Workshop Drafting Paten UMM Lindungi Produk Penemuan Akademisi

Dalam beberapa tahun terakhir, para dosen dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) aktif menciptakan berbagai produk penelitian. Namun pemahaman mengenai perlindungan sistem Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dirasa belum merata di kalangan para peneliti. Oleh karena itu, UMM memberikan solusi melalui Workshop Drafting Paten bersama Direktorat Jendral Kekayaan Intelektual (DJKI) pada Kamis (06/12). Salah satu pemateri, Dra. Dede Mia Yusanti, M.L.S.. mengatakan bahwa penelitian dari perguruan tinggi yang dipatenkan meningkat dari tahun ke tahun. Sayangnya, di lapangan ada beberapa tantangan yang harus di hadapi para peneliti. Utamanya terkait pendaftaran hak paten produk ciptaannya. Selain itu kurangnya pemahaman terhadap perlindungan paten serta banyaknya peneliti yang hanya mengejar publikasi ilmiah dibandingkan pendaftaran paten. “Peneliti di perguruan tinggi lebih banyak melakukan penelitian dasar daripada penelitian  terapan. Kemampuan mereka untuk membuat drafting efektif juga masih kurang. Kemudian tantangan terakhir adalah mereka belum terbiasa melakukan penelitian yang berorientasi pada komersil,” ungkap Direktur Paten DTLST dan Rahasia Dagang DJKI itu. Dalam rangka pembuatan drafting paten yang efektif, Aziz Saefulloh, S.T. menjelaskan bahwa ada tujuh tahap pembuatan drafting. Tahap-tahap tersebut meliputi penelusuran, pembuatan gambar teknik, penyusunan klaim, dan penyusunan uraian lengkap mengenai invensi. Sleain itu juga penyusunan latar belakang invensi, penyusunan uraian lengkap gambar, lalu penyusunan abstrak.“Teori pembuatan spesifikasi paten ini berlaku untuk semua bidang. Pembeda antara bidang satu dengan bidang yang lain hanyalah di bagian kepenulisan saja,” ujar Pemeriksa Paten Bidang Teknik DJKI tersebut. Di lain sisi, Wakil Rektor satu UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si, mengatakan bahwa para peneliti UMM dinilai telah melahirkan banyak karya akademik. Namun yang menjadi masalah adalah kurangnya komersialisasi dan perlindungan terhadap karya-karya tersebut. oleh karenanya, workshop tentang paten ini menjadi salah satu momen yang sangat strategis. “Dalam islam sendiri, kita di diperintahkan untuk melindungi harta benda pribadi. Hal ini juga termasuk karya-karya yang kita kembangkan. Caranya untuk melindungi karya kita adalah melalui hak paten. Semoga dengan adanya workshop ini dapat meningkatkan jumlah karya akademisi UMM yang dipatenkan,” pungkasnya. (syi/wil)

Dosen UMM Kaji Fenomena Spirit Doll Sederet Artis Tanah Air

Trend adopsi spirit doll atau boneka arwah di kalangan artis tanah air menjadi perbincangan hangat beberapa hari terakhir. Boneka arwah tersebut diperlakukan layaknya anak sungguhan dengan diberi pakaian bagus serta aksesoris. Bahkan salah seorang selebritis memiliki jadwal rutin untuk memandikan dan menjemur dua spirit doll yang diadopsinya. Melihat dari perspektif psikologi, Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Dra. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., mengatakan bahwa setiap manusia, sebagai makhluk sosial, memiliki kebutuhan psikologis tertentu yang berkaitan dengan relasinya dengan orang lain. Ia melihat bahwa orang-orang yang mengadopsi boneka arwah tersebut kemungkinan karena merasa kesepian, tidak memiliki teman untuk bercerita, atau memiliki kebutuhan untuk menyalurkan kasih sayang. Namun tidak bisa terpenuhi karena ada hambatan-hambatan tertentu. Misalnya saja tidak memiliki anak padahal sangat menginginkannya atau kesulitan dalam menjalin kedekatan dengan orang lain. Jika semua kebutuhan psikologis ini  terpenuhi, maka seseorang biasanya tidak akan mencari benda mati sebagai pengganti. “Kemungkinan, mereka tidak dapat menjalin kedekatan yang memuaskan dengan orang lain, keterampilan sosial rendah, ataupun tidak memiliki rasa percaya pada orang untuk menceritakan isi hatinya. Bisa juga karena adanya keinginan untuk menyalurkan rasa kasih sayang dan merawat orang lain namun tidak terpenuhi. Hal-hal itulah yang mendorong beberapa orang mencari alternatif lain sebagai pengganti teman yaitu spirit doll,” ungkap dosen kelahiran Jakarta tersebut. Naning  melihat bahwa fenomena adopsi boneka arwah ini mirip dengan orang yang memilih memelihara dan menjalin kelekatan dengan hewan peliharaan. Hanya saja objek yang dipilih berbeda. Ia juga melihat bahwa pengadopsi boneka arwah tidak bisa dikatakan mengalami kelainan mental sepanjang fungsi-fungsi psikologisnya masih berjalan normal. Begitupun denganproses pikir yang masih koheren dan tidak mengganggu perannya dalam menjalani kehidupan. Disampaikan Kepala Prodi Magister Psikologi Profesi UMM itu bahwa dalam mendiagnosis apakah seseorang memiliki masalah mental perlu melihat banyak faktor. Salah satunya melalui gejala-gejala yang tidak normal. Tidak hanya seberapa banyak jumlah gejala, namun juga melihat intensitas dari gejala-gejala tersebut. “Mungkin ada yang sekadat ikut-ikutan. Trend spirit doll juga bisa menjadi pemenuhan kebutuhan psikologis yang tidak dapat dipenuhi karena adanya hambatan tertentu. Sesekali bercerita pada boneka arwah mengenai beban hidup boleh-boleh saja. Namun yang terpenting adalah bagaimana mengatasi hambatan-hambatan psikologis itu. Sehingga dapat menyalurkan kebutuhan psikologis dengan cara yang lazim,” tuturnya. Lebih lanjut, Naning mengungkapkan bahwa labeling negatif yang diberikan masyarakat dapat juga menyebabkan para pengadopsi boneka arwah menjadi tertekan. Alih-alih memberi label tidak waras, akan lebih bijak kalau lingkungan sekitar mencoba memahami alasan atau penyebab mengapa orang tersebut memilih untuk mengadopsi spirit doll. “Jika kita tahu akar penyebab seseorang memilih boneka arwah, kita jadi tahu cara untuk membantu mengatasinya. Misalnya, jika seseorang tersebut memilih boneka arwah karena merasa kesepian dan kehilangan rasa percaya pada orang lain, maka kita bisa membantu untuk meningkatkan keterampilan sosialnya agar bisa menjalin pertemanan dan kedekatan dengan orang lain. Jadi, mencari tahu  dan memahami penyebab utama adalah hal yang terpenting,” tandasnya. (syi/wil)