UMM-FILBA Undang Institusi Bahasa se-Indonesia, Kaji Standar Bahasa

Universitas Muhammadiyah Malang menjadi tuan rumah pertama dalam penyelenggaraan Workshop Nasional 1 FILBA tahun 2022. Workshop yang digagas oleh Forum Institusi Layanan Bahasa (FILBA) UMM ini bertujuan untuk menyatukan semua institusi layanan bahasa seluruh  Indonesia. Utamanya dalam melakukan sosialisasi pengujian bahasa, training dan penyuntingan bahasa pendidikan tinggi. Adapun para peserta yang hadir merupakan perwakilan lembaga bahasa dari seluruh universitas di Indonesia yang digelar pada 8 hingga 12 Juni 2022 lalu. Membuka agenda, Wakil Rektor I Kampus Putih UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. menyambut baik aktivitas workshop nasional tersebut. Menurutnya, hal ini dapat mendorong lembaga bahasa untuk berinovasi dan memberikan program baru. Ia berharap nantinya akan ada hasil konkret yang dapat memberi manfaat, khususnya bagi para anggota FILBA. “Salah satunya yang bisa dilakukan yakni dengan menggelar tes bahasa Inggris akademik, baik bagi anggota FILBA maupun masyarakat umum. Hal itu menjadi upaya kita untuk mendorong mereka dalam mempelajarid an menguasai bahasa internasional,” tambahnya. Hal serupa juga disampaikan oleh Kepala Pusat Bahasa UMM Dr. Masduki, M.Pd. Ia mengatakan bahwa tujuan lain yang ingin dicapai workshop ini adalah untuk menyusun dan menyempurnakan draft standarisasi atau rancangan dokumen mutu pelatihan bahasa. Begitupun dengan pengujian dan penerjemahan melalui divisi penjamin mutu. “Saya sangat mengapresiasi atas partisipasi dan kontribusi dari para peserta. Apalagi mereka kan berasal dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Semoga seluruh peserta bisa ikut serta dengan aktif dan memberikan sumbangsih untuk menyusun rancangan standarsisi ini,” ungkap Masduki. Adapun kegiatan Workshop ini akan terus berlanjut dalam rangka mematangkan proses pengembangan standarisasi yang ada. Workshop serupa juga akan dilangsungkan pada bulan November mendatang di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Menariknya, dalam kegiatan tersebut terlihat sederet program dan unit dari UMM yang memiliki kaitan dnegan lembaga bahasa. American Corner, Australian Corner, Confusius Institute China, Learning Center dan Unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). Tiap corner diatur sedemikian rupa layaknya pameran agar para peserta workshop bisa bertanya dan mengetahui program apa saja yang ada di UMM. Dengan begitu, Akan muncul potensi kemitraan yang bisa dijalin oleh pihak luar. “Terutama untuk menunjang atmosfer akademik yang ada di Indonesia. Jadi kita memang memberikan kesempatan bagi para corner untuk dapat mengekspos diri,” ujar Masduki mengakhiri. (zak/wil)

Ujian Doktor UMM Kaji Ritual Kematian Tedong Bonga dihadiri Direktur Utama dan Jajaran Pimpinan RRI

Direktur Utama Radio Republik Indonesia (RRI) Dr. I. Hendrasmo, MA. dan jajaran pimpinan RRI hadir di salah satu prosesi ujian doktoral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka datang dan turut menyimak ujian doktor Kepala RRI Makassar Ferdy Kusno pada Rabu (15/6) lalu. Dalam ujiannya, Ferdy, sapaan akrabnya menyampaikan terkait makna sosial kerbau belang (tedong bonga) dalam ritual kematian masyarakat Tana Toraja. Dalam disertasinya, Ferdy mempertanyakan dua hal utama. Pertama, yakni terkait makna tedong bonga. Kemudian yang kedua mengenai pergeseran tata laksana ritual kematian di masyarakat Tana Toraja. Dalam pemaparannya, ia menyimpulkan bahwa tedong bonga merupakan simbol adat yang disakralkan dan dibentuk berdasarkan makna simbolik. Selain itu juga dipengaruhi oleh nilai-nilai tradisi, agama, prestise dan ekonomi. Lebih lanjut, Ferdy mengatakan bahwa makna kematian yang penuh arti membuat manusia berlomba-lomba melakukannya dengan maksimal. Adapun simbol-simbol itu disakralkan dan diterapkan sesuai dengan kesepakatan bersama. Di samping itu simbol yang digunakan dalam ritual kematian tidak mendobrak tatanan adat. “Jumlah kerbau belang yang dikorbankan menggambarkan status sosial seseorang,” tambah Kepala RRI Makassar tersebut. Ferdy juga mengungkapkan bahwa menurut warga di Tana Toraja, kerbau belang merupakan kendaraan menuju nirwana untuk memulai kehidupan baru dengan roh apra leluhur. Tedong bonga juga dianggap sebagai simbol tertinggi dalam ritual kematian yang dipersembahkan sebagai wujud kasih sayang terhadap orang tua atau keluarga yang meninggal. Menariknya, disertasi Ferdy telah diterbitkan melalui beberapa karya. Salah satunya lewat buku yang diterbitkan oleh penerbit Bildung. Selain itu apa yang dibahas dalam disertasi juga sudah termuat di jurnal-jurnal internasional. Sementara itu, Hendrasmo turut mengapresiasi capaian Ferdy meraih gelar doktor. Menurutnya, hal itu dapat meningkatkan citra RRI karena senantiasa diisi oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi. Ia juga berharap staf lain juga mengikuti jejak Ferdy untuk bisa meningkatkan pendidikan. Dengan begitu, salah satu dampak yang bisa dirasakan adalah semakin baiknya kualitas konten yang disediakan oleh RRI. “Tentu promosi doktor Pak Ferdy ini bisa menjadi pelecut semangat bagi staf-staf lain untuk melanjutkan pendidikan. Seiring dengan itu, konten kita juga akan meningkat sehingga mampu memberikan hal yang bermanfaat dan berkualitas,” kata Hendrasmo mengakhiri. (wil)