat mendeteksi dan mengklasifikasi penyakit pada padi. Didukung dengan Deep Learning sistem berbasis Artificial Intelegence (AI), aplikasi ini akan memudahkan petani dalam mendeteksi penyakit yang menjakiti padi. “E-Rice Detector dilengkapi dengan Sistem AI dengan metode Deep Learning. Dengan begitu, petani bisa mendeteksi adanya penyakit sehingga akan membantumencegah terjadinya gagal panen,” imbuhnya. Ulfah, sapaan akrabnya memaparkan bahwa E-Rice Detector memiliki empat fitur unggulan. Pertama, Pindai Penyakit Padi yakni fitur utama yang disediakan. Nantinya, pengguna hanya perlu mengambil gambar daun padi dan memilih tombol centang. Kemudian akan muncul hasil, klasifikasi, serta deteksi penyakitnya. Adapun pemindaian ini memilik akurasi mencapai 97%. Fitur berikutnya yakni Pesan Otomatis, semacam Chat Bot yang memberikan informasi terkait penyakit padi, penjual pupuk dan harga padi per-kecamatan. Selanjutnya ada fitur Daftar Penyakit yang menyediakan daftar dan informasi penyakit padi yang ada di setiap kecamatan. Selain itu terdapat pula fitur Berita yang menyajikan berita dan informasi terkini dari para pakar pertanian. “E-rice ini tidak hanya digunakan sebagai deteksi penyakit. Lebih dari itu, kami juga akan menyediakan bantuan informasi dan berita mengenai pertanian,” ujarnya melanjutkan. Mahasiswa Informatika UMM ini mengatakan dalam upaya mematangkan E-Rice Detector, timnya telah melakukan User Acceptance Test (UAT), yakni tahap uji coba aplikasi. Adapun aplikasi E-Rice Detector telah diuji coba di empat Kabupaten. Mulai dari Gresik ,Tulungagung, Lamongan, hingga Nganjuk. Menurut Ulfah, respon masyarakat sendiri senang dan merasa terbantu dengan E-Rice Detector. “Selain itu, kami juga telah melakukan uji coba blackbox untuk memastikan seluruh fitur bekerja sesuai dengan yang diinginkan,” tegasnya. Dalam pengembangannya, Ulfah tidak sendiri. Ia ditemani oleh Tiara Intana Sari, Naufaldi Izad Firmana, dan Ricky Hendrawan dari jurusan Informatika. Adapula Alfian Dwi Khoirul Annas, mahasiswa  Agroteknologi UMM. Adapun proyek E-Rice Detector ini telah diajukan melalui Program Kreatifitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) dan berhasil mendapatkan pendanaan. Proses perancangannnya memakan waktu tiga bulan dan kini sudah siap didaftarkan di Play Store pekan depan. Keberhasilan tim menciptakan aplikasi sendiri tidak lepas dari bimbingan Galih Wasis Wicaksono, S.kom,. M.Cs., selaku dosen yang membimbing. Terakhir, Ulfah dan kawan-kawan berharap aplikasi ini mampu menyelesaikan masalah kerugian pertanian karena penyakit. Selain itu dapat menjadi langkah baru revolusi industri di dunia pertanian. Menurutnya, perkembangan teknologi seharusnya bisa digunakan untuk membantu pertanian dan mempermudah informasi dari pemerintah kepada petani. (haq/wil)