UMMTalks Hadirkan Robert John Pope, Doktor Australia yang Belajar Islam

Mempelajari Islam dan masuk ke dalam komunitasnya adalah hal yang berbeda dengan apa yang ditampilkan oleh media massa. Seringkali keduanya bertolak belakang dan menyebabkan persepsi yang keliru. Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. Robert John Pope, M.Pd.I. dalam acara UMMTalks yang disiarkan langsung melalui akun resmi Youtube Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akhir Januari lalu. Adapun Robert adalah salah satu wisudawan Doktoral dari Australia di bidang Pendidikan Agama Islam (PAI) yang lulus di awal tahun ini. Robert, sapaan akrabnya becerita bahwa ia sudah dari lama tertarik dengan sejarah Islam. Mulai dari kisah yang ada di Alquran, utamanya yang berhubungan dengan kitab-kitab sebelumnya. Bahkan ia juga sempat mengambil beberapa pendidikan non-formal. Baik secara otodidak maupun yang diajarkan oleh orang lain. Hingga akhirnya Robert memutuskan untuk mendalami Islam di Kampus Putih UMM. “Islam memiliki interkoneksi hubungan dengan kitab-kitab sebelumnya. Hal ini membaut saya makin tertarik dan segera mengambil pendidikan formal untuk memahami bagaimana Islam itu,” tambahnya. Meski Islam muncul di timur tengah, tepatnya di Arab Saudi, namun Robert akhirnya menjatuhkan pilihan di Indonesia. Salah satu alasan yang ia kemukakan adalah jarak Australia dan Indonesia yang realtif dekat sehingga memudahkannya dalam melakukan penelitian. Selama belajar Islam, ia merasakan dan mendapatkan berbagai pespektif baru karena memang berada di tenagh-tengah komunitas muslim. Berbeda halnya jika belajar dan berada di luar komunitas, maka ia hanya akan mencapai pada tahap asumsi yang dibuat. Ia menyadari bahwa Islam pada kenyataannya sangatlah beragam. Hal inilah yang tidak disadari oleh dunia barat. “Sejauh yang saya pelajari Islam tidaklah monolitik (satu pandangan) melainkan memiliki beragam perspektif dan pandangan dalam beragama. Interaksi yang saya lakukan dengan komunitas muslim di sini membuat saya lupa akan perbedaan. Hingga akhirnya saya juga lupa dengan Islam yang biasanya diberitakan oleh media massa,” terang Robert. Pria asal Sydney, Australia ini kembali bercerita bahwa selama berkuliah di UMM ia sama sekali tidak emrasa dipaksa untuk menutupi pandangannya. Malah didorong untuk selalu kritis dan dinamis dalam berpikir. Sehingga muncul pertanyaan-pertanyaan baru yang mnejadi sumber diskusi dengan teman-teman lainnya. “Saya tidak pernah sekalipun dibatasi untuk berpendapat. Malah didukung dan mendapatkan banyak perspektif baru selama berkuliah. UMM juga senantiasa mendukung dan memfasilitasi dengan baik selama saya belajar di sini,” pungkasnya. (haq/wil)
Tongat, Dekan UMM yang Jadi Ketua Forum Dekan FH PTM dan STIH Nasional

Terpilih selama dua periode berturut-turut, Dr. Tongat, SH., M.Hum. kembali menduduki jabatan ketua Forum Dekan Fakultas Hukum Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) periode 2022-2024. Pemilihan ini dilakukan dalam acara Musyawarah Naional (Munas) keempat yang dilangsungkan oleh Forum Dekan PTM dan STIH di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat pada pertengahan Januari lalu. Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini menjelaskan bahwa forum tersebut merupakan perkumpulan seluruh dekan fakultas hukum universitas Muhammadiyah dan sekolah tinggi hukum se-Indonesia. Terdapat 43 fakultas hukun yang tergabung dalam forum tersebut. Secara resmi dibentuk pada tahun 2015, forum ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di masing-masing perguruan tinggi. “Forum ini ada sebagai wadah untuk saling berbagi ide dan gagasan terkait kurikulum dan proses pembelajaran. Kegiatan itu pula lah yang diharapkan dapat mendorong dan menyamakan akreditasi dan kualitas dari 43 fakultas di forum ini,” ungkap dosen kelahiran Banjarnegara tersebut. Selain berfokus pada peningkatan mutu pendidikan, Tongat mengatakan bahwa forum ini juga aktif merespon isu-isu terkini. Saran serta masukan terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) juga turut forum ini suarakan kepada pemerintah. “Beberapa isu terbaru yang sudah kami bahas adalah RUU Omnibuslaw, RUU PKS, dan beberapa RUU lainnya,” kata Tongat melanjutkan. Di periode keduanya ini, Tongat ingin merapatkan kesenjangan yang terjadi di fakultas hukum antar universitas anggota. Dengan begitu, semua yang turut serta dalam forum ini bisa berjalan bersama memperbaiki dan meningkatkan kualitas. Sehingga mampu melahirkan lulusan-lulusan mumpuni, cakap dan mandiri. Usaha menyamakan akreditasi juga dicanangkan olehnya di periode kedua tonggak kepemimpinan. Terakhir, ia juga menyinggung mengenai rekognisi internasional yang harus segera dicapai oleh fakultas hukum yang sudah landing mendapatkan akreditasi Unggul. Maka, pihaknya sudah menyiapkan workshop, pelatihan serta pendampingan mutu akreditasi internasional. “Dua hal itu adalah pekerjaan rumah dan amanah yang diamanatkan oleh teman-teman pada masa jabatan saya yang kedua ini. Semoga bisa terealisasi dan memberikan manfaat bagi semua anggota,” pungkasnya. (syi/wil)