Diskusi UMM dan AUN-QA Kaji Standarisasi Pendidikan Kawasan ASEAN

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Asean University Network-Quality Assurance (AUN-QA) langsungkan sharing session pada Kamis (2/6) lalu. Diskusi tersebut membahas standarisasi pendidikan di kawasan ASEAN. Dalam sambutannya, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa ia bangga atas kerja keras yang dilakukan sivitas akademika UMM dalam meningkatkan mutu dan fasilitas menuju internasionalisasi. Ia menilai bahwa hal itu menjadi langkah penting untuk menjadi universitas yang diakui secara internasional. Utamanya dalam aspek daya saing dan kualitas. Dengan begitu, UMM bisa menggaet mahasiswa nasional dan internasional untuk bisa belajar di UMM. Apalagi jika dilengkapi dengan layanan prima serta fasilitas pendidikan terbaik yang bisa diberikan. “UMM telah bekerja sama dengan AUN-QA untuk mendapatkan pengakuan internasional melalui evaluasi yang sangat positif dan umpan balik yang konstruktif. Sesi ini merupakan kesempatan yang tidak boleh dilewatkan untuk mempelajari lebih lanjut tren dan kebijakan pendidikan tinggi,” tegas Fauzan. Ia menambahkan bahwa saat ini ada lima program studi UMM yang telah memperoleh pengakuan AUN-QA. Mulai dari prodi Psikologi, Manajemen, Ilmu Peternakan, Pendidikan Biologi dan Ilmu Komunikasi. Menurutnya, prodi-prodi tersebut mengalami peningkatan yang signifikan dalam kualitas akademik, non akademik dan sumber daya manusia karena penilaian kualitas dari AUN-QA. Kedatangan AUN-QA merupakan kerja sama yang telah terjalin sejak tahun 2016. Sementara kunjungan ini menjadi agenda pertama AUN-QA setelah pandemi. Kepala AUN-QA Ing-orn Jeerararuensak berterimakasih atas sambutan UMM yang hangat. Utamanya diskusi terkait program asesmen atau penilaian pendidikan tinggi. Begitupun dengan masukan-masukan yang disampaikan oleh para dosen kepada pihaknya. Dalam kesempatan itu, Ing juga menginformasikan bahwa ada sederet program yang bisa Kampus Putih UMM ikuti pada tahun depan. Di antaranya program The AUN-QA Training Course for Accomplishing Programme Assement dan program Writing Self-Assessment Report (SAR) for Successful AUN-QA Programme Assessment (Version 4.0). “Ada juga koferensi internasional tahun depan yang dilangsungkan secara on site di Bangkok. Agenda itu nantinya bertujuan untuk mempromosikan mobilitas mahasiswa antara regional ASEAN dan Uni Eropa,” tambahnya. Sementara itu, Kepala Badan Akreditasi dan Pemeringkatan UMM Dr. Surya Anoraga, S.H., M.Hum. menyampaikan tujuan dari adanya sharing session ini adalah menerima saran dan rekomendasi dari AUN-QA. Terutama untuk kelima prodi yang sudah mendapatkan pengakuan sehingga bisa memiliki kualitas sesuai dengan standar internasional. “Lima prodi yang telah terverifikasi dari AUN-QA sayangnya belum bisa diterima oleh Kemendikbud-dikti sebagai akreditasi. Oleh karena itu, kami meminta AUN-QA agar bisa menjadikannya akreditasi domestik,” tuturnya. Momen penting ini disambut baik oleh UMM yang tahun ini segerea mencaspai akreditasi internasional. Adapun kunjungan tersebut merupakan inisiatif dari AUN-QA untuk mendatangi perguruan tinggi yang pernah terverifikasi dan diharapkan bisa naik level ke akreditasi. “Target UMM selanjutnya yakni bisa mencapai akreditasi yang diakui oleh internasional. Selain itu juga  mengusahakan agar akreditasi maupun sertifikasi juga bisa diakui secara domestik oleh Dikti,” ujarnya mengakhiri. (*/wil)

UMM Kaji Perubahan Akreditasi Mandiri Kependidikan

Adanya perubahan mekanisme akreditasi program studi kependidikan memberikan tantangan sendiri bagi perguruan tinggi. Hal itu mendorong Himpunan Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Indonesia Wilayah I untuk melangsungkan Bimbingan Teknis Akreditasi Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK). Pada agenda luring yang dilaksankan sejak Kamis (2/6) hingga Sabtu (4/6) lalu itu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditunjuk menjadi tuan rumah. Menyambut para peserta, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin M.Si. menilai bahwa bimtek ini sangat penting. Apalagi dengan tantangan-tantangan yang semakin kompleks. Salah satunya melihat situasi perguruan tinggi, baik pihak institusi maupun program studi yang sibuk menyesuaikan dengan beberapa regulasi yang ada. “Kalau dilihat memang ada sederet perubahan yang dilakukan pemerintah terkait pendidikan. Meski begitu, saya yakin bahwa prodi-prodi PGSD tiap perguruan tinggi akan terus menatap ke depan. Selain itu juga memperkuat komitmen untuk menjadikan semua prodi PGSD menyandang akreditasi Unggul,” tambah Syamsul. Menurutnya, apapun tantangannya ia percaya bahwa Perhimpunan Dosen PGSD bsia mendorong tiap prodi untuk melakukan yang terbaik. Dengan begitu, generasi emas yang berkualitas terwujud di tahun 2045 nanti. Hal itu diamini oleh Dr. Widya Karmila Sari selaku ketua Himpunan Dosen PGSD (HDPGSD) Indonesia. Pihaknya sudah menghadirkan sederet pemateri yang akan memberikan penjelasan lebih lanjut  terkait perubahan sistem akreditasi. Hal itu dilakukan dalam rangka mengkaji Peraturan Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan Nomor 24 Tahun 2022. Ia menegaskan bahwa HDPGSD memiliki prinsip utama yakni maju bersama sesuai dengan ide awal pendiriannya. Tidak membedakan antara perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS). Apalagi mengingat akreditasi menjadi salah satu pertimbangan para calon mahasiswa untuk memilih jurusan dan perguruan tinggi. “Semoga workshop dan bimbingan teknis ini bisa mendorong teman-teman untuk memajukan prodi. Harapannya bisa sama-sama saling membantu menggapai akreditas Unggul,” tegasnya. Pada agenda itu, turut hadir sebagai pemateri Prof. Dr. Muchlas Samani, M.Pd. yang menjelaskan perubahan mekanisme akreditasi dan kebijakan LAMDIK. Begitupun dengan Dr. Wahyudi, M.Pd. yang menerangkan implementasi Budaya Mutu Prodi PGSD melalui Akreditasi LAMDIK. Bimtek tersebut juga menyediakan materi mengenai strategi pengisian dokumen serta bedah instrumen dan matrik penilaian akreditasi LAMDIK. Di sisi lain, Koordinator Pelaksana Arina Restian, M.Pd. mengatakan bahwa ada beberapa luaran yang bisa dihasilkan lewat bimtek ini. Di antaranya para peserta diharapkan mampu menyusun akreditasi secara mandiri. Dengan begitu, bisa berdampak positif bagi sistem yang dijalankan. Di samping itu juga sebagai upaya untuk melahirkan generasi emas 2045. “Paling tidak para peserta sudah siap dan memahami perubahan sistem akreditasi yang ada. Sehingga nanti tidak bingung untk melangkah demi mencapai akreditas Unggul di setiap prodi PGSD di masing-masing perguruan tinggi,” pungkas Dosen PGSD UMM tersebut. (Wil)