Teknik Mesin UMM Pamerkan Karya Futuristik di Mexpo 2021

Dalam rangka Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM), program studi (prodi)Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) langsungkan pameran karya. Gelaran yang diberi nama Mechanical Engineering Expo (Mexpo) ini memamerkan lebih dari seratus alat dan mesin yang sudah dirancang oleh mahasiswa maupun dosen UMM. Adapun expo ini dilaksanakan di pelataran prodi pada Senin (4/10) lalu dengan protokol Kesehatan yang ketat. Memberikan sambutan, Nur Hasanah, S.T., M.Sc., menuturkan bahwa selain mendukung PKKM, event ini juga menjadi ajang untuk memperlihatkan hasil penelitian dan rancangan alat. Tidak hanya oleh mahasiswa tapi juga oleh para dosen yang turut membantu. “Expo ini saya rasa menjadi kegiatan pertama dari Teknik Mesin untuk menunjukkan berbagai karya-karya, baik itu produk Pekan Kreatifitas Mahasiswa (PKM), penelitian maupun lomba-lomba,” tegasnya. Lebih lanjut, Nur Hasanah juga mengatakan bahwa expo dilaksanakan sebagai pemenuhan IKU 5 yang ada di PKKM. Selain pameran, skema ini nantinya juga akan mendaftarkan beberapa produk terpilih untuk mendapatkan HaKI. “Kami yakin, di tengah pandemi seperti ini, para mahasiswa masih memiliki energi yang melimpah dan luar biasa. Maka dari itu, Mexpo hadir untuk menjadi wadah yang bagus,” tuturnya. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si yang turut hadir menilai bahwa Mexpo merupakan tradisi akademik yang bagus. Hal itu tidak lepas dari adanya unsur kreatifitas di dalamnya. Meski begitu, ia juga mengatakan tidak hanya menciptakan saja tapi sivitas akademika UMM harus memberikan inovasi baru yang lebih baik. “Apalagi jika inovasi tersebut dapat menyerang dan menggoyahkan inovasi yang sudah ditemukan sebelumnya. Hal itu tentu menjadi capaian yang luar biasa,” ungkapnya. Syamsul, panggilan akrabnya berharap agar akivitas ini bisa dilanjutkan di kemudian hari. Sekalipun jika tidak ada program semacam PKKM. Menurutnya, program hanyalah stimulan agar tiap universitas dan prodi bisa semakin berinovasi dan melaksanakan kegiatan yang bermanfaat. Pada Mexpo tersebut panitia juga sudah menyiapkan berbagai penampilan untuk mengiringi. Ada band akustik dan penampilan-penampilan lainnya. Di samping itu, prodi Teknik Mesin juga menyiapkan berbagai apresiasi dana pembinaan untuk tim Mekatronik, Robotik serta pemenang-pemenang PKM. Adapun beberapa karya menarik yang patut dilihat adalah kapal cepat tak berawak, robot yang menjuarai kompetisi dunia, mobil hemat energi, robot pemadam api, produk project design team serta karya menarik lainnya. (wil)
Tim UMM Juara Kontes Robot SAR Indonesia

Kontes Robot SAR Indonesia (KRSRI) kembali digelar pada tahun 2021. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya di mana robot kontestan hanya meniup lilin, pada tahun ini robot yang dikompetisikan juga harus menyelamatkan calon korban ke tempat yang aman. Pada kontes tersebut, tim Dome dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih juara dua pada tahap regional dari 42 tim. Lomba yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kemdikbudristek ini mengumumkan para pemenang pada Selasa (28/09). Salah satu anggota tim, Faizal Aditya, mengatakan bahwa kompetisi ini memuat beberapa spesifikasi yang harus dimiliki oleh robot yang diperlombakan. Pertama, robot tersebut adalah robot autonomous tanpa operator serta tanpa garis penuntun. Kedua, dapat mengatasi variasi rintangan sensor dan medan serta memadamkan api pada lilin. Ketiga, dapat menyelamatkan calon korban dan membawanya ke zona aman. “Pada kompetisi tahun ini, jalur lintasan diberikan rintangan yang lebih menantang. Hal ini dilakukan sebagai wujud lingkungan tak teratur yang biasa dihadapi robot SAR pada wilayah bencana,” ujar mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Elektro tersebut. Faizal menceritakan bahwa pada kompetisi tersebut tim Dome UMM mengikutsertakan robot SAR berkaki. Robot ini dilengkapi dengan spesifikasi-spesifikasi yang telah ditentukan oleh panitia lomba seperti terdapat gas untuk memadamkan api dan gripper untuk menyelamatkan korban ke tempat aman. Anak pertama dari tiga barsaudara ini mengatakan bahwa proses pembuatan robot ini memakan waktu hampir satu tahun. “Kami mulai mengerjakan pembuatan robot ini setelah selesai mengikuti kontes KRSRI tahun kemarin. Dalam proses pengerjaan, kami menghadapi beberapa kendala seperti robot kesulitan untuk mendeteksi korban yang ingin diselamatkan. Karena tidak bisa mendeteksi, robot sempat error pada sesi kedua perlombaan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut kami memperbaiki kembali algoritma program pendeteksian korban untuk meminimalisir gagalnya proses pendeteksian,” kata mahasiswa asal Malang itu. Dalam perlombaan ini Faizal ditemani oleh Muhammad Indra Pratama, Muhammad Ardy Rahman, dan Aditya Nugraha Putra dari Prodi Teknik Elektro. Faizal berharap ke depannya ia dan tim mampu mempertahankan juara tersebut di tingkat nasional yang akan diadakan pada 12 Oktober mendatang. “Kami juga berharap dapat mempertahankan juara ini pada tahun berikutnya dengan rintangan maupun arena yang berbeda,” pungkasnya di akhir wawancara. (syi/wil)
Rektor UMM Lantik Sepuluh Dekan Baru

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru saja melantik sepuluh dekan baru yang akan memimpin nakhoda di masing-masing fakultas. Turut hadir Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Lincolin Arsyad, Ph.D dan Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM Drs. Wakidi. Adapun pelantikan tersebut dilaksanakan secara daring dan luring di Aula BAU pada Jumat (1/10) lalu. Pada gelaran tersebut, Lincolin Arsyad merasa senang karena meski masih berada di situasi pandemi, namun regenerasi UMM masih bisa terus terlaksana. Ia berpesan agar para dekan yang lama bisa memberikan masukan dan input meski Sudha tidak menjabat lagi. “Saling bahu membahu dan membantu agar bisa menciptakan kemajuan bersama. Saya rasa bukan hal mudah untuk memimpin fakultas di universitas besar seperti UMM,” ungkapnya. Ia juga menegaskan bahwa tantangan di depan semakin banyak. Salah satunya yakni pandemi covid yang sudah mengubah kehidupan manusia. Hal ini menjadi tantangan yang harus segera mendapatkan solusi tepat seperti aspek penguasaan teknologi. “Saya yakin kerjasama antara dekan dan rektorat serta seluruh sivitas akademika bisa menjawab segala tantangan yang ada di masa depan,” tuturnya. Sementara itu, Wakidi mengingatkan agar para dekan baru dapat merenungkan terkait pakta integritas yang sudah diikrarkan. Hal itu agar mereka dapat menghayati dan mengimplementasikan tanggung jawabnya dengan baik. Ia juga mendorong para dekan untuk segera memikirkan dan melakukan konsolidasi di fakultas masing-masing. Wakidi juga mengajak para dekan untuk melepas identitas prodinya agar dapat memimpin dengan adil. “Yang kemarin berbeda pendapat dan pilihan kini agar segera bersatu kembali. Mengembangkan potensi yang dimiliki agar mampu memajukan UMM di tingkat nasional maupun internasional,” imbuhnya. Dr. Fauzan, M.Pd selaku Rektor UMM menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para dekan periode sebelumnya yang telah mengabdi dengan baik. Begitupun dengan kerja kerasnya dalam rangka memajukan fakultas serta universitas. “Mudah-mudahan perjuangan bapak ibu selama menjabat dicatat sebagai amal ibadah oleh Allah SWT,” harapnya. Fauzan menilai bahwa pelantikan ini adalah satu ritual penting di organisasi manapun. Ia juga merasa senang bahwa proses pemilihan dosen periode ini telah membawa angin segar dengan tidak adanya gesekan. Menurutnya, hal tersebut memerlukan kedewasaan dari berbagai pihak. Kesejukan dan keteduhan suasana tersebut diharapkan bisa memperkuat rasa kebersamaan yang selama ini dibangun. Ia juga sempat menyinggung mengenai tanggungjawab pimpinan untuk memberikan kepastian bagi para mahasiswa. Pertama yakni memastikan bahwa mereka bisa lulus tepat waktu dan memastikan tanggung jawabnya usai lulus dari UMM. “Maka perlu adanya improvisasi yang inovatif. Tanpa mengusahakannya, jangan harap kita bisa tetap menjadi yang terbaik,” tegasnya. (wil)
Mahasiswa UMM Ciptakan Antibakteri dari Daun Belimbing Wuluh

Univeritas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa mendorong mahasiswanya untuk melakukan riset dan penelitian. Hal serupa juga dilaksanakan oleh salah satu tim Program Kreatifitas Mahasiswa-Riset (PKM-RE). Mereka berhasil meneliti dan menciptakan antibakterial yang cukup ampuh untuk daging ayam. Adapun PKM dengan judul “Ekstrak Daun Belimbing Wuluh Sebagi Antibakteri Terhadap Salmonella Typhi Pada Daging Ayam” ini telah lolos tahap pendanaan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti). Hanifa Adani selaku ketua kelompok menjelaskan, ide tersebut muncul dari kegiatannya membaca jurnal-jurnal sebelumnya yang meneliti terkait antibaktei. Selain itu, menurutnya sebagian besar ayam yang ada di pasar dan rumah potong masih mengandung zat Salmonella. Padahal zat tersebut memiliki dampak buruk bagi kesehatan jika dikonsumsi. Kedua hal tersebut akhirnya menggerakkan tim tersebut dalam melaksanakan PKM yang berbasis riset. “Sebelumnya, kami telah membaca berbagai jurnal yang membahas terkait antibakteri. Kami menemukan fakta bahwa banyak beredar daging yang masih mengandung zat berbahaya jika dimakan oleh manusia. Salah satu zat berbahaya itu adalah salmonella,” ucapnya Hanifa, sapaan akrabnya memaparkan selama proses riset penelitian, mereka menemukan adanya zat flavonoid pada daun belimbing wuluh. Adapun zat ini memiliki fungsi untuk menjaga kesehatan pada kandungan makanan dan mencegah berkembangnya zat buruk salmonella pada daging ayam. Hal tersebut menjadikan daun belimbing wuluh sebagai sumber antibakteri. “Daun belimbing wuluh yang mengandung flavonoid menjadikannya sebagai sumber antibakteri yang berfungsi menagkal zat salmonella pada daging ayam” imbuhnya. Proses pembuatan antibakteri sendiri memakan waktu tiga hingga empat minggu. Dimana pembuatannya harus melalui proses ekstrasi. Pada proses ini daun belimbing wuluh dipotong-potong, dikeringkan, kemudian dihancurkan hingga halus. Setelah itu, ditambahkan pelarut dan diuapkan hingga mendapat ekstrak kental. Ekstrak kental itulah yang bisa digunakan menjadi antibakteri. “Kita cukup memasukkan daging ayam dan merendamnya bersama dengan antibakteri tersebut,” tuturnya. Adapun penelitian ini telah dilangsungkan sejak sejak bulan Mei hingga Juli lalu. Meskipun penelitian sempat terkendala PPKM, kelompok mencari alternatif dengan melakukan pertemuan secara online. Adapun tim tersebut beranggotakan Hanifa Adina, Keiko Maryati Putri, Nadhifatul Reina, dan Nadya Sinta. Akhir dari projek PKM ini adalah submit jurnal dan mematenkannya di Hak Kekayaan Intelektual (HaKI). Mahasiswa kelahiran Tulungagung ini berharap hasil dari riset dan penelitian terkait antibakteri ini bisa memberikan wawasan baru bagi masyarakat. Selain itu, kedepannya bisa menjadi produk untuk menjaga kandungan daging ayam serta dapat dipasarkan secara komersil. “Kami tentu berharap penelitian ini mampu memberikan pengetahuan baru kepada masyarakat terkait antibakteri. Semoga bisa segera diproduksi dan dipasarkan kepada masyarakat luas agar manfaatnya bisa segera dirasakan oleh orang lain,” pungkasnya. (haq/wil)