Mahasiswa Internasional UMM Didorong Pahami Budaya Indonesia

Dalam rangka merekatkan silaturahmi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ajak mahasiswa internasionalnya untuk berdiskusi dan makan siang bersama di Rayz hotel UMM pada Selasa (19/7) lalu. Dalam agenda yang d, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengajak mereka untuk tidak hanya belajar dengan baik, tapi juga ikut dalam kegiatan masyarakat di masing-masing tempat tinggal. Pun dengan pengetahuan terkait budaya Indonesia, Khususnya Malang. “Nanti kantor International Relation Office (IRO) UMM bisa mengajak saudara-saudara untuk melakukan semacam studi tour budaya. Bisa mengunjungi objek-objek budaya seperti sanggar tari, topeng Malangan atau yang lainnya. Jadi saudara tidak hanya fokus belajar akademik, tapi juga mengetahui kultur Indonesia yang melimpah,” tegasnya. Fauzan juga menjelaskan terkait program UMM PASTI yang terus digalakkan Kampus Putih. Ia yakin, para mahasiswa internasional ini bisa mnejalani perkuliahan dengan baik dan lulus tepat waktu. Pun dengan menjadi seorang lulusan yang mandiri. Caranya yakni membekali diri dengan kemampuan akademik serta skill leadership yang mumpuni. Ia berharap agar proses belajar yang ada di UMM bisa membawa mahasiswa internasional ke masa depan yang lebih baik. Pun sebagai jalan untuk mengembangkan kerjasama internasional yang lebih luas. Utamanya melalui para mahasiswa asing serta alumni yang sudah berkarya di berbagai negara. Pada kesempatan yang sama, Kepala IRO UMM Dr. Latipun, M.Kes. melaporkan bahwa ada lebih dari 120 mahasiswa asing yang sedang menempuh studi sarjana, masgiter dan doktoral di UMM. 30 di antaranya sedang berada di Indonesia, sementara sisanya masih berkuliah secara daring. Adapun mereka berasal dari 30an negara seperti Jepang, Korea Selatan, Iran, Afganistan dan lainnya. Latipun mendorong para mahasiswa internasional untuk bisa menyelesaikan studi tepat waktu. Dimulai dengan program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) kemudian dilanjutkan dengan jenjang pendidikan yang ditempuh. “Untuk sarjana, harus melalui satu tahun BIPA lalu empat tahun proses studi. Sementara untuk pendidikan magister juga harus ikut BIPA dilanjutkan dua tahun masa studi. Pun dengan doktoral yang ikut BIPA selama satu tahun dan mampu menyelesaikan studinya selama 3,5 tahun,” ungkap Latipun. Pihaknya juga selalu siap untuk membantu mahasiswa asing, utamanya terkait keimigrasian. Ia juga berharap mereka tidak takut untuk berkonsultasi atau bertanya jika terjadi sesuatu. Pun dengan komitmen untuk bisa belajar dan menyelesaikan studinya di Kampus Putih UMM. Hal menarik disampaikan oleh mahasiswa asing asal Iran, Farzaneh Gholamhossein. Menurutnya, UMM merupakan universitas besar yang teroganisir dengan sangat baik. Beberapa temannya bahkan menyarankannya untuk belajar di UMM karena reputasi internasional yang dimilikinya. Salah satunya raihan Universitas Islam Terbaik Dunia yang diraih Kampus Putih beberapa waktu lalu. “Ini juga menjadi kesempatan yang bagus untuk saya belajar banyak hal tentang Indonesia. Terutama budayanya yang melimpah. Tentu, saya tidak akan melewatkan kesempatan ini dengan sia-sia. Saya akan sering berkunjung ke beberapa objek menarik yang ada di sini. Pun dengan tempat-tempat menarik lain di Indonesia,” tuturnya. (*wil)

Menwa UMM Lestarikan Budaya Lewat Lomba Permainan Tradisional

Kompetisi unik dilangsungkan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Resimen Mahasiswa (Menwa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada pertengahan Juli lalu. Mereka mengadakan lomba permainan tradisional bagi para mahasiswa sebagai cara merawat dan melestarikan budaya. Lomba tersebut menyedot animo tinggi karena berbeda dengan lomba-lomba biasanya. Alvin Hetri Awan selaku ketua UKM Menwa UMM menyampaikan bahwa pihaknya sengaja memilih lomba permainan tradisional. Ia ingin memberikan warna baru di rangkaian panjang kompetisi Rektor Cup tahun ini. Apalagi melihat perkembangan permainan tradisional yang beberapa di antaranya sudah menjadi sebuah olahraga yang dilombakan. “Tujuan khususnya yakni ingin mengenalkan kembali permainan tradisional kepada sivitas akademika UMM dan ingin melestarikan permainan tradisonal. Bahkan permainan ini sudah masuk di Pekan Olahraga Nasional (PON). Saya rasa hal ini sangat potensial untuk dikembangkan di Kampus Putih UMM,” kata Alvin. Senada dengan yang diucapkan Alvin, Akbar Adityhya Rustandi selamu ketua pelaksana menjelaskan bahwa Menwa secara khusus ingin mewadahi mereka yang punya kemampuan khusus di bidang permainan tradisional. Akbar, sapaan akrabnya menilai bahwa tak ada kegiatan tanpa kendala. Pun dengan lomba tersebut. Saat persiapan, tim Menwa harus melakukan riset terlebih dahulu terkait perihal cara main dan peraturannya. Dengan begitu, perlombaan bisa dilaksanakan dengan lancar dan profesional sesuai prosedur. “Banyak peserta yang tidak begitu paham dengan cara main dan peraturannya. Jadi, beberapa kali kami juga memberikan pengarahan terlebih dahulu sebelum lomba dimulai. Alhamdulillah mereka menikmati dna merasa senang. Sekalipun kalah, mereka mengaku bahwa permainan tersebut begitu seru. Salah satu peserta lomba egrang, Muhammad Bilal Rusady mengapresiasi perlombaan unik semacam ini. Ia melihat gempuran dunia digital membuat anak muda lupa dengan permainan tradisonal dan budaya-budaya yang sebelumnya sering dilakukan. Maka melalui lomba Rector Cup ini, mahasiswa bisa berkontribusi menjadi pengingat untuk generasi muda. Utamanya terkait kultur dan budaya. “Saya syok karena baru kali ini menemukan perlombaan tradisional. Saya tentu ingin hal-hal seperti ini bisa terus dilakukan agar menjadi sebuah trend kembali. Kalau dilihat, jarang sekali ada anak-anak yang bermain permainan tradisional. Mungkin selanjutnya bisa menambah di kategori lain seperti lomba hadang, dagongan, gobak sodor dan sumpit,” harapnya mengakhiri. (Ros/Wil)