Bioling UMM Meriahkan Malam Bancaan Agustusan Warga

Mobil Bioskop Keliling (Bioling) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengaspal pada Selasa (16/8) lalu. Kali ini rombongan Bioling hadir menghibur dan membakar spirit warga Karangploso dengan tayangan menarik. Selain itu juga mengajak anak-anak serta warga untuk bermain games dan menyediakan hadiah menarik. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari program UMM Berbagi untuk Negeri. Koordinator Mobil Bioling UMM Rino Anugerawan menjelaskan bahwa pihaknya sengaja datang di momen 17-an. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan semangat dalam menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-77. Menurutnya, menanamkan rasa nasionalisme bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan memberikan tontontan mendidik dan berisi konten menarik. Utamanya bagi generasi muda yang nantinya melanjutkan estafet kepemimpinan. “Kamu juga mengajak mereka untuk bermain games dan menjawab pertanyaan-pertanyaan wawasan kebangsaan. Sederet hadiah juga disiapkan sebagai apresiasi agar anak-anak bisa senang sekaligus belajar hal baru. Ini juga cara kami untuk berkontribusi bagi masyarakat,” tambah pria asli Malang itu. Kedatangan Mobil Bioling nyatanya mendapatkan antusiasme tinggi. Salah satu penonton yang hadir ialah Syifa Dzahabiyyah. Ia menilai bahwa agenda seperti ini bisa dilanjutkan di berbagai tempat. Apalagi dengan tontonan yang apik, ia yakin mobil ini akan menarik banyak pihak. Masyarakat juga merasa senang karena acara syukuran kemerdekaan RI dan Agustusan yang diadakam semakin meriah karena Bioling. Syifa, begitu ia kerap disapa, menambahkan bahwa anak-anak yang hadir turut meramaikan aktivitas ini. Bahkan duduk manis hingga film selesai. “Film yang disajikan sangat menarik dan menggugah penonton untuk mencintai negerinya, Republik Indonesia. Dengan begitu, mereka akan tumbuh dengan rasa cinta tanah air dan akan memberikan sumbangsihnya dalam pembangunan Indonesia di masa depan,” harapnya mengakhiri. (wil)

BIPA UMM Kenalkan Indonesia lewat Batik

Pengenalan budaya Indonesia kepada mahasiswa asing di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak hanya terbatas pada bahasa saja. Melalui lembaga Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), UMM kenalkan kain batik serta cara pembuatannya kepada para mahasiswa asing. Program ini dilaksanakan selama satu hari bertempat di LPK Batik Soendari pada Jumat (12/08) lalu. Kepala BIPA UMM, Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si., menjelaskan bahwa untuk memperlancar proses belajar para mahasiswa asing di UMM, pengenalan budaya merupakan salah satu hal yang penting. Menurut peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), para mahasiswa asing harus belajar tentang budaya dan bahasa Indonesia selama satu tahun sebelum memulai proses perkuliahan. “Jadi untuk belajar di Indonesia, mahasiswa asing akan diberikan pelajaran bahasa di kelas, namun di sisi lain juga ada pembelajaran budaya maupun aktivitas seperti mengunjungi wisata-wisata lokal. Pada kesempatan kali ini, mereka diajari untuk membuat kreasi kain batiknya sendiri,” jelas dosen Jurusan Bahasa Indonesia tersebut. Terkait program membatik tersebut, salah satu staf BIPA UMM Sri Ayu Ramadhani, S.Psi., M.Si, menjelaskan bahwa para mahasiswa dikenalkan pada dua tipe batik, yaitubatik cap dan batik tulis. Cara pembuatan batik cap hanya dengan menempelkan pola yang telah ada ke kain. Sementara batik tulis cara pembuatannya adalah dengan menggambarkan pola pada kain menggunakan canting dan malam. “Pada batik cap disediakan dua pola yaitu apel dan topeng yang khas dengan budaya Malang. Lalu untuk batik tulisnya ada tulisan dirgahayu Indonesia yang disediakan dalam dua gaya tulisan yang berbeda. Hasil dari kelas membatik ini nantinya akan dikirim ke mahasiswa asing setelah melalui proses pengeringan,” ungkapnya. Sementara itu, salah satu mahasiswa asing Aminata Dao mengatakan bahwa program membatik ini sangat menyenangkan. Ia juga berkata bahwa akan mempelajari cara membatik lebih dalam di luar kelas yang telah disediakan. “Meskipun sempat mengalami kendala karena harus menggambar pola yang datail dan kecil, namun secara keseluruhan proses belajar membatik ini sangat seru. Sayangnya waktu yang kita dapat untuk belajar hanya beberapa jam. Menurut saya, waktu tersebut sangat singkat, oleh karenanya saya ingin belajar lebih dalam lagi tentang membatik di luar program kelas ini,” kata mahasiswa asal Sierra Leone, Afrika Barat itu. Lebih lanjut, Aminata menceritakan berbagai pengalaman belajarnya selama enam bulan di Indonesia. Selain belajar bahasa di kelas, ia juga di ajak untuk mengenal budaya dan sejarah Indonesia di luar kampus. Hal ini juga membantunya untuk mengasah kemampuan berbahasa Indonesia dengan masyarakat luar. “Belajar di BIPA UMM sangat menyenangkan karena kita jadi lebih mengerti akan kebudayaan dan bahasa Indonesia. Saya sangat menantikan program-program dari BIPA selanjutnya,” ujarnya. (syi/wil)