Lebih Dekat dengan Abdul, Alumni Prodi HKI UMM yang Jadi Ketum DPP IMM

Universitas Muhammadiyah Malang tidak jarang melahirkan pemimpin Nasional. Satu diantaranya adalah Abdul Musawir Yahya yang berhasil menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Ia terpilih dengan mendapatkan 331 suara dari 451 peserta pemilih pada Muktamar IMM ke-19 di Kendari pada 21-23 Oktober lalu. Ditanya ihwal keberhasilannya, Abdul sapaan akrabnya merasa bangga atas capaiannya ini. Ia berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukungnya. Menurutnya, amanah yang ia emban ini sangatlah berat. Maka dari itu, alumnus Hukum Keluarga Islam (HKI) UMM ini akan segera melakukan konsolidasi dengan daerah-daerah untuk merealisasikan visi dan misi yang sudah dicanangkan. Sebelum terpilih sebagai Ketua Umum DPP IMM periode 2021-2023, Abdul juga telah aktif dalam berbagai organisasi. Bahkan ia juga cemerlang dalam berkarya di dunia kewirausahaan. Ia sempat menjadi direktur Maharaya Indonesia. Abdul juga mengambil resiko untuk merintis beragam bisnis dan menjadi owner di Super Kamera Malang, Lumeo Audiovisual Malang, Panjava English Garden, Garden Coffee, Martabak Satu Juli, serta Penerbit Akar. Menariknya, semangat untuk mengembangkan usahanya berawal dari upayanya untuk memberdayakan kader-kader yang kurang mampu. Harapannya, mereka tidak sampai putus kuliah dan bisa menyambung pendidikannya hingga lulus. Pun juga agar mereka bisa meraih mimpi berkat hasil kerja kerasnya. Dengan mengusung tagar #DariNarasiMenujuAksi, unggul keilmuan, mandiri ekonomi dan berdaulat politik Abdul berharap IMM menjadi gerbong terdepan dan opinion leader untuk mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan ini, Abdul juga merepresentesaikan tujuan prodi HKI keempat yaitu menghasilkan lulusan yang memiliki wawasan dan komitmen dengan visi dan misi perjuangan Muhammadiyah. Sementara itu, Ketua Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI), Muhammad Arif Zuhri, Lc.,M.H.I menyambut baik kabar tersebut. Ia merasa senang mendengar kabar baik dari Abdul. Menurutnya, hal ini menjadi bukti keberhasilan Prodi HKI dalam menghasilkan sarjana dengan kemampuan profesional di bidang hukum, hukum Islam dan hukum keluarga Islam. Tidak hanya berkisar di teori saja tapi juga dalam aspek praktek. “Kami juga senantiasa berusaha untuk mencetak lulusan yang memiliki integriras keagamaan dan moralitas kokoh serta memiliki jiwa kepemimpinan yang baik,” ungkap Arif mengakhiri. (wil)
LLDIKTI-UMM Langsungkan Pelatihan Teknis Misheqa

Dalam rangka meningkatkan akreditasi perguruan tinggi, Standar Penjaminan Mutu Internal (SPMI) menjadi salah satu syarat yang penting. Untuk memudahkan perguruan tinggi dalam mengunggah data akreditasi, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) telah menyiapkan aplikasi Management Information System for Higher Education Quality Assurance (Misheqa) New Generation. Adapun Bimbingan teknis untuk aplikasi ini dilaksanakan secara bertahap di lima kota. Tahap pertama diadakan pada Kamis (18/10) lalu di Aula Gedung Kuliah Bersama (GKB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mayastuti, S.E., M.S.M. selaku staf LLDIKTI mengatakan bahwa pada tahap pertama LLDIKTI mengundang 90 peserta dari 45 perguruan tinggi untuk mengikuti pelatihan. Dijelaskan olehhnya, pelatihan tersebut meliputi materi pemetaan Misheqa, pendampingan input data dan validasi dokumen. “Penjaminan mutu ini bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan. Ini memang peran LLDIKTI untuk memastikan pengelolaan perguruan tinggi dapat dijalankan dengan baik. Tentunya berbasis pada SPMI dengan menggunakan Misheqa. LLDIKTI juga mendorong tumbuhnya budaya mutu agar perguruan tinggi senantiasa dijalankan secara terarah dan terukur,” ungkap Maya. Maya melanjutkan bahwa pemetaan SPMI ini dilaksanakan sebagai sarana evaluasi bersama untuk mengukur, mempresentasikan, dan mengetuahui posisi mutu masing-masing perguruan tinggi. Selain itu LLDIKTI Wilayah VII juga dapat membantu dan mengarahkan secara teratur proses dokumentasi SPMI agar mendapatkan representasi mutu perguruan tinggi melalui aplikasi Misheqa. “Dengan adanya Misheqa akan memudahkan LLDIKTI untuk mendapatkan baseline data sebagai basis arah kebijakan fasilitasi mutu perguruan tinggi,” ujar Maya. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., menyambut baik adanya program bimbingan teknis aplikasi Misheqa ini. Menurutnya, dalam proses pengelolahan kampus, perlu adanya kesadaran dari berbagai pihak untuk mengenai budaya mutu dan standar yang diberikan oleh pemerintah baik dalam maupun luar negeri. “Dalam hal penjaminan mutu, UMM sendiri telah memiliki lembaga pengelolahan mutu internal bernama Badan Penjaminan Mutu Internal (BPMI). Lembaga ini bertugas untuk mengaudit secara periodik sehingga kualitas kami bisa terjamin dengan baik. Saya juga berharap, pelatihan ini dapat memberikan pemahaman dan meningkatkan mutu yang dimiliki oleh UMM,” pungkasnya. (syi/wil)