Ahda, Mahasiswa UMM yang Raih Beasiswa IISMA ke Negeri Gajah Putih

Siapa yang tak ingin merasakan studi di luar negeri? Hal serupa juga menjadi mimpi Ahda Mutiari Hifdhi, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Beruntung, berkat kerja keras dan dukungan kampus, ia berhasil menggapai menimba ilmu di negara orang, yakni Thailand. Kini, ia tengah menjalani perkuliahan selama satu semester di Prince of Songkla University, Kota Hat Yai, Provinsi Songkla berkat program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA). Meski sama-sama berada di wilayah ASEAN, Indonesia dan Thailand ternyata juga memiliki beberapa perbedaan. Beruntung, Ahda memiliki buddy, yakni teman yang membantu mengenalkan beragam budaya dan kultur di universitas, utamanya di mengambil Faculty of Management Science, Prodi Bachelor Business Administration (BBA). Berbekal pengalaman di Kampus Putih UMM, ia bisa dengan cepat beradaptasi di lingkungan Negeri Gajah Putih tersebut. Memiliki teman, bermain dan belajar bersama, bahkan juga berjalan-jalan mengunjungi beberapa tempat menarik. Hal itu tentu menambah networking yang Ahda miliki. Satu dari sederet kendala yang ia hadapi adalah sukarnya memahami bahasa inggris yang diucapkan oleh orang-orang Thailand. Apalagi jika logat yang dimiliki cukup kental. Alhasil ia harus berkali-kali meminta lawan bicaranya untuk mengulangi. “Alhamdulillah, setelah beberapa hari saya sudah mulai terbiasa mendengarkan bahasa Inggris yang kental dengan logat Thailand. Apalagi ternyata banyak yang bisa berbahasa melayu sehingga mempermudah komunikasi,” tuturnya. Perihal makanan, Ahda menilai bahwa mencari makanan halal tidak begitu sulit. Ia dapat mendapatkannya dengan mudah di toko-toko sekitar tempat tinggalnya. Namun ia sedikit kesulitan untuk menemukan masjid dan mushola. Ia biasanya beribadah di kediaman atau juga di ruangan-ruangan kosong. Namun, untuk mendapatkan beasiswa dan fasilitas yang dinikmati, Ahda harus bersusah payah untuk mempersiapkannya. Satu di antaranya adalah persiapan berkas administrasi yang bejibun. Ditambah lagi dengan proses wawancara yang bikin jantungnya deg-degan. “Beruntung, International Relation Office (IRO) UMM sangat membantu saya untuk mempersiapkannya. Beberapa kali memberikan masukan dan tips agar memperbesar kemungkinan saya diterima di IISMA ini,” jelas Ahda. Mahasiswa asal Purwokerto, Jawa Tengah ini berharap kedepannya pembelajaran di Thailand bisa berjalan luring karena sampai saat ini masih sangat dibatasi. Kebanyakan berjalan secara daring sehingga pengalaman interaksi secara langsung kurang dirasakan. “Karena kuliah masih online, jadi saya belum berinteraksi langsung dengan mahasiswa lainnya. Semoga bisa segera luring, jadinya saya bisa merasakan sensasi kuliah di luar negeri sebenarnya,” jelasnya. (haq/wil)
Kelas Unggas UMM Ajarkan Manajemen Krisis Bisnis Ayam Petelur

Dalam rangka menjawab permintaan dunia industri, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) siapkan berbagai skema pelatihan bersama dunia usaha. Salah satunya adalah Kelas Professional Unggas (KPU) yang mengadakan pelatihan manajemen krisis bisnis ayam ras petelur bersama Perseroan Terbatas (PT) Jatinom Indah Farm (JIF). Acara ini dilakukan di Rumah Makan Joglo Jatinom, Blitar, pada awal Januari ini. Salah satu perwakilan dari PT JIF, Sigit Prasetyo, SE., mengatakan bahwa pelatihan ini berupaya mendorong para lulusan sarjana peternakan agar semakin siap bekerja di dunia Industri. Sebanyak 20 peserta kelas unggas yang sebelumnya mendapatkan pelatihan, kini kembali diikutsertakan dalam program manajemen krisis ini. “Para peserta akan dididik langsung oleh pihak industri sehingga bisa membangun mental yang tangguh. Selain itu juga bisa terbiasa dengan ritme kerja yang ada di lapangan nantinya,” ungkap Instruktur pelatihan manajemen krisis tersebut. Sigit, sapaan akrabnya mengatakan bahwa program tersebut dilakukan dengan sistem student center learning. Peserta diberikan beberapa contoh kasus krisis yang pernah terjadi di Indonesia mulai tahun 1960-an hingga kasus yang terjadi pada tahun 2021. Hal itu akan membantu para peserta untuk memahami apa yang sedang terjadi pada saat krisis tersebut dan bagaimana cara untuk mengatasinya. “Dalam berbisnis, kita harus mampu mengukur nafas sendiri-sendiri. Jangan pernah gengsi dalam berbisnis. Untuk mendorong bisnis selalu berkembang, saya berharap para peserta dapat mengupayakan hal-hal baru dari waktu ke waktu,” ungkapnya di akhir pelatihan. Salah satu peserta pelatihan, Rizqi Baldan Thoyiban, mengatakan bahwa selama menjalani program magang di PT. JIF ia mendapat banyak pengalaman lapangan yang tidak akan ia dapatkan di kelas biasa. Magang ini turut serta memberinya berbagai ilmu baru mengenai manajemen krisis bisnis ayam seperti pengelolaan uang, waktu, dan pakan. Ketiganya harus disesuaikan agar bisnis yang berjalan bisa terus konsisten. “Meskipun tergolong singkat yakni hanya beberapa jam saja, namun pelatihan ini membuka mata saya mengenai berbagai kendala di bisnis ayam ras petelur dari tahun 60an. Semoga dalam membuka bisnis, kami mampu menerapkan ilmu-ilmu yang diterima dalam proses magang enam bulan ini,” kata mahasiswa jurusan Peternakan tersebut. (syi/wil)