Puluhan Mahasiswa UMM Bantu Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang Atasi PMK

Fokus tangani Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kabupaten Malang, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terjunkan 32 relawan ke Ngantang dan Kasembon. Relawan mahasiswa ini akan membantu Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang untuk proses vaksinasi PMK dosis kedua. Kegiatan ini akan dimulai pada Rabu (03/08) dan berlangsung sekitar dua minggu. Kepala Satuan Tugas (satgas) PMK UMM, Prof. Dr. Lili Zalizar, M.S. menjelaskan bahwa Jawa Timur (Jatim) merupakan sasaran utama penanganan PMK. Hal ini terjadi karena Jatim memiliki populasi ternak sapi tertinggi di Indonesia, utamanya di wilayah Kabupaten Malang. “Peternak sapi di Kabupaten Malang tersebar di beberapa daerah seperti Pujon, Ngantang, dan Kasembon. Produk yang biasanya dihasilkan adalah susu perah dan daging sapi. Tingginya angka peternak sapi tersebut membuat dampak ekonomi akibat PMK semakin terasa,” ungkap dosen asal Subang itu. Lebih lanjut, Lili sapaan akrabnya mengatakan bahwa berkat pembatasan transportasi ternak dan vaksinasi pertama yang di lakukan, persebaran PMK pada hewan ternak cukup berkurang. Namun untuk meningkatkan daya tahan tubuh hewan ternak terhadap penyakit PMK, vaksinasi tahap kedua sangat dibutuhkan. “32 relawan mahasiswa yang kita kirimkan semuanya berasal dari Program Studi (Prodi) Peternakan. Mereka akan bertugas untuk membantu proses vaksinasi dan juga rekap data ke database nasional. Vaksin tersebut akan disuntikan kepada sekitar 100 – 300 sapi per harinya. Kami sangat berharap selain memperkebal hewan ternak dari virus PMK, pemberian vaksin kedua ini juga akan menurunkan tingkat kematian hewan ternak akibat PMK,” kata Ketua Prodi Magister Agribisnis tersebut. Di sisi lain, Wakil Rektor III UMM Dr. Nur Subeki, ST, . MT mengatakan bahwa virus PMK sangat meresahkan kalangan peternak. Hadirnya para mahasiswa sebagai relawan PMK ini membuat saya bangga terhadap kepedulian untuk membantu masyarakat luas. hal ini juga dapat membantu mahasiswa untuk memperkuat soft skill yang telah di bangun. “Saya berharap mahasiswa yang diterjunkan ini akan menjadi penggerak untuk menangani wabah penyakit PMK di Malang. Selain itu, saya juga berharap apa yang kita lakukan ini berdampak positif untuk mengurangi persebaran penyakit PMK pada hewan ternak,” ujarnya mengakhiri. (Syi)
Kuliah Tamu FT UMM Hadirkan Direktur PT. WIMA Bahas Motor Listrik

Sudah saatnya Indonesia menjadi pioner sepeda motor listrik. Hal tersebut diucapkan oleh Irsal Shaleh Matondang, S.E., MM selaku Direktur Keuangan dan Pemasaran Perseroan Terbatas (PT) Wika Industri Manufaktur (WIMA) dalam Kuliah Tamu Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Acara tersebut mengangkat tema Pengembangan Produk dan Ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB). Adapun kegiatan ini diselenggarakan pada hari kamis (28/07) bertempat di Theater Dome UMM. Irsal sapaan akrabnya menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi yang bagus sebagai prospek produsen sepeda motor listrik di dunia. Hal ini dapat dilihat dari masuknya Indonesia di peringkat tiga dunia sebagai pengguna kendaraan motor terbanyak. Setidaknya 70-80% rumah tangga di Indonesia mempunyai kepemilikan sepeda motor. Terlebih kedepannya akan dimulai perpindahan bahan bakar dari bensin ke listrik menggunakan teknologi baru dan terbarukan. “Terdapat 229 pengguna mobil listrik dan 1.947 pengguna sepeda motor listrik pada tahun 2020. Hal ini akan semakin bertambah tergantung dengan bagaimana kita bisa memanfaatkan peluang yang ada,” ucap pria kelahiran Sidoarjo tersebut. Lebih lanjut, Irsal kembali menjelaskan bahwa PT. WIMA saat ini mengembangkan sepeda motor listrik yang bernama gesits. Motor listrik asli Indonesia ini dirancang dengan teknologi ramah lingkungan sebagai upaya pengurangan emisi karbon. Selain itu, pengembangan gesits ini merupakan upaya untuk mendukung program pemerintah dalam mengurangi penggunaan energi fosil atau minyak bumi. “Gesits memiliki beberapa spesifikasi yaitu, tahan banjir dan mampu menempuh perjalanan jauh. Jika tiga baterainya penuh, gesits dapat menempuh perjalanan sejauh 100 kilometer. Distribusi gesits sudah tersebar di seluruh provinsi Indonesia. Sedangkan di kancah Internasional, gesits sudah tersebar di sepuluh negara yaitu Senega, India, Filipina dan negara lainya. Target kita pada tahun 2025 adalah produksi sebanyak 2,1 juta unit. Kami juga bekerja sama dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk menambah pom listrik di setiap daerahnya,” ungkap Irsal. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd, dalam sambutannya menerangkan bahwa UMM memiliki program baru bernama Centre of Excellent (CoE). Di bidang teknologi terbarukan CoE ini memiliki kelas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Program ini akan membantu mahasiswa menemukan potensinya, tanpa perlu kebingungan menemukan arah hidup. “CoE ini terdiri dari berbagai macam kelas yang bisa di ikuti oleh mahasiswa maupun masyarakat umum. Program ini akan menjadi jalan alternatif ketika mahasiswa tidak menemukan passion dalam perkuliahan. Diharapkan ketika lulus, mahasiswa bisa bekerja dan berkembang sesuai dengan hobinya” pungkasnya mengakhiri. (Haq/Syi)