Agribisnis UMM Cetak Petani Milenial

Pengembangan sektor pertanian memerlukan peranan dari berbagai pihak, baik dari sektor pemerintah, swasta, maupun generasi millenial. Begitulah sepatah kata pembuka yang diucapkan oleh Ketua Umum Perhimpunan Ahli Penyuluhan Pembangunan Indonesia (PAPPI) Dr. Ir. Siti Amanah, M.Sc dalam acara kuliah tamu Program Studi (Prodi) Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Secara umum, kegiatan yang diselenggarakan pada Rabu (15/06) tersebut membahas tentang peran generasi millenial dalam mendukung penyuluh pertanian di era digitalisasi. Lebih lanjut, Amanah sapaan akrabnya mengatakan bahwa milenial merupakan aktor utama dalam mendukung pertanian di era digital seperti ini. Namun saat ini banyak kaum muda yang beralih profesi ke bidang non-pertanian. Mereka enggan terjun dan memajukan sektor pertanian. Selain anak-anak muda, perlu adanya kerja sama yang bagus juga dari berbagai pihak seperti pihak swasta maupun pemerintahan. “Keberadaan lahan juga menjadi poin penting dalam keberlangsungan sektor pertanian. Diupayakan agar lahan pertanian tidak beralih tangan atau fungsi untuk kedepannya,” ungkap mantan ketua Asia Pacifis Islands Rural Advisory Service (APIRAS) Network tersebut. Untuk mencetak Sumber Daya Manusia di bidang pertanian yang berkualitas, Amanah menjelaskan bahwa penyuluhan memegang peranan penting. Penyuluhan ada sebagai gerakan pendidikan non formal yang diberikan kepada petani-petani di daerah. “Dengan adanya penyuluhan ini, hard skill maupun soft skill para petani akan meningkat. Dampak positif dari peningkatan tersebut adalah kualitas produksi yang membaik, pendapatan yang meningkat, serta kelestarian sumber daya alam (SDA) yang berkelanjutan,” ujar Amanah. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membangun kompetensi kepada para milenial dalam mendukung penyuluhan. Pertama adalah memberikan suasana pembelajaran yang kondusif kepada para millenial. Selanjutnya memberikan mindset baru kepada millenial tentang profesi seorang petani. Memberikan pemahaman mengenai komunikasi yang baik di ranah digital juga perlu diperhatikan. “Para penyuluh juga harus memberikan literasi baru berupa data, kemampuan teknologi informasi dan komunikasi, literasi teknologi terkini, serta penguasaan dan pendekatan metode penyuluhan kepada milenial dan para petani,” kata Board Member of Global Forum for Rural Advisory Services (GFRAS) tersebut. Senada dengan Amanah, Ketua Prodi Agribisnis Ary Bakhtiar, SP., M.Si mengatakan bahwa pada saat ini 70% petani yang ada di Indonesia terdiri dari para lansia. Sementara itu, generasi muda banyak yang beralih ke bidang profesi yang lain. Untuk itu, dalam rangka pemanfaatan bonus demografi di masa yang akan datang perlu upaya adanya peningkatan kualitas SDM di sektor pertanian. “Oleh karenanya, penyuluhan menjadi kunci penting untuk mengubah persepsi para kaum muda. Penyuluhan juga dapat berdampak positif bagi petani lansia agar dapat meningkatkan kapasitas kemampuan dan pengetahuan agar dapat hidup dengan lebih baik,” tandasnya mengakhiri. (Syi/Wil)
15 Mahasiswa UMM Lolos Virtual Exchange Singapore

Sebagai mahasiswa, berbagai macam pengalaman di lingkungan kampus saja tidak lah cukup. Harus ada pengalaman nasional hingga internasional. Kali ini, 15 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil lolos pada program Virtual Exchange Program. Adapun program exchange ini dilangsungkan bersama Singapore Polytechnic yang mengangkat tema “Singapore : Understanding History and Heritage”. 15 mahasiswa akan mulai mengikuti rangkaian agenda pada Jumat (24/7) nanti. Very Kurnia Aditama, M.Pd. selaku staff International Relations Office (IRO) UMM mengatakan bahwa program ini berubah menjadi virtual ketika pandemi Covid-19 datang. Sebelumnya, program berlangsung secara luring. Jadi para mahasiswa UMM serta mahasiswa SP bisa bertemu di Malang kemudian melakukan project bersama. “Program Exchange dengan Singapore Plytechnic ini sudah berlangsung sejak 2019 dan diadakan dua kali dalam setahun. Sehingga program dialihkan menjadi virtual,” ungkapnya menambahkan. Very sapaan akrabnya menjelaskan bahwa konsep virtual exchange ini berupa culture exchange. Selama berjalannya program, setiap mahasiswa diminta mempresentasikan budaya dari negara masing-masing. Baik itu dari Indonesia maupun dari Singapura. Sehingga kedua pihak bisa mendapatkan hal baru serta perspektif yang berbeda. Begitupun dengan budaya serta adat yang dimiliki. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa pertukaran mahasiswa ini berlangsung selama satu bulan dengan empat kali pertemuan. Ada dua kelas yang akan disediakan dan berada di dua hari utama yakni Monday Class pada Senin dan Friday Class pada Jumat. Para peserta diminta untuk memilih salah satu kelas dan mengikutinya hingga akhir melalui platform Zoom meeting. “Ada lebih dari 80 peserta yang mendaftar dan ingin mengikuti virtual exchange ini. Kemudian, pada tahap administrasi ada 40 orang yang lolos. Akhirnya terpilihlah 15 mahasiswa final yang lolos jadi peserta program ini,” tambah Very. Pria asli Bojonegoro ini berharap agar seluruh peserta yang lolos dan mengikuti program ini bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Di samping itu uga meluaskan jaringan dan kenalan dengan mahasiswa internasional, utamanya dari Singapura. Dengan begitu, perspektif dan pandangan baru bisa mereka peroleh. “Bahasa juga menjadi aspek penting. Program ini menjadi tempat dan wadah yang cocok untuk melatih bahasa inggris mereka menjadi lebih baik,” tegasnya mengakhiri. (Haq/Wil)