Fakultas Psikologi UMM Luncurkan Kelas Profesional HRD

Demi menyongsong era emas dan menyiapkan generasi masa depan, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) luncurkan Centre of Excellence (CoE) kelas profesional human resource development (HRD), akhir Maret lalu. Adapun peluncuran tersebut dibarengi dengan penandatanganan kerjasama dengan sederet Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI) dalam pengembangan kurikulum dan program. Dekan Fakulas Psikologi UMM Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., P.hD. mengungkapkan bahwa berdirinya kelas profesional ini salah satunya adalah untuk mencocokkan kurikulum yang ada di perguruan tinggi dengan kebutuhan yang dirasakan industri. Dengan begitu, akan ada kesinambungan yang strategis di antara keduanya. Kerjasama ini juga dinilai sebagai kesempatan untuk saling belajar dan wadah berdiskusi agar bisa menyiapkan generasi yang mumpuni dan kompeten. Sampai saat ini, ada sepuluh perusahaan yang sudah bekerjasama dalam pengembangan kelas HRD tersebut. Adapula 36 perusahaan lain yang selama ini sudah menjadi tempat magang bagi para mahasiswa psikologi Kampus Putih. Maka, Salis merasa bahwa kelas HRD ini menjadi terobosan bagus yang menguntungkan bagi semua pihak. “Selain keals HRD, kami juga telah menyiapkan CoE lain yang segera difinalisasi. Sebut saja kelas pendamping individu berkebutuhan khusus (IBK). Begitupun dengan pengakuannya melalui sertifikasi BNSP yang akan segera kami garap. Selain itu juga ada kelas asisten psikolog yang juga sedang digodok bersama teman-teman yang berkaitan,” tambah Salis. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa masih banyak para sarjana yang dirasa belum siap terjun dan paham akan apa yang sudah dipelajari saat perkulihaan. Berangkat dari keprihatinan tersebut, Kampus Putih berinisiatif untuk membangun berbagai pusat keunggulan berbasis prodi. Hal tersebut juga dinilai sebagai upaya untuk menyelesaikan persoalan-persoalan terkini sekaligus menyiapkan generasi muda untuk menyongsong bonus demografi di masa depan. Apalagi pada 2045, Indonesia diproyeksikan menjadi kekuatan ekonomi besar nomor enam dunia. Menurutnya, jika perguruan tinggi tidak siap dengan era tersebut, maka masa depan anak muda Indonesia akan menjadi biasa-biasa saja. Padahal negara ini sudah penuh sesak dengan mereka yang biasa. “Kemudian lahirlah ide untuk memunculkan kelas-kelas profesional ini. Adapun kelas HRD yang diinisiasi oleh Fakultas Psikologi ini tidak diperuntukkan hanya bagi mahasiswa psikologi saja. Tapi semua mahasiswa dari berbagai jurusan bisa ikut dan terjun di dalamnya. Tidak menutup kemungkinan juga bagi masyarakat luas,” tegasnya. Fauzan melanjutkan, sampai saat ini UMM sudah memiliki 17 CoE yang jumlahnya akan terus bertambah. Rencananya, akan ada launching secara massal di tingkat universitas bagi semua kelas profesional yang telah didirikan masing-masing prodi. Hal itu dimaksukan untuk menjawab dan menyiapkan sumber daya manusia yang unggul. Terakhir, ia menilai bahwa lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab untuk melahirkan generasi yang mumpuni. Hal tersebut bukan hanya berhenti pada jargon semata, namun harus diimplementasikan secara nyata dengan mengantarkan mahasiswa menuju pintu kesuksesan. “Semoga kelas HRD ini bisa menjadi salah satu pintunya. Kami juga berharap DUDI dapat memberikan Ilmu, pengetahuan, motivasi bahkan juga jaringan bagi peserta CoE ini,” pungkasnya. (wil)
Tim UMM Raih Juara Satu Boat Race Competition COMET 3.0

Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi di kejuaraan nasional. Kabar gembira tersebut datang dari Lembaga Semi Otonom (LSO) Mekatronik yang berhasil membawa pulang juara satu pada perlombaan Boat Race Competition COMET 3.0. Adapun kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Design and Construction (HIMADEC) Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) pada akhir Maret lalu. Salah satu anggota tim, Muhammad Naufal Wicaksono mengatakan bahwa dalam perlombaan itu, timnya memberikan sederet inovasi dan modifikasi pada kapal buatannya. Mereka menyebutnya dengan nama JUFTRONIC. Berbeda dengan kapal yang telah ada, Kapal JUFTRONIC menggunakan tenaga penggerak berupa hidrogen, solar cell, dan heliogen. Dengan penggantian bahan bakar tersebut membuat kapal tidak mengeluarkan polusi gas buang sisa pembakaran seperti halnya jika menggunakan mesin bensin maupun diesel. “Dalam ajang itu, kami tidak hanya memikirkan soal kecepatan kapal tetapi juga aspek-aspek lainnya. Selain menggunakan mesin ramah lingkungan kami juga melengkapi kapal ini menggunakan geladak jenis lambung multihull katamaran. Geladak ini memiliki tempat yang luas sehingga terkesan lega. Selain itu dengan adanya geladak ini, kapal akan lebih stabil saat memecah ombak,” ungkap mahasiswa jurusan Teknik Mesin itu. Lebih lanjut, Naufal sapaan akrabnya menceritakan bahwa di race pertama timnya mengalami kekalahan saat melawan tim cakalang 9 dari PPNS yang kapalnya lebih cepat dan stabil. Akibat kekalahan tersebut, tim Naufal masuk ke low bracket dan dilombakan kembali dengan beberapa tim yang kalah di race pertama. Setelah melalui beberapa pertandingan dan memperoleh kemenangan, Kapal JUFTRONIC dapat kembali bersaing di semi final bersama tim yang telah menang. “Di semi final kami kembali bertemu dengan tim cakalang 9. Namun berbeda dari perlombaan di race pertama, kali ini kami berhasil mengalahkan tim Cakalang 9 dan maju ke babak final. Alhamdulillah kami berhasil memperoleh juara pertama setelah mengalahkan tim Cakalang 11 di final,” kata mahasiswa asal Lampung itu. Anak tengah dari tiga bersaudara tersebut tidak menyangka akan menjadi juara pertama. Pasalnya, ini merupakan kali pertama dia mengikuti organisasi dan perlombaan kapal. Terlebih kekalahan di babak awal sempat membuat rasa percaya diri timnya melemah. Meski begitu, ia sangat senang atas capaian mengejutkan tersebut. “Raihan prestasi ini merupakan titik awal untuk menghadapi kejuaran-kejuaran di masa yang akan datang. Saya berharap hasil riset kapal JUFTRONIC dapat menjadi acuan serta bahan pelajaran untuk menghadapi kompetisi-kompetisi selanjutnya,” tandasnya mengakhiri. (syi/wil)