Dubes Mesir untuk RI Jelaskan Pentingnya Pendidikan bagi Kemajuan Negara di Wisuda UMM

Pendidikan memiliki peranan penting dalam perkembangan berkelanjutan sebuah negara. Kalimat tersebut disampaikan oleh duta besar (Dubes) Mesir untuk Indonesia H.E. Ashraf Mohamed Moguib Sultan pada pengukuhan wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Prosesi wisuda tersebut diselenggarakan di Dome UMM, pada Kamis (30/6) lalu. Lebih lanjut, Ashraf menjabarkan bahwa pendidikan memiliki peranan penting untuk membantu perkembangan bidang industri, agrikultur, dan perputaran ekonomi. Pendidikan juga membentuk masyarakat agar mampu berkembang menuju arah yang lebih baik. Namun kini akses untuk mendapatkan pengetahuan yang relevan semakin susah karena perkembangan zaman yang makin cepat. “Untuk mengembangkan pendidikan suatu negara, perlu adanya kolaborasi antara negara satu dengan yang lain. Dengan begitu, tiap negara bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan kapasitas masyarakat di berbagai bidang. Hal itulah yang sedang dilakukan oleh Indonesia dan Mesir. Kami banyak melakukan pertukaran pelajar antar masing-masing negara sehingga dapat membangun pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik,” katanya. Dalam pengembangan pendidikan di Mesir, Ashraf menjelaskan bahwa pemerintah juga tengah menyesuaikan sistem pendidikan dengan kebutuhan pasar. Hal ini diikuti oleh pengembangan regulasi yang cocok dengan standar modern yang berlaku. Pun dengan peningkatan kualitas universitas serta kapasitas mahasiswa. ”Penting juga bagi kita untuk membentuk generasi muda yang berpendidikan dan juga melatih mereka menjadi generasi yang kreatif serta inovatif,” ujar Ashraf. Senada dengan Ashraf, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. juga menjelaskan pentingnya menguasai pengetahuan akademik dan kemampuan leadership bagi wisudawan. Dua hal ini telah diajarkan UMM melalui kegiatan perkuliahan maupun kegiatan lain seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Lembaga Semi Otonom (LSO). “Untuk lebih mengasah skill mahasiswa, kami juga akan segera meluncurkan program besar universitas bernama Center Of Excellence (CoE) berbasis Program Studi (Prodi). Program ini dibuat dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar terkini. Bukan hanya untuk mahasiswa UMM, tapi juga unutk alumni dan masyarakat yang ingin mendalami bidang-bidang terkait,” lanjut Fauzan. Tak hanya berfungsi sebagai sarana pengukuhan, gelaran wisuda ini juga memfasilitasi mahasiswa untuk menjajakan produk wirausahanya melalui bazar wisuda. Selain sebagai upaya mendapatkan profit, bazar ini juga menjadi sarana mengenalkan produk-produk karya mahasiswa UMM ke masyarakat luas. “Bazar ini cukup membantu bagi kami yang sedang menunggu keluarga yang diwisuda. Produknya juga bervariasi, mulai dari makanan ringan, minuman, hingga hadiah-hadian untuk para wisudawan seperti buket bunga, buket jajan, dan lilin

UMM-Bea Cukai Kenalkan tentang Cakap Cukai

Pengenaan cukai memiliki keuntungan ganda. Tidak hanya untuk membatasi konsumsi masyarakat, tapi juga bisa menjadi sumber pemasukan negara. Hal itu disampaikan oleh Nirwala Dwi Heryanto selaku Direktur Komunikasi dan Bimbingan Kepatuhan Pengguna Jasa Bea Cukai pada seminar Cakap Cukai pada Rabu (29/6) lalu. Adapun kegiatan itu merupakan hasil kerja sama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Direktorat Jenderal Bea Cukai. Nirwala, sapaan akrabnya mengungkapkan bahwa ia senang sekali bersosialisasi dengan para mahasiswa. Hal itu karena efek yang dihasilkan akan lebih luas. Mahasiswa tentu akan memberikan pemahaman lebih kepada lingkungan di sekitarnya. Menurutnya, aktivitas yang diberi nama Cakap Cukai itu memiliki dua arti. Cakap yang pertama berarti proses berbicara dan mengobrol terkait cukai. Lalu ketika sudah memahami cukai, maka para mahasiswa bisa dianggap sebagai pihak yang cakap. Terkait bea, ia menjelaskan bahwa tugasnya tidak hanya mengurusi ekspor impor. Tapi juga menjalankan fungsinya sebagai industrial assistan dengan mendampingi UKM dan IKM. Pun dengan upaya mempercepat arus barang dan community protection. “Makna community protection sangat luas. Tidak hanya berkutat pada narkoba, tapi juga masalah pornografi, buku ekspor dan impor yang berbau radikalisme serta lainnya,” katanya. Nirwala jug membeberkan beberapa kriteria sebuah barang yang bisa dikenakan cukai. Mulai dari barang yang konsumsi harus dikendalikan, peredarannya perlu diawasi, hingga penggunannya yang memberikan dampak buruk bagi lingkungan atau manusia. Di samping itu juga sebagai upaya negara dalam menjamin keadilan. “Ini sifatnya alternatif, bukan kumulatif. Tapi untuk menjadi barang yang dikenai cukai harus melalui jalan yang panjang. Pun dengan pelaksanannya yang penuh pertimbangan. Misalnya saja plastik yang sebenarnya sudah dikenakan cukai sejak 2016. Namun pemerintah melihat kondisi masyarakat yang ada, sehingga belum dikenakan dengan maksimal,” tuturnya. Di sisi lain, Wakil Rektor III UMM Dr. Nur Subeki, M.T. menilai bahwa era ini menuntut kita untuk mengerti dan melaksanakan sesuatu lebih awal. Termasuk pengetahuan terkait bea dan cukai. Bagaimana mahasiswa bisa mengantisipasi segala perubahan yang mungkin terjadi di masa depan. Selain itu, dalam menghadapi era baru para mahasiswa juga harus melakukan beberapa hal. Diawali dengan kemampuan beradaptasi dan mengantisipasi. Kemudian bergerak denagn cepat serta terus berakselerasi. Namun itu tidak cukup, mahasiswa juga memerlukan partner yang bisa dipercaya. “Manfaatkan kesempatan dan momentum yang baik ini. Cakap Cukai juga bisa dijadikan portofolio saudara-saudara, menjadi bukti bahwa saudara sudah memahami proses di bea cukai. Semoga acara ini bisa menambah dan meningkatkan wawasan serta pemahaman tentang bea cukai,” tegasnya mengakhiri. (wil)