Pendiri Sosio1point Ini Jadi Wisudawan Terbaik UMM

Terinspirasi dari orang tua, Ani Nuraini, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil dirikan komunitas sosial bernama Sosio1point. Komunitas tersebut bergerak di bidang  literasi dan kesejahteraan sosial masyarakat. Meski aktif di berbagai organisasi, Ani tidak melupakan pendidikannya. Terbukti, pada wisuda periode III 2021 lalu, ia berhasil meraih gelar wisudawan terbaik. Anak Pertama dari dua bersaudara itu bercerita bahwa kedua orang tuanya sangat aktif di berbagai kegiatan sosial. Hal itu membuatnya menyukai organisasi dan kegiatan-kegiatan sosial sehingga mendorongnya untuk membentuk Sosio1point bersama beberapa temannya. Adapun komunitas tersebut bertujuan untuk memberikan berbagai manfaat di bidang pendidikan. Selain itu juga membantu masyarakat kurang mampu yang membutuhkan. Meskipun tergolong baru, komunitas yang didirikan pada akhir November 2020 ini telah melaksanakan berbagai program kegiatan. Mahasiswa asal Banjarmasin tersebut mengatakan bahwa Sosio1point memiliki lima program utama yang mencakup pembelajaran dan pelatihan luring bagi anak-anak dan warga. Begitupun dengan program daring yang dilakukan melalui Instagram, webinar, dan podcast. Selain itu, komunitas ini juga aktif melakukan berbagai event di beberapa daerah. “Event-event yang telah kami adakan yaitu mengaji dan buka bersama di panti asuhan Al-Husna saat momen Ramadhan. Kemudian, adapula berbagai perlombaan untuk menggali potensi anak-anak di Desa Beji, khususnya terkait jiwa seni yang dimiliki. Terakhir adalah penyelenggaraan serta pelatihan Mendeley di kampus UMM,” ungkap Ani. Pelatihan Mendeley tersebut membantu para mahasiswa dalam mengerjakan tugas, makalah, skripsi maupun jurnal. Ia ingin agar mereka bisa lebih ahli dan cepat dalam hal rujukan di setiap karya ilmiah. “Alhamdulillah Sosio1point juga seringkali berdiskusi dengan para mahasiswa yang sibuk menyelesaikan skripsi. Paling tidak, komunitas kami bisa membantu mereka yang ingin meningkatkan skill dan potensinya,” tegas Ani. Selain Sosio1point, Ani juga aktif mengikuti organisasi lain seperti Himpunan Mahasiswa Kesejahteraan Sosial dan Forum Komunikasi Mahasiswa Kesejahteraan Sosial Indonesia (FORKOMKASI). Dalam menempuh pendidikan di UMM, Ani juga mengaku telah menargetkan diri untuk menjadi wisudawan terbaik sejak menginjakkan kakinya di kampus putih. “Meskipun saya sangat menyukai kegiatan sosial, namun saya tidak pernah melupakan tujuan saya dalam berkuliah. Pendidikan dan organisasi memang harus berjalan beriringan. Untuk menyeimbangkannya, pengaturan jadwal dan kejelian membaca situasi merupakan hal yang wajib di kuasai,” kata Ani. Sekarang, Ani tengah melanjutkan pendidikannya ke jenjang Magister Sosiologi di UMM. Kedepannya, ia akan terus menjalankan berbagai kegiatan organisasi rintisannya dan terus membagi pengetahuan ke masyarakat luas. “Semoga hal-hal kecil yang telah saya lakukan akan menjadi kebermanfaatan yang bisa dirasakan seluruh kalangan,” pungkasnya. (syi/wil)

Dosen UMM Merebut Tafsir Pancasila

Seiring berjalannya waktu, muncul berbagai penafsiran terkait Pancasila, baik itu tafsir dari golongan abangan dan organisasi masyarakat (Ormas). Hal tersebut melatarbelakangi Dr. Nurbani Yusuf, M. Si. selaku dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam menyusun buku dengan judul “Merebut Tafsir Pancasila”. Ditanya ihwal buku tersebut, Nurbani, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa buku ini secara umum membahas terkait pancasila ibarat rumah kosong yang akan ikut berubah sesuai dengan penghuni yang mengisi. Begitu pula dengan warna pancasila, tergantung bagaimana orang menafsirkan. Sebuah tafsir pancasila sukar untuk disamakan karena setiap individu memilki pandangan tersendiri terkait pancasila. “Warna pancasila akan menjadi dasar negara yang harus ditegakkan jika ditafsirkan oleh orang abangan dan akan menjadi sangat agamis ketika ditafsirkan oleh ulama. Maka dari itu warna pancasila tergantung dari orang yang menafsirkan” imbuhnya. Ia juga menyayangkan masih banyaknya oknum yang menyelewengkan pancasila. Terlebih lagi beberapa dari kalangan ulama yang justru menentang pancasila dan menyebutnya sebagai ‘taghut’. Kenyataanya, pancasila sendiri dirancang dan disusun dari golongan ulama, salah satunya Ki Bagus Hadi Kusuma. Dari sejarah tersebut, para ulama dan tokoh lainnya merancang Pancasila sebagai landasan bernegara dan bermasyarakat tanpa mendiskreditkan golongan tertentu. Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa sebagai warga negara Indonesia, kita diharuskan untuk bisa menafsirkan Pancasila dengan baik. Hal itu bertujuan untuk mempermudah orang-orang sekitar dalam memahami dan hidup sesuai dengan insitasi pendidikan. Begitupun agar dasar negara ini tidak diselewengkan dan diperdebatkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ini berpesan agar tidak mempertentangkan Pancasila dan agama. Menurutnya, hal itu akan menjadi hal yang sia-sia karena hakikatnya pancasila sendiri disusun oleh kalangan ulama. Adapun buku yang ia tulis itu berusaha menyelaraskan antara Pancasila dan syariat Islam. “Dalam buku ini saya berusaha menyelaraskan nilai-nilai pancasila dengan syariat Islam, yang menjadi landasan dalam bernegara di Indonesia ini,” imbuhnya. Terakhir, Nurbani berharap melalui buku ini ia bisa menghidupkan kembali pemikiran Pancasila. Mendorong masyarakat untuk mengimplementasikan nilai-nilai pancasila dan tidak terlena dengan kejadian dan isu politik. Utamanya mengembalikan nilai-nilai pancasila di masyarakat yang bersifat filosofis. “Saya berharap bisa menghidpukan pemikiran dan nilai-nilai pancasila filosofis. Tujuannya adalah agar bisa diimplementasikan dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (haq/wil)