Musa, Mahasiswa Afrika Barat Jadi Lulusan Terbaik UMM

Stress terhadap budaya baru tak membuat Alhajie Musa Kamara, mahasiswa Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyerah akan pendidikannya. Mahasiswa Program Studi (Prodi) Magister Manajemen ini berhasil dikukuhkan menjadi wisudawan terbaik dengan prestasi terbaik pada gelaran wisuda periode pertama, Kamis (17/3) Mus, sapaan akrabnya menceritakan bahwa menempuh Pendidikan di Indonesia tidaklah mudah. Budaya serta bahasa yang berbeda membuatnya sulit memahami materi serta bersosialisasi dengan orang lain. Apalagi kepergiannya ke Indonesia ini merupakan kesempatan pertamanya untuk ke luar negeri. “Beruntung, sebelum masa perkuliahan dimulai, kami diajari bahasa dan budaya Indonesia di lembaga Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) yang ada di Kampus Putih. Pembelajaran tersebut berlangsung selama satu tahun. Hal unik yang saya temukan di BIPA adalah cara pembelajarannya yang sangat lucu. Kami diajari seperti anak kecil yang baru belajar berbicara. Meskipun lucu, cara pengajaran seperti itu yang membuat kami lancar berbahasa Indonesia,” ungkap mahasiswa asal Sierra Leone, Afrika Barat tersebut. Tak hanya terkendala di bahasa, pandemi Covid-19 yang menerpa dunia termasuk Indonesia juga membuat masyarakat harus cepat beradaptasi dengan teknologi di segala bidang. Begitupun juga yang dialami oleh Musa. Ia mengaku tidak terlalu paham dengan penggunaan-penggunaan aplikasi untuk pembelajaran yang diterapkan oleh kampus. Namun berkat bantuan teman-teman dan dosen, ia dapat melakukannya dengan baik. “Meskipun berat, para dosen di selalu sigap memberi kami dorongan untuk belajar. Hal itulah yang memotivasi saya untuk belajar dengan giat. Selain itu teman-teman jurusan juga dengan senang hati membantu saya ketika kesulitan memahami sebuah materi,” kata Musa. Ada beberapa kebijakan yang membuat Musa takjub selama menjalani perkuliahan di UMM. Akses terhadap jurnal dan buku sangat gampang. Bahkan perpustakaan kampus tetap menerima mahasiswa di masa pandemi, meskipun dengan protokol kesehatan yang ketat. Akses terhadap informasi juga sangat mudah didapatkan melalui website maupun dengan menghubungi dosen secara langsung. “Sangat berbeda sekali dengan ketika saya menempuh kuliah strata satu di Afrika. Di sana akses internet sangat minim bahkan terbatas hanya dari jam 10 pagi sampai 3 sore. Tempat untuk mendapat internet gratis juga hanya di perpustakan. Di luar perpustakaan kami harus mengeluarkan biaya lebih untuk dapat mengakses internet. Namun semangat saya dan teman-teman saat kuliah S1 dulu di negara kami masih sangat membara. Hal itu yang akhirnya membawa saya ke Indonesia, tepatnya UMM. Kampus ini sungguh memberikan banyak kemudahan dan fasilitas yang mumpuni,” jelas Musa. Musa mengatakan bahwa UMM telah memberinya banyak pengalaman dan pengetahuan baru selama masa perkuliahannya. “Saya adalah orang yang beruntung karena memiliki teman-teman yang baik serta dosen yang selalu membimbing saya. Hal itu pula lah yang akhirnya membuat saya bisa mendapatkan nilai tertinggi untuk studi S2 ini,” tandasnya. (syi/wil)
Prodi Sosiologi UMM Garap CoE Kelas Profesional Manajer

Hasil dari survey tracer study yang dilakukan Prodi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menunjukkan bahwa 80 persen lulusan bergelut di dunia Industri. Demi meningkatkan kapasitas lulusan, Prodi Sosiologi UMM kini telah mendirikan Center of Excellence (CoE) Profesional Manajer. Adapun program ini terbuka untuk mahasiswa prodi Sosiologi dan masyarakat yang tertarik untuk mengikuti kelas ini. Luluk Dwi Kumalasari, S.Sos, M.Si selaku kepala Prodi Sosiologi UMM menjelaskan bahwa Kelas Profesional Manajer ini bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten sesuai dengan kebutuhan pasar. Saat ini, pasar membutuhkan banyak lulusan dengan skill kepemimpinan manajer yang andal dengan analisa serta kebutuhan sosial yang mumpuni. Maka, lahirlah pusat unggulan tersebut. “Peruntukannya tidak hanya terbatas bagi mahasiswa Sosiologi Kampus Putih saja, tapi juga bagi mahasiswa jurusan lain bahkan kami membuka kesempatan bagi masyarakat luas,” tambahnya. Luluk, sapaan akrabnya kembali menjelaskan bahwa pada dasarnya kelas ini akan memberikan pembelajaran secara teori dan praktek selama satu semester. Akan ada banyak stakeholder bergabung dan turut serta menyiapkan generasi muda. Pun dengan usaha sinergisitas bersama Industri dan Dunia Kerja (Iduka) sehingga lulusan bisa langsung mendapatkan kesempatan bekerja usai menyelesaikan program maupun perkuliahan. Dalam pelaksanaannya, Luluk melanjutkan bahwa pihaknya ingin para peserta bisa mendampingi masyarakat dalam berbagai kegiatan. Dengan begitu, skill kepemimpinan akan tumbuh dna menjadi dasar menjadi seorang manajer. Selain itu juga memberikan kesempatan bagi para peserta untuk melakukan praktek atau magang langsung di industri bersama stakeholder dan Iduka. Namun sebelumnya, mereka akan dibekali pengantar berupa materi kelas turun lapang dan kunjungan. “Sinergisitas dengan Iduka bukan hanya memberikan materi langsung di kelas semata , tetapi juga menjadi mitra untuk praktek kerja dan magang bagi peserta CoE Profesional Manajer,” ujarnya. Dosen asli Jombang ini berharap pusat unggulan baru garapan prodi Sosiologi ini bisa diikuti oleh banyak mahasiswa di luar sosiologi dan masyarakat umum. Dengan begitu, akna muncul generasi penerus masa depan yang memiliki jiwa kepemimpinan dan mampu memenangkan persaingan di dunia kerja. “Tentu, kami ingin program ini mampu melahirkan lulusan yang kompeten dan sesuai dengan kebutuhan industri,” ucapnya mengakhiri. (haq/wil)