LPT Psikososial UMM Adakan Pelatihan Dasar Relawan Bencana

Tingkat potensi bencana yang dimiliki Indonesia cukup tinggi. Melihat hal itu, Laboratorium Psikologi Terapan (LPT) Psikososial Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melangsungkan pelatihan dasar psikososial untuk mahasiswa. Agenda tersebut dilaksanakan pada Sabtu (27/11) lalu, bertempat di Aula BAU UMM dengan format bauran daring dan luring. Dalam keterangannya, perwakilan LPT Psikososial UMM Alifah Nabilah Masturah, M.A., menyampaikan tujuan dari pelatihan ini. Di antaranya untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas mahasiswa Fakultas Psikologi mengenai kesiapsiagaan bencana dan layanan dukungan psikososial unutk penyintas. Hal itu tidak lepas dari potensi bencana Indonesia yang cukup tinggi. “Kami ingin agar para peserta bisa menyerap banyak wawasan dan pengetahuan baru. Sehingga sudah siap ketika diminta menjadi bagian dari dukungan psikososial. Kami juga berharap agar pelatihan ini bisa menumbuhkan semangat siap, tanggap, dan tangguh bencana,” jelas Alifah. Pada agenda tersebut, ada enam materi yang disampaikan kepada para peserta. Mereka dibekali materi terkait self-care dan kode etik relawan serta kesehatan mental dan layanan dukungan psikososial. Selain itu adapula dasar-dasar asesmen, teori dan praktek dukungan psikologis awal serta teknik pelaporan. Terakhir, para peserta juga dibekali dengan pemahaman mengenai teknik fasilitasi. Adib Asrori, M.Psi selaku pemateri berpesan bahwa sebelum membantu orang lain, hal pertama yang perlu disadari adalah memperhatikan kondisi fisik dan psikologis diri sendiri. Maka, menurutnya para peserta harus sudah menyiapkan diri fisik dan mental, sehingga bsia memberikan manfaat maksimal kepada orang lain. “Be mindfull and take care of yourself first. Setelah itu baru teman-teman bisa memberikan bantuan ke sesama,” tuturnya menjelaskan. Sementara itu, pemateri lain Muhammad Fath Mashuri, M.A menjelaskan mengenai dasar-dasar asesmen. Tahap ini akan menjadi dasar untuk pendampingan psikologis penyintas lebih lanjut. Fath, panggilan akrabnya juga menuturkan ada beragam metode dan instrumen dalam melakukan asesmen dalam situasi bencana. Salah satu instrumen yang bisa digunakan adalah orientasi komunal masyarakat setempat. Jenis ini mengungkap kapasitas masyarakat setempat untuk saling membantu dan menjaga di masa krisis pasca bencana. Sementara itu, salah satu peserta, Baiq Santi Ayu Safitri merasa senang bisa mengikuti pelatihan dasar psikososial ini hingga akhir. Banyak manfaat yang bisa ia serap, mulai dari menjadi relawan yang baik hingga teknik-teknik psychological first aid. “Apalagi para pemateri yang dihadirkan adalah mereka yang sudah berpengelaman terjun langsung dalam situasi bencana serta komunikatif sehingga membuat kami nyaman dalam mengikuti pelatihan,” ungkapnya menjelaskan. (wil)

UMM Selenggarakan Kompetisi Pencak Silat Nasional

Kampus Putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses selenggarakan lomba pencak silat tingkat nasional secara virtual. Perlombaan yang diadakan pada Minggu (18/11) lalu ini disiarkan secara live streaming melalui kanal Youtube UMM Championship 2021. Adapun kejuaraan ini diikuti oleh puluhan atlet dari berbagai universitas yang ada di Indonesia. Ketua penyelenggara lomba, Rafif Naufal Sembiring mengatakan bahwa persiapan perlombaan ini berlangsung cukup singkat. Mereka hanya membutuhkan waktu persiapan kurang dari satu bulan. Dalam rentang waktu tersebut, tim panitia berhasil mempersiapkan lomba untuk dua kategori, yaitu kategori tunggal putra dan putri serta kategori beregu. “Awalnya kami sempat pesimis bahwa lomba ini akan diikuti oleh banyak tim. Pasalnya lomba ini dipersiapakan hanya dalam waktu 28 hari. Meski begitu, kami bersyukur dalam waktu yang relatif singkat ada 20 universitas yang mendaftarkan diri baik di kategori tunggal maupun beregu,” ujar mahasiswa Fakultas Hukum tersebut. Lebih lanjut, Rafif panggilan akrabnya menceritakan bahwa panitia sempat mengalami kendala pada pemilihan juri. Awalnya tim panitia ingin meminta juri dari Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) pusat. Namun karena agenda yang berdekatan dengan Pekan Olahraga Nasional (PON) akhirnya tim juri di ganti dengan IPSI Kota Malang. “Kami sempat terkendala ketika mengajukan juri ke IPSI Jawa Timur. Hal ini terjadi karena para juri di IPSI pusat baru saja merampungkan penjurian di PON. Akhirnya, karena waktu semakin menipis, kami akhirnya meminta juri dari IPSI Kota Malang,” ungkap mahasiswa asal Medan itu. Di akhir wawancara, Rafif mengaku bersyukur bahwa kompetisi ini di sambut baik oleh berbagai kalangan. Meski proses persiapannya yang singkat, kompetisi pencak silat ini dapat berjalan dengan lancer dan tanpa kendala berarti. Pada kejuaraan tersebut, prestasi membanggakan ditorehkan oleh perwakilan Kampus Putih UMM. Mereka mampu menjadi juara umum pertama dengan perolehan medali yang dicapai. Di antaranya empat medali emas, dua medali perak, serta dua buah medali perunggu. “Saya mengucapkan terima kasih pada para panitia yang sudah bertugas dengan sangat baik. Tentu, masih banyak aspek yang harus diperbaiki. Dengan begitu, kejuaraan selanjutnya bisa memberikan hasil yang lebih positif. Kami juga berharap gelaran UMM Championship utamanya pencak silat bisa menjadi kegiatan tahunan. Semoga dari persaingan di kompetisi ini, muncul atlet-atlet yang bagus dan profesional,” tandasnya mengakhiri. (syi/wil)