Ketua Ombudsman RI Bekali Maba UMM Jadi Future Leader

Menjadi future leader di era disrupsi bukanlah perkara mudah. Berbagai bekal perlu segera dimiliki serta tantangan yang harus dihadapi. Hal tersebut disampaikan Ketua Ombudsman Republik Indonesia (RI), Mokhammad Najih, S.H., M.Hum., Ph.D. di hadapan ribuan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada penutupan Student Day, akhir Maret lalu. Najih, sapaan akrabnya melanjutkan tantangan pemimpin masa depan nyatanya bisa diprediksi.  Salah satunya digital leadership yang sudah akrab dengan kehidupan manusia. Teknologi informasi seakan sudah mnejadi bagian dari kehidupan yang tak terpisahkan. Mulai dari mengawali hari hingga tidur pada malam hari. Kepemimpinan negara kini juga sudha bergeser kepada pemimpin muda yang potensial. Sebut saja Kim Jong Un yang sudah memimpin Korea Utara sejak usia 24 tahun. Adapula Perdana Menteri Estonia Juri Ratas dan Perdana Menteri Belgia Charles Michel yang sama-sama berusia usia 38 tahun dan sederet pemimpin negara lainnya. “Maka dalam menghadapi tantangan dan tuntutan zaman digital, pemuda harus memiliki beragam karakter. Di antaranya harus ebrsikap inklusif dan berani untuk berinovasi. Para pemuda juga harus memiliki digital mindset yang memanfaatkan teknologi sebagai upaya efektivitas dan efisiensi. Tidak ketinggalan pula kedekatan dengan para masyarakat serta cepat beradaptasi serta responsif akan perubahan,” tegasnya. Pria kelahiran Lamongan itu juga memberikan solusi agar mahasiswa siap menghadapi era yang cepat berubah dan dinamis. Menurutnya, membangun dan memperbanyak komunikasi dengan teman dan komunitas adalah salah satunya. Begitupun dengan belajar sungguh-sungguh serta mendapatkan kesibukan yang memberikan manfaat. Terakhir, yakni menciptakan atau mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan hobi dan keahlian. “Saudara-saudara juga bisa menggunakan rumus 5C dalma mengembangkan diri. Critical thinking, communication, collaboration, creative dan character ada limia hal yang harus selalu dikemabngkan dan diperbaharui. Saya yakin, mahasiswa Kampus Putih UMM ini dapat menjadi pemeran utama dalam memajukan Indonesia di masa depan,” tuturnya. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa Kampus Putih membekali mahasiswa dua hal dalam rangka mengantarkan menuju gerbang kesuksesan. Tidak hanya bekal akademis yang akan didapat di perkuliahan, tapi juga bekal leadership yang akna berguna ketika mahasiwa kembali ke masyarakat. “Kepemimpinan tidak harus dimaknai secara formal saja, tapi kepemimpinan juga bisa muncul secara informal,” ungkap Fauzan. Menurutnya, beberapa ciri seorang pemimpin itu adalah memiliki jiwa kompetitif, sportif serta tida mudah berpuas diri. Beruntung, mahasiswa UMM akan diberi dan distimulasi untuk meningkatkan hal-hal tersebut seiring berjalannya perkuliahan. Salah satuya melalui Student Day yang menjadi agenda tahunan kampus.  Meski secara formal Student Day UMM sudah ditutup, namun secara substansiail agenda ini masih terus berlanjut. Ia berharap mahasiswa dapat menorehkan prestasi membangakan. Apalagi Kampus Putih selalu menghargai semua capaian mahasiswa. Baik berupa penghargaan kademis maupun finanasial. “maka, kami mendorong saudara untuk menjadi orang berguna yang memberikan manfaat sebagaimana smeboyan yang sering kita gaungkan, Dari Muhammadiyah untuk Bangsa,” pungkasnya. (wil)

Aussie Banget Corner UMM Terima Kunjungan Konjen Australia

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendorong sivitas akademikanya untuk turut merasakan atmosfer internasional di kampus. Salah satunya melalui kehadiran pojok-pojok internasional sepert Aussie Banget Corner (ABC), American Corner, hingga China Corner. Kamis lalu (31/3) Kampus Putih kedatangan Konsulat Jenderal (Konjen) Australia Fiona Hoggart. Ia juga sempat mengunjungi ABC yang sudah ada di UMM sejak lama sebagai salah satu tempat untuk mengenal Australia. Fiona, sapaan akrabnya mengungkapkan bahwa ia merasa senang bisa berkunjung dan bercengkerama dengan sivitas akademika UMM. Menurutnya, ABC menjadi salah satu tempat strategis yang bisa dikunjungi oleh mahasiswa untuk lebih mengetahui negara Australia. Ia juga menilai bahwa akan ada banyak kolaborasi yang mungkin bisa dilakukan, baik dengan Kampus Putih maupun dengan pihak Indonesia lainnya. “Di samping itu saya juga berharap dapat menjalin kerja sama mendalam dengan berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia, khususnya Jawa Timur,” tuturnya saat hadir di Rayz Hotel UMM. Fiona juga siap bekerjasama secara riil dan mencarikan mitra Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI) internasional untuk pengembangan Center of Excellence UMM. Salah satu yang sedang berjalan yakni penelitian pengembangan pakan sapi perah di daerah Ngantang. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menuturkan bahwa kunjungan tersebut merupakan hal yang strategis. Ia ebrharap, akan ada sederet aktivitas yang bisa ditindaklanjuti dengan agenda nyata dan terukur. Apalagi melihat potensi perguruan tinggi di kedua negara yang tidak perlu lagi diragukan. Fauzan yakin, akan ada banyak hal yang bisa dilakukan bersama-sama. Ia menilai, kerjasama yang terjalin akan mendorong capaian kemajuan dan target perguruan tinggi di masing-masing negara. Begitupun dengan meningkatnya kecepatan akan terwujudnya internasionalisasi di tiap universitas. “Sekali lagi terimakasih dan selamat menikmati indahnya Kota Malang. Semoga pertemuan ini senantiasa dapat memberikan kebaikan dan manfaat. Utamanya dalam mengupayakan nilai positif bagi dunia pendidikan,” tegasnya. Sebelumnya, UMM juga telah bekerjasama dengan Konjen Australia dalam penelitian pengembangan pabrik pakan sapi. Disampaikan sekretaris Internastional Relatin Office (IRO) UMM Dr. Ir. Listiari, MP. bahwa salah satu perusahaan Australia berencana membuka pabrik pakan ternak di Jatim. Kemudian, UMM menjadi tempat kunjungan untuk berdiskusi dan meneliti. “Apalagi mereka menilai bahwa tetes tebu Indonesia yang menjadi salah satu bahan baku adalah salah satu yang terbaik,” tambahnya. Lebih lanjut, Listiari juga menilai bahwa hal ini bisa menjadi peluang mahasiswa untuk magang. Utamanya dalam rangka menjalankan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang digalakkan oleh pemerintah. Dengan begitu, kesempatan semakin banyak dan para mahasiswa bisa merasakan sensasi bekerja di perusahaan asing. (wil)