Mengunjungi Rooftop Rayz Hotel UMM, Tempat Nongkrong Nyaman di Malang

Rayz Hotel menjadi salah satu unit bisnis terbaik yang dimiliki oleh Universiats Muhammadiyah Malang (UMM). Dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang memanjakan, hotel bintang empat ini terus berbenah dan memberikan pelayanan terbaik. Satu spot menarik yang dimiliki adalah Sky Rooftop yang ada di lantai paling atas hotel satu ini. Keluar dari lift, kita akan disambut apik dan diarahkan menuju meja dan dijamu dengan baik. Sky Rooftop ini diklaim bisa menampung sekitar 80 orang. Maka tidak jarang acara serta meeting sering dilaksanakan di lokasi tersebut. “Sky Rooftop ini terbuka untuk umum. Siapa saja boleh mengunjungi dan menikmati hidangan serta pemandangan yang kami suguhkan. Begitupun dengan para tamu yang memang stay di hotel. Kami selalu buka setiap hari pada pukul sebelas siang hingga jam sepuluh malam,” jelas Manajer Hotel Rayz Yanuar Arifien. Selain hidangan lezat dan pemandangan lanskap Malang, para tamu juga bisa bermain permainan seru yang sudah disediakan. Membaca beragam majalah dan buku yang sudah disiapkan dengan iringan live music. Yan, panggilan akrabnya mengatakan bahwa para foodvlogger juga bisa datang dan mengeskplor beragam masakan terbaik yang disajikan dengan harga yang cukup terjangkau. “Ada dua makanan favorit yang mungkin bisa jadi pilihan yakni nasi bakar kemangi dan barbeque platter. Utamanya hidangan kedua yang banyak pengunjung menyukainya. Ada juga macam-macam kopi yang bisa dicoba, mulai dari jenis kopi kintamani hingga semeru. Harga makanan yang disediakan juga cukup terjangkau, mulai dari 30 ribu rupiah hingga 120 ribuan dengan rata-rata 50an ribu,” tambahnya. Adapun Rayz Hotel UMM baru saja merekrut chef baru dengan pengalaman yang mumpuni. Dijelaskan Yan, chef baru tersebut memiliki kemampuan memasak yang baik di berbagai menu masakan. Utamanya menu-menu chinese food dan masakan lokal. “Kami tiap dua bulan sekali selalu memperbarui tema yang ad di Sky Rooftop. Untuk Januari dan Februari ini kami mengambil konsep asian week. Kemudian nanti di dua bulan ke depan kami akan menyiapkan konsep ramadan dengan masakan-masakan lokal yang enak,” imbuh pria asli Malang tersebut. Yan berharap, Sky Rooftop ini dapat memotivasi kawan-kawan untuk lebih meningkatkan kualitas produk dan layanan. Jika sudah memiliki pelayanan yang bagus, maka otomatis juga mendapatkan imrpesi yang baugus. “Adapun makanan yang enak dan lezat tentu akan mendorong tamu untuk datang kembali,” pungkas Yan. (wil)
Kolaborasi Lima PTM, Dosen UMM Ini Teliti Bahan Baku Obat Alternatif

Kolaborasi yang bagus dilakukan oleh lima Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Mereka kini berupaya melaksanakan penelitian ekstraksi eceng gondok dan kulit jeruk untuk bahan baku obat. Salah satu penggasnya yakni Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) apt. Dra. Uswatun Chasanah, M.Kes. Proposal penelitian yang ia gagas bersama rekan-rekannya berhasil lolos tahap pendanaan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Muhammadiyah Aisyiyah (APTFMA). Adapun seleksi pemberian hibah tersebut melibatkan seluruh Universitas Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Indonesia. Ina, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa Industri farmasi Indonesia sampai saat ini masih bergantung pada impor pasokan bahan baku obat dari luar negeri. Kurang lebih ada sekitar 90% bahan baku pembuatan obat tablet bukan berasal dari dalam negeri. Maka menurutnya, Indonesia perlu segera mengembangkan bahan-bahan yang berpotensi menjadi bahan baku pembuatan obat. “Jika penelitian eceng gondok dan kulit jeruk ini mendapat hasil yang bagus, kedua bahan tersebut tentu dapat membuat harga-harga obat menjadi lebih murah. Hal ini dikarenakan harga kedua bahan baku obat tersebut relatif tidak mahal ketimbang bahan impor dari luar negeri,” kata dosen kelahiran Batu tersebut. Lebih lanjut, Ina juga menuturkan eceng gondok dan kulit jeruk dipilih karena mengandung serat selulosa dan tinggi akan kandungan antioksidan. Keduanya juga dapat memiliki pertumbuhan yang cepat dan cukup mudah didapatkan. Kelebihan ini dinilai dapat mempermudah proses pembuatan obat baik dalam skala laboratorium maupun skala industri. “Eceng gondok diketahui memiliki kandungan selulosa yang tinggi yaitu 60% selulosa, 8% hemiselulosa, dan 17% lignin. Sedangkan kulit jeruk mengandung selulosa sebesar 5,36%. Dengan adanya persentase selulosa yang cukup besar, menjadikan kedua bahan alam ini dapat digunakan untuk bahan baku sediaan farmasi,” katanya. Selain UMM, penelitian ini juga diinisiasi oleh empat dosen dari universitas yang berbeda yaitu Universitas Muhammadiyah Lamongan, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, Universitas Muhammadiyah Bandung, dan Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon. Dijelaskan oleh Ina, sampai saat ini penelitian yang dilakukan telah mencapai tahap ekstraksi kulit jeruk dan eceng gondok. “Saya tentu berharap penelitian yang kami upayakan ini mampu menghasilkan hasil posotif. Sehingga industri farmasi Indonesia dapat memiliki alternatif lain dalam bahan baku obat. Pun membuat masyarakat bisa mendapatkan obat dengan harga yang relatif lebih terjangkau,” tandasnya. (syi/wil)
RBC UMM Kenalkan Olahan Kopi dan Eksperimen Pasta Gigi Gajah

Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar kembali turun memberikan wawasan baru bagi masyarakat. Terbaru, mereka melakukan kunjungan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah 06 DAU (SMPM 06 DAU) dengan membawa mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun kegiatan yang dilaksanakan pada awal Februari lalu itu menyasar para siswa. Selain menyuguhkan buku lewat perpustakaan keliling yang ada di mobil KaCa, tim RBC juga mengenalkan macam-macam jenis olahan kopi. Selain itu juga melakukan eksperimen pasta gigi gajah. Tiga suguhan tersebut nyatanya dapat menaikkan antusiasme dan keingintahuan para siswa yang mengikutinya. Menurut tim RBC Muhammad Farros Imaroh, Indonesia memang memiliki beragam jenis kopi. Hal itu dirasa sangat menarik, apalagi dengan banyaknya coffe shop yang menjamur di Malang Raya. Para siswa juga diajak untuk membuat kopi secara langsung dengan teknik-teknik tertentu. Kemudian mencicipi kopi hasil buatannya bersama-sama. “Dengan memahami jenis-jenis kopi, para siswa nantinya bisa melakukan kegiatan lanjutan seperti kewirausahaan atau juga penelitian terkait kopi itu sendiri. Siapa tahu nanti ada bibit-bibit pebisnis kopi yang berhasil,” tambahnya. Berbeda dengan Faros, Dwi Putri Ayu Wardani mengenalkan eksperimen pasta gigi gajah kepada para siswa. Adapun nama pasta gigi gajah diambil dari hasil reaksi yang menyerupai pasta gigi. Begitupun dengan kemasannya yang berukuran jumbo. “Busa yang dihasilkan cukup unik karena gelembung busa kecil memiliki kandungan oksigen. Adapun bahan ragi kering berperan sebagai katalis sebagai pemecah rantai oksigen dari hidrogen peroksida. Reaksi cepat yang terjadi mengakibatkan adanya banyak gelembung,” imbuh Ayu menjelaskan. Ayu, panggilan akrabnya mengatakan bahwa para pelajar terlihat antusias menyambut kedatangan mobil KaCa UMM. Mereka mengikuti rangkaian agenda dengan menerapkan protokol kesehatan ketat demi menekan angka penularan Covid-19. Adapun kegiatan tersebut dilaksanakan dua kali dalam sebulan dengan mengunjungi berbagai sekolah yang ada di Malang maupun luar daerah. Tidak hanya menyuguhkan layanan perpustakaan keliling, tim RBC juga mengadakan aktivitas menarik untuk meningkatkan keingintahuan dan minat baca masyarakat. Sementara itu, Ketua Tim RBC Maharina Novia Zahro mengatakan bahwa kegiatan ini juga diharapkan mampu mengenalkan RBC yang berlokasi di perumahan Permata Jingga. Menurutnya, rumah baca yang disediakan tidak eksklusif hanya disuguhkan bagi kawasan elit semata. Namun seluruh lapisan masyarakat dapat mengunjungi dan membaca beragam buku yang ada di dalamnya. “Semoga upaya-upaya kami ini bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya anak-anak. Paling tidak bisa meningkatkan minat baca yang nantinya juga berakibat pada naiknya literasi mereka. Tentu kami juga akan terus menyediakan buku-buku berkualitas yang menambah ilmu dan wawasan,” pungkasnya. (*/wil)
Peluang Usaha Baru, Prodi Kehutanan UMM Buka CoE Essential Oil

Essential oil merupakan produk hasil hutan yang mempunyai nilai jual tinggi. Namun di Indonesia, penggunaannya masih banyak mengandalkan hasil impor dari negara lain. Melihat peluang tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyediakan program kelas Center of Excellence (CoE) Essential Oil. Adapun program ini dibuka untuk mahasiswa UMM dan nantinya juga untuk masyarakat yang ingin mendalami aspek terkait. Ketua Program Studi (Prodi) Kehutanan, Galit Prakosa, S.Hut., M.Sc. mengatakan bahwa program ini digagas agar mahasiswa memiliki keterampilan kerja lapangan secara langsung. Utamanya bersama beberapa industri dan dunia kerja (Iduka) yang sudah digaet. Pemilihan essential oil sendiri juga bertujuan agat dapat membuka peluang wirausaha bagi para peserta. Apalagi hanya ada segelintir pihak saja yang menggelutinya. “Sampai saat ini, prodi kehutanan sudah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) bersama sederet perusahaan. Salah satunya yakni PT. Pemalang Agro Wangi (PAW). Dalam waktu dekat, kami juga akan mengajak perusahaan-perusahaan lain untuk mengembangkannya. Saat ini pun kami sudah menjajaki kerja sama bersama PT. Lantai Hutan dan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro),” ungkap Galit. Lebih lanjut, dosen kelahiran Madiun tersebut mengatakan para peserta nanti akan diajari proses penanaman biji atsiri sampai pemasaran produk essential oil ke masyarakat. Pengajaran dari hulu ke hilir ini dilakukan agar mereka lebih paham masing-masing tahapan produksi. Adapun untuk tahun-tahun awal, peserta hanya akan diambil dari mahasiswa UMM. Namun, tidak menutup kemungkinan akan dibuka untuk masyarakat umum. “Selain UMM, sebenarnya ada beberapa lembaga pembelajaran lain yang berfokus pada produksi essential oil. Namun proses pembelajarannya hanya terbatas pada sampel-sampel di beberapa tahapan produksi. Berbeda dengan kelas CoE UMM yang mana akan memberikan paparan pada masing-masing tahapan,” kata Galit. Adalun lama pelaksanaan program ini sekitar dua semester. Semester pertama para peserta akan dikirim ke beberapa industri untuk melakukan magang. Selain itu juga mendapat materi langsung dari pihak industri. Kemudian pada semester kedua, mereka diminta untuk menerapkan langsung ilmu yang didapat di daerah Pujon Hill. “Tak hanya mendapat keterampilan pengolahan essential oil, mahasiswa yang dirasa memiliki kemampuan unggul kemungkinan besar akan direkrut oleh dunia industri. Saya tentu berharap, program ini dapat membantu keterserapan lulusan Kampus Putih menjadi tenaga kerja di bidang essential oil. Disamping itu juga dapat memberikan gambaran pada mahasiswa mengenai prospek kerja bagi jurusuan kehutanan di masa depan,” ujarnya mengakhiri. (syi/wil)
Nisrina, Mahasiswa UMM Peraih Beasiswa ke Turki

Dalam mengembangkan skill dan ilmu pengetahuan perlu adanya pengalaman langsung, baik itu dalam skala nasional maupun internasional. Hal serupa juga dirasakan oleh Nisrina Nur Husna, mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia berkesempatan merasakan belajar di Luar Negeri melalui beasiswa Hüdayi Vakfı Eğitim ve Kültür Projesike untuk berkuliah di Aziz Mahmut Hüdayi, Kota Istanbul, Turki. Selama delapan bulan, ia menimba ilmu, tepatnya sejak bulan April hingga awal tahun ini. Nisrina, panggilan akrabnya tidak menyangkan bisa lolos program beasiswa tersebut dan terbang ke Turki. Saat awal kedatanga, ia harus melewati masa karantina selama sepuluh hari sebelum bisa masuk di kelas untuk mendalami ilmu di Program Studi (Prodi) Islamic Science. Salah satu kendala utama yang ia rasakan tidak lain adalah adaptasi bahasa. Mengingat mayoritas orang Turki tidak bisa menggunakan bahasa Inggris. Pembelajaran yang ia ikuti juga menggunakan bahasa Turki, jadi may tidak mau ia harus mempelajarinya sehingga dapat memahami dengan baik. “Beruntung, saya dan kawan-kawan lainnya dibantu belajar bahasa Turki oleh masyarakat setempat. Mereka juga ramah dan suka bertukar senyum. Oh iya, ada juga mahasiswa-mahasiswa Indoensia yang turut mengajari bahasa Turki,” ujarnya. Selain bahasa, menurutnya adaptasi cuaca dan makanan menjadi kendala tersendiri. Kondisi iklim sub-tropis dengam lima cuaca sempat mempengaruhi kesehatan tubuhnya, terutama ketika musim gugur dan musim dingin yang tidak pernah ia rasakan di Indonesia. Sedangkan makanan, sampai sekarang ia masih belum terbiasa dengan selera masakah khas Turki. Mahasiswa asli Depok ini mengungkapkan bahwa selama menjalankan program beasiswa di Turki, UMM dinilai banyak membantu terutama dalam aspek bidang akademik. Bahkan Prodi IKS memberikan kemudahan perkuliahan secara online dengan penyesuaian tugas dan waktu Turki. Sederet dosen juga senantiasa mendukung penuh para mahasiswa yang menerima mahasiswa. “Alhamdulillah, Prodi IKS Kampus Putih memberikan kemudahan perkuliahan sehingga saya tidak kesulitan melanjutkan kuliah di UMM tanpa harus memikirkan cuti,” ucapnya. Anak keempat dari empat bersaudara ini kembali megungkapkan bahwa Masjid Hagia Sophia menjadi tempat favoritnya selama di Turki. Menurutnya, masjid Hagia Sophia memancarkan suasana historis yang kuat dan hal tersebut yang menurutnya istimewa. Ia juga sesekali mengunjungi taman kota untuk sekadar bersantai atau membaca buku.ditemani dengan gemericik air dan burung-burung yang tak jarang menghampiri Nisrina. Nisrina berharap ilmu yang ia dapatkan selama di Turki bisa menjadi berkah untuk diri sendiri maupun orang lain. Membuka pintu yang dulunya tidak bisa ia gapai serta mendapatkan peluang untuk bsia mengajar di salah satu instansi pendidikan sehingga ilmu yang ia dapatkan bisa bermanfaat. “Saya ingin sekali mengajarkan ilmu dan pengalaman yang saya dapat di Turki kemarin. Memberikan pemahaman bahwa tak ada mimpi yang terlalu besar jika kita senantiasa berusaha,” ungkapnya. (haq/wil)
Mahasiswa UMM Menangi Medali Internasional berkat Aplikasi CardioFriends

Gagas aplikasi rehabilitasi untuk pasien penyakit jantung, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bawa pulang medali internasional. Raihan medali perunggu tersebut diperoleh pada ajang Kompetisi Karya Tulis Ilmiah Internasional yang bertemakan Asean Innovative Science Environmental and Enterpreneur Fair (AISEEF) 2022, pada Selasa (05/02) lalu. Ajang ini diinisiasi oleh Indonesia Young Scientist Association (IYSA) bekerja sama dengan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro dan dilaksanakan secara hybrid. Pada lomba tersebut, aplikasi rancangan mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) ini harus bersaing bersama 447 tim dari 20 negara di ASEAN yaitu Indonesia, Malaysia, Turkey, Mesir, Singapura, USA, Philipina, Palestina, Thailand, Lebanon, Macau, Vietnam, Uni Emirate Arab, Iran, Tunisia, Macedonia, Korea, Taiwan dan Republik Serbia. Salah satu anggota tim, Khoiroh Yeroh menjelaskan bahwa gagasan pembuatan aplikasi CardioFriends ini berawal dari kekhawatiran anggota tim mengenai penanganan rehabilitasi para pasien penyakit jantung. Utamanya di masa-masa pandemi. Padahal, rehabilitasi jantung merupakan salah satu intervensi pengobatan yang berpotensi meningkatkan kualitas hidup pasien jantung koroner. “Menurut data dari World Health Organization (WHO), ada 13.000 lebih penderita penyakit jantung di seluruh dunia. Sementara itu, penyediaan layanan kesehatan menjadi terganggung karena penanganan pandemi Covid-19. Oleh karenanya, kami memberikan solusi penanganan pasien jantung koroner di masa pandemi dengan menggunakan sistem berbasis mobile health bernama CardioFriends,” ungkap mahasiswa asal Malang tersebut. Lebih lanjut, Khoir sapaan akrabnya menjelaskan bahwa aplikasi ini dirancang untuk memudahkan perawatan pasien penyakit jantung di rumah. Sampai saat ini, pembuatan aplikasi tersebut telah sampai pada tahap prototipe. “Namun untuk ke depan, perlu adanya penelitian dan uji coba lebih lanjut terkait efektivitas penggunaan aplikasi dalam mengatasi tantangan penyelesaian kasus penyakit tidak menular di era Covid-19,” ujar anak pertama dari dua bersaudara itu. Selain Khoir, tim ini juga dianggotai oleh Muhammad Dodik Prastiyo, Dinda Putri S, Fino Ardiansyah, dan Risa Aprillia. Pada kesempatan yang berbeda, Dodik menambahkan bahwa aplikasi ini tidak hanya terbatas pada smartphone tetapi juga terintegrasi pada smartwatch dan website. Selain itu, Aplikasi ini juga memiliki delapan fitur utama yaitu, pendidikan, kepatuhan pengobatan, manajemen stress, kesehatan tubuh, aktivitas fisik, konseling kesehatan, dukungan komunitas penyakit jantung, dan pengukur kesejahteraan. “Integrasi smartphone dan smartwatch ini akan memudahkan kontrol harian pada aktivitas para pasien. Sementara itu, website digunakan untuk akses pada data-data yang besar. Aplikasi ini juga dilengkapi dengan dukungan menyelesaikan tantangan, notifikasi harian, mengukur pengetahuan, tingkat obesitas, dan juga tingkat stres,” kata mahasiswa FIKES itu. Dodik mengatakan bahwa dengan adanya berbagai fitur dan layanan di dalam aplikasi ini, diharapkan pasien mendapatkan fasilitas rehabilitasi yang maksimal. “Saya ingin nantinya aplikasi ini benar-benar bisa memberikan bantuan secara nyata serta adanya pengembangan inovasi terkait fitur-fitur yang ada,” ujarnya mengakhiri. (syi/wil)
Vokasi UMM Berangkatkan Fresh Graduate Ke Jepang dan Kuwait

Dalam meningkatkan kualitas dan kapabilitas lulusan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berupaya membuka kesempatan kepada mahasiswa dan alumninya untuk belajar serta bekerja di luar negeri. Kali ini, Vokasi UMM berangkatkan sepuluh lulusannya ke Jepang dan Kuwait melalui program training dan penempatan kerja bagi alumni. Adapun pemberangkatan ini dilaksanakan di Gedung Rektorat pada Sabtu (05/02) lalu. Lilis Setyowati, M.Sc. selaku dosen Keperawatan Kampus Putih menjelaskan bahwa salah satu tujuan program ini adalah untuk membangun image bagus bagi lulusan vokasi. Selain itu juga sebagai upaya mengembangkan skill dan menambah pengalaman bekerja di luar negeri. Menurutnya, pengalaman terkait dapat membuka pikiran dan wawasan baru terkait keperawatan. “Program training dan penempatan kerja di Jepang dan Kuwait ini juga mampu membuka pikiran lulusan vokasi bahwa lapangan kerja di luar Indonesia masih bejibun dan siap untuk ditaklukan,” ucap Lilis. Pada kesempatan yang sama, Dr. Tulus Winarsunu, M.Si selaku Direktur Direktorat Pendidikan dan Pelatihan Vokasi mengungkapkan bahwa program ini berawal dari kerjasama antara Vokasi UMM dengan lembaga dan perusahaan luar negeri. Dua di antaranya yakni hubungan baik dengan Indomobil dari Jepang dan Royal Hayat dari Kuwait. Selain itu, pihaknya juga sudah menggaet perusahaan di bidang sending documentations. Hal ini diperlukan guna memperlancar dokumen persyaratan sampai ke negera yang dituju. Lebih lanjut Tulus menjelaskan bahwa bukan hanya mahasiswa dan lulusan UMM saja yang berkesempatan mengikuti program ini. Para pegawai yang ada di Rumah Sakit Umum (RSU) UMM juga diberi peluang untuk pergi ke luar negeri. Dengan begitu, ucap Tulus, mereka bisa belajar banyak skill dan pengetahuan yang belum pernah dimiliki. “Khusus untuk mereka yang berangkat ke Jepang, akan ada training bahasa Jepang selama enam bulan. Sedangkan untuk mereka yang ke Timur Tengah tidak harus melalui training bahasa. Kali ini, sepuluh orang lulusan Vokasi UMM yang berhasil lolos dan siap berangkat. Delapan orang akan pergi ke Jepang dan dua orang lainnya diberangkatkan ke Kuwait” jelasnya. Sementara itu, salah satu lulusan yang akan berangkat ke Jepang Ismail Mahasba A.Md. Kep. Merasa senang bisa sukses melewati dan mengikuti prpgram terkait. Ismail, panggilan akrabnya mengatakan bahwa ia harus meyakinkan diri serta orang tua bahwa dirinya sanggup dan bisa berangkat bekerja di Jepang. Apalagi ini adalah pengalaman pertamanya pergi ke luar Indonesia. “Tentu saja saya berharap progam seperti ini bisa terus berlanjut sehingga adik-adik tingkat saya bisa merasakannya dan bekerja di luar negeri. Mungkin bisa dikembangkan lagi sehingga negara-negara tujuan bisa bertambah, kualitas dan kuantitas penerima juga dapat terus ditingkatkan lagi,” pungkasnya. (haq/wil)
Peluang Bisnis Tinggi, UMM Selenggarakan Kelas Profesional Anggrek

Tanaman anggrek merupakan komoditas yang menjanjikan untuk dijadikan peluang bisnis. Harga yang lumayan tinggi dibanding tanaman hias lainnya membuat beberapa orang mulai membudidayakan anggrek untuk dijual kembali. Melihat peluang tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selenggarakan program Kelas Unggulan Center of Excellence (CoE) Tanaman Anggrek. Penanggung jawab program CoE Anggrek, Drs. H. Nurwidodo, M.Kes., mengatakan bahwa kelas ini dibuat untuk membekali mahasiswa dalam bidang budidaya dan pemasaran anggrek. Pihaknya telah menggaet beberapa mitra industri dan dunia kerja (Iduka) seperti Mitra Flora Nusantara (MFN), Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Anggrek Indonesia (DPP PAI), serta Dewan Pimpinan Daerah Perhimpunan Anggrek Indonesia (DPD PAI). Kerja sama ini diharapakan dapat mendorong para peserta untuk menjadi wirausahawan dan angkatan kerja yang kompeten di bidang tanaman anggrek. “Awalnya, kelas unggulan ini berasal dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan magang kerja yang digagas oleh Program Studi (Prodi) pendidikan Biologi UMM pada agustus tahun lalu. Program tersebut sukses melahirkan lima wirausahawan muda di bidang budidaya anggrek. Karena kesuksesan tersebut, UMM akhirnya mengembangkan program ini menjadi kelas unggulan,” jelas dosen kelahiran Jogja tersebut. Lebih lanjut, Nurwidodo menjelaskan bahwa program ini tidak hanya terbatas untuk mahasiswa, tetapi juga masyarakat umum yang tertarik di bidang budidaya anggrek. Adapun rentang waktu pelaksanaan CoE ini dilangsungkan dalamw aktu enam bulan. Tiga bulan awal akan diisi dengan teori di kelas. Setelah itu, tiga bulan selanjutnya para peserta akan diberi kesempatan magang di tempat para mitra. “Dengan adanya proses belajar langsung bersama para mitra yang kompeten, harapannya dapat membuat para peserta terpacu untuk berwirausaha. Kami juga berkomitmen jika dalam waktu enam bulan tersebut para peserta tidak dapat menjadi wirausahawan, kami akan memperpanjang masa pelatihan,” ungkap dosen Biologi itu. Di akhir wawancara, Nurwidodo mengatakan bahwa program ini akan terus dikembangkan. Tak hanya bekerja sama dengan petani nasional, pihaknya juga berencana agar nantinya hasil produksi anggrek dari kelas profesional ini dapat diekspor ke negara lain. “Namun, fokus utama kami untuk saat ini adalah mencetak para wirausahawan di bidang budidaya dan pemasaran anggrek,” pungkasnya. (syi/wil)
Komitmen UMM Jalankan MBKM, Digelontor 8 Miliar Dana PKKM

Demi memastikan kelulusan mahasiswa dan menyiapkan para lulusan yang mandiri, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelontorkan lebih dari delapan miliar rupiah dana Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM). Dana tersebut digunakan untuk mengembangkan dan menjalankan beragam program di empat program studi (Prodi). Keempatnya telah menjadi wadah bermanfaat bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi dan talentanya, khususnya dalam menyiapkan diri menghadapi tantangan masa depan. Ketua tim taskforce PKKM UMM Prof. Dr. Ir. Sujono, M. Kes. menjelaskan bahwa empat Prodi yang mendapatkan dana telah melangsungkan sederet aktivitas menarik. Bahkan masing-masing telah menggelar 21 hingga 23 program pada setahun belakangan. Ia juga bersyukur hampir semua dana terserap dan diimplementasikan melalui program-program yang terlaksana dengan baik. Ia menilai program yang sudah dilaksanakan memiliki manfaat yang besar dalam pengembangan delapan indikator kinerja utama (IKU). Begitupun dengan penguatan kemampuan mahasiswa yang berdampak luar biasa terhadap IKU satu dan dua. Yakni lulusan mendapatkan pekerjaan layak serta kesempatan mahasiswa mendapatkan pengalaman di luar kampus. “Misalnya saja yang dilangsungkan oleh Prodi Teknologi Pangan. Mereka telah melaksanakan magang industri bersertifikat, workshop persiapan kerja, sertifikasi kompetensi, pendampingan kewirausahaan dan belasan kegiatan lain,” imbuhnya. Adapun dana yang berjumlah lebih dari delapan miliar tersebut berhasil diperoleh UMM dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek RI) melalui PKKM. Kampus Putih juga menjadi sepuluh besar PTN-PTS penerima dana PKKM tersebut dan sudah menggunakan dana untuk meningkatkan kualitas dan relevansi program sarjana. Untuk ke depannya, Sujono juga mendorong semua prodi di UMM untuk terus menambah kemitraan dengan berbagai perusahaan. Selain itu juga mendorong lahirnya Centre of Excellence (CoE) baru serta membentuk program sertifikasi industri. Tidak hanya diperuntukkan untuk pihak internal saja, tapi juga eksternal. Kemudian, ia juga berharap seluruh prodi dapat senantiasa berusaha untuk menggapai akreditasi internasional di masa depan. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menuturkan bahwa Kampus Putih pada dasarnya sudah mendesain konsep kampus merdeka sejak lama, yakni pada tahun 2000an. Ia juga mendorong terbentuknya program-program terobosan yang bertujuan meningkatkan kompetensi dan keterserapan mahasiswa di industri dan dunia kerja (Iduka). Menurutnya, UMM secara substansial sudah siap menjalankan Kampus Merdeka dengan baik. “Dalam mengembangkan pendidikan, UMM menyasar pada dua hal yakni peningkatan kompetensi akademik mahasiswa dan kompetensi leadership. Kami juga senantiasa membekali skill bermanfaat bagi mahasiswa melalui CoE berbasis program studi yang kini sudah mencapai 23. Di antaranya yakni kelas profesional unggas, ruminansia, rumput laut, udang, essential oil, anggrek, welding inspector, dan lainnya. Semoga upaya kami ini dapat memberikan dampak signifikan bagi mahasiswa, lulusan, serta masyarakat secara umum,” pungkasnya. (wil)
MoU FISIP UMM-Pemkab Magetan Kembangkan Potensi Masyarakat

Dalam rangka meluaskan wilayah untuk menebar manfaat, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhamamdiyah Malang (UMM) teken Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pemerintah Kabupaten Magetan. Hadir secara langsung Bupati Magetan Dr. Drs. Suprawoto, S.H.,M.Si. dan Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. yang menandatangani kerja sama. Didampingi pula oleh Wakil Rektor IV bidang Kerja Sama Dr. Sidik Sunaryo, M.Si. M.Hum. serta Dekan FISIP UMM Prof. Dr. Muslim, M.Si. pada Sabtu (5/2) lalu. Usai menandatangai MoU, Rektor UMM Dr.Fauzan, M.Pd dalam sambutannya berharap kerjasama Kampus Putih melalui FISIP UMM dengan Kabupaten Magetan bisa memberikan sebaik-baik manfaat untuk kedua belah pihak. Menebarkan manfaat bagi mereka yang membutuhkan, sekaligus membantu memajukan bangsa. Salah satu yang mungkin bisa dicoba adalah Pembangkil Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). “Kawan-kawan di Kampus Putih yang fokus di energi terbarukan juga telah memiliki database wilayah mana saja yang memungkinkan dibangun PLTMH. Dan mungkin, Magetan bisa menjadi salah satu lokasi untuk mengembangkan energi terbarukan ini. Begitupun juga dengan pengembangan biogas yang sudah kami lakukan dan turunannya yang dijadikan sebagai pupuk. Apalagi melihat potesi Magetan yang memiliki banyak peternak sapi,” tambahnya. Selain penandatanganan MoU, Suprawoto juga berkesempatan untuk memberikan motivasi dan materi mahasiswa baru dalam Student Day yang bertajuk bertajuk Pembentukan dan Penguatan Idealisme Mahasiswa Melalui Penulisan Karya Ilmiah. Kang Woto, panggilan akrabnya menjelaskan bahwa mahasiswa sebagai iron stock dan agent of change harus mampu menjadi garda terdepan dalam agenda perubahan. Ada tiga hal yang menurut Suprawoto bisa menyebabkan perubahan tersebut. Di antaranya yakni ide, teknologi dan yang terakhir adalah interaksi. “Ide-ide yang kita tuangkan dalam tulisan akan membuat perubahan. Menulis bisa memonopoli kebenaran, bahkan mampu memonopoli sejarah. Coba bayangkan jika tidak ada yang menulis, maka sejarah tidak pernah ada. Betapa menderitanya sebuah bangsa jika tidak ada yang mau menulis,” ungkapnya menegaskan. Lebih lanjut, Suprawoto juga memaparkan ada sembilan cara yang bisa dilakukan untuk membentuk karakter diri yang kuat pada mahasiswa. Dimulai dengan menghargai diri sendiri, mampu mengenal dan mengendalikan diri sendiri, serta memiliki sikap mau terus belajar. Kemudian adapula kedisiplinan dan berkomitmen adalah beberapa hal yang bisa dilakukan. Adapun idealisme mahasiswa akan semakin kuat jika membiasakan diri untuk menulis. “Utamanya upaya untuk menulis karya ilmiah, ya. Dengan membiasakan menulis, 85% dari sembilan cara membentuk karakter diri ini dapat terpenuhi sekaligus,” tutur bupati yang sudah merilis tujuh judul buku ini. Suprawoto juga menyampaikan sejumlah kiat bagaimana mengelola waktu sehingga bisa tetap produktif sekalipun sibuk. Dia mengimbau kepada mahasiswa agar tidak perlu menunggu mood untuk menulis. Menulis, menurutnya, harus dipaksa dan disempatkan di sela-sela aktivitas kita. Dia menceritakan, dalam perjalanan di kereta pun ia bisa menulis. Apalagi dengan dukungan teknologi yang kian canggih seperti sekarang ini. Lebih lanjut, untuk bisa mengumpulkan inspirasi untuk menulis, ada beberapa hal yang harus dipenuhi, satu yang paling utama adalah membaca buku. Suprawoto juga sempat mengisahkan kegilaannya pada buku-buku. “Jika petani menemukan kenikmatan ketika mencangkul di sawah, kalau saya, hidup terasa nikmat ketika dikelilingi oleh buku-buku. Membaca adalah healing terbaik yang mampu menenangkan saya,”tuturnya. Ia mengaku bahwa sejak tahun 80-an ia telah mengalokasikan budget khusus untuk membeli buku. Dulu sebelum bekerja, ia berkomitmen untuk membiasakan membeli buku ketika sudah mendapatkan gaji. Pernah, saking cintanya pada buku, dalam sebulan ia bisa membeli 300 judul buku sekaligus. “Berbagai kesalahan tidak perlu dilakukan ketika kita banyak membaca buku. Dari buku kita bisa belajar dari pengalaman orang lain, belajar dari ilmu orang lain,”imbuhnya. (wil)