Footsanityzer Pembersih Kaki Praktis Karya Mahasiswa UMM

Handsanityzer kini sudah lumrah digunakan sebagai pembersih dan mensterilkan tangan dari kuman. Namun berbeda dengan inovasi yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka mengembangkan pembersih untuk kaki yang diberi nama foot sanityzer. Inovasi yang tertuang dalam Program Kreatifitas Mahasiswa-Riset Eksakta (PKM-RE) dengan judul “Foot Sanitizer Spray Ekstrak Daun Teh Hijau sebagai Antimikroba Staphylococcus Epidermidis” ini, telah lolos tahap pendanaan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti). Muhammad Ilham Septiana selaku ketua kelompok menceritakan bahwa gagasan ini berawal dari masalah kaki berbau. Hal tersebut menjadi latar belakang untuk melakukan riset dan penelitian dalam mengembangkan foot sanityzer ini. Menariknya, bahan dasar dari foot sanitizer ini berasal dari ekstrak daun teh hijau. Ilham, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa teh hijau yang menjadi bahan dasar mengandung zat polysenol yang berfungsi sebagai anti bakteri. Sehingga zat tersebut dapat mencegah dan mensterilkan bakteri atau kuman yang ada di kaki. “Kandungan zat polysenol ini ternyata cukup ampuh dalam membersihkan bakteri yang ada di kaki,” imbuhnya. Adapun proses pembuatan foot sanitizer sendiri tidak memakan waktu yang lama. Pembuatannya hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit saja. Adapun bahan-bahannya meliputi daun teh, gliserin, asam askorbat, aquades, alkohol, dan pewangi. Dari racikan bahan tersebut terciptalah pembersih kaki yang siap dikemas dan digunakan. Selama riset dan penelitian, mereka sempat terkendala racikan yang tidak cocok untuk pembersih kaki. Beberapa racikan pertama dirasa kurang cocok denga napa yang diharapkan. Meski begitu, mereka tidak patah semangat dan terus mencari formula yang sesuai. “Sempat terkendala racikan awal yang menghasilkan cairan kental, berbeda dengan harapan kami yakni cairan yang lebih cair. Tetapi selama dua minggu meneliti, kami akhirnya menemukan racikan yang pas,” jelasnya melanjutkan. Proyek PKM menarik ini digarap oleh Muhammad Ilham Septiana Adicandra, Aswendo Nurizza Sasongko, Nadhira Izdihar Khairunissa, Nirmaya Amalia Putri dan Siti Alfiah, yang tergabung dalam satu kelompok, yang seluruhnya mahasiswa Kedokteran UMM. Adapun riset ini dilakukan selama tiga bulan yang mana nantinya mereka akan submit jurnal. Mahasiswa asli Jember ini berharap usaha mereka dalam menggarap PKM ini bisa lolos PIMNAS di kemudian hari. Selain itu ia juga ingin agar ke depan produk foot sanitizer ini bisa disempurnakan dan diedarkan. “Kami berharap Footsanitizer ini bisa disempurnakan agar kedepannya bisa diedarkan secara luas ke masyarakat” ungkapnya. (haq/wil)
Mahasiswa UMM Teliti Gangguan Depresi Lewat Urine

Depresi merupakan gangguan kejiwaan yang seringkali dialami oleh sebagian masyarakat. Namun, di Indonesia belum ada diagnosis gangguan depresi yang cepat dan tepat dengan menggunakan laboratorium. Melihat permasalahan tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembangkan diagnosis labolatorium pasien depresi dengan menggunakan urine pasien. Salah satu anggota tim, Uswatun Hasanah, mengatakan bahwa proses diagnosis gangguan depresi saat ini masih menggunakan skala dan cluster gejala dari pasien saja. Hal ini memakan waktu lebih lama jika dibanding ketika uji labolatorium. Karena hal itu, Uswatun dan tim meneliti perubahan urine dari orang normal ke pasien gangguan depresi untuk uji coba labolatorium. “Untuk mendeteksi gangguan depresi pada pasien, kami menggunakan Biomarker N-Methylnicotinamid & Hippuric Acid. Setelah tiga bulan melakukan penelitian kami dapat menarik kesimpulan bahwa kadar biomarker n-methyl dan hippuric pada pasien ganguan depresi mengalami peningkatan daripada orang normal. Hal ini bisa menjadi acuan untuk mendiagnosis pasien gangguan depresi dengan menggunakan uji labolatorium,” ungkap mahasiswa Prodi Kedokteran tersebut. Uswatun menceritakan bahwa penelitian ini sempat terkendala oleh Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dilaksanakan beberapa waktu lalu. Uswatun melanjutkan bahwa dengan adanya PPKM, timnya tidak bisa melakukan penelitian di Rumah Sakit (RS) dan mendapatkan sampel urine pasien gangguan depresi. “Waktu penelitian kami terbatas dan PPKM menjadi kendala terbesar untuk melanjutkan penelitian. Untungnya, setelah tim kami mencari infomasi ke beberapa dokter, akhirnya kami bisa melakukan penelitian dan mendapat sampel urine di Rumah Sakit Muhammadiyah (RSM) Lamongan,” ujar anak terakhir dari enam bersaudara itu. Menariknya, penelitian ini diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) dan mendapat pendanaan dari Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Dalam penelitian tersebut, Uswatun ditemani oleh keempat temannya yaitu Al-Bidarri Tsamira Annafila, Handini Risma Hani, dan Sekar Asih dari Prodi kedokteran serta Nadila Apriola Susanto dari Fakultas Psikologi. “Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat umum, khususnya para psikiater dan psikolog dalam mendiagnosis pasien ganguan depresi. Ke depannya penelitian ini juga bisa ditindaklanjuti untuk pembuatan kit penunjang diagnosis. Sehingga para pasien gangguan depresi mendapatkan pengobatan yang cepat dan tepat,” pungkasnya. (syi/wil)
Tim Mahasiswa UMM Raih Juara Essay Nasional

Angkat ide museum edukasi Covid-19, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) raih penghargaan Best Essay kategori Pendidikan. Lomba nasional ini diselenggarakan oleh Lingkar Studi Mahasiswa Ekonomi dan Bisnis (LSME) Universitas Brawijaya. Diadakan mulai tanggal satu September, pengumuman pemenang dari lomba tersebut dilaksanakan pada Minggu (03/10) lalu. Perwakilan tim, Sayla Salsabila, mengatakan bahwa inti dari essay yang dibuat timnya adalah gagasan mengenai peranan ekonomi digital dalam mempromosikan museum edukasi Covid-19. Dalam gagasan tersebut Sayla dan tim memproyeksikan penggunaan teknologi augmented reality di museum edukasi Covid-19. “Alasan mengapa kami mengambil gagasan ini karena di masa depan edukasi mengenai Covid-19 sangat diperlukan. Namun agar kemasannya lebih segar, kami menggunakan teknologi terkini yakni augmented reality. Hal ini dilakukan agar museum tidak monoton dan membosankan bagi masyarakat. Pengolahannya sendiri memanfaatkan ekonomi digital sebagai sarana pemasaran,” ungkan mahasiswa Fakultas Psikologi tersebut. Mahasiswa baru UMM itu bercerita bahwa pengerjaan essay-nya memakan waktu lima hari. Hal itu meliputi pencarian ide yang akan diangkat, pencarian data dan referensi, kepenulisan, hingga editing serta penyesuaian sistematika. Sayla mengaku bahwa timnya sedikit kesulitan dalam menentukan tema. Hal tersebut terjadi karena perbedaan bidang lomba dan latar belakang anggota tim dengan tema perlombaan. Oleh karenanya, persiapan diskusi kelompok terpumpun dan PowerPoint sedikit mengalami kendala. “Kami semua berasal dari latar belakang psikologi, sementara lomba ini berfokus pada bidang ekonomi. Dengan adanya perbedaan tersebut, kami harus banyak belajar mengenai isu-isu ekonomi. Kami memperbanyak referensi dan data dari artikel maupun berita internet,” ungkap mahasiswa kelahiran Nganjuk tersebut. Selain mendapat penghargaan Best Essay kategori Pendidikan, tim ini juga meraih penghargaan Best Speaker pada ajang yang sama. Dalam perlombaan tersebut, Sayla ditemani oleh dua mahasiswa lain yaitu Awalina Ridha Nabila dan Jabal Akbar Al-Hakam. Kedepannya, anak pertama dari dua bersaudara ini berharap dapat menorehkan lebih banyak karya lagi. Apalagi ia masih menginjak semester pertama di Kampus Putih. “Yang sebenarnya ingin kami lakukan adalah berkarya, bukan hanya mencari kemenangan di perlombaan. Jadi, semoga ke depannya kami tidak cepat puas untuk terus belajar karena jalan yang harus ditempuh masih sangat panjang,” pungkasnya. (syi/wil)