Dosen-Mahasiswa UMM Tulis Buku Kaji Pembelajaran Alternatif

Universitas Muhammdiyah Malang (UMM) terus mendorong dosen dan mahasiswanya untuk mengembangkan literasi. Kali ini, beberapa dosen dan mahasiswa Fakultas Psikologi UMM bersama-sama menyusun buku dengan judul “Mencari Pedagogi Kritis”. Buku ini telah dirilis pada Senin (15/11) lalu. Ahmad Sulaiman, S.Psi., M.Ed. sebagai inisiator menceritakan bahwa buku ini bermula dari acara bedah buku di Forum Baca Kritis, komunitas yang ia rintis. Adapun buku yang dibedah pada saat itu adalah buku berjudul “Pendidikan Kaum Tertindas” karya Paul Freire. Hasil dari rentetan diskusi-diskusi tersebut, munculah ide unutk menuliskan refleksi pedagogi kritis. Kemudian kumpulan tulisna tersebut dijadikan satu menjadi buku. “Tulisan-tulisan yang terkumpul tidak terbatas dari kalangan dosen saja. Adapula beberapa mahasiswa yang memberikan kontribusi tulisan,” tambahnya. Humada, pangilan akarabnya kembali menjelaskan bahwa buku ini bertujuan untuk mempopulerkan model pembelajaran pedagogi kritis. Model ini adalah alternatif pembelajaran yang memanusiakan para peserta didik. Juga mendorong mereka untuk aktif dalam pembelajaran yang sedang dilaksanakan. Hal lain yang ada dalam buku ini adalah bagaimana menentukanan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sekitar. “Pedagogi kritis adalah model pembelajaran alternatif yang memanusiakan peserta didik dan mendorong untuk aktif pada kehidupan sekitar, sehingga mampu menciptakan solusi dan menumbuhkan rasa empati,” pungkasnya. Di samping itu, tujuan lain buku ini adalah meluruskan makna dan pengertian dari pedagogi kritis. Mengingat makna yang selama ini tersebar di dunia maya berbeda dengan pengertian pedagogi kritis secara autentik. Dalam dunia maya, pedagogi kritis dipahami sebagai model pendidikan kritis terhadap kekuasaan. Menurut Humada perlu adanya pelurusan makna terkait pedagogi kritis ini. Dosen kelahiran Surabaya ini kembali menjelaskan bahwa kendala utama adalah memastikan tulisan tetap pada jalur yang mengkaji pedagogi kritis. Menurutnya, ada beberapa tulisan yang sedikit melenceng dari bahasan dan topik utama. Sehingga perlu adanya proses penyuntingan maksimal sembari memberi kritik dan saran pada penulis. Lebih lanjut, Humada mengungkapkan bahwa buku ini adalah karya pertama dari proyek pedagogi kritis, yang rencananya akan dialnjutkan perilisan buku kedua buldan depan. Ia berharap karya ini bisa menginspirasi dosen, mahasiswa, serta masyarakat luas untuk bisa menulis buku sendiri. “Tentu dengan adanya buku ini, saya berharap semakin meningkatnya minat mahasiswa dan dosen untuk menulis,” jelas Humada mengakhiri. (haq/wil)
FPP UMM-Moodco Kerjasama Buka Kelas Profesional Kakao

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meresmikan Centre of Excellence (CoE) baru. Kali ini, Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) menggaet PT. Kakao Bhineka Sejahtera (Moodco) untuk membuka kelas profesional kakao di prodi Ilmu Teknologi Pangan. Kerjasama tersebut tertuang dalam agenda memorandum of agreement (MoA) antara kedua belah pihak pada Rabu (1/12) lalu. Kemudian, adapula kuliah tamu terkait kakao yang diperuntukkan untuk para mahasiswa baru teknologi pangan. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengungkapkan bahwa masing-masing prodi di UMM memang diharuskan membuka kelas profesional dengan berkolaborasi bersama dunia industri. Pemilihan sebutan ‘sekolah’ dibandingkan ‘konsentrasi’ juga memiliki alasaan khusus. “Jika menggunakan sebutan konsentrasi, hanya aka nada mahasiswa ITP UMM saja di dalamnya. Berbeda jika kita menggunakan sebutan sekolah. Mahasiswa selain dari prodi ITP bisa turut serta. Begitupun dengan mahasiswa di luar Kampus Putih UMM,” jelasnya. Ia juga mengapresiasi FPP yang telah membangun ekosistem yang berorientasi pada entrepreneurship. Sebelumnya, FPP UMM sudah mendirikan beberapa CoE, mulai dari sekolah unggas, ruminansia, hingga sekolah udang. Kelas-kelas ini adalah fasilitas pendidikan yang juga sarana untuk menanamkan kompetensi kewirausahaan yang akan dimiliki para mahasiswa. “Kami ingin agar nanti pada tahun 2022, setiap prodi sudah memiliki CoE di berbagai bidang. Tidak hanya satu tiap prodi, tapi bisa lebih dari itu sehingga akan banyak opsi kelas profesional yang bisa diikuti. Baik oleh teman-teman mahasiswa UMM maupun mahasiswa lain,” imbuh Fauzan. Sementara itu, Dosen Teknologi Pangan Hanif Alamudin, S.Gz. M.Sc. menjelaskan bahwa akan ada beberapa kegiatan besar yang akan dilangsungkan. Pertama, yakni kelas profesional kakao yang bisa diikuti oleh para mahasiswa. Kedua, mahasiswa juga bisa melakukan riset bersama dosen, khususnya dalam pengembangan kakau dan produl turunannya. “Diharapkan riset ini bisa memberikan manfaat dengan menciptakan inovasi produk. Kemudian juga hilirisasi penelitian terkait kakao serta rencana untuk membentuk sentra kakao di masa depan,” ungkap Hanif. Pemilihan CoE kakao juga bukan tanpa alasan. Menurut Hanif, Indonesia adalah penghasil coklat biji kakao nomor enam se-dunia. Sementara untuk produk kakao dan turunannya, Indonesia menempati posisi ketiga. Maka pengembangan kakao memiliki potensi yang sangat bagus. Sayangnya, saat ini kakao produksi nusantara tidak bisa bersaing dengan kakao-kakao lain di level internasional. “Maka prodi membaca adanya peluang bagi saudara-saudara mahasiswa untuk berpartisipasi memajukan industry kakao. Salah satu caranya dengan menyelenggarakan keals profesional yang dimulai sejak hari ini,” tuturnya. Pada kesempatan itu, adapula kuliah tamu yang diisi oleh dua pemateri dari masing-masing pihak. Satu di antaranya disampaikan oleh Lois Merry Sujiati Wijianto, S.T., owner dari Moodco. Ia menjelaskan mengenai wawasan dan pengetahuan kakao serta prospek pengembangannya di Idndonesia. Sementara Dr. Ir. Damat, M.P. IPM dan Prof. Dr. Ir. Noor Harini, M.S. memberikan materi mengenai gambaran umum prospek prodi teknologi pangan untuk mahasiswa baru. (wil)