Smart Garden Karya Mahasiswa UMM Permudah Petani Taoge

Berawal dari kesusahan mencari taoge di pasar, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) permudah produksi taoge dengan menciptakan alat bernama Smart Garden. Berbeda dari Smart Garden yang telah ada, alat yang diproduksi mahasiswa Teknik Elektro dan Informatika ini dilengkapi oleh Internet of thing (IoT) dengan sistem pemberitahuan Telegram. Salah satu anggota tim, Fadhilah Mileanasari menceritakan bahwa ketertarikannya pada budidaya taoge berawal dari acara memasak rawon bersama teman-temannya. Saat itu Dhila, sapaan akrabnya, sangat kesusahan mencari taoge untuk bahan pelengkap rawon. Dari kejadian itu ia mengetahui bahwa proses pembuatan taoge lumayan rumit. “Beberapa masakan khas Indonesia seperti rawon dan pecel membutuhkan taoge sebagai bahan pelengkap. Namun sedikit orang yang mau membudidayakan taoge karena prosesnya yang rumit. Selain itu taoge lebih cepat layu dibanding sayuran lain. Sehingga para pedagang tidak mengambil banyak taoge dari pembudidaya,” ungkap mahasiswa asal Palangkaraya tersebut. Lebih lanjut, Dhila menjelaskan bahwa Smart Garden ini bekerja untuk menyesuaikan suhu serta kelembapan dengan menggunakan sensor ds18b20 dan yl69. Ketika dihidupkan, secara otomatis alat ini akan melakukan penyiraman pada bibit kacang hijau dan mempertahankan suhu serta kelembapan di atas 40%. Dilengkapi dengan kamera dan IoT membuat para pembudidaya hanya perlu memantau kondisi taoge melalui smartphone karena semua informasi dan gambar mengenai perkembangan taoge akan dikirim lewat Telegram. “Pada budidaya konvensional, para pembudidaya harus membuka tutup tempat taoge untuk melakukan penyiraman. Hal ini akan berpengaruh pada kualitas taoge yang dihasilkan. Selain itu para petani juga kurang mengetahui suhu dan kelembapan yang bagus untuk perkembangan taoge. Karena hal tersebut, alat ini sangat membantu untuk meningkatkan kualitas taoge serta membuat siklus panen menjadi lebih cepat,” ungkap anak pertama dari tiga bersaudara tersebut. Adapun alat ini diikutsertakan pada Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan Iptek (PKM-PI) dan berhasil mendapat pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi (Kemendikti). Saat ini, Smart Garden telah digunakan oleh mitra tim yaitu kelompok tani budidaya taoge selama satu bulan dan mendapat hasil yang positif. Dalam pembuatan alat ini, Dhila ditemani oleh empat anggota lainnya yaitu Bellina Rahmamaulida Adeyani, Fia Anisa, dan Putri Khalifah Hilaliyah dari Teknik Elektro serta Wien Nurul Dewani dari prodi Informatika. “Kedepan kami akan melakukan perbaikan-perbaikan agar dapat  meningkatkan kualitas serta kapasitas dari Smart Garden. Kami juga berencana untuk mengajukan Hak kekayaan intelektual (HaKI) pada Smart Garden ciptaan kami,” tandasnya. (syi/wil)

Teknik Mesin UMM Siapkan Kelas Welding Inspector melalui Kerjasama Industri

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengembangkan cita-cita center of excellence-nya. Pun dengan usaha meningkatkan kualitasnya sebagai universitas Islam terbaik dunia. Kali ini giliran Program Studi Teknik Mesin yang kembali menggaet beberapa pelaku dalam Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) melalui Memorandum of Understanding (MoU) dan lokakarya. Beberapa perusahaan yang digaet adalah PT. Spindo, PT. Barata Indonesia, PT. PAL dan Lloyd’s Register Asia. Adapun agenda tersebut digelar pada Sabtu (11/9) lalu di hotel Amarta Hills, Batu. Mengawali agenda, Iis Siti Aisyah, S.T., M.T., P.hD. selaku ketua panitia menuturkan bahwa sebelumnya mereka telah berkoordinasi dan berkomunikasi sejak lama. Hingga akhrinya bersepakat untuk mendirikan centre of excellence di bidang welding inspector. “Pada semester lalu, dua di antara perusahaan sudah beberapa kali menjadi tandem mengajar dalam bidang ini. Rencananya, semester depan akan disiapkan kelas bersama mitra baru sebanyak 20 SKS,” tambahnya. Iis, panggilan akrabnya mengungkapkan bahwa kelas bidang ini dipilih karena teknik mesin sudah memiliki beberapa doktor yang mendalami welding inspector. Maka, perlu adanya support dari industri untuk mendekatkan kompetensi mahasiswa dengan kebutuhan industri. “Kelas ini juga menjadi jalan untuk mencapai target di Indikator Kerja Utama (IKU) MBKM 1 dan IKU 4 yakni keterserapan dan keterlibatan praktisi,” imbuhnya melanjutkan. Sementara itu, Dr. Fauzan, M.Pd. yang hadir menjelaskan dalam sambutannya bahwa para pimpinan bertekad untuk datang serta meresmikan kolaborasi untuk mengembangkan centre of excellence. Hal serupa juga dilakukan saat hadir di acara yang dilaksanakan prodi teknik mesin tersebut. “Kita harus sama-sama melihat masa dengan jeli akan kepastian masa depan mahasiswa. Salah satunya melalui kerjasama-kerjasama strategis seperti ini,” tambahnya. Ia juga menyampaikan bahwa UMM memiliki salah satu program yang bagus yakni UMM Pasti yang digalakkan sejak 2017 lalu. Program ini berusaha memastikan kelulusan para mahasiswa Kampus Putih. Di samping itu juga secara tidak langsung menjawab pertanyaan dari para orang tua. “Harus ada kepastian kelulusan mahasiswa di kisaran tiga setengah hingga empat tahun. Berkat program ini pula, ada beberapa perombakan dalam kurikulum pendukung,” tuturnya. Lebih lanjut, adapula tujuan lain dari program UMM Pasti yakni pasti kerja. Maka dari itu, menurutnya, program-program unggulan dan kerjasama seperti ini sangat membantu dalam mewujudkannya. Para mahasiswa juga akan memiliki banyak pengalaman serta peluang yang besar dalam keterserapan perusahaan-perusahaan yang ada. Terakhir, ia berharap aktivitas yang prodi teknik mesin lakukan ini tidak hanya berhenti pada kelas bidang welding inspector. Namun berkembang menjadi kelas-kelas yang lebih beragam serta menularkannya pada prodi lainnya. “Kita harus mengambil langkah futuristik dan strategis demi mendapatkan kemanfaatan demi kebaikan bersama,” tegasnya mengakhiri. (wil)

Dorong Masyarakat Mandiri, Mahasiswa UMM Manfaatkan Limbah Kedelai Jadi Abon

Limbah produksi masih menjadi momok tersendiri. Mulai dari kurangnya usaha daur ulang hingga perusakan lingkungan. Melihat masalah tersebut, tim mahasiwa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) lakukan pendampingan pemanfaatan limbah kulit kedelai kepada masyarakat Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk. Pengabdian ini dilakukan melalui Program Kreatifitas Mahasiswa-Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) yang telah lolos pendanaan dari Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (DIKTI), Mei lalu. Siti Mariyatul Qibliyah selaku ketua kelompok menceritakan bahwa Desa Tanjungtani menjadi salah satu sentral tempe dan tahu di Nganjuk. Sayangnya, limbah produksi yaitu kulit ari kedelai tidak dimanfaatkan dengan baik. Hanya segelintir orang saja yang melakukan pemanfaatan ulang. Ia dan yang melihat adanya peluang bagi warga setempat kemudian mencoba memanfaatkan kulit ari kedelai tersebut. “Kami melihat adanya peluang pada memanfaatkan kulit ari kedelai ini menjadi produk yang memiliki nilai jual,” imbuhnya. Adapun proyek PKM-PM ini mereka targetkan kepada ibu-ibu PKK sebagai mitra. Ia dan tim telah melakukan pendampingan sejak bulan Juni hingga Agustus. Terhitung sudah 18 kali mereka mendampingi dalam berbagai aktivitas.  Ibu-ibu PKK yang menjadi mitra diajarkan bagaimana memanfaatkan kulit ari kedelai hingga akhirnya menjadi abon dan mendapatkan label produk. Juga diajarkan bagaimana cara distribusi produk dan uji kandungan pada lembaga pemerintah. Selain materi teknis, adapula pendampingan mengenai cara memasarkan produk, baik itu online maupun offline. Ibu-Ibu Tanjungtani juga diajarkan pembukuan penghitungan pengeluaran dan pemasukan. Hal ini dilakukan agar UMKM yang dibangun menjadi ekonomi mandiri desa serta mampu bertahan ke depannya. Siti juga mencerikatan bahwa penadampingan yang dilakukan berefek positif pada masyarakat. Mereka dapat memproduksi dan memasaran secara mandiri. Adapun harga produk abon dipatok di kisaran Rp15.000-Rp20.000. “Menurut saya, ini adalah langkah yang positif karena para warga bisa memanfaatkan kulit ari kedelai yang sebelumnya hanya limbah menjadi produk yang memiliki nilai jual,” tambahnya. PKM dengan judul “Penambahan Nilai Ekonomi Abon Kulit Ari Kedelai Sebagai Upaya Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa Tanjungtani Prambon Nganjuk” ini digarap oleh Siti Mariyatul Qibliyah, Hanifa Rizky Rahmawati dan Allifia Nisa’ Cholida. Adapun mereka tergabung dalam dalam satu selompok. Siti yang juga mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi ini berharap bisa terus bekerja sama dan melanjutkan produksi abon, sehingga dapat menciptakan kemandirian ekonomi bagi desa Tanjungtani. (haq/wil)