UMM Bekali Wisudawan Dua Jurus Kesuksesan

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membekali para wisudawannya dengan dua jurus agar bisa mencapai kesuksesan. Hal itu disampaikan oleh Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. dalam prosesi wisuda pada Selasa (28/6) lalu. Adapun dua jurus itu adalah kompetensi keilmuan dan kompetensi leadership yang selalu disalurkan melalui beragam kegiatan. “Pertama, mahasiswa selalu dibekali dengan ilmu dan teknologi agar bisa menjadi orang bermanfaat. Kemudian jurus kedua yakni UMM bertekad meningkatkan kompetensi leadership para generasi muda dengan berbagai kegiatan yang ada. Sekarang, saudara bisa menggunakan dua jurus itu agar bisa menjadi manusia yang diperhitungkan,” tegasnya. Fauzan berharap segala ilmu, prestasi, dan pengalaman yang sudah didapat dari Kampus Putih UMM bisa diejawantahkan di dunia nyata. Menurutnya, masyarakat sudah menunggu sumbangsih dan kontribusi dari para sarjana baru, utamanya dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Pada kesempatan yang sama, hadir pula Aprianto Prabudi, alumnus UMM yang kini menjadi senior talent acquisition head manager for DP Program PT. Berau Coal Energy (Sinar Mas Group). Menurutnya, para wisudawan ini adalah seorang petarung karena sudah melalui beragam tantangan saat berkuliah. Kini, waktunya untuk naik level dan menjadi petarung dalam persaingan kerja. Ada tiga faktor untuk menjadi petarung hebat di dunia kerja, yaitu mindset, attitude dan kompetensi. Menurutnya, untuk bisa masuk ke dunia profesional, diperlukan mindset yang profesional pula. Begitupun dengan attitude yang mana harus dimiliki oleh para wisudawan agar bisa bertahan di lingkungan kerja masing-masing. Kemudian dilengkapi dengan kompetensi mumpuni agar mampu memberikan yang terbaik serta inovasi terbaru. Aprianto, sapaan akrabnya menilai bahwa mindset akan terefleksikan dalam perilaku. Ia mencontohkan pada proses wawancara kerja dan berada di fase penentuan salary. Cara menjawab fresh graduate akan mewakili mindset yang dimiliki. Biasanya, mereka akan menjawab sesuai kebutuhan, padahal gaji di dunia kerja dilihat dari harga pasar. “Hal serupa juga terjadi pada faktor kedua dan ketiga. Terkait kompetensi, ada empat hal yang harus saudara-saudara kuasai, mulai dari kompetensi teknis, administrasi atau IT, komunikasi dan yang terakhir yakni kompetensi kolaborasi,” tambahnya. Ia juga sempat menjelaskan pentingnya kolaborasi dan teamwork, utamanya di era digitalisasi saat ini. Ia berharap para sarjana baru ini bisa terus melatih dan mengasah tiga faktor utama tadi. Dengan begitu, skill mereka bisa tumbuh dan akhrinya bisa menjadi petarung yang hebat di dunia kerja. Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P.  mengingatkan jika tantangan nyata ketika lulus akan semakin banyak. Maka, para wisudawan tidak boleh hanya diam dan puas dengan bekal yang ada, melainkan harus berubah sesuai kebutuhan zaman sehingga bisa bertahan. Lebih lanjut, disampaikan Muhadjir, berdasarkan dara 2020 hingga 2021 ada sejumlah 146 juta angkatan kerja. Tujuh juta di antaranya belum bekerja, sehingga persaingan untuk mendapatkan posiis strategis akan semakin sulit. “Namun, karena anda lahir dari rahim UMM maka saudara harus bisa berada di depan untuk bisa mnejadi yang terdepan. Tidak hanya untuk bekerja, tapi juga bisa menjadi wirausahawan dan entrepreneur. Bukan hanya mencari, tapi membuat lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat luas. Apalagi saudara sudah memiliki bekal untuk bermain data. Saya doakan suadara bisa menjadi orang yang sukses dan tidak melupakan almamater,” pungkasnya. (ros/wil)

Kaji Big Data, FISIP UMM Buka Kelas B-Sospol

Dalam menghadapi arus dan perkembangan zaman yang cepat, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuka kelas khusus Center Of Excellence (CoE). Kali ini Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM menyelenggarakan kelas khusus Big Data School of Social Politics (B-Sospol). Diikuti oleh puluhan peserta, kelas B-Sospol ini dilangsungkan sejak Senin (27/6) lalu hingga hari ini. Direktur Pengembangan Program dan Riset B-Sospol Dr. Salahudin, S.IP, M.Si, MPA mengatakan bahwa tujuan dari kelas ini adalah untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Utamanya dalam menghadapi era digital serta mampu mewujudkan program UMM Pasti Lulus Tepat Waktu, Pasti Profesional (PASTI). “Hadirnya kelas ini juga berupaya untuk membantu dunia industri untuk mengembangkan organisasi berbasis big data dan Artificial Intelegent (AI). Kelas B-Sospol ini akan terus berlanjut dengan memberikan inovasi-inovasi sehingga mampu mencetak profesional. Dengan begitu mereka bisa menjadi rujukan dunia industri sebagai pusat pengembangan SDM unggul dalam bidang data science,” ungkap Wakil Dekan I FISIP UMM itu. Hal serupa juga disampaikan oleh Dekan FISIP UMM, Prof. Dr. Muslimin, M.Si. Menurutnya kelas-kelas CoE yang telah disediakan memang ditujukan bagi para mahasiswa maupun praktisi. Salah satunya kelas B-Sospol yang berusaha memberikan pemahaman lebih dalam tentang big data dan AI. Ia juga menyinggung tentang paradigma dan literasi baru yang tidak lagi berbasis sekadar menghitung, membaca dan menulis. Melainkan juga mengharuskan manusia untuk memahami literasi data serta menganalisisnya. “Data tentu akan berkaitan erat dengan teknologi. Maka kita harus segera berbenah dan belajar teknologi dengan lebih baik. Bukan hanya perangkat kerasnya saja, tapi juga cara menggunakan dan memaksimalkannya,” jelasnya melanjutkan. Muslimin, sapaan akrabnya, tidak lupa mengingatkan bahwa skill lain yang perlu dimiliki adalah pikiran yang kritis serta kreatif. Tanpa keduanya teknologi yang maju, tidak kan ada artinya. Begitupun dengan kolaborasi, inovasi, dan komunikasi dengan baik. Sejalan dengan hal itu, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. menilai bahwa saat ini sudah banyak pekerjaan-pekerjaan baru yang bermunculan. Satu di antaranya adalah data science. Tidak hanya di dunia industri, kemampuan big data analysis juga dibutuhkan oleh bidang akademik di sekolah maupun kampus. Maka menurutnya, kelas ini menjadi hal yang penting untuk diikuti agar bisa memahami big data dengan baik. “Menariknya, peserta tidak hanya berasal dari mahasiswa sospol saja, tapi ada juga mereka yang basicnya di luar itu bahkan juga dari luar UMM,” tambahnya. (zak/wil)