Tim Surya UMM Borong Juara Nasional di KJI dan KBGI

Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali berlaga di Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) 2021. Pada perlombaan yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) tersebut, Tim UMM berhasil memborong enam kejuaraan di empat kategori lomba yang berbeda. Raihan prestasi tersebut diumumkan pada Minggu (07/11) lalu. Salah satu anggota tim, Muhammad Kelvin Haidar Priyanka, menceritakan bahwa pada perlombaan tersebut UMM mengirimkan 15 proposal di empat kategori yang berbeda. Keempat kategori tersebut ialah KJI Rangka Baja, KJI Pelengkung, KBGI Kayu, dan KBGI Canai Dingin. Dari 15 proposal yang telah terkirim, terpilih empat proposal terbaik dan UMM berhasil menjadi finalis di masing-masing kategori. Kelvin sapaan akrabnya, mengatakan bahwa ia dan tim UMM memberikan inovasi dan terobosan baru dalam proposal pembangunan jembatan dan Gedung. Pada kategori jembatan rangka, mereka menambahkan dua batang vertical untuk mengurangi lendutan pada jembatan. Sementara pada jembatan pelengkung, mereka merancang pembangunan jembatan di Kutai Karta Negara sebagai ibu kota yang baru. “Untuk kategori gedung kayu, kami menggunakan alat sambung berupa pasak dari tusuk gigi agar sambungan balok-kolom lebih kokoh namun tetap mudah penggunaannya. Terakhir, di kategori gedung canai dingin, kami meletakkan sambungan kolom-kolom diantara dua lantai untuk mengurangi titik lemah pada bangunan,” jelas mahasiswa Teknik Sipil tersebut. Ia kembali menceritakan bahwa dalam mengikuti perlombaan, timnya menghadapi segelintir kendala. Salah satunya adalah pengiriman barang ke lokasi lomba yang diselenggarakan di Pontianak. Anak terakhir dari dua bersaudara ini mengaku cukup kesulitan membawa material-material yang nantinya akan digunakan ketika perakitan. Selain karena materialnya sangat besar, uang untuk pengiriman ke Pontianak juga tergolong mahal. Ditanya ihwal perlombaan, ia mengaku bahwa ada beberapa perbedaan lomba tahun ini ketimbang tahun lalu. Salah satunya adalah biaya transportasi dan penginapan yang kini harus ditanggung secara mandiri. Meski begitu, ia dan tim UMM bersyukur karena perjuangannya dapat memberikan hasil yang maksimal. Mereka mampu membawa pulang enam kejuaraan di empat kategori berbeda. “Kami memperoleh juara dua pada KJI Rangka Baja, juara dua pada KBGI Kayu, dan juara harapan satu pada KJI Pelengkung. Sementara itu pada kejuaraan kategori, kami meraih kategori metode pelaksanaan konstruksi pada cabang KBGI Canai Dingin, juara kategori kreativitas dalam rancang bangun, serta juara kategori bangunan masa depan, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” ujar mahasiswa asal Pasuruan tersebut. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kompetisi KJI dan KBGI sudah menjadi kegiatan tahunan bagi lembaga semi-otonom (LSO) Surya Team yang menaungi mahasiswa-mahasiswa UMM. Kelvin berharap tim Surya bisa mempertahankan raihan prestasi di tahun dengan dengan meloloskan proposal di smeua kategori. “Kami juga tentu berharap prestasi di perlombaan tahun depan bisa meningkat. Tahun ini kami belum dapat membawa pulang prestasi sebagai juara umum, tapi kami akan berusaha dengan keras agar mampu memenangkan juara tersebut,” pungkasnya. (syi/wil)

Mahasiswa UMM Juara Nasional Essay Penanganan Limbah Medis

Penggunaan masker di masa pandemi menyebabkan naiknya angka limbah B3. Melihat hal itu, Dinda Putri Savira, mahasiswa ilmu keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan terbosan melalui tulisan essay. Ia menuliskan rancangan aplikasi dengan sistem informasi manajemen pengelolaan sampah medis dan rumah tangga. Essay tersebut berhasil menjadi juara pertama dalam kompetisi nasional Public Health Student Affair 2021 yang dilaksanakan Universitas Sriwijawa Akhir Oktober lalu (30/10) Dinda, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa menurut data laporan dari Dinas Kesehatan dan Lingkungan, limbah medis telah mengalami peningkatan sebesar 30-50 persen. Menurutnya, hal itu menjadi masalah yang harus diselesaikan. Melalui aplikasi rancangannya, ada lima fitur pengelolaan limbah medis dan rumah tangga yang disediakan. Pertama, fitur pengenalan sampah yang bisa membedakan sampah. Kedua, yakni fitur disinfeksi yang memberikan informasi agar sampah disinfeksikan selama lima menit dan dilengkapi dengan timer. “Yang ketiga dan keempat adalah penanganan limbah infeksiusn serta fitur pewadahan dan pelabelan. Kemudian yang terakhir adalah fitur penanganan lanjutan yang memiliki dua opsi. Yaitu sarana penjemputan limbah infeksius dan penyimpanan sampah selama 48 jam untuk mereduksi infkesi dari sampah,” imbuhnya. Mahasiswi berasal dari Banyuwangi ini kembali menuturkan bahwa aplikasi ini memanfaatkan sistem location base service. Dengan begitu, aplikasi rancangannya ini akan menampilkan lokasi tempat pembuangan akhir (TPA). Sistem ini juga memungkinkan aplikasi untuk mengirim sinyal Ketika sampah yang sudah ada bisa diambil oleh tim sampah yang bertugas. “Dengan begitu, petugas kebersihan bisa tahu kapan sampah belum bisa diambil maupun sudah bisa diambil,” ujarnya. Selain itu, mahasiswa kelahiran Malang ini mengaku bahwa ini pertama kalinya ia Menyusun essay sendirian. Melihat hasil yang memuaskan, ia meyakini bahwa kemampuan yang dimilikinya bisa memberikan perstasi-prestasi lainnya. Ia berharap agar raihannya ini bisa menjadi pemacu bagu mahasiswa lain untuk berusaha meraih prestasi. Tidak puas dengan pengetahuan dan raihan yang sudah dicapai. “Saya juga sangat ingin agar aplikasi rancangan saya ini bisa direalisasikan. Mungkin nati bisa menggaet kerja sama dengan lain pihak, sehingga bisa terwujud dan mampu memebrikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Khususnya terkait penanganan limbah medis yang kini sedang naik,” ujarnya mengakhiri. (syi/will)