BEM UMM Adakan BESMENT, Ditutup dengan Parents Day

Rangkaian panjangan program Belajar Sehat Mental (BESMENT) Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (BEM UMM) akhirnya ditutup Minggu (24/10) lalu. Berlokasi di di Gang Muharto, Kota Lama Malang, BEM UMM kali ini menggandeng Rumah Belajar Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) serta Laboratorium Psikologi Terapan Keluarga dan Anak (LPTKA). Setelah mengajak anak-anak bermain dan belajar dua kali seminggu sejak awal Oktober, kini BEM UMM mengajak para ibu untuk hadir dan berbincang. Yorinda Nur Azizah selaku ketua panitia mengaku selama sebulan mengabdi, ia dan tim merasa senang, Apalagi melihat antusiasme anak-anak yang tinggi. “Anak-anak sangat bersemangat dan mengiktui setiap rangkaian kegiatan yang telah disediakan. Kami berharap program ini dapat menggugah banyak orang agar lebih peduli dengan kesehatan mental. dengan begitu tema ‘Penerus Bangsa Berawal dari Mental yang Sehat dan Kuat’ dapat terlaksana,” tegasnya. Berbeda dengan sebelumnya yang menyasar pada anak-anak, pada Parents Day tersebut BEM UMM mengajak diskusi para ibu dari rumah belajar JKJT. Pada kesempatan itu Siti Fatimah, S.Ag., M.Si. dari LPTKA membahas terkait tumbuh kembang anak. Begitupun dengan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam masa perkembangan tersebut. Ia juga menekankan pentingnya kesehatan mental. salah satu caranya dengan menjaga emosi, tidak hanya emosi orang tua saja tapi juga emosi anak. “Harapannya, dengan berdiskusi seperti ini, pra orang tua bisa lebih mudah memahami konsep kesehatan mental menlalui pengelolaan emosi sehari-hari, khususnya dalam mendidik anak,” tuturnya. Sementara itu, salah satu ibu, Marhamah mengatakan bahwa ia mengajarkan banyak hal kepada anaknya. Mulai dari bangun tidur, sekolah, bermain, mengaji hingga tidur lagi. Beberapa kali anaknya sulit memahami hal yang ia ajarkan. Seringkali mereka memecahkan piring dan gelas, malas mengerjakan PR dan kesalahan kecil lainnya. “Tidak jarang saya kesal dan memarahinya. Namun, berkat program ini saya memahami bahwa emosi orang tua dalam mendidik anak sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, terutama mentalnya”, ujarnya. Terakhir, dr. Veny Mayangsari, Sp.JP. selaku penanggung jawab Rumah Belajar JKJT menjelaskan bahwa kesehatan mental harus dilatih sejak dini. Hal itu tidak lepas dari efeknya akan pembentukan suatu karakter pada anak. Utamanya saat anak sudah mulai belajar menganalisa perilaku orang lain ataupun belajar mengenai bahasa. ‘Semoga melalui BESMENT ini anak-anak bisa belajar menghargai orang lain, saling berbagi, dan juga bertumbuhnya karakter baik dalam diri mereka,” pungkasnya. (wil)

Mahasiswa UMM Juara Pertama Pemuda Pelopor Nasional

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meraih prestasi di tingkat nasional. Kabar membanggakan tersebut datang dari Fadillah Ahmad Nur yang berhasil membawa pulang juara satu dalam ajang pemilihan pemuda pelopor tingkat nasional. Lomba ini diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Republik Indonesia dengan pengumuman juara dilaksanakan pada Rabu (27/10) lalu. Adil sapaan akrabnya mengatakan bahwa proses lomba ini berlangsung lama yakni mulai dari bulan Juli sampai Oktober. Ia berkata bahwa untuk mencapai tahap nasional, ia harus melewati banyak seleksi. Mulai dari seleksi di Kabupaten, Provinsi, hingga pada akhirnya sampai di Nasional. “Dari 34 provinsi yang ada di Indonesia, hanya 23 provinsi yang berkasnya lolos di nasional. Dari situ akan diseleksi kembali sepuluh berkas terbaik untuk di panggil ke Jakarta. Setelah itu baru dipilih juara satu sampai tiganya,” ujar Mahasiswa Fakultas Agama Islam tersebut (FAI). Selama perlombaan, ia dan para peserta lain harus melewati tiga tahapan yaitu, presentasi, wawancara, serta kunjungan. Di tahap presentasi Adil memperkenalkan organisasi yang dirintisnya yaitu Sasambo Youth Education Nusa Tenggara Barat (SYE NTB). Organisasi ini berfokus pada peningkatan pendidikan anak-anak di NTB. Beberapa program yang dilakukan SYE NTB adalah webinar, sharing session, ngobrol pintar, serta relawan pendidikan di desa-desa. “Organisasi ini saya dirikan karena prihatin dengan tingkat literasi anak-anak di NTB. Dari data yang saya dapat, pada tahun 2019 NTB menempati posisi dua terbawah mengenai tingkat literasi dan pendidikan. Hal ini terjadi akibat pernikahan dini, faktor ekonomi, serta pandangan bahwa pendidikan tidak terlalu penting,” ungkap mahasiswa asli Sumbawa NTB tersebut. Selain memperkenalkan SYE NTB, anak sulung dari tiga bersaudara ini juga mempresentasikan media pembelajaran menggunakan Monopoli Circle (MOCI) serta ide aplikasi pembelajaran agama Islam bernama Islamic Education Application by Android (MICADO). Adil bercerita bahwa selama empat bulan mengikuti perlombaan ini, ia tak mengalami kendala yang berarti. “Kendala pasti ada, namun tidak sampai menghambat saya selama perlombaan. Ini semua berkat dukungan keluarga maupun teman-teman seperjuangan saya di organisasi,” kata Adil. Di akhir sesi wawancara Adil mengatakan sangat bersyukur bahwa usahanya selama ini membuahkan hasil yang baik. Ke depannya ia bersama Kemenpora akan merealisasikan terbentuknya cabang organisasi SYE NTB di sepuluh kabupaten maupun kota. Selain itu Adil juga akan membangun desa-desa binaan di NTB. “Sampai saat ini telah ada 26 mahasiswa NTB yang tergabung dalam SYE NTB. Mahasiswa tersebut tersebar di berbagai daerah. Semoga dengan apa yang kami lakukan ini, selain mendorong tingkat literasi anak-anak NTB juga akan memberi pemahaman baru bahwa pendidikan itu sangat penting bagi masa depan,” pungkasnya. (syi/wil)