Kerjasama UMM-Pelaksana Program Kartu Prakerja Komitmen Lahirkan SDM Indonesia Unggul

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa berupaya untuk terus mengimplementasikan Tridharma Perguruan Tinggi (PT). Terbaru, melalui kerjasama dengan Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja pada Rabu (9/8) lalu, Kampus Putih berkomitmen untuk dapat bersinergi bersama dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat Indonesia. Adapun kerja sama itu berbentuk program pelatihan kartu prakerja Cahyo Prihadi selaku Direktur Pemantauan dan Evaluasi Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja menyampaikan bahwa segala bentuk pelatihan harus berdampak pada kualitas SDM. Khususnya dalam aspek kompetensi dan keterampilan masyarakat Indonesia. Dengan begitu, masyarakat dalam memiliki skill yang bagus. Pun dengan peningkatan dan proses upgrade yang maksimal sehingga melahirkan SDM unggul yang mampu bersaing dengan negara lain. “Dari sinilah akan muncul SDM yang kompeten dan mandiri. Bahkan bisa juga menciptakan lapangan pekerjaan sendiri untuk masyarakat luas,” tegasnya. Hal tak jauh berbeda juga disampaikan penanggungjawab tim ahli independen program pelatihan kartu prakerja UMM, Dr. Nur Subeki, S.T., M.T. Menurutnya, program pemantauan yang telah dilakukan bersama dengan tim sejauh ini berjalan dengan lancar. Koordinasi dan kerja keras tiap anggota menjadi salah satu alasannya. “Kesolidan tim UMM tentu sangat membantu dalam melangsungkan pemantauan ini. Begitupun dengan koordinasi dengan pihak Kartu Prakerja yang baik. Kami akan terus berupaya memberikan yang terbaik demi menebar kemanfaatan bagi masyarakay luas,” tegasnya. Eki, sapaan akrabnya mengatakan bahwa ia dan pihaknya berkomitmen untuk melakukan pemantauan pelatihan secara efektif, efisien dan kredibel. Dengan begitu, proses belajar masyarakat Indonesia dalam memahami berbagai materi bisa lebih lancar. Pun dengan upaya memperjuangkan hak peserta untuk mendapatkan sertifikat keterampilan. Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor III UMM itu mengatakan bahwa upaya ini juga menjadi salah satu cara Kampus Putih UMM untuk memberikan kontribusi signifikan. Utamanya dalam aspek peningkatan kualitas SDM yang dimiliki Indonesia. Apalagi, pada 2045 nanti Indonesia mencanangkan generasi emas 2045 yang akan menentukan kemajuan negeri. (*/wil)

LK UMM Ajari Menulis Warga Binaan Lapas Perempuan Malang

Lembaga Kebudayaan (LK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berdayakan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) perempuan kelas IIA Malang melalui kemampuan menulis pada Selasa (9/8) lalu. Berlokasi di Lapas perempuan, LK UMM membeberkan langkah-langkah mudah menulis cerita, penggunaan bahasa, hingga kiat membuahkan karya menarik. Tri Anna Aryati, Bc.IP, SH., M.Si. selaku kepala Lapas Perempuan Kelas II Malang bahagia akan kedatangan rombongan dari UMM. Menurutnya, ini menjadi kesempatan yang strategis bagi warga binaan lapas untuk menggali potensi dan menajamkan kemampuan menulis. Apalagi dengan sederet ahli yang sudah dihadirkan dan siap memberikan tips menulis yang baik. “Kalau di luar, mungkin bapak dan ibu pemateri akan diberi fee sebagai balasan pemberian materi. Namun, bapak dan ibu datang ke sini dengan penuh keikhlasan untuk berbagi ilmu dan memberikan jalan masa depan yang lebih baik bagi para warga binaan. Tentu doa akan selalu dipanjatkan untuk keberkahan bapak dan ibu,” tambahnya. Tri, sapaan akrabnya juga mengatakan bahwa sebelumnya, warga Lapas bersama dengan UMM telah sukses menerbitkan  buku berjudul Titik nadir Penantian. Bahkan, sebentar lagi buku tersebut akan naik cetak untuk yang kedua kali. Maka, Tri mendorong agar peserta pelatihan kedua ini mampu menyerap ilmu dan melahirkan karya Lapas yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Hal serupa juga disampaikan oleh Kepala LK UMM Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si. Menurutnya, para warga binaan sudah memiliki potensi dan kemampuan menulis. Hanya perlu dikembangkan dan dipoles hingga menjadi lebih baik. Ia juga yakin, peserta akan menorehkan karya yang tak kalah menarik dari buku sebelumnya, yakni Titik Nadir Penantian. Ia juga mendorong para warga binaan untuk merenung dan membaca buku-buku. Sehingga ide dan gagasan cerita bisa muncul dan menjadi pondasi menulis cerita yang unik nan menarik. Terbukti, buku Titik Nadir Penantian kini hanya tinggal satu yang tersisa dan akan segera naik cetak yang kedua dengan beberapa revisi. “Ini juga menjadi implementasi UMM dalam menjalankan tridharma perguruan tinggi, yakni aspek pengabdian kepada masyarakat. Jadi kami tidak hanya fokus pada pendidikan dan penelitian saja, tapi juga harus berupaya bagaimana caranya memberdayakan dan memberikan manfaat bagi sesama,” tegasnya. Pelatihan tersebut juga disambut baik para warga binaan, salah satunya oleh Selvi. Menurutnya, agenda itu memberikan motivasi besar bagi mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu juga mnejadi pembuka jalan bagi mereka yang ingin menapaki impian menjadi seorang penulis. “Kalaupun tidak menjadi penulis, kami bisa menyampaikan cerita menggugah dari balik jeruji. Bagaimana kami melewati ini semua dan mengubah perspektif masyarakat yang mungkin salah terkait Lapas dan WBP. Semoga melalui pelatihan ini, potensi yang kami miliki makin terasah dan bisa melahirkan sebuah karya,” tegasnya mengakhiri. Pelatihan menulis tersebut menghadirkan sederet pemateri andal yang memaparkan cara menulis kepada para warga binaan. Mulai dari materi terkait menulis ceripa pendek, bahasa dalam sebuah cerita hingga peluang budaya digital. Pun dengan fiksi sebagai perspektif pembaca. (wil)

Bantu Petani Bawang, Mahasiswa UMM Kembangkan Teknologi Monitoring Kelembapan Tanah

Lonjakan harga bawang yang tak menentu membuat masyarakat menjadi resah. Hal ini terjadi karena gagal panen yang terjadi di beberapa daerah Indonesia. Melihat hal tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ciptakan teknologi bernama MONIKEL yang merupakan akronim dari MONItoring KELembapan Tanah pada Tanaman Bawang Merah melalui Chatbot Pesan Telegram. Teknologi ini diikut sertakan pada Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) dan berhasil mendapat pendanaan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti). Salah satu anggota tim, Muhammad Iqbaludin Zaky, menjelaskan bahwa penyebab gagal panen yang melanda para petani ini terjadi akibat kondisi cuaca yang tidak menentu. Dari hal tersebut, mahasiswa Jurusan Informatika ini menilai kelembapan tanah memiliki efek terhadap proses pertumbuhan bawang merah. Dari penelitian tersebut, kami menyimpulkan bahwa bawang merah membutuhkan pasokan air yang banyak namun dengan memperhatikan kadar kelembapan tanah. “Cuaca di Indonesia akhir-akhir ini tak menentu. Kadang hujan turun dengan deras sehingga merendam lahan bawang merah para petani. Jika kelembapan tanah meningkat melebihi standar, maka tanaman bawang merah mudah terserang penyakit dan hama. Sementara itu, jika kelembapan tanah kurang dari standar maka bawang merah akan menjadi kecil dan itu mengurangi daya jualnya karena hasilnya tidak maksimal,” ungkap anak tengah dari tiga bersaudara itu. Lebih lanjut, Zaky sapaan akrabnya menjelaskan bahwa MONIKEL ini berkonsep Internet of Things (IoT) dengan menggunakan teknologi arduino dan chatbot pesan telegram. Cara menggunakan alat ini adalah dengan menyambungkan prototipe alatnya ke telegram para petani. Setelah itu, alat akan dipasangkan ke beberapa titik lahan. Jika lahan kering, petani akan mendapatkan notifikasi pengingat. “Saya dan tim juga ingin mengkombinasikan MONIKEL dengan garden sprinkle. Jadi nantinya, alat ini bisa menyiram lahan secara otomatis jika para petani menekan tombol penyiraman yang ada di aplikasi telegram. Terintegrasinya MONIKEL dengan garden sprinkle ini juga membantu dalam mengetahui kelembapan tahan tiap bulannya,” kata mahasiswa asal Serang tersebut. Saat ini MONIKEL masih dalam tahap pengembangan prototipe. Tak sendiri, Zaky mengembangkan alat ini bersama tiga teman lainnya yaitu Gilly Huga Anargya, Farli Nahrul Javier, dan Wahyu Budi Utomo.  Zaky menjelaskan jika nanti sudah sempurna, MONIKEL akan memiliki beberapa keunggulan dibanding alat-alat serupa yang telah beredar dipasaran. Keunggulan tersebut meliputi harga alat yang lebih murah, fitur yang tersedia cukup lengkap, serta hemat listrik karena menggunakan panel surya. “Saya berharap para petani dapat terbantu dengan alat yang kami bangun ini. Kami juga berharap hasil panen bawang merah dapat meningkat setelah menggunakan alat rancangan kami dan meminimalisir kerugian para petani,” ujarnya mengakhiri. (syi/wil)